NovelToon NovelToon
Menikahi Kakak Pacarku

Menikahi Kakak Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: tayanlee

Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏

Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.

Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.

Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.

Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.

HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21.

" Dari siapa " tanya Lucas datar, Ia mengambil berkas itu.

" Kontrak kerja sama dengan perusahaan Ardent group, tuan " jawab mike.

" kerja sama? "

" iya "

" Ini mungkin bisa membantu anda nantinya...perusahaan Ardent group cukup terkenal akhir-akhir ini karena kinerjanya "

" di dunia politik maupun di pemasaran internasional, mereka cukup terkenal tuan" jelas mike.

Lucas membaca sedikit demi sedikit, Ia cukup tertarik dengan isi kontrak tersebut.

" Menarik " ucap Lucas.

Mike mengangkat wajahnya, Ia ingin melihat reaksi Lucas.

" Apa anda tertarik tuan " tanya mike hati-hati.

Lucas tidak langsung menjawabnya, matanya masih menelusuri isi kontrak tersebut, tenang tapi tajam, seperti membongkar sesuatu yang tersembunyi dari di balik kalimat-kalimat formal.

" Mereka tahu bagaimana cara menarik perhatian" ucap Lucas, Ia membalik halaman berikutnya.

" Angka-angka ini terlihat menguntungkan di permukaan ....." Lucas memberi jeda sejenak, Ia memperhatikan setiap isinya.

Jarinya mengetuk pelan satu bagian.

" Tapi terlalu rapi untuk sesuatu yang nyata " Lucas menutup berkas itu pelan.

" bukan di sembunyikan... tapi di susun dengan rapi " ucap Lucas pelan.

Lucas mengangkat wajahnya, pandangannya lurus ke depan.

" mereka ingin aku merasa bahwa ini adalah kesempatan " nada suaranya datar namun ada sedikit ketertarikan di dalamnya.

" padahal ini adalah permainan yang di susun dengan rapi " lanjut Lucas, Ia tersenyum samar, bahwa dia tertarik dengan permainan yang mereka siapkan.

Mike terdiam, Ia melihat bahwa Lucas tertarik dengan dengan kontrak tersebut.

Lucas berdiri dari kursinya, berjalan pelan menuju jendela.

" atur pertemuannya "

Mike langsung mengangguk pelan.

" baik tuan " Jawab mike cepat.

" cari tahu lebih banyak tentang ardent group " tambah Lucas.

" baik tuan " jawab mike.

Mike pun keluar meninggalkan Lucas yang masih berdiri di depan kaca besar itu.

***

Adel menatap lurus keluar, Ia duduk di balkon sambil menikmati teh hangat, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sini.

Adel masih memikirkan Devan yang berada jauh dengannya, ada rasa rindu, penyesalan dan kekesalan, jujur di dalam hatinya masih sangat mencintai Devan, Ia bahkan selalu bermimpi tentang Devan yang tersenyum hangat padanya.

" maaf " gumam Adel hampir tidak berbisik, tatapan matanya kosong.

Angin sore menghembus pelan, memainkan helai rambut Adel yang tergerai, cangkir teh di tangannya tidak lagi mengepul.

Dingin...

Sama seperti perasaannya yang berubah tidak menentu, Adel memejamkan matanya membayangkan kenangan indah yang masih tersimpan di memorinya.

" maaf " ulang Adel pelan, Adel membuka matanya, Ia mulai berkaca-kaca tapi Adel menahannya.

kenangan itu datang lagi, terlalu jelas, senyum Devan, cara pria itu memandangnya seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Dan janji-janji yang dulu begitu nyata, kini justru menjadi luka, Ia tersenyum pahit, dadanya terasa sesak.

Terasa sakit sampai Adel memegangi dadanya, tapi Ia tetap menahan tangisnya.

Adel tahu, menangis se kecang apapun itu tidak akan bisa merubah statusnya dan bahkan dia juga tidak bisa kembali ke masa lalu yang dia rindukan.

Di belakangnya pintu balkon terbuka pelan, rena menghampiri Adel yang masih melihat matahari terbenam.

" nona, angin sore sudah mulai dingin... lebih baik nona masuk " ucap rena sopan.

Adel menoleh pelan, Ia tersenyum tipis.

" aku ingin melihat pemandangan ini sebentar lagi " ucap Adel pelan.

" musim gugur sebentar lagi usai, dan musim dingin akan tiba, udara mulai dingin " ucap rena pelan.

" saya akan bawakan sesuatu untuk nona pakai agar bisa menghangatkan tubuh nona " ucap rena.

Adel mengangguk pelan, dan rena pun kembali ke dalam untuk mengambil sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh Adel.

Tak lama rena kembali dengan selimut kecil di tangannya, Ia memberikannya pada Adel.

" terimakasih " ucap Adel pelan.

Rena mengangguk pelan, Ia berdiri di samping Adel beberapa saat, seolah memastikan bahwa wanita itu benar-benar baik-baik saja.

" saya di dalam saja nona... kalau butuh sesuatu tolong panggil saya " ucap rena lembut.

Adel mengangguk pelan, dan pintu kembali tertutup.

Hening kembali.

Langit mulai berubah warna, jingga perlahan mulai memudar, di gantikan beru gelap yang membawa suasana menjadi sunyi.

Adel menarik selimut kecil itu lebih rapat ke tubuhnya, namun kehangatan itu tidak sampai ke hatinya, matanya masih menatap lurus ke depan tapi pikirannya jauh.

Jauh ke masa lalu yang tidak bisa Ia sentuh lagi.

" Kenapa aku masih seperti.... ini " gumam Adel pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

" padahal semuanya sudah berakhir.... aku sudah mengakhirinya " lanjut Adel pelan dan penuh dengan luka.

Air mata yang sejak tadi Ia tahan, akhirnya jatuh juga, satu, lalu perlahan menyusul yang lain.

Diam tanpa suara, seolah Ia bahkan tidak ada tenang untuk mengeluarkan tangisannya.

" tapi...rasa rindu yang aku rasakan ini apa?..." lirihnya, bahkan suaranya tercekat di tenggorokan.

" Devan... "

" Devan... " ulang Adel pelan.

" aku merindukanmu " ucap Adel pelan.

Lama termenung di balkon sendiri, Adel dengan pelan menghapus air matanya, Ia berusaha untuk bersikap tegar.

Setelah itu, Ia bangun dari duduknya tangannya terulur mengambil cangkir teh yang sudah kosong, Adel masuk kedalam dengan mata yang bengkak sehabis menangis.

" Nona " panggil rena pelan.

Adel mengangkat wajahnya, melihat rena yang berdiri tak jauh darinya.

" saya sudah menyiapkan makan malam untuk nona " ucapnya.

" iya " jawab Adel, melemah.

" nona saya pamit untuk pulang, jika nona butuh sesuatu bisa hubungi saya " ucap rena.

" ini nomor saya nona " ucap rena, menyerahkan kertas kecil yang berisi angka-angka.

" baik, aku akan menghubungi mu nanti " ucap Adel, Ia mengambil kertas kecil itu, suaranya terdengar serak dan parau.

Rena tersenyum tipis.

" saya pamit nona " ucap rena.

Adel mengangguk pelan.

Rena Ia berjalan menuju pintu, tepat di depan pintu tiba-tiba.

" tunggu " ucap Adel.

Rena menoleh, menatap lurus ke arah Adel.

" iya nona? " jawab Rena cepat.

" kenapa hanya satu piring?.... "

" apa dia tidak makan malam ? " tanya Adel.

Rena tampak bingung dengan pertanyaan Adel, karena Adel tidak menyebutkan namanya.

" dia.... " tanya ulang Adel.

" Ah... tuan Lucas "

" tidak nona, tuan Lucas biasanya tidak makan malam, tuan Lucas pulangnya malam banget " jelas rena dengan senyum tipis.

" oh... oke, makasih " ucap Adel.

" sama-sama nona, kalau begitu saya permisi " ucap rena, Ia pun meninggalkan ruangan itu.

pintu apartemen tertutup pelan.

Adel beberapa saat berdiri di tempatnya, pandangannya masih tertuju pada pintu yang tertutup, seolah menunggu seseorang datang.

Namun setelah itu, Adel mengalihkan pandangannya pada meja makan yang terasa dingin dan kosong.

Satu piring dan satu gelas, Ia benar-benar sendiri sekarang.

Ia menghela nafas pelan, lalu berjalan ke meja makan, tatapannya tertuju pada kursi kosong di depannya.

Adel duduk, tangannya mengambil garpu dan sendok, namun Adel tidak benar-benar memakannya, tangannya berhenti di udara.

" aneh... " gumam Adel.

" Seseorang yang sibuk, teratur seperti itu tidak makan malam "

Adel terdiam sejenak.

" apa memang seperti itu... atau... "

" Ih apa sih... kok aku malah mikirin dia " gumam Adel.

" mau makan atau enggak itu bukan urusan ku.... bodoamat, " gerutu Adel kesal.

1
KIM TAMIE
Sosor dia Lucas........sosor Adel .
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Estella🍂: sabar" baru sebulan main sosor aje😭😭
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut lanjut makin seru thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Sals
lanjutt kak, bikin adel sadar dan suka ke lucas
KIM TAMIE
Lucas : gilaaaaaaaa...jadi begini bentukan bini gue, sexi parah woy 🤩🤩

Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
lov_e: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor , sepertinya lucas itu suka adel tp demi sebuah sesuatu yg akan dicapai jadi dia ambai pd adel
KIM TAMIE
Lucaskah yg datang ???
Reni Anjarwani
suka bgt sama jln ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Reni Anjarwani
bagus bgt jln ceritanya doubel up trs thor
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up trs thor
KIM TAMIE
Aelaaaah Lucas..... dedeg gue ma elu 🙄🙄🙄.
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Estella🍂: 🤣🤣🤣🤣😭
total 1 replies
Reni Anjarwani
doubel up trs thor
Reni Anjarwani
semanggat doubel up
KIM TAMIE
daaaaan apakah yg akan terjadi selanjutnya ?????
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Estella🍂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus adel hempaskan pelakor
KIM TAMIE
good Adel 👍🏻👍🏻
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!