NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARIS KEHIDUPAN DI ANTARA SKETSA

Pagi di Atelier Aksara, seperti biasa, dimulai dengan wangi khas kopi hitam yang menguar memenuhi ruang dan suara lembut gesekan pensil milik Raka yang sibuk menari di atas kertas kalkir. Kehidupan di studio kecil itu seringnya tenang, penuh rutinitas yang menenangkan. Namun, hari ini membawa nuansa yang berbeda, seolah seluruh alur keseharian itu tersendat oleh sesuatu yang tak terduga.

Alana tidak terlihat di dapur, tempat biasanya ia menyeruput cangkir kopi paginya sambil merapikan tumpukan buku resep miliknya. Dia juga tak sedang duduk di meja tulis, memeriksa jurnal atau merangkai mimpi-mimpinya ke dalam kata-kata. Sebaliknya, tubuhnya kini terduduk tak berdaya di lantai kamar mandi yang dingin. Matanya tajam memandangi sebuah benda kecil dari plastik putih di tangannya, sesuatu yang kini mendefinisikan seluruh keberadaan dirinya. Napasnya tercekat, seperti waktu yang berhenti sejenak untuk membantunya mencerna apa yang barusan ia saksikan.

Seluruh dunia di sekelilingnya seakan ikut membeku. Dengan jemari gemetar, ia menyentuh perutnya yang terlihat masih datar, nyaris tak percaya bahwa ada kehidupan kecil yang mungkin tumbuh di sana. Dari luar kamar mandi, samar-samar terdengar suara Raka, sibuk menelepon asistennya dengan nada penuh urgensi. Kalimat-kalimatnya terpotong oleh ritme tegas: ia sedang memastikan bahwa pengiriman maket ke Jakarta untuk tahap final sayembara desain Perpustakaan Nasional berjalan sesuai rencana. Suaranya menggema dalam ruangan yang hening, penuh semangat seorang lelaki yang berada di puncak obsesinya.

"Raka sedang memanjat menuju puncak gunung impiannya," gumam Alana pelan. Pandangannya menyapu pantulan dirinya di cermin di hadapannya. Wajah yang tampak linglung itu bertanya-tanya dalam diam, bagaimana caranya berbicara pada suaminya. "Bagaimana aku bisa mengatakannya sekarang?" bibirnya bergerak nyaris tanpa suara.

Hari ini adalah hari yang besar bagi Raka, dan semua persiapan telah matang untuk keberangkatannya ke Jakarta sore nanti. Sesi presentasi final di hadapan Dewan Juri Nasional sudah menunggu. Alana tahu betapa penting momen itu bagi sang suami, tahu betapa berarti karyanya bagi dirinya. Namun, ia telah menarik sebuah keputusan yang berani. Ia akan ikut bersamanya kali ini, bukan hanya sebagai pendamping setia atau sekadar pasangan yang memberikan kehangatan dalam sunyi, melainkan sebagai penjaga rahasia terbesar dalam hidup mereka—sebuah kebenaran baru yang sedang tumbuh, terbungkus rapi dalam diamnya. Sebuah rahasia kecil yang siap mengubah segalanya.

Di dalam pesawat, Raka tampak gelisah. Ia terus membolak-balik folder presentasinya. "Lan, kalau juri menganggap desain kita terlalu 'puitis' dan tidak praktis, kita bisa kehilangan proyek ini. Tapi aku tidak bisa menggantinya lagi. Ini adalah kejujuran kita."

Alana menggenggam tangan Raka yang dingin. "Kejujuran tidak pernah salah, Raka. Ingat apa yang kita tulis di tiang Rumah Aksara? Kesunyian yang menemukan suaranya. Biarkan desainmu bicara dengan suara itu."

Raka menoleh, menatap mata Alana yang tampak lebih teduh dari biasanya. "Kamu terlihat... bercahaya hari ini, Lan. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Alana tersenyum tipis, menyimpan rahasia itu sedikit lebih lama. "Mungkin karena aku tahu suamiku akan melakukan hal besar hari ini."

Gedung kementerian itu terasa dingin dan kaku. Raka berdiri di depan panel juri yang terdiri dari arsitek senior dan pejabat birokrasi. Alana duduk di kursi penonton paling belakang, tangannya tak lepas dari perutnya, seolah sedang memberikan kekuatan lewat sentuhan itu.

Raka memulai presentasinya. Ia tidak bicara soal beton atau anggaran di sepuluh menit pertama. Ia mulai dengan membacakan sebuah paragraf pendek dari novel Alana tentang makna "pulang".

"Perpustakaan ini bukan tempat menyimpan buku," suara Raka bergema, tenang dan menghujam. "Ini adalah ruang sirkulasi bagi mimpi-mimpi yang belum terwujud. Saya merancang celah cahaya di sayap barat agar setiap pembaca merasa bahwa matahari selalu mendukung apa yang mereka baca. Saya tidak ingin membangun gedung megah yang mengintimidasi rakyat, saya ingin membangun 'rumah' yang merangkul mereka."

Salah satu juri, seorang arsitek senior yang dikenal sangat teknis, mengerutkan kening. "Indah secara narasi, saudara Raka. Tapi bagaimana dengan efisiensi ruang arsip digital yang kami minta?"

Raka tersenyum tipis, membuka lembar teknisnya. "Arsip digital adalah otak dari gedung ini, tapi ruang baca adalah jantungnya. Otak bisa kita letakkan di ruang bawah tanah dengan teknologi pendingin termutakhir, tapi jantung... jantung harus mendapatkan cahaya matahari langsung."

Setelah presentasi selesai, suasana di ruang tunggu sangat menegangkan. Raka keluar dengan peluh di dahi, langsung menghambur ke pelukan Alana.

"Aku sudah memberikan semuanya, Lan. Apapun hasilnya, aku puas," bisik Raka.

Saat itulah, di koridor gedung kementerian yang sunyi, Alana menarik Raka ke sebuah sudut dekat jendela besar yang menghadap ke arah Monas.

"Raka, ada satu hal yang belum kamu masukkan ke dalam desain masa depanmu," ucap Alana pelan.

"Apa? Aku rasa semua ruang sudah terwakili," Raka mengernyit bingung.

Alana mengambil tangan Raka, meletakkannya tepat di atas perutnya. "Ruang untuk anggota baru di *Atelier Aksara*. Dia akan lahir kira-kira tujuh bulan lagi."

Raka membeku. Matanya membelalak, menatap tangan Alana, lalu menatap wajah istrinya dengan pandangan yang tak percaya. "Lan... kamu...?"

Alana mengangguk dengan air mata yang mulai mengalir. "Garis hidup yang baru, Raka. Bukan di atas kertas kalkir, tapi di dalam sini."

Raka tidak peduli lagi mereka sedang berada di gedung pemerintah yang kaku. Ia mengangkat Alana dan memutarnya perlahan, tertawa kecil dengan air mata bahagia yang pecah. "Kita akan punya penulis kecil, Lan! Atau arsitek kecil!"

Malam itu, Jakarta kehilangan wajah garangnya sebagai rimba beton. Di balkon hotel yang menghadap ke lanskap kota penuh cahaya, mereka berdiri bersama, memeluk keheningan yang terasa lebih hidup daripada gemuruh di luar sana.

“Perpustakaan itu akan selesai tepat ketika dia mulai belajar menapakkan kakinya yang mungil,” kata Raka pelan sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang Alana, penuh kasih.

“Dia akan tumbuh dikelilingi oleh keajaiban tumpukan buku dan harum kayu jati tua,” jawab Alana sambil tersenyum kecil, matanya menerawang masa depan penuh harapan.

Dengan lembut, Alana membuka buku catatannya. Pena emas pemberian Maudy bergerak di atas lembaran kertas dengan gemulai, menjadikan malam itu terabadikan melalui kata-kata penuh rasa yang mengalir dari hatinya:

*Dahulu, meja nomor 15 adalah tempatku menyulam mimpi tentangmu. Hari ini, meja itu akan menjadi saksi awal sebuah kehidupan baru hidup yang lahir dari cinta yang pernah terpekur dalam luka, namun kini tumbuh kembali lebih kuat daripada sebelumnya. Raka, kau bukan hanya memenangkan hati bangsa ini melalui desainmu; kau telah memenangkan masa depanku melalui kesetiaanmu. Kita kini bukan lagi dua insan yang mencari satu sama lain; kita adalah sebuah keluarga, sedang membangun surga kecilnya sendiri.*

Dalam sunyi penuh kedamaian itu, dua orang menjadi bayang-bayang dari kekuatan cinta yang telah menemukan bentuk terindahnya. Keheningan menjadi semacam harmoni keheningan seorang ibu yang mendengarkan detak jantung baru bersenandung dari dalam dirinya, dan seorang ayah yang sedang merancang dunia lebih baik untuk anak yang baru mulai bermimpi. Perjalanan mereka akan terus mekar; bukan lagi sekadar tentang “aku” atau “kamu”, tetapi tentang “kita” yang tumbuh dalam kasih dan harapan cinta yang bergema tanpa ujung.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!