"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Cahaya di Ujung Dendam
Malam itu, halaman belakang rumah keluarga Adhitama terasa begitu sunyi. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa melati yang mekar. Baskara berdiri di samping Arini, lengannya melingkar posesif di bahu sang istri.
Baskara menatap lurus ke arah pohon beringin tua yang gelap, namun ia tidak melihat apa-apa selain bayangan dahan yang bergoyang. Tapi, ia bisa merasakan suhu di sekitar Arini mendadak berubah. Udara terasa lebih ringan, meski bulu kuduknya sedikit meremang.
"Mereka ada di sana, Arini?" bisik Baskara, suaranya rendah dan penuh rasa hormat.
Arini mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap pendar cahaya putih yang mulai menyelimuti sosok Sari, Ratna, dan Abang Tato. "Iya, Bas. Mereka berdiri tepat di bawah pohon itu. Mereka... mereka tampak damai sekarang."
Arini kemudian bicara dengan suara yang lebih keras, agar para arwah itu mendengarnya. "Sidang sudah berakhir. Tuan Adhitama dan Siska sudah mendapatkan tempat yang seharusnya. Namamu sudah bersih, Sari. Dunia sudah tahu kebenarannya."
Sari menatap Baskara dengan tatapan yang sangat dalam. Ia tersenyum, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Arini. "Terima kasih sudah mencintainya dengan tulus, Dokter..."
"Apa katanya?" tanya Baskara, ia merasakan remasan lembut tangan Arini di lengannya.
"Sari berterima kasih padamu, Bas. Dia bilang kamu pria yang jauh lebih baik daripada ayahmu," jawab Arini lembut.
Baskara berdehem, meski ia hanya bicara pada udara kosong, ia menatap ke arah pohon itu dengan tegas. "Pergilah dengan tenang. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Rumah ini bukan lagi penjaramu."
Mika muncul di samping Arini, ia tidak lagi memakai baju transparan, melainkan gaun perak yang indah hasil imajinasi gaibnya. "Duh, jadi mewek kan aku! Sari, Ratna, Abang Tato, titip salam buat yang di sana ya! Bilang, Mika masih mau jadi satpam Dokter Arini dulu!"
Satu per satu, sosok-sosok itu mulai memudar menjadi butiran cahaya yang menyatu dengan rembulan. Arini menarik napas panjang, merasa beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya ikut terbang bersama cahaya itu.
"Sudah selesai, Bas. Mereka benar-benar sudah pergi," bisik Arini sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Baskara.
Baskara membalikkan tubuh Arini, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Meskipun ia tidak melihat "keajaiban" barusan, ia bisa melihat pantulan cahaya kedamaian di mata Arini.
"Aku tidak butuh melihat mereka untuk tahu bahwa kamu baru saja melakukan hal hebat, Arini," ucap Baskara dengan nada yang sangat intens. "Sekarang, tidak ada lagi bayangan mereka di antara kita. Hanya ada aku, dan kamu."
"Dan aku!" teriak Mika yang tiba-tiba muncul di antara wajah mereka, membuat Arini tersentak sementara Baskara hanya mengernyit karena merasa ada hembusan angin dingin yang mendadak lewat di depan hidungnya.
"Mika barusan lewat ya?" tanya Baskara curiga.
Arini tertawa kecil, rasa sesaknya hilang sepenuhnya. "Iya, dia bilang dia nggak mau pergi karena masih mau nonton drakor gratis di rumah kita."
Baskara menghela napas, sedikit kesal namun juga geli. Ia mengabaikan gangguan gaib itu, lalu menarik Arini ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia mencium bibir Arini dengan penuh perasaan di bawah sinar bulan.
"Aku mencintaimu, Arini," bisik Baskara di sela ciumannya. "Lebih dari hukum yang kubela, lebih dari logika yang kupunya."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣