NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: tamat
Genre:CEO / Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:114.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Nathan mengepalkan tangan kuat-kuat. Tatapan yang semula tajam perlahan berubah saat ia kembali menatap sosok Andin di depannya.

Perempuan yang selama ini ia tuduh tanpa pernah benar-benar mencari kebenaran. Hatinya bergetar hebat, dipenuhi rasa bersalahnya. Bayangan Andin yang dulu meminta kesempatan, kini mulai berputar terus.

Namun saat ini, di tengah keributan yang menimpanya, Andin justru berdiri tegar. Tidak berteriak. Ataupun membalas hinaan. Perempuan itu hanya berusaha bertahan.

Nathan mengalihkan pandangannya saat wanita yang tadi melabrak Andin mulai berusaha pergi.

“Hei!” seru Nathan tegas. Tangannya langsung mencekal pergelangan wanita itu sebelum sempat melangkah jauh. “Jangan kabur.”

Wanita itu terkejut dan mencoba melepaskan diri.

“Lepaskan aku! Bukannya urusan ini sudah selesai?” katanya gugup.

Nathan menatapnya dingin.

“Selesai?” ulangnya pelan, namun suaranya terdengar jauh lebih menekan. “Setelah kamu membuat keributan dan mempermalukan orang lain seperti ini?”

Wanita itu semakin gelisah. Tatapan Nathan terasa seperti menembus dirinya, membuat jantungnya berdegup semakin cepat.

“Ja—jangan Pak… jangan apa-apakan saya,” pintanya memelas. “Saya hanya butuh uang untuk anak saya yang sedang sakit.”

Deg!

Mendengar itu, hati Andin langsung terenyuh. Tanpa sadar tangannya mengepal kecil. Ia memang belum pernah menjadi seorang ibu, tetapi ia bisa membayangkan betapa putus asanya seorang wanita jika anaknya sakit.

Namun tidak dengan Nathan, wajah pria itu tetap keras.

“Siapa yang menyuruhmu?” desis Nathan.

Wanita itu langsung menggeleng cepat.

“Tidak Pak… saya tidak mungkin mengatakan itu,” jawabnya dengan suara bergetar.

“Katakan saja!” tekan Nathan dengan nada yang mulai meninggi.

Beberapa guru yang berada di sekitar mereka mulai saling berpandangan. Ada yang mencoba memberi isyarat agar Nathan menahan diri, namun pria itu seolah tidak peduli.

Baginya, kebenaran harus dibuka sekarang, dan untuk kali ini Nathan tidak akan pernah melepaskan wanita itu.

“Kalau kamu tidak mau menjawab,” ucap Nathan dingin sambil mengeluarkan ponselnya, “aku akan membawa kamu ke kantor polisi.”

Deg!

Wanita itu langsung gemetar hebat. Niat awalnya hanya ingin mendapatkan sejumlah uang demi anaknya, tetapi ia sama sekali tidak menyangka keadaan akan menjadi seperti ini.

Nathan mengangkat ponselnya. “Kalau Ibu masih tidak mau bicara,” lanjutnya tegas, “mulai detik ini aku akan menelpon pihak berwajib.”

Wanita itu langsung terdiam. Wajahnya pucat. Tatapannya menunduk lemas seolah tidak lagi memiliki pilihan.

“Aku disuruh…” katanya akhirnya dengan suara bergetar.

Semua orang yang berada di sekitar kantin langsung terdiam.

Nathan menatapnya tajam. “Siapa?”

Wanita itu menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya menyebutkan sebuah nama.

“Ibu Vivian.”

Seolah waktu berhenti, Nathan membeku di tempat. Tangannya yang masih memegang ponsel perlahan menurun. Rahangnya mengeras, sementara matanya menatap wanita itu dengan sorot yang sulit dijelaskan.

Nama itu menggema di kepalanya.

Vivian.

Ibunya sendiri.

Sejenak Nathan merasa seperti kehilangan pijakan. Dadanya terasa sesak, seolah sesuatu yang selama ini ia yakini tiba-tiba runtuh di hadapannya.

Ingatan tentang pesan Mark beberapa menit lalu kembali terlintas.

“Wanita yang datang ke hotel malam itu… itu ibumu.”

Nathan menutup matanya sebentar, mencoba menahan gejolak yang mendadak memenuhi dadanya.

Tidak.

Ia tidak boleh langsung percaya. Namun di saat yang sama… terlalu banyak potongan kejadian yang mulai saling terhubung, dan tidak bisa ditolak dengan akal pikirannya.

Nathan kembali membuka matanya. Kali ini tatapannya jauh lebih dingin, tetapi juga jauh lebih berat.

Ia menatap wanita itu sekali lagi.

“Kalau kamu berbohong…” ucap Nathan pelan, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang jelas, “aku pastikan kamu benar-benar berurusan dengan polisi.”

Wanita itu langsung menggeleng panik.

“Sa—saya tidak bohong, Pak. Saya benar-benar disuruh. Saya dibayar untuk membuat keributan dan menuduh Mbak itu.”

Nathan perlahan menoleh. Tatapannya jatuh pada Andin yang sejak tadi hanya berdiri diam, wajahnya terlihat pucat karena semua yang terjadi.

Untuk beberapa detik, Nathan tidak mengatakan apa-apa.

Namun untuk saat ini, dalam dua belas tahun lamanya, tatapannya pada Andin tidak lagi berisi tuduhan.Melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Yaitu sebuah penyesalan.

Nathan menatap Andin sejenak, lalu pandangannya berpindah kepada wanita yang sejak tadi menangis sambil memohon.

“Pak… tolong jangan bawa aku,” pintanya dengan suara bergetar. “Anakku sendirian di rumah… dia sedang sakit.”

Nathan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Tangannya masih mencengkeram pergelangan wanita itu dengan kuat.

Ia lalu menarik wanita itu untuk mengikutinya.

“Anda ikut saya.”

“Nathan, lepaskan Ibu itu,” cegah Andin cepat.

Langkah Nathan terhenti.

Ia menoleh perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Andin yang penuh permohonan.

Untuk sesaat, Nathan merasa sulit bernapas.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan pada perempuan itu. Begitu banyak penyesalan yang tiba-tiba terasa menyesakkan.

Namun semua itu ia telan kembali.

“Jangan bawa dia,” ucap Andin pelan. “Biarkan saja dia pulang ke anaknya. Anaknya sedang sakit… pasti butuh ibunya.”

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Nathan terenyuh, Andin… masih sama seperti dulu. Perempuan itu selalu memikirkan orang lain lebih dulu, bahkan kepada orang yang baru saja mempermalukannya di depan banyak orang.

Nathan memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatap Andin.

“Maaf, Ndin,” katanya rendah.

Nada suaranya terdengar berat. “Tapi aku harus membawa orang ini.”

Andin terdiam, jika sudah seperti ini ia tidak bisa menahannya.

Nathan tidak memberi kesempatan lagi untuk membujuknya. Ia kembali menarik wanita itu menuju mobil.Beberapa menit kemudian, mobil Nathan melaju meninggalkan halaman sekolah.

Wanita itu duduk di kursi penumpang dengan tubuh gemetar. Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti menangis.

“Pak… tolong lepaskan aku saja,” pintanya lagi dengan suara parau. “Aku janji tidak akan datang lagi… aku cuma disuruh…”

Nathan tetap menatap jalan di depannya.

“Aku tahu,” jawabnya singkat.

Wanita itu terdiam.

“Tapi sekarang kamu harus mengatakan itu di depan orangnya langsung.”

Wanita itu langsung menoleh, kaget “Orangnya…?”

  Nathan tidak menjawab lagi. Mobil yang ia kemudikan melesat hingga berhenti di depan sebuah gedung besar bercat putih itu.

Wanita di sampingnya menoleh bingung. “Pak… kenapa di rumah sakit?” tanyanya ragu.

Nathan mematikan mesin mobil. “Sudah. Jalan saja.”

Wanita itu tidak berani membantah. Ia mengikuti Nathan masuk ke dalam gedung. Namun sebelum mencapai ruang rawat, Nathan berhenti.

“Tunggu di sini,” ucapnya dingin.

“Pak…?”

“Jangan ke mana-mana.”

Wanita itu hanya mengangguk gugup, tanpa berani membantah.

Nathan lalu berjalan menuju ruang rawat Darrel. Pintu kamar dibuka perlahan.

Darrel terlihat tertidur pulas di atas ranjang. Sementara di kursi sampingnya, Vivian duduk tenang. Wanita elegan itu menoleh saat Nathan masuk.

“Kamu dari mana saja?” tanyanya. “Katanya hanya keluar sebentar mengurus kerja.”

Nathan melirik Darrel sejenak sebelum menatap ibunya.

“Aku memang keluar bekerja,” katanya datar. “Tapi bukan pekerjaan kantor.”

Vivian mengernyit.

“Lalu?”

Nathan menatap lurus ke arahnya. “Aku menyelidiki sesuatu.”

“Apa lagi?”

Nathan menarik napas pelan.

“Kejadian dua belas tahun lalu.”

Tangan Vivian langsung menegang, meski wajahnya tetap berusaha tenang. “Maksudmu apa?”

Nathan melangkah mendekat. “Aku menemukan sesuatu tentang seseorang yang datang ke hotel malam itu.”

Senyum Vivian mulai kaku.

Nathan melanjutkan, “Tadi siang juga ada keributan di sekolah Darrel. Seorang wanita datang ke kantin untuk mempermalukan Andin.”

Vivian menyilangkan tangan. “Orang putus asa bisa mengatakan apa saja kalau butuh uang.”

"Kok, Mami tahu?" tanya Nathan.

"Ya Mami hanya membuka, lagian kamu itu aneh, setiap ada kejadian dengan perempuan itu kenapa harus disangkutkan sama Mami," sinis Vivian.

"Baiklah kalau memang Mami masih mengelak," sahut Nathan dingin.

Nathan pun mulai mengisyaratkan dengan berdehem tiga kali, dan beberapa detik kemudian, dengan langkah yang gemetar wanita itu perlahan berdiri diambang pintu, dan seketika wajah percaya diri Vivian mulai memudar.

Bersambung. .

1
Nurgusnawati Nunung
bagus.. bagus.. bagus...
Nurgusnawati Nunung
Terimakasih Thor.. untuk ceritanya. semangat terus untuk cerita yang lain. sehat selalu..
Sugiharti Rusli
bukan cari" pembenaran dengan mengancam kembali Andin, tapi lakukan pendekatan, tapi yah namanya sedari awal benci sama Andin jadi bawaannya selalu negatif
Sugiharti Rusli
bahkan Darrel yang masih polos bisa merasakan sosok baik yang membuat dirinya nyaman di dekatnya,,,
Sugiharti Rusli
jangan sampai nanti kamu yang akan menyesal sendiri nenek tua dengan sikap keras kamu itu,,,
Sugiharti Rusli
tapi kasus Darrel, dia juga seperti mencari pelarian kasih sayang yang dirasa kurang dia dapat dari ayah maupun kakek-nenek nya sih yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi mungkin ga semua anak bisa seperti Darrel sih, kadang juga ada yang saking pemalunya suka susau mengungkapkan perasaannya,,,
Sugiharti Rusli
perasaan anak kecil begitu polos yah, dia berkata seperti apa yang ada dalam perasaannya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan entah spontanitas dirinya atau ada arahan dari sang ayah, bahkan Darrel memanggil mama kepada Andin,,,
Sugiharti Rusli
dan Andin bisa melihat kebaikan dan ketulusan hati Darrel terhadap dirinya
Sugiharti Rusli
memang meski Darrel terlahir dari rahim perempuan yang dulu juga salah satu yang menjebak Andin, tapi mereka adalah dua orang berbeda,,,
Sugiharti Rusli
dan selama ini mencari seseorang yang bisa diajak berbagi keluh kesah, Darrel malah sangat nyaman bersama Andin
Sugiharti Rusli
apalagi anak itu selalu ceria bila bisa bertemu atau berbicara dengannya meski melalui telpon,,,
Sugiharti Rusli
kepolosan dan ketulusan dari Darrel lha yang membuat Andin bisa bernafas lebih lega yah,,,
Sugiharti Rusli
karena bagaimanapun keselamatan Andin tetap jadi perhatiannya sekarang, apalagi Andin pulang malam karena menemani putranya di rumah sakit,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Nathan hanya ingin Andin sampai dengan selamat tanpa gangguan
Sugiharti Rusli
karena sejatinya perasaan keduanya tetap sama yah,,,
Nar Sih
ending yg bagus kak👍
Lisa
Bagus banget ceritanya..terimakasih Kak Ayu..sukses utk karya² yg selanjutnya y Kak..God Bless you 🙏
Lisa
Puji Tuhan akhirnya hati ortu Nathan mencair y meskipun blm sepenuhnya tapi mrk tdk menghalangi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!