Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Sepanjang makan malam, Bening terus berceloteh panjang kali lebar. Ia berbicara mengenai musik dan nama anak anjingnya. Tentu saja Surya yang tidak suka berbincang hal-hal tak perlu, merasa pusing mendengar celotehan istrinya.
Namun menyela celotehan Bening, artinya menabuh genderang perang. Nantinya justru akan ada banyak bunga warna-warni di setiap sudut rumahnya, akan ada anak anjing yang berkeliaran di dalam rumahnya. Surya tak bisa membayangkan hal itu terjadi, sehingga ia memilih diam ketika istrinya berceloteh.
"Aku sudah selesai," ucap Bening sembari menaruh serbet makannya. "Apa Tuan juga sudah selesai?"ia melihat Surya juga sudah selesai menyantap makanan penutupnya.
Surya mengangguk kaku, terlalu banyak celotehan malam ini, ia hampir tak menikmati makan malamnya. "Ya," jawabnya, Surya pun mengelap bibirnya dan menaruh serbet makannya.
"Kalau begitu mari kita ke kamar!" Tanpa aba-aba, Bening menggandeng tangan suaminya keluar dari ruang makan, ia kembali berceloteh sepanjang menyusuri lorong menuju kamarnya.
Sementara Surya, diam-diam mengintip payud*ra istrinya melalu cela gaun yang di kenakan istrinya, Surya membayangkan bibirnya mendarat di payud*ra istri ya yang ranum itu.
"Jadi apa kau setuju jika anak anjing itu kita beri nama Milo?" Bening mendongak menatap wajah Surya yang lebih tinggi darinya.
Surya begitu terkejut melihat wajah Bening secara tiba-tiba menatapnya. Wajah Surya memerah, bak maling yang tertangkap basah sedang mencuri. "Terserah!" ia membuka pintu kamar Bening, dan mengalihkan perhatiannya dari payud*ra istrinya.
Begitu Surya mengunci pintu kamar, ia mencengkram pinggang Bening , dan menekankan tubuh wanita itu ke tubuhnya, lalu menyelipkan lidahnya yang lapar ke mulut Bening. Ia membawa tangan Bening melingkar di tubuhnya.
Sensasi yang tak tertahankan membuat Surya semakin tidak sabar, ia mengangkat tubuh Bening dengan satu tangan melingkari pinggang, dan dalam satu langkah yang mulus, Surya berhasil membaringkan Bening di atas tempat tidur.
Bening masih berpakaian lengkap, namun Surya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk Bening membuka pakaiannya. Surya langsung menarik ujung gaun Bening ke atas, lalu menyelipkan tangannya ke punggung Bening, dan memegangi tubuh wanita itu, berniat membalik tubuh Bening agar ia tak bertatapan dengan istrinya.
"Tidak!" pekik Bening seraya mencengkram pundak Surya.
"Aku ingin meminta hakku sebagai suami..."
"Surya!" pekik Bening, membuat Surya terkejut karena Bening memanggil namanya. "Apa menurutmu wajahku sangat jelek?"
Pertanyaan itu membuat Surya kehilangan kata-kata, karena Bening begitu sangat cantik.
"Apa wajahku membuatmu sangat jijik?" jerit Bening sembari mendorong Surya menjauh darinya.
"Tentu saja tidak!"
"Lalu mengapa kau membuatku berbalik? Kenapa kau tidak mau melihatku?"
Surya tidak tahu harus berkata apa, bagaimana menjelaskannya kalau dirinya begitu malu menatap istrinya ketika bercinta?
Tiba-tiba saja Bening menangkup wajah Surya, ia menatap suaminya lekat-lekat. "Lihat aku! Aku akan menutup mataku agar kau tidak malu, yang penting jangan membuatku berbalik."
Napas Surya membeku di dada, bagaimana Bening bisa tahu jika dirinya begitu malu menatap wajahnya?
"Lihat aku! Aku mohon, aku ini istrimu."
Darah Surya berpacu, mengalir deras didalam dirinya, menghanyutkannya.
"Kumohon jangan membuatku berbalik seolah wajahku terlihat menjijikan bagimu." Bening menengadah, mencium ringan di bibir Surya. Tapi itu bukan ciuman biasa bagi Surya, ciuman Bening begitu menggetarkan hati Surya.
"Bening," bisik Surya, lalu melingkarkan tangannya memeluk Bening dan membalas ciumannya.
Bening tahu seberapa beratnya Surya melawan rasa malunya, tapi ciuman lembutnya mampu meluluhkan Surya.
"Bening," bisik Surya lagi, dan membuat Bening kembali tidur terlentang. "Bening," ucap Surya lagi, ia memasukan tangannya ke tepian bawah gaun istrinya. "Bening," gumamnya, sembari mengangkat tepian gaun dan menariknya dari atas.
Tubuh Bening sekarang sudah polos. Surya mencondongkan tubuhnya ke Bening, mencium bibirnya, lalu mencium lekuk lehernya, dan turun ke dadanya, ke pahanya yang telanjang.
Setiap inci Surya mencium tubuh istrinya, Surya menyebut nama Bening. Aroma tubuh Bening membangkitkan gairan Surya, ia menunduk di hadapan istrinya, selurih tubuhnya berkobar karena gairah.
Surya mencengkram Bening, menahannya kuat-kuat dengan tangannya. Menyentuhkan lidahnya ke tubuh Bening, menenggelamkan diri ke relung terdalam.
Bening menjerit, wanita itu melengkungkan tubuhnya. Menekankan tubuhnya pada Surya, meminta lebih dari apa yang Surya telah berikan.
Surya berdiri melepas celananya, kemudian ia menyatukan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Ia membelai tubuh Bening sembari mempercepat iramanya, hingga mencapai puncaknya Surya menatap wajah cantik istrinya.
Ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya, Surya memperlihatkan wajahnya yang penuh gairah kepada istrinya. Bening memejamkan matanya sembari mengerang, ia pun mengeluarkan pelepasannya seperti Surya.
"Bening," ucap Surya parau, ia terpuaskan sepenuhnya. "Terima kasih." Ia mengecup kening istrinya, kemudian memeluknya hangat.
...****************...
Untuk pertama kalinya, sejak ia tinggal di kediaman Surya. Bening terbangun dengan rasa segar dan bahagia. Ia tersenyum saat meregangkan otot-ototnya, bayangan kenikmatan yang di berikan Surya tadi malam, melintas dalam benaknya.
Surya meninggalkan kamar istrinya ketika Bening sudah tertidur lelap, dan itu juga yang membuat Bening gembira, ia berharap suatu saat bisa membuat Surya terus berada di sisinya sepanjang malam hingga ia kembali memuka mata.
Tiba-tiba saja, suara keributan di luar kamarnya membuyarkan lamunannya. Ia bergegas mengenakan jubah tidurnya, dan keluar untuk melihat keributan yang terjadi.
Alangkah terkejutnya Bening ketika mendapati Milo tengah mengoyak sepatu kesayangan suaminya. "Oh ya Tuhan, Miloo..." Bening mengigit bibirnya, ia tak bisa membayangkan Surya akan marah kepadanya.
"Maafkan aku, Nyonya," ucap Cinta dengen raut wajah penuh rasa bersalah. "Dia membuat keributan di dapur, sehingga aku mengajaknya ke lantai atas untuk sekalian membangunkan Nyonya, tapi anak anjing ini malah menyelinap ke kamar Tuan dan mengambil sepatu Tuan Magenta."
"Lalu dimana sekarang Tuan Magenta berada?" Bening berniat menyembunyikan sepatu suaminya, namun sayangnya rencana gagal.
"Aku ada di sini!" Secara mengejutkan Surya berdiri di depan ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar Bening.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka