NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 21 Ternyata Dia Suka Masakanku

Suara embusan AC yang dingin menjadi satu-satunya latar belakang di ruangan itu sebelum Reno masuk dengan langkah lebar. Ia langsung menarik kursi di depan meja kerja Bara tanpa permisi, meletakkan tabletnya dengan suara brak yang cukup keras.

​"Gila lo, Bar. Nekat banget ambil keputusan sendiri buat kontrak kerja sama klien Central Dirgantara," ujar Reno sambil membuka beberapa berkas digital di hadapannya. "Gue baru mau kasih hasil audit terbaru soal proyeksi risiko mereka di semester dua."

​Bara menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, wajahnya tampak lelah namun tetap kaku. "Nggak ada waktu buat nunggu audit lo, Ren. Kondisinya tadi mendesak. Kalau gue nggak kasih kepastian malam ini, mereka bakal lari ke kompetitor. Lo tahu sendiri kan, posisi kita lagi goyah gara-gara kabar Bokap gue masuk rumah sakit?"

​Reno menghela napas, ia mengusap dagunya sembari menatap poin-poin kontrak yang baru saja ditandatangani Bara. "Iya, gue paham. Tapi klausul jangka pendek yang lo tawarin itu... berisiko buat kita kalau performa tim tiba-tiba nggak stabil. Kenapa lo berani jamin investasi mereka bakal aman?"

​"Karena gue yang bakal turun tangan langsung," jawab Bara tegas, matanya menatap tajam sepupunya itu. "Gue kasih mereka opsi evaluasi tiga bulan. Itu satu-satunya cara buat yakinin mereka kalau perusahaan tetap berjalan meski Papah absen. Mereka akhirnya setuju, bahkan mau suntik modal dua puluh lima persen di awal."

​Reno terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan, mulai mengakui ketenangan Bara dalam situasi tertekan. "Dua puluh lima persen? Itu angka yang lumayan buat napas baru. Oke, gue akui insting lo tajam kalau soal dadakan begini."

​Bara memijat pangkal hidungnya, rasa pening mulai menyerang. "Gue nggak butuh pujian lo. Yang gue butuh sekarang, lo pastiin semua divisi siap buat proyek percontohan ini. Jangan sampai ada celah sedikit pun buat mereka ragu pas evaluasi nanti."

​Reno baru saja hendak menyahut soal urusan teknis lainnya, ketika ia melihat Bara melirik ponselnya dengan raut wajah yang mendadak berubah keruh, membuat suasana di ruangan itu kembali terasa berat dan penuh rahasia yang belum terucap.

Reno menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik sepupunya yang tampak gelisah sejak tadi. "Kenapa, Bar? Gue lihat-lihat lo kayak orang bingung gitu dari tadi," tanya Reno curiga.

​Bara hanya membuang muka, mencoba fokus pada tumpukan berkas di depannya. "Nggak apa-apa."

​"Oh ya, lo tadi ketemu Maya di rumah sakit?" tanya Bara tiba-tiba.

​Reno tertegun, tangannya yang memegang pulpen mendadak kaku. "Enggak. Tapi kata Tante Sarah, ada yang mau datang buat jenguk bokap lo," lanjut Reno.

​Bara mengembuskan napas panjang, ia melepaskan pulpennya begitu saja ke atas meja. "Nah, itu yang gue maksud. Maya datang ke rumah sakit buat jenguk bokap gue. Dia baru saja sampai di sana."

​Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat tegang. Reno memajukan posisi duduknya, menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo emang nggak enakan sama istri lo, Bar? Apalagi Maya itu orang lain buat lo sekarang. Lo sadar nggak sih apa yang lo lakuin selama ini?"

​Bara terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Kalimat yang keluar dari mulutnya berikutnya adalah kalimat yang sanggup menghancurkan perasaan wanita mana pun jika mendengarnya.

​"Ya gimana lagi, Ren... Maya itu cinta pertama gue," ucap Bara pelan, namun terdengar begitu yakin.

​Reno terbelalak, ia hampir saja berdiri dari kursinya karena tidak percaya. "Sakit lo, Bar! Gila. Istri lo kalau dengar lo bilang begini, hancur hati dia! Lo mikir nggak sih, Renata itu istri sah lo, dan lo masih bahas soal cinta pertama di tengah kondisi kayak gini?"

Bara memijat pelipisnya yang kian berdenyut, seolah-olah pengakuan itu adalah beban yang sudah terlalu lama ia panggul sendiri. "Gue nggak mau bahas yang begituan, Ren. Tapi gue harus gimana lagi? Gue dan Renata statusnya memang sudah suami-istri, tapi gue sendiri nggak bisa melepaskan cinta pertama gue begitu aja."

​Reno menatap sepupunya dengan tatapan ngeri, seakan sedang melihat orang asing. "Gila ya lo. Kayaknya lo harus diruqyah deh, Bar. Lagian lo kenapa bisa-bisanya nikahin Renata kalau hati lo masih nyangkut di orang lain? Itu namanya lo nyiksa dia, nyiksa diri lo juga!"

​Bara tertawa getir, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Ia mencondongkan tubuh ke arah Reno, suaranya merendah namun tajam, melontarkan pengakuan yang membuat Reno benar-benar tidak habis pikir.

​"Kalau lo pengen tahu, gue nikah sama Renata itu cuma karena kemauan bokap gue sendiri," desis Bara. "Kalau gue nggak nurutin dia buat nikahin Renata, semua aset milik gue bakal ditarik sama bokap. Gue nggak punya pilihan selain jadi anak penurut demi posisi gue sekarang."

​Reno terdiam seribu bahasa, mulutnya sedikit ternganga. "Jadi... semua ini cuma soal harta? Dan Renata... dia nggak tahu kalau dia cuma 'pelampiasan' lo demi harta gono gini?"

​Bara tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, menatap dingin ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar pintu ruangannya, seseorang berdiri mematung dengan tangan gemetar yang masih memegang erat tas kain berisi rantang makanan.

Keheningan yang mencekam di dalam ruangan itu pecah oleh suara ketukan pintu yang ragu-ragu namun terus berulang. Bara dan Reno seketika bungkam, saling melempar tatapan bingung. Siapa yang berani datang ke ruangan CEO pada jam seperti ini?

​"Masuk!" seru Bara, suaranya kembali datar dan berwibawa, mencoba menyembunyikan sisa ketegangan dari percakapannya dengan Reno tadi.

​Pintu itu berayun terbuka perlahan, menampilkan sosok Renata yang berdiri di sana. Wajahnya pucat, namun ia berusaha memulas senyum tipis yang tampak dipaksakan. Di tangan kanannya, ia menenteng tas kain berisi rantang susun yang masih menebarkan aroma samar masakan rumah.

​Reno, yang sejak tadi belum sempat makan malam karena sibuk mengurus audit, langsung melirik rantang itu dengan mata berbinar. Perutnya mendadak berbunyi nyaring, memecah kecanggungan di ruangan yang dingin itu.

​"Mas!" sapa Renata lembut. Ia melangkah mendekat ke meja kerja Bara, lalu meletakkan rantang itu di atas meja kaca yang dipenuhi dokumen penting.

​Dengan jemari yang sedikit gemetar, Renata mulai membuka pengait rantang satu per satu, menata wadah-wadah berisi nasi dan lauk pauk di hadapan suaminya. Bara hanya bisa memperhatikan setiap gerakan istrinya dengan dahi berkerut, ia menggelengkan kepala perlahan—sebuah gestur antara heran, kesal, dan rasa tidak percaya.

​"Kamu... ngapain ke sini malam-malam begini, Ren?" tanya Bara, suaranya terdengar antara bingung dan terganggu, sementara matanya tak sengaja menangkap sorot mata Renata yang tampak jauh lebih dalam dari biasanya—seolah wanita itu baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tetap terkubur rapat.

"Yah, aku bawain makan malam buat kamu, Mas. Ini spesial, semuanya masakan buatan aku sendiri," jawab Renata pelan, suaranya terdengar tulus meski ada sedikit nada lelah yang terselip di sana.

​Bara mengembuskan napas panjang, ia melirik rantang itu sekilas lalu kembali menatap Renata. "Atuh jangan repot-repot deh, Ren. Aku kan bisa makan di luar juga, atau pesan lewat aplikasi. Lagian ini sudah malam, bahaya kamu jalan sendirian."

​Mendengar tanggapan dingin itu, raut wajah Renata seketika berubah. Senyum tipis yang tadi ia paksakan kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh binar kecewa yang nyata. "Aku sudah masak capek-capek buat kamu, Mas, tapi respons kamu malah begini. Aku kira kamu bakal suka atau minimal menghargai sedikit, aku sudah effort banget bawain sampai sini."

​Melihat istrinya yang mulai berkaca-kaca, Bara merasa sedikit tersudut. Ia mengusap jidatnya dengan kasar, sadar bahwa ia baru saja menambah luka di hati wanita itu. Ia segera mengubah nada bicaranya menjadi lebih lembut.

​"Iya, sayang... aku ngehargain banget masakan kamu. Serius. Apalagi kalau masakan buatan istri sendiri, pasti jauh lebih enak daripada beli di luar," ucap Bara sambil mencoba memberikan senyum tipis yang dipaksakan.

​Reno, yang sedari tadi hanya menjadi penonton di pojok ruangan, langsung memasang wajah mual. Ia memutar bola matanya dan berbisik pelan namun cukup terdengar, "Dih, geli banget gue dengarnya. Tadi aja ngomong apaan, sekarang 'sayang-sayangan' depan makanan."

​Bara menoleh ke arah sepupunya itu dengan tatapan meledek. Ia sengaja mengambil sesendok nasi dan lauk, lalu mengarahkannya ke depan wajah Reno yang kelaparan.

​"Kenapa lo, Ren? Iri ya? Makanya, cari istri biar ada yang masakin terus diantar sampai kantor begini," ledek Bara sambil tertawa kecil, sengaja memanasi Reno yang perutnya masih saja keroncongan melihat uap hangat dari masakan Renata. "Kasihan ya, yang cuma bisa lihatin doang sambil nahan lapar."

"Ngapain gue iri? Gue bisa beli sendiri," balas Reno sengit, meski matanya tetap tak bisa lepas dari kepul uap nasi hangat yang aromanya mulai memenuhi ruangan.

​Bara tidak memedulikan gerutuan sepupunya. Ia justru memutar kursinya sedikit ke arah Renata, menatap istrinya dengan tatapan yang tiba-tiba berubah sangat manis—sebuah perubahan drastis yang membuat bulu kuduk Reno meremang.

​"Iya deh, Ren... lanjutnya," ujar Bara dengan nada suara yang sengaja dilembutkan. "Sayang, kayaknya aku udah nggak sabar nyobain masakan kamu. Tapi aku mau kamu suapin... kayaknya tangan aku sakit deh, pegal banget."

​Renata tertegun sejenak. Sendok yang ia pegang sempat tertahan di udara. Tiba-tiba banget Mas Bara jadi manja begini? batin Renata heran. Rasa sakit hati akibat bentakan di rumah tadi masih membekas, namun melihat wajah suaminya yang tampak "lelah" dan memelas, pertahanan Renata perlahan luluh.

​Ia menuruti kemauan suaminya. Dengan telaten, Renata menyendokkan nasi dan lauk, meniupnya pelan sebelum mengarahkannya ke mulut Bara.

​"Aaa..." ucap Bara manja, membuka mulutnya lebar-lebar layaknya anak kecil.

​Suapan pertama mendarat dengan sukses. Bara mengunyah pelan sambil menunjukkan ekspresi wajah yang dibuat-buat seolah masakan itu adalah hal paling nikmat di dunia, matanya terpejam sejenak sambil sesekali melirik Reno dengan tatapan kemenangan.

​"Enak banget, sayang. Memang nggak ada tandingannya kalau kamu yang masak," puji Bara berlebihan.

​Reno yang melihat pemandangan itu dari seberang meja langsung membuat gestur seperti orang ingin muntah. "Sumpah ya, Bar, lo benar-benar bikin gue mau muntah di sini juga. Jijik banget gue lihat lo begitu! Inget umurrr!"

​Bara hanya membalasnya dengan seringai tipis di sela-sela kunyahannya, merasa puas telah berhasil membuat Reno kesal sekaligus menutupi kegelisahannya sendiri dengan sandiwara kemesraan itu.

Akan tetapi Bara mendadak tersedak, sebuah deheman keras yang sengaja ia buat-buat untuk memancing perhatian lebih. Wajahnya memerah sesaat, tangannya terangkat menepuk dada dengan dramatis.

​Renata yang memiliki perasaan peka, langsung bereaksi dengan sigap. Ia menyambar tumbler yang sudah ia siapkan, membukanya dengan cekatan, lalu menyodorkannya ke bibir Bara. "Minum dulu, Mas," ucapnya cemas, membantu menyangga botol itu agar airnya tidak tumpah ke kemeja kerja suaminya.

​"Pelan-pelan, sayang, ngunyah makanannya. Kamu jadi keselek kan kalau buru-buru begini," tegur Renata lembut, tangannya yang lain mengusap punggung Bara dengan gerakan menenangkan—sebuah gestur kasih sayang yang alami, seolah ia sejenak lupa akan luka yang digoreskan suaminya di rumah tadi.

​Reno yang sejak tadi menonton dengan wajah masam, kini benar-benar mencapai batas kesabarannya. Melihat sepupunya yang biasanya bersikap dingin dan otoriter tiba-tiba berubah menjadi pria manja yang minta diusap-usap, membuat perutnya benar-benar mual.

​"Oke, cukup! Gue keluar!" seru Reno sambil berdiri dengan kasar hingga kursi kerjanya berderit nyaring. Ia menyambar tabletnya dengan gerakan cepat. "Gue mending makan mi instan di warkop sebelah daripada harus kena diabetes lihat drama picisan kalian di sini. Bar, kalau lo udah selesai 'manja-manja', hubungi gue!"

​Tanpa menunggu jawaban, Reno melangkah lebar keluar dari ruangan, membanting pintu itu dengan suara debaman yang cukup keras, meninggalkan Bara dan Renata dalam keheningan yang mendadak terasa canggung. Bara hanya tersenyum miring ke arah pintu, merasa berhasil mengusir pengganggu, sementara Renata kembali fokus pada sisa nasi di dalam rantang.

Suapan terakhir akhirnya meluncur masuk ke mulut Bara, tidak menyisakan sebutir nasi pun di dalam wadah stainless steel itu. Rantang yang tadinya penuh kini tampak bersih mengilat, seolah dicuci secara instan oleh nafsu makan Bara yang tak terbendung.

​Renata menatapnya dengan binar yang sedikit lebih cerah. "Kamu lapar banget apa emang masakan aku seenak itu, Mas?" tanyanya sambil tersenyum tipis, ada rasa puas tersendiri melihat hasil jerih payahnya habis tak bersisa.

​Bara menelan suapan terakhirnya lalu mengelap bibir dengan tisu. "Dua-duanya. Enak banget, dan aku memang lapar. Ditambah lagi seharian ini aku benar-benar belum sempat makan," jawab Bara, suaranya kini terdengar lebih tulus, meski bayang-bayang percakapannya dengan Reno tadi masih menghantui sudut pikirannya.

​"Untung ya aku masakin kamu, jadi kamu nggak harus capek-capek cari restoran jam segini," timpal Renata sembari mulai mengemas kembali susunan rantang tersebut.

​"Iya, sayang. Kamu memang yang paling pengertian," sahut Bara. Ia terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan. "Ngomong-ngomong... kamu sudah enakan? Maksud aku, perasaan kamu... soal yang di rumah tadi?"

​Renata menghentikan gerakannya sejenak saat menutup tas kain. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan kegiatannya seolah tidak ada beban yang mengganjal. "Sudahlah, Mas. Cuma hal sepele kok. Lagian masalah kecil jangan dibesar-besarkan, yang penting sekarang kamu sudah makan dan urusan kerjaan kamu lancar."

​Bara hanya terdiam mendengar jawaban itu. Ada rasa lega karena Renata tidak memperpanjang masalah, namun di sisi lain, ada perasaan asing yang menusuk hatinya—sebuah rasa bersalah yang ia tekan kuat-kuat di balik profesionalnya sebagai seorang pemimpin perusahaan.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!