Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Violet pun kembali ke tempat tidurnya. Lalu membuka ponselnya mencari file yang disebutkan oleh Violet asli dalam mimpinya.
Setelah dicari-cari, “Gotcha, akhirnya ketemu,” ucap Violet setelah menemukan file yang ia cari.
Violet segera membuka video itu dan ketika membukanya, suara erangan langsung memenuhi kamar. Ia segera mengecilkan volume suara itu.
Ia terkejut melihat video yang direkam oleh Violet asli, ia kira hanya adegan pelukan-pelukan biasa, tetapi ternyata, mereka sedang mendaki gunung.
Violet pun langsung mematikan video itu, karena takut ketahuan walaupun tidak mungkin kedengaran sampai keluar kamar. Tapi, untuk berjaga-jaga, ia segera membuat salinan file itu di ponselnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.
Tok!
Tok!
Tok!
Violet buru-buru menyimpan ponselnya di atas nakas.
“Sebentar!” jawab Violet dengan keras.
Violet pun berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Terlihat kepala pelayan bernama Bi Aminah berdiri di depan pintu.
“Bi, ada apa?”
“Nona di suruh tuan untuk menemuinya di ruang kerja.”
“Baik. Terima kasih bi.”
Setelah menyampaikan pesan, Bi Aminah pun kembali pergi.
Violet langsung menutup pintu kamarnya dan segera menuju ruang kerja Xavier.
Setelah menaiki lift, akhirnya sampai di lantai 3. Violet berjalan ke arah ruang kerjanya yang terletak di samping kamar milik Xavier.
Tok!
Tok!
Tok!
“Masuk,” ucap dari dalam ruangan.
Violet pun langsung masuk setelah mendapatkan izin.
Pandangan Xavier tak luput dari layar laptop yang sedang menyala. Tanpa menatap Violet, Xavier berucap, “Persiapkan dirimu, kita pergi ke mall hari ini.”
“Ke mall? Untuk apa?”
“Untuk membeli barang-barang yang kau perlukan.”
“Tapi, barang-barangku masih ada, tidak ada yang kurang.”
Sedangkan dalam hati, ia berucap lain. “Yeay, aku tadinya ingin meminta izin padanya untuk pergi ke mall. Tapi Xavier malah mengajakku duluan.”
Aerin pun sempat-sempatnya meledek dirinya. “Itu namanya pucuk di cinta ulam pun tiba. Mulut bilangnya menolak, tapi hati cakap lain.”
“Ahhh, kau ini... biarlah, biar Xavier melihat kalau aku cewek baik-baik,” jawab Violet.
“Memang iya Xavier melihatmu seperti itu?”
“Ya biarlah.”
Violet terus berdebat dengan Aerin. Sampai akhirnya Xavier mengeluarkan suara tegasnya.
“Violet!”
Violet langsung kembali ke kesadarannya.
“Apa kau mendengar ucapanku?”
“I-itu...”
“Kau tidak dengar ucapan saya sepertinya. Apa yang kau pikirkan sampai kau tidak mendengar ucapan saya?”
“Itu... aku terkejut, karena Anda mau mengajakku ke mall.”
Xavier menghela napas panjang.
“10 menit lagi kita berangkat.”
“A-apa?” Violet terkejut.
“Kembali ke kamarmu, lalu bersiaplah.”
Violet masih terpaku.
“Ah... i-iya, aku ke kamarku sekarang.”
Violet pun segera berlari keluar dari ruang kerja Xavier.
Xavier yang melihatnya pun terkekeh kecil. Ia pun menggelengkan kepalanya.
...****************...
Di dalam kamar...
Violet bergegas siap-siap untuk pergi ke mall. Dengan memakai skincare tipis, dan juga bedak, tak lupa lip balm dan liptint, setelahnya ia melihat ke arah cermin. “Perfect.”
Violet pun mengambil tas selempang dan memakai wedges. Setelah semua siap, ia segera keluar dari kamar.
Dan terlihat, Xavier sudah berada di lantai bawah, dan duduk di kursi tamu.
Violet melangkahkan kakinya dengan cepat, takut membuat Xavier menunggu lama.
“Maaf, apa aku terlalu lama?”
Xavier yang wajahnya masih tertutup topeng segera menatap ke arahnya. Seolah memindai apa yang dia pakai.
“Lumayan. Ayo.”
Xavier langsung berdiri meninggalkan Violet yang mematung.
Namun dengan segera, Violet dengan sedikit berlari dan menyamai langkahnya.
Di luar, mobil hitam sudah terparkir dengan rapi. Sopir langsung membukakan pintu belakang saat melihat mereka sudah datang.
“Silakan, Tuan. Nona.”
Violet sedikit canggung, tetapi tetap masuk lebih dulu. Kemudian Xavier duduk di sampingnya tak lama setelah itu.
Pintu tertutup, dan mobil pun mulai melaju meninggalkan kediaman.
Suasana di dalam mobil terasa hening.
Violet melirik ke arah Xavier diam-diam. Pria itu terlihat fokus dengan tablet di tangannya walaupun wajahnya masih tertutup dengan topeng.
Dalam pikiran, Aerin kembali muncul.
“Diam-diam, Xavier terlihat dingin dan menghanyutkan ya. Sampai-sampai Violet atau haruskah ku panggil Irene terpana melihat pemandangan itu?”
“Diamlah...” balas dalam hati. “Memang dia terlihat seperti itu dari awal.”
“Tapi kamu bahagia kan diajak ke mall?”
“Tentu saja aku bahagia. Karena aku tidak perlu izin untuk pergi keluar tadi.”
Setelah mengatakan itu, Violet langsung memalingkan wajahnya ke jendela.
Beberapa menit kemudian...
Mobil mulai memasuki area mall besar di pusat kota. Gedungnya terlihat tinggi dan ramai pengunjung.
Di atas tepatnya di kaca luar jendela lantai 2, nampak sebuah tulisan ‘Mall Navara’.
Dan itu membuat Violet bertanya-tanya. “Siapa pemilik Navara ini?”
“Aku rasa, yang menjadi istri dari Navara Group ini pasti bahagia,” gumamya.
Xavier yang mendengar gumaman Violet, langsung menyunggingkan senyumannya.
Pintu mobil terbuka di depan pintu masuk utama.
Sopir turun dan membukakan pintu. Mereka pun turun dari mobil.
Saat berjalan masuk ke dalam mall, beberapa orang sempat melirik ke arah mereka. Xavier berjalan dengan aura dingin walaupun wajahnya tertutup topeng, dan Violet yang terlihat manis dengan penampilannya hari itu.
Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyambut mereka.
“Kita kemana dulu?” tanya Violet.
Xavier berhenti sebentar, lalu menatapnya. “Ke toko pakaian.”
“Eh? Kenapa?”
“Kau bilang tidak ada yang kurang, tapi lemari pakaianmu tidak sesuai.”
“Tidak sesuai?”
“Dengan posisi dan tempat tinggal mu sekarang.”
Violet terdiam. Ia baru sadar maksudnya.
“Oh...”
Tanpa menunggu lagi, Xavier berjalan lebih dulu menuju salah satu butik terkenal.
Violet mengikuti dari belakang, tapi dalam hatinya mulai muncul rasa penasaran.
“Apa... dia melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawabnya? Atau dia tidak ingin aku terlihat seperti wanita yang kurang perhatian dari suaminya?” gumamnya.
Xavier mendengar perkataan itu, lalu memberhentikan langkahnya.
“Saya melakukan ini sebagai bentuk tanggung jawab dan juga tidak ingin, kau dipandang rendah oleh orang lain.”
Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya.
Violet yang mendengar itu pun terkejut. “Tanggung jawab? Jadi, dia menganggapku sebagai istrinya?”
Wajah Violet langsung bersemu merah, dan segera berlari mengikuti langkah kaki Xavier.
Mereka pun masuk ke dalam butik dan langsung disambut hangat oleh seorang pegawai dengan senyum profesional.
“Selamat datang.”
Xavier menunjuk ke arah Violet. “Pilihkan pakaian yang cocok untuknya.”
“Baik, Tuan.”
“Eh, tunggu –“ Violet mencoba menyela, tapi sudah terlambat.
Pegawai itu langsung membawa beberapa gaun dan atasan dengan berbagai model.
“Silakan dicoba, Nona.”
Violet dengan pasrah, masuk ke dalam ruang ganti.
Di luar, terlihat teman dari pegawai itu menatap sinis ke arah mereka.
“Paling juga hanya coba-coba dan gak berani untuk bayar.”
Pegawai yang melayani Xavier dan Violet pun berbalik. “Kenapa? Bukannya semua pengunjung adalah raja? Dan tentu saja, sebagai seorang raja harus dilayani dengan baik.”
“Iya, seorang raja. Tapi untuk orang yang benar-benar punya uang. Dan kau lihatlah mereka. Hanya menggunakan...”
...... To be continued ... ...