Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Panggil Namaku
Baruna menggengelengkan kepalanya dengan enggan sambil menutup kedua matanya.Ia sepertinya benar-benar membenci sang Bupati hingga melihat wajahnya pun enggan. Melihat ekspresi Baruna yang demikian, Sang Bupati hanya melirik Baruna sambil tersenyum dengan ekspresi menghina. Adiwardhana lalu berpaling kepada Cakiya yang terlihat riang menjelang eksekusi hukuman gantungnya.
“Cakiya apa ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?” Tanya Sang Bupati.
Cakiya memandang wajah Bupati Adiwardhana dengan ekspresi menahan tawa untuk sesaat hingga akhirnya Cakiya tidak bisa lagi menahan ledakan tawanya saat melihat ekspresi wajah sang Bupati.
“Apa yang kau tertawakan bocah sinting!?” Maki sang Bupati yang mulai terlihat kesal.
Kekesalan Bupati itu terhadap Cakiya dan Baruna bukan tanpa alasan. Dalam waktu satu hari Bupati Adiwardhana harus kehilangan salah satu ajudan utama kesayangannya Ranggaseta dan juga puluhan jawara yang disewanya dengan bayaran mahal harus mati saat berusaha meringkus Baruna dan Cakiya. Ditambah lagi dengan terlukanya anak sulung kesayangan sang Bupati, semakin menambah kebenciannya terhadap Cakiya dan Baruna hingga Ia pun tidak segan-segan menghukum mati mereka berdua meski pun tanpa diadili terlebih dahulu.
“ Tentu saja menertawakan Anda, bisa-bisanya seekor babi tua bergelar ing ngalogo dapat menghukum mati seseorang tanpa bukti yang jelas dan pengadilan yang sah.” Kekeh Cakiya.
“Kurang ajar!” Maki salah satu prajurit pamong yang tadi menusuk rusuk Cakiya menggunakan ujung gagang tombak.
Prajurit itu memukul wajah Cakiya beberapa kali, akan tetapi Cakiya terlihat tidak merasakan sakit saat wajahnya dihantam oleh gagang tombak tersebut. Tawanya justru semakin bertambah keras. Wajah Bupati Adiwardhana berwarna kemerahan hingga nyaris meledak amarahnya saat mendengar Cakiya memanggilnya dengan kata
‘Babi’. Ia tidak pernah mendengar umpatan itu dari seseorang yang lebih rendah kedudukannya.
“Anak ini sudah sinting.” Komentar seorang laki-laki pada barisan paling depan.
“Ayo cepat gantung saja mereka.” Teriak salah seorang pemuda yang menonton dengan tidak sabar.
“Gantung!”
“Gantung!”
“Gantung!”
Suara orang-orang menggema di alun-alun menuntut Cakiya dan Baruna segera dihukum gantung tanpa melalui proses peradilan yang jelas. Sang Bupati tersenyum puas ketika melihat rakyat yang dipimpinnya begitu antusias melihat Cakiya yang bersikap kurang ajar padanya serta Baruna yang telah membunuh ajudannya akan digantung di alun-alun. Bupati Adiwardhana pun memberikan kode untuk mengeksekusi kepada Algojo dengan cara menyilangkan kedua lengannya. Algojo yang memahami perintah sang Bupati mengangguk patuh lalu membaca mantra sebelum menarik tali gantungan. Namun, belum sampai sang algojo selesai membaca mantra, sebuah suara tiba-tiba mengusik algojo itu.
“Tumeke badhe kawiwitipun!” Sela Cakiya tiba-tiba sambil menyeringai riang yang membuat tubuh algojo yang akan mengeksekusi tersentak kaget dan kemudian melirik marah pada Cakiya.
“Bocah kurang ajar!” Maki sang algojo sambil menghunuskan keris yang disimpandari balik pinggangnya. “berani-beraninya kau menirukan mantra hukuman mati milikku.”
Cakiya tertawa sambil berkata “Ternyata mantra juru kunci hukuman mati di alun-alun sama persis di setiap Kota. ”
“Hei…apa yang kaulakukan Kyai Darusapta!” Tegur Sang Bupati .“Bukannya menghukum mati dua kriminal ini, kau justru adu mulut dengan salah satu dari mereka.”
“Ampun Tuan Bupati Adiwardhana.” Kyai Darusapta mennyarungkan kembali kerisnya lalu meminta maaf pada Bupari Adiwardhana. “ Apa yang dilakukan anak ini benar-benar di luar batas menurut saya. Berani menirukan mantra yang sakral yang telah saya ucapkan selama tiga puluh tahun lebih menjadi algojo.”
“Aku tidak peduli lagi. Gantung dia!” Kedua tangan Bupati Adiwardhana mengepal di udara sambil meraung-raung murka.
Kyai Darusapta selaku algojo yang ditunjuk Bupati berniat, menjatuhkan kursi kayu yang menyangga tubuh Baruna dan Cakiya. Namun, belum sempat algojo itu menyentuh kursi bambu tersebut, tubuh Cakiya tiba-tiba dilindungi sebuah tabir pelindung warna keemasan serta permukaan kulitnya menjadi bewarna gelap dan sekeras logam bagaikan permata berwarna hitam yang diselimuti cahaya keemasan. Rupanya Cakiya berniat merapal jurus Zirah Emas sebelum algojo itu melakukan tugasnya menggantung Cakiya dan Baruna. Kursi bambu yang menyangga tubuh Cakiya itu pun hancur karena berat Cakiya semakin bertambah berlipat ganda saat Cakiya merapal jurus pelindung tersebut.
Demikian pula dengan tiang gantungan yang direncakan digunakan untuk menghukum Cakiya juga melengkung lalu patah karena tidak kuat menahan beban dari jurus milik Cakiya tersebut. Kemudian, panggung tempat eksekusi hukuman gantung itu pun ambruk karena tidak kuat menahan beban yang disebabkan jurus Cakiya itu. Kepanikan kemudian melanda tempat itu sewaktu Cakiya mematahkan tiang gantungan menjadi dua bagian dan menyebabkan panggung eksekusi ambruk. Baruna dan Cakiya berhasil selamat dengan bergerak menghindari reruntuhan panggung. Cakiya berhasil membebaskan diri dari ikatan yang membelenggunya, sementara itu Baruna masih dalam keadaan terikat serta tali masih melingkar di lehernya.
“Sudah kuduga begini akhirnya.” Komentar Baruna dengan enteng. “Itu Jurus Zirah Emas : Tahap Permata Hitam. bukan.”
Cakiya hanya tersenyum mendengar Baruna mengenali jurus yang digunakan olehnya.
"Tangkap dia!" Seru Sang Bupati yang terlihat bingung bercampur takut saat salah satu kriminal yang akan dihukum mati atas perintahnya berhasil meloloskan diri.
Para prajurit mengepungnya. Cakiya merebut tombak salah satu prajurit pamong lalu melemparkannya ke arah tali yang mengikat tubuh Baruna. Tali yang mengikat Baruna pun terlepas. Dengan cekatan, Baruna dapat membebaskan diri lalu mengambil kuda-kuda bersiap melawan para prajurit pamongi yang mengepungnya. Bupati Adiwardhana yang melihat dua orang pendekar itu berhasil melepaskan diri dilanda ketakuran serta kebingungan. Ia segera memerintahkan anak buahnya membunyikan terompet tanda bahaya dan bersembunyi di balik tandu miliknya.
Bunyi terompet panjang dibunyikan lima kali berturut-turut bergema di seluruh penjuru alun-alun. Para prajurit pamong yang berada di lingkungan kota Bupati segera meraih senjatanya lalu bergerak secepat mungkin menuju alun-alun Kota Lamunarta. Sementara pasukan pamong yang berjaga di alun-alun kota berusaha menangkap Baruna dan Cakiya yang sudah membebaskan diri dari ikatan. Baruna sendiri berniat mengincar Bupati Adiwardhana, namun beberapa prajurit pamong sudah mengepungnya sehingga menyulitkan Baruna untuk mencapai sang Bupati itu. Terlebih lagi para prajurit pamong yang berdatangan sudah membentuk barisan mengelilingi sang Bupati bersama beberapa jawara yang mengawalnya.
Baruna mendesis jengkel merasakan betapa sulitnya untuk mendekati sang Bupati. Ia pun melampiaskannya dengan menghajar beberapa jawara dan prajurit pamong yang berusaha menangkapnya. Melihat rekan-rekannya tumbang dalam satu serangan salah satu prajurit pamong muda dengan buas mengayunkan tombak ke arah Baruna. Namun dengan tangkas Baruna menangkap serangan itu lalu merebut tombak pasukan pamong itu dan menjadikannya senjata untuk sementara. Prajurit pamong muda itu pun begitu terkejut mengetahui tombaknya dapat direbut Baruna dengan mudah, dengan mudah pula prajurit muda itu pingsan karena serangan balasan dari gagang tombak miliknya yang kini digenggam Baruna. Cakiya bersiul dengan nada kekaguman saat melihat aksi Baruna merampas tombak lawan lalu merebutnya dan menggunakannya sebagai senjata darurat.
“Apa nama jurus itu?” Tanya Cakiya.
“Tidak ada.” Jawab Baruna sambil tersenyum simpul “Aku mengarang gerakan ini sendiri.”
“Dari mana kau belajar mantra menghukum gantung orang?” Baruna balas bertanya. Rupanya Baruna juga heran bagaimana Cakiya dapat menirukan mantra algojo hukuman mati itu hingga membuatnya kesal dan menunda sedikit waktu eksekusi hukuman gantung mereka.
Cakiya menghajar salah satu rajurit pamong dengan menendang dagunya hingga pingsan, dan kemudian menjawab pertanyaan Baruna.
“Aku cukup sering melihat hukuman mati di alun-alun lalu membaca gerak bibir para algojo yang memiliki kebiasaan membaca mantra sebelum melakukan tugasnya.”
Baruna mengangguk-angguk saat Cakiya menjawab demikian, sebenarnya baik Cakiya maupun Baruna ingin sekali bercakap-cakap meluruskan segala permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua setelah pertarungan sebelumnya. Akan tetapi, karena situasi yang kurang memungkinkan membuat mereka berdua terpaksa mengurungkan niat, ditambah lagi dengan semakin banyaknya para prajurit pamong yang berdatangan dari segala penjuru arah. Mau tidak mau mereka harus berkerja sama untuk keluar dari alun-alun Kota Lamunarta, sebab hampir seluruh orang di tempat itu berusaha meringkus Cakiya dan Baruna lalu berusaha menghukum gantung mereka sekali lagi.
Dari kejauhan Cakiya melihat para jawara bersiap-siap untuk membantu para prajurit pamong. Namun, beberapa saat kemudian sewaktu melihat sosok Cakiya dan Baruna, mereka semua mendadak mengurungkan niat untuk membantu para prajurit pamong. Mereka hanya tidak beranjak serta hanya mengamati situasi. Jawara yang tersisa di tengah perkelahian atau sedang mengawal sang Bupati segera mundur dengan wajah suram. Cakiya yang mengetahui perilaku para jawara itu cukup aneh, kemudian mengambil kesimpulan jika apa yang terjadi di rumah makan itu menjadi salah satu pemicunya.
Cakiya kemudian mengamati dengan lebih seksama sekali lagi, di antara para jawara yang berada di alun-alun, tidak ada seorang pun jawara yang ikut dalam perkelahian di rumah makan itu. Mereka semua tidak ada yang menunjukkan diri dalam eksekusi Cakiya dan Baruna. Benak Cakiya menebak jika mereka semua dilenyapkan secara paksa oleh orang-orang tertentu atau sedang terluka amat parah.
“Apakah Tuan Baruna melihat para jawara yang sebelumnya bertarung melawan Anda di rumah makan itu? Tanya
Cakiya.
Di tengah-tengah perkelahian melawan pasukan pamong yang semakin banyak, Baruna kemudian mengamati para jawara yang meninggalkan pusat kekacauan di alun-alun. Memang benar tidak satu pun jawara yang kemarin bertarung dengannya di rumah makan itu berada di alun-alun saat ini. Baruna kemudian mengerutkan alis, merasa bahwa ada yang tidak beres dengan perilaku para jawara. Mereka memang terkenal sebagai jenis pendekar yang memiliki solidaritas tinggi di kalangan sesamanya, saling membantu jika ada teman mereka yang kesulitan serta saling berbagi jika memperoleh rejeki. Mereka seperti satu tubuh tetapi dengan banyak anggota, hingga jika beberapa dari mereka dilanda ketidakadilan, yang lain akan memperjuangkan atau melawannya dengan cara mereka sendiri. Para jawara termasuk petarung yang loyal pada siapa pun yang mau menggaji atau membayar mereka, akan tetapi jika para jawara diperlakukan dengan buruk atau tidak adil, para jawara bisa berbalik membelot atau bahkan berkhianat meski tidak mereka lakukan secara terang-terangan. Dan apa yang Baruna dan Cakiya lihat merupakan sebuah bentuk perlawanan yang dilakukan oleh para jawara kepada sang Bupati meski pun tidak dilakukan secara gamblang.
“Aku pikir semua jawara yang terlibat dalam pertarungan di rumah makan itu dilenyapka-” Baruna belum usai menyelesaikan kalimatnya, beberapa prajurit pamong menusukkan tombak dengan lambung Baruna sebagai sasaran. Baruna dengan sigap lalu menghalaunya dengan tombak, lalu menghajar wajah para prajurit pamong yang menyerangnya itu dengan ujung gagang tombak.
Salah satu prajurit pamong yang memunggungi Baruna berniat menyerangnya dari belakang menggunakan tombak, tapi Cakiya yang mengetahui hal tersebut dengan secepat kilat meraih tangan prajurit yang mengincar Baruna tersebut lalu memuntirnya dengan sekuat tenaga hingga tulang jarinya patah. Jeritan prajurit itu menggema di alun-alun hingga membuat para prajurit pamong cukup ciut nyalinya, lalu mundur untuk sesaat. Mereka lalu mengatur posisi sambil bersiap-siap kembali melakukan serangan sekali lagi. Baruna dan Cakiya lalu berdiri saling memunggungi satu sama lain untuk saling menjaga dari serangan-serangan tidak terduga. Mereka berdua mencari celah agar mampu menembus kepungan para prajurit pamong serta melarikan diri dari alun-alun. Bagaimana pun juga dua orang pendekar muda tidak akan sepadan melawan ratusan prajurit pamong.
“Sungguh aneh kalau para jawara itu kemudian dilenyapkan hanya karena mengetahui soal keberadaan kriminal seperti kita. Apakah sebelum bertarung Tuan Baruna bertemu atau mengalami peristiwa yang janggal?” Tanya Cakiya yang berada tepat di belakang punggung Baruna.
Baruna mengerutkan alis mencoba mengingat kronologi peristiwa sebelum Ia dan Cakiya berakhir dihukum gantung di alun-alun. Baruna mengangguk pelan penuh arti seperti sedang menyadari sesuatu. Ia teringat jika keberadaan seorang perempuan bangsawan muda yang terlihat terburu-buru tersebut sebenarnya terlihat cukup janggal. Namun, belum sempat Baruna memikirkan ulang arah kepergian perempuan bangsawan tersebut, beberapa kilatan mata tombak yang sangat tajam melesat mengincar kepalanya. Baruna yang kaget kemudian menghalaunya dengan sekali kibasan dari lengan kanannya. Tiga orang pemilik tombak itu melayang di udara dengan ringan dan akhirnya jatuh ke tanah dengan punggung menghantam tanah. Para prajurit pamong mencoba peruntungan merangsek maju menyerang Baruna dan Cakiya, sayangnya dua pendekar itu lebih sigap dan cekatan jika dibandingkan para prajurit pamong. Dalam beberapa saat puluhan prajurit sudah tumbang oleh jurus-jurus Cakiya dan Baruna. Meski demikian mereka tidak menyerah bertempur melawan dua pendekar itu.
Di sela-sela kekacauan itu, Cakiya mendadak melesat meninggalkan Baruna di tengah kepungan para prajurit pamong. Dengan kecepatan luar biasa, Cakiya bergerak berkelit dari orang-orang yang berusaha menangkapnya, lalu mendekati tembok yang memagari pusaka Gada Kyai Samaja yang menancap di batu besar kecoklatan. Cakiya memanjat tembok setinggi dua meter itu dengan melompat, lalu setelah berada di atas tembok itu, Cakiya melompat sekali lagi dan bertengger di atas batu kecoklatan tersebut. Para prajurit pamong berusaha mengejar Cakiya hingga ikut memanjat tembok beramai-ramai. Namun mereka semua jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan Cakiya yang sudah membuka selubung tirai Gada Kyai Samaja.
Cakiya melihat Gada itu dari dekat, gada itu terlihat berkilau indah ditimpa cahaya matahari pagi. Senjata itu berwarna keemasan dengan guratan dengan pola api membara yang melingkupi hampir diseluruh bagian gada. Cakiya bersiul panjang penuh kekaguman ketika melihat sosok gada itu dari dekat. Lalu, sebuah suara tanpa wujud yang tidak asing di telinga Cakiya tiba-tiba bergema.
“Bagus pendekar muda, teriakkan mantra sederhana ini dan kemudian panggillah namaku dengan benar.”
Cakiya tersenyum saat melihat sekelilingnya. Ia melihat para prajurit pamong masih berusaha menyusul Cakiya dan berusaha untuk menangkapnya hidup atau mati. Sementara orang-orang masih berusaha menjauh dari pusat kekacauan dengan penuh kepanikan. Beberapa dari mereka bahkan jatuh dan terinjak-injak hingga pingsan.
Di dalam hatinya Cakiya berkata seandainya dirinya gagal mencabut pusaka Gada Kyai Samaja, dirinya mungkin akan tertangkap dihukum mati sekali lagi atau dibunuh oleh para prajurit pamong yang kini berjumlah ratusan orang dan tengah mengepung Cakiya. Kemudian, di antara segala kekacauan di tengah alun-alun itu, Cakiya lalu mengikuti apa yang diteriakkan oleh pusaka itu di mimpinya. Cakiya lalu berusaha mencabut senjata pusaka tersebut dengan berteriak.
“Meledaklah, Gada Aqni Samaja!”
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya