Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20—Gerbang Kematian
Bala bantuan musuh melompat bersamaan menuruni lereng. Yuofan yang menyadari kehadiran orang lain, segera menggunakan teknik Strav Schadara Nistra—Langkah tanpa bayangan untuk menjauh dari sana. Namun pria bertudung itu tak membiarkannya dengan cepat ia memusatkan energi qi nya pada telapak kaki, kemudian dalam satu hentakkan ia meluncurkan mengejar Yuofan.
Dengan satu tendangan kuat ia arahkan pada perut bocah itu, membuatnya kembali terhempas hingga menabrak dahan pohon besar. Tidak berhenti disana, pria itu kembali maju sembari menebaskan salah satu jarumnya yang langsung di tangkis oleh Yuofan. Pria itu mengangkat satu jarum lainnya dan menusuknya pada perut Yuofan hingga menembus kebelakang. Hal itu membuat Yuofan kembali muntah darah dan langsung menendang pria itu sekuat tenaganya.
Pria itu terhempas beberapa langkah kebelakang. Ia berdiri sembari tersenyum lebar, kemudian ia menjilat darah Yuofan yang menempel di jarumnya membuat Yuofan merinding dibuatnya.
Wuxu keluar dari dalam pedang hitam yang dipegang Yuofan menggunakan tangan kanannya. Wajahnya terlihat kesal karena saat ini ia bisa merasakan rasa sakit besar di daerah perutnya. Tetapi Yuofan langsung menangkis gumpalan hitam itu, karena ia tahu Wuxu keluar untuk mengomeli nya.
Di sisi lain, para bala bantuan itu menyebar dan menyerang Di Xinyuan dan Bai Luan yang sudah kehabisan energi mereka. Walau begitu, kedua binatang itu tetap menyerang musuh dengan sisa kekuatan mereka.
Di Xinyuan memukulkan tanganya ketanah, kemudian ia memegangi tanah itu kuat-kuat dan mengangkat bongkahan tanah itu. Ia memukulkan bongkahan tanah itu pada musuh di sekitarnya dengan memutar tubuhnya terus menerus, bahkan Bai Luan sendiri hampir terkena serangan itu jika ia tak cepat-cepat menghindar.
“Hati-hati bodoh.” bentak Bai Luan.
Tetapi kera itu tak berhenti, ia kemudian melemparkan bongkahan itu pada musuh di depannya hingga membuat musuh itu tertimpa. Tak mau kalah, Bai Luan kemudian kembali membuat puluhan bahkan ribuan tombak di langit dengan sisa energinya. Ia menciptakan hujan tombak yang membuat musuh kewalahan.
Kembali pada Yuofan, yang terlihat berusaha berdiri sekuat tenaganya sambil memegangi luka di perutnya. Napasnya tidak teratur, dan darah terus mengalir dari luka tersebut. Ia menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali memegang pedangnya dengan erat. Perlahan, ia memutar pedangnya dengan tatapan serius, mencoba menenangkan napas dan menstabilkan tubuhnya. Setelah itu, Yuofan memasang kuda-kudanya, menurunkan posisi tubuhnya dan memusatkan energi qi di kakinya. Ia kemudian kembali menggunakan teknik Strav Schadara Nistra—Langkah Tanpa Bayangan, yang membuat tubuhnya melesat cepat ke arah pria itu.
Saat mendekat, Yuofan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi seolah akan menebaskan serangan dari atas. Melihat itu, pria tersebut segera bersiap menangkis serangan yang ia kira akan berupa tebasan langsung. Namun saat jarak mereka sudah sangat dekat, Yuofan justru memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan telak yang mengenai dagu pria itu. Tendangan itu membuat kepala pria tersebut terangkat ke atas dan tubuhnya kehilangan keseimbangan sesaat.
Yuofan tidak memberi waktu lawannya untuk pulih. Begitu pria itu masih dalam keadaan goyah, Yuofan langsung menggunakan teknik Varka Tausenblad—Tarian Seribu Pedang dan mengarahkannya pada pria itu. Jejak-jejak pedang terbentuk di sekelilingnya, lalu dalam sekejap melesat dari berbagai arah. Serangan itu datang beruntun, memaksa pria itu menahan dan menghindar secara bersamaan. Beberapa serangan tetap berhasil mengenainya, membuat tubuhnya tergores dan darah mulai berceceran di tanah.
Pria itu terhuyung beberapa langkah ke belakang, mencoba menstabilkan dirinya kembali setelah menerima rangkaian serangan tersebut. Ketika tubuhnya akan terjatuh kebelakang tiba-tiba seorang pria dengan jubah hijau lain muncul dan menahannya.
“Pemimpin, beristirahat lah. Biarkan kami yang mengurus mereka.” ucap pria itu sembari menyerahkan pria bertudung pada temannya yang lain.
Yuofan melihat semua itu, tetapi tubuhnya sendiri terasa sangat menyakitkan. Ia melirik kearah tangannya yang bergetar ketika memegang pedang, lalu menengok kearah Bai Luan dan Di Xinyuan yang juga tengah bertarung dengan bala bantuan musuh. Tatapannya kini kembali fokus pada musuh didepannya, ia mencoba menganalisis musuh yang terlihat tidak terlalu kuat seperti pria bertudung tadi.
“Bocah, kemampuan mu bagus juga." Ucap pria itu sembari menggulung lengan bajunya.
“Sepertinya aku hanya bisa mengandalkan mu, Wuxu.” ucap Yuofan seraya mengigit sudut bibirnya berusaha menguatkan diri.
Wuxu yang sedari tadi memasang wajah masam dibelakang Yuofan, kini tersenyum lebar lalu mendekati Yuofan kembali.
“Ide bagus! Itu yang aku tunggu!” balas Wuxu sembari memberikan dua ibu jarinya membuat Yuofan tertawa.
“Hanya perlu melukai? Tak peduli berapa jumlah target, kan?” ujar Yuofan kembali memastikan syaratnya yang langsung diangguki Wuxu dengan semangat, sebelum akhirnya rubah itu masuk kembali kedalam pedang.
Yuofan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali menggunakan teknik Strav Schadara Nistra—Langkah Tanpa Bayangan. Begitu teknik itu diaktifkan, gerakannya menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya sambil terus berusaha menyerap energi qi di sekitarnya untuk mempertahankan kecepatannya.
Dalam satu gerakan cepat, ia sudah berada di depan pria yang berdiri dihadapannya. Tebasannya mengarah ke bagian perut kiri pria itu, cukup dalam untuk melukai, tetapi tidak membuatnya berhenti di sana. Yuofan terus bergerak menargetkan anggota lain yang berada tidak jauh dari posisi sebelumnya. Dengan kecepatan yang sulit diikuti, ia menebas mereka satu per satu. Serangannya tidak selalu dalam, tetapi ia memastikan setiap orang sudah terluka, meskipun hanya goresan kecil.
Setelah itu, ia bahkan bergerak ke area tempat Di Xinyuan dan Bai Luan sedang bertarung. Tanpa banyak bicara, Yuofan ikut menyerang musuh yang sedang mereka hadapi. Ia melukai beberapa dari mereka di bagian leher, tangan, dan kaki dengan tebasan cepat yang hampir tidak terlihat.
Di Xinyuan dan Bai Luan sempat terkejut karena bantuan yang datang tiba-tiba itu. Mereka tidak menyangka Yuofan akan ikut campur dalam pertarungan mereka dengan cara seperti itu. Namun Yuofan tidak berhenti untuk menjelaskan apa pun. Setelah memastikan semua musuh telah ia lukai, ia langsung belarih ke area tengah medan pertarungan.
Setelah yakin semua target sudah terkena serangannya, Yuofan pun mengangkat tangannya dan mulai memanggil teknik berikutnya—Gerbang Kematian.
[ “Vorak Mortekrak” ]
Gerbang Kematian
Angin berhembus kencang, melewati medan pertempuran dan membawa suasana yang terasa tidak biasa, terutama bagi mereka yang sudah dilukai. Udara terasa lebih berat, dan tanpa sadar beberapa orang mulai menoleh ke sekeliling, seolah merasakan sesuatu akan terjadi. Tidak lama kemudian, sebuah gerbang besar perlahan muncul di atas posisi Yuofan berdiri yang berdekatan dengan telur darah. Melihat hal itu, tatapan semua orang di area tersebut langsung tertuju ke atas secara bersamaan.
Dari dalam gerbang itu, perlahan muncul sebuah kepala besar.
Yuofan terkejut ketika melihat wujud yang keluar dari gerbang tersebut. Kepala itu adalah Wuxu, tetapi dalam bentuk yang jauh lebih mengerikan dari yang biasa ia lihat, yaitu wujud pertamanya sebelum menjalani kontrak. Bentuk kepalanya masih berupa rubah, dengan bulu berwarna hitam pekat yang terlihat menyatu dengan bayangan di sekitarnya. Bola matanya berwarna merah menyala seperti darah, menatap ke bawah dengan tatapan yang mengintimidasi. Mulutnya sedikit terbuka, memperlihatkan deretan gigi tajam yang terlihat seperti kelaparan.
“Bajingan!" Yuofan mematung terdiam. Tetapi sebelum sempat ia menenangkan dirinya, ia melihat Wuxu membuka mulutnya lebar-lebar membuat sebuah hisapan yang kuat.
Orang-orang yang dilukai sebelumnya berteriak kesakitan merasakan jiwa mereka yang perlahan disedot masuk kedalam mulut rubah itu. Tak sampai disana, kulit, daging, dan organ mereka pun tersedot secara perlahan membuat mereka semakin merasakan rasa sakit yang dahsyat.
Melihat hal itu, pupil mata Yuofan bergetar, nafasnya terasa semakin berat, merasa ini semua terlalu berlebihan. Tetapi tubuhnya sudah tak mampu lagi bergerak, ia tersungkur ditanah dengan mulut yang kembali memuntahkan darah.