NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Gelisah

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu harus memberinya maaf?"

Rendra cukup kecewa dengan keputusan Nina yang lebih memilih mengalah untuk memberikan maaf kepada orang yang sudah mencelakai sekaligus mempermalukannya. Ia pikir Nina memiliki pendirian yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh kata maaf.

"Kakak! Ngagetin aja!" Nina yang hendak merebahkan diri di kasur tiba-tiba pintunya terbuka dan masuklah kakak tirinya tanpa permisi. Sudah menjadi kebiasaan buruknya, hampir setiap saat pria itu memasuki kamarnya tanpa meminta izin.

"Kamu belum jawab pertanyaan aku! Kenapa kamu maafin mereka?"

Rendra menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Perlahan-lahan kakinya melangkah menemui Nina yang tengah duduk di ranjangnya.

"Kak, bisa nggak keluar dari dalam kamar ini? Aku mau istirahat. Besok aja aku kasih jawaban."

Nina merasa tak nyaman, takut tiba-tiba orang tuanya datang dan bertambah besar saja masalahnya.

"Tidak bisa! Aku meminta jawabannya sekarang juga!"

Pria itu menghenyakkan panggulnya di sisi ranjang, menatap sepasang manik mata saudara perempuannya.

"Aku bingung, dia jauh-jauh datang hanya untuk meminta maaf, masa aku nggak maafkan? Apa kata orang kalau aku egois nggak mau ngasih kesempatan buat orang bertobat? Semua orang pernah melakukan kesalahan, lalu apa salahnya jika kita berlapang dada untuk memaafkan."

Rendra memicingkan matanya. " Bukankah papa sudah bilang kamu nggak perlu takut? Kamu tidak akan disalahkan meskipun tidak memberi maaf kepada mereka," omel pria itu dengan menatapnya dingin. "Sikap mereka sudah keterlaluan terhadapmu, bisa-bisanya kamu maafin mereka!"

Nina terdiam, permasalahan itu sudah berlalu, ia tidak ingin menjadikannya berlarut-larut. Apa salahnya jika harus memberikan kesempatan kedua buat orang bertobat. Kalau pun orang itu masih juga mengganggunya berarti memang harus siap untuk memberinya hukuman.

"Sudahlah kak, aku nggak ingin membahasnya lagi. Aku capek, mau istirahat." Nina menarik selimutnya dengan malas. Dia mendengus saat kakaknya tak kunjung meninggalkannya. "Kenapa masih di sini? Kembalilah ke kamarmu! Jangan menggangguku!"

Dengan santai dan merebahkan tubuhnya pria itu menggumam. "Tapi aku ingin istirahat di sini."

Nina menatapnya horor. "Apa kamu bilang?" Dia mengurungkan niatnya untuk merebahkan diri. Kalau sampai orang tuanya tahu keberadaan Rendra di kamarnya, bisa jadi Boomerang yang siap meledak.

"Cepat pergi atau aku bakalan berteriak!" Ancamnya.

Satu alis Rendra terangkat. "Teriak aja sekencang mungkin. Memangnya kamu pikir aku bakalan takut? Justru kalau kamu berteriak semua orang akan datang ke sini dan melihat kebersamaan kita. Dengan begitu mereka berpikir kita sudah melakukan hal-hal yang melanggar, dan besok pasti kita bakalan dibawa ke kantor sipil untuk dinikahkan. Gimana menurutmu? Apa kamu sudah siap untuk hari esok? Di kantor sipil?"

Sikap Rendra benar-benar membuatnya jengkel. Semakin dikasari tingkahnya semakin menjadi-jadi. Entah berapa lama lagi dia tinggal, atau mungkin tidak ingin kembali ke negaranya?

"Mendingan ayo kita tidur. Kita mimpi indah bersama."

"Tapi kak..., kita itu bukan muhrim. Apa tanggapan orang mengenai kedekatan kita? Aku bakalan dicap buruk oleh semua orang. Mau ditaruh di mana mukaku? Aku malu kak!"

Rendra menarik selimut dan merebahkan diri sembari mengamatinya. "Ya kalau malu kita menikah saja. Dengan begitu statusmu juga bakalan jelas menjadi nyonya Rendra Adijaya. Memangnya kamu nggak berpikir, kejadian malam itu tumbuh benih di rahimmu?"

Bola mata Nina membulat dan refleks memegang perutnya. "Tidak mungkin! Kejadian itu hanya sekali. Nggak mungkin aku hamil."

Rendra terkekeh. "Yakin sekali nggak hamil. Coba besok beli tespek gitu, biar tahu positif negatifnya."

Degub jantung Nina berdebar semakin tak karuan. Tak pernah terpikir olehnya mengenai kehamilan itu. Ia berpikir hanya melakukan sekali saja, dan pasti tidak akan membuatnya hamil. Namun kini Rendra semakin meyakinkan bahwa dirinya tengah mengandung buah hatinya. Bagai tersiram air mendidih, hidupnya yang awalnya damai tentram sentosa kini berubah menjadi bencana dengan masalah yang datang silih berganti. Sanggupkah ia menghadapinya sendiri?

"Kak, menurutmu apa aku bakalan hamil? Kita kan melakukannya cuma sekali doang! Please, jangan membuatku takut."

Rendra menyentil hidungnya gemas. "Aku tidak ada niatan untuk menakut-nakutimu, aku hanya sedang mengingatkanmu untuk segera mengeceknya. Syukurlah kalau kamu nggak tengah mengandung. Sebelum terlambat mengetahuinya lebih baik dideteksi sejak dini."

"Terus kalau bener gimana?" Nina langsung panik.

"Ya kita nikah lah. Memangnya kamu mau anak kita lahir tanpa status yang jelas?" Rendra membantah.

"Tapi bagaimana dengan orang tua kita? Mereka pasti bakalan syok dan kecewa. Memangnya kamu tega menyakiti perasaan mereka?"

Dibanding memikirkan kebahagiaannya sendiri Nina lebih memikirkan kebahagiaan orang lain. Ia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Ia juga tidak ingin dianggap anak durhaka, tapi ia juga tidak tahu harus mengambil jalan apa untuk membuat keputusan.

"Kamu itu terlalu banyak nonton drama! Masalahmu sendiri kamu abaikan demi kebahagiaan orang lain. Kalau kamu nggak bisa merubah kebiasaanmu yang seperti itu maka kamu sendiri yang bakalan rugi."

Nina mendengus dengan meliriknya. "Tapi ini tentang orang tua kita kak! Mereka bukan orang lain. Mereka sangat baik padaku, bagaimana aku tega menyakiti perasaannya?"

"Itulah kelemahanmu, Nina.

Dengan sikapmu yang seperti itu akan banyak orang yang memanfaatkan kebaikanmu," omel Rendra. Rendra tak peduli kalaupun harus menentang kemarahan orang tuanya. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada adik tirinya, maka ia akan bertahan untuk mendapatkannya. Ditambah lagi ia harus bertanggung jawab atas apa yang pernah dilakukannya.

"Sekarang coba kamu pikir, seandainya saja memang benar kamu mengandung anakku, apa yang akan kamu lakukan? Mempertahankan atau melakukan hal yang bertentangan dengan hukum?"

Nina membuang mukanya. "Aku tidak tahu. Aku masih belum berpikir sampai situ!" Gadis itu menarik nafasnya kasar. "Menurutmu jika mereka tahu apakah bakalan ngasih izin kita buat nikah? Aku tak yakin mereka bakalan ngasih izin, yang ada mereka bakalan marah kecewa."

"Kalau marah itu wajar. Mereka hanya syok, tapi bukan berarti nggak mau memaafkan. Lebih baik kita jujur sekarang dari pada menyimpan rahasia berlarut larut. Cepat atau lambat aku yakin mereka bakalan mengetahuinya."

Nina menggigit bibirnya gelisah. Bagaimana ia akan memulai memberikan penjelasan pada orang tuanya? Ia masih belum memiliki keberanian untuk bicara jujur. Ia hanya takut mereka bakalan marah dan mengusirnya. Dengan kondisinya yang masih belum bisa hidup mandiri, ia takut bakalan terlantar di luar.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Sekarang lebih baik kita istirahat."

Rendra memejamkan matanya. Dia tak ingin pusing memikirkan rahasia itu hingga berlarut-larut. Ia sudah berencana untuk memberi tahu orang tuanya. Ia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengungkapnya.

Nina masih juga gelisah tak kunjung bisa memejamkan matanya. Dia masih kelimpungan tak tenang. Rendra yang merasa terusik kembali membuka matanya.

"Kenapa masih juga belum tidur. Ayo cepat tidurlah, atau jika tidak jangan salahkan aku kalau kejadian itu bakalan terulang kembali."

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!