Ayana Fristi adalah seorang fans K-Pop yang sangat cantik. Ayana dan para sahabatnya tak pernah absen dalam hal nonton konser Idol mereka. Dia seorang muslimah yang selalu menjaga kesuciannya, meski Ayana menerima Riyan Al Guzhan sebagai pacar atau calon suami.
Riyan tak pernah sekalipun menyentuh Ayana. Mereka berkomitmen untuk menikah saat mereka sudah selesai kuliah dan punya kerja. Ayana gadis yang tulus akan cintanya, dan tidak pernah curiga dengan Riyan.
Hingga... Rahasia busuk Riyan terbongkar tepat dua bulan sebelum jadwal pertunangan antara Ayana dan Riyan dilangsungkan, Riyan ketahuan berselingkuh dengan adik kelas Ayana saat di SMA.
Penghianatan Riyan membuat hati Ayana benar-benar hancur.
Bagaimana nasib hubungan Ayana dan Riyan. Akankah Ayana mempertahankan hubungannya dengan laki-laki yang sangat ia cintai ini, atau harus kandas ditengah jalan.
Bagaimana pula kisah perjalanan cintanya dengan sang Idola..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sore hari di rumah Yun.
Setelah konser yang melelahkan,Yun kembali ke kediamannya. Kehadiran orang sangat di inginkan oleh Yun, membuat hari yang melelahkan menjadi semakin bermakna.
Yun seorang laki-laki yang bijak, tak bisa memiliki bukan berarti kehidupan harus terhenti. Jika tak bisa jadi kekasih hati, masih bisa jadi sahabat.
Yun membawa pulang Ayana dan Sindy ke rumah Mamanya. Mama Yun menyambut kedatangan teman dari putranya itu dengan baik, sangat ramah bahkan jika bukan sebagai menantu, Mama Yun tetap memperlakukan Ayana dan Sindy sebagai putrinya.
Padahal baru hari ini Ayana dan Sindy bertemu dengan Mamanya Yun. Tapi mereka terlihat sangat akrab layaknya ibu dan anak. Yun duduk di kursi taman, bersantai di gazebo yang tak jauh dari dapur rumahnya. Taman yang indah, di hiasi beberapa tanaman tropis juga kolam renang yang besar.
Yun bisa melihat kesibukan Ayana, Sindy dan ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Ma, andai saja aku tak menunda-nunda mengungkapkan perasaan ku pada Ayana. Mungkin hari ini, Ayana tidak datang sebagai temanku ke rumah ini, tapi sebagai pacarku" batin Yun yang melihat Mamanya datang dengan nampan berisi masakan yang sudah siap, Mamanya berencana makan di gazebo bersama Yun, Yuan, Sindy dan Ayana.
Yuan belum datang, karena menemani Sean menghadiri suatu acara. Awalnya Sean juga membawa Ayana dan Sindy, namun karena itu acara khusus artis, Ayana tidak mau ikut. Apa lagi kemarin mereka sempat dikejar-kejar wartawan. Pada Akhirnya, Yun menyarankan Ayana dan Sindy pulang bersamanya ke rumah orang tuanya.
Sindy dan Ayana sedang mengolah beberapa masakan yang belum selesai di masak. "Aku mencintai Ayana, Ma" ujar Yun saat Mamanya duduk setelah meletakkan nampan berisi makanan yang ia bawa dari dapur.
"Ya, Mama bisa melihatnya, kamu menatapnya dengan tatapan penuh cinta" ujar Mama Yin seraya tersenyum.
"Tapi Sean juga mencintainya, Ma. Dan aku terlambat" ujar Yun lagi dengan wajah lesu.
"Terlambat? apa Ayana mengetahuinya kalau Sean mencintainya?" apa Sean sudah mengutarakan cintanya pada Ayana?" tanya Mama Yun, penasaran. Yun hanya menggeleng. "Aku tidak tau" jawab Yun masih dalam keadaan sendu.
"Apa Sean sudah melamarnya?" tanya Mama Yun lagi.
"Lalu? Kenapa kamu bilang kalau kamu sudah terlambat?Apa Ayana punya kekasih atau suami?" tanya Mama Yun semakin ingin tau.
"Ayana masih sendiri, Ma. Dan dia juga baru sekitar tujuh bulan yang lalu putus dari pacarnya" jawab Yun menjelaskan.
"itu artinya kesempatan masih terbuka untuk kamu. Selama Ayana belum menerima siapapun dalam hatinya, tidak ada salahnya kamu ungkapkan perasaan kamu pada Ayana.Jangan menyerah begitu saja, kalau cinta ya perjuangkan!" ujar Mama Yun, menyemangati putranya.
"Mama merestui kalau aku menikah dengan gadis yang berbeda dengan kita?" tanya Yun lagi.
"Selama itu bisa membuat putra Mama bahagia, Mama selalu merestuinya, sayang" ujar Mama Yun seraya membelai kepala putranya.
Ayana dan Sindy sudah siap menghidangkan makanan di atas nampan, tapi mereka tidak bisa membawanya ke gazebo. Terlalu beresiko, takut tumpah. Karena nampan penuh makan berkuah dan berat.
Ayana melambaikan tangannya pada Yun yang sedang melihatnya. "Sepertinya Ayana, membutuhkan ku" ujar Yun seraya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari gazebo.
"Semangat!" ujar Mama Yun, saat Yun beranjak dari gazebo. Yun memalingkan wajahnya pada Mamanya dan tersenyum bahagia mendengar ucapan Mamanya seraya berlari pada Ayana yang menunggunya di depan pintu dapur.
****
Malam hari di rumah Yun.
Memetik senar gitar di taman rumahnya, duduk dibawah sinar bulan bersama Ayana, Yuan, dan Sindy. Ayana duduk di samping Sindy menikmati kebersamaan mereka malam itu. Besok Ayana dan Sindy akan kembali ke Indonesia sebelum berangkat ke Korea Selatan. Ayana meraih serulingnya meniup mengimbangi irama gitar yang di mainkan Yun.
Mereka menikmati setiap aluna dari seruling dan gitar. Seperti biasanya, Ayana mampu memukau setiap yang mendengar dan melihatnya.
"Apa kalian sudah punya pacar atau calon suami?" tanya Yun, sebenarnya Yun ingin menanyakan Ayana, tapi Yun secara tak langsung juga membantu Yuan menanyakan tentang Sindy.
"Tidak, aku tidak punya pacar, calon suami juga tidak" jawab Ayana.
"Aku juga tidak punya " jawab Sindy.
"Kalian begitu cantik, bagaimana mungkin tak punya pacar" ujar Yun yang tak percaya, walau sebenarnya jawaban Ayana sedikit banyak membuat Yun sangat bahagia. Begitu juga dengan Yuan. Itu artinya masih ada harapan mendapatkan mereka.
"Tidak, aku sudah memutuskan tak akan pernah mau pacaran lagi. Pacaran hanya akan menambah dosa" ujar Ayana serius.
"Kau tidak ingin memiliki pasangan hidup?" tanya Yuan penasaran dengan ucapan Ayana.
"Tentu saja aku ingin punya suami, tapi bukan pacar!" ujar Ayana lagi.
"Oo! Jadi kamu ingin menikah kalau sudah menemukan yang cocok dengan kriteria kamu, begitu? Boleh aku tau tipe yang kamu inginkan untuk calon suami mu?" tanya Yun semakin penasaran.
"Pertama adalah Muslim, kedua tidak kasar, yang terakhir adalah Mencintai Ayana dan menerima Ayana apa adanya, kalau aku tambah satu poin lagi yaitu tampan tentunya mapan juga! Hahahaha!!" ujar Si Sindy, membantu Ayana menjawab pertanyaan Yun seraya memberi jempol atas jawabannya sendiri.
"Ya, seperti yang Sindy katakan. Aku dan Sindy beragama Islam dan harus menikah dengan laki-laki yang se iman dengan kami, itu poin penting dalam hidup kami wanita muslimah" ujar Ayana membenarkan ucapan Sindy seraya tersenyum.
"Jika suatu saat nanti ada laki-laki yang benar-benar kamu cintai, tapi berbeda keyakinan, apa kamu tetap tidak mau menerimanya?" tanya Yuan semakin penasaran.
"Kalau aku, aku hanya akan menikah dengan laki-laki seiman. Tapi jika yang seiman tidak ada yang melamar aku, aku akan jomblo terus sampai ada pria seiman denganku yang datang melamar ku" jawab Ayana,tegas.
"Kalau kau, Sindy?" tanya Yuan yang juga semakin ingin tau. "Ya, tentu saja, Al-Qur'an surat Al-Baqarah Ayat 221 melarang wanita muslimah menikah dengan pria yang tak se iman. Jadi menikah dengan pria muslim syarat mutlak bagi kami, sekali pun aku sangat mencintai seorang pria, jika beda keyakinan tetap tidak bisa" ujar Sindy serius.
"Kalau ada yang suka sama kamu, tapi beda keyakinan, terus masuk islam karena ingin menikah dengan kamu, apa kamu mau menikah dengannya?" tanya Yuan pada Sindy yang duduk sedikit jauh dari Yuan. Sindy bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati Yuan.
"Yuan, masuk islam itu tidak boleh karena paksaan, tidak boleh karena ingin menikah juga tidak boleh karena ingin mendapatkan perhatian dan jabatan. Masuk islam itu harus murni karena Tuhan. Percaya dan yakin Pada Allah Subhanahu wata'ala." ujar Sindy seraya duduk disamping Yuan dan mengambil gelas berisi jus buah mangga. "Oo.. begitu.." ujar Yuan manggut-manggut memahami penjelasan Sindy.
Sindy melihat perubahan tatapan mata Ayana. Tadinya masih memancarkan binar kebahagiaan, tapi saat Yuan dan Yun membahas soal pacar, suami dan soal menikah. Binar itu berubah jadi sendu dan tak lagi ada senyum ceria.
"Ayolah kawan, bisakah kita membahas hal lain, tentang konser kamu Yun atau hobby kalian, aku sangat tidak suka membahas hal yang tidak asyik" ujar Sindy lalu menyeruput jus mangga.
Yun dan Yuan menyesal karena tanpa sengaja pertanyaan mereka justru membuka luka lama Ayana. Hal yang sangat ingin Ayana hindari saat ini adalah membahas masalah pacaran dan pernikahan. Ayana masih butuh waktu untuk membuka lembaran baru dalam hal pasangan hidup, Ayana masih trauma.
"Haaa! Benar tu! tadi aku mau tanya kenapa tiba-tiba Ayana bisa datang bareng pria gunung Es itu, apa tidak takut beku berada dekat dengannya?" tanya Yun mengalihkan pembicaraan tadi, yang berubah jadi serba salah.
"Pria gunung Es?" celetuk Ayana, bingung dengan sebutan Yun pada Sean.
"Iya, Sean itu paling dingin dengan semua wanita, aku heran saja, kenapa kamu tidak beku berada di samping dia semalam saat di konser ku" jawab Yun yang menumpahkan kekesalannya karena melihat Ayana di gandeng Sean ke konsernya.
"Aku cemburu, Ayanaaa..!!, cemburu melihatmu bergandengan tangan dengannya, cemburu karena kamu tersenyum padanya juga cemburu karena kamu terlalu dekat dengannya semalam, kalau Sean bukan sahabatku, sudah tarik paksa kamu darinya" Yun membatin.
"Aku rasa, Sean tidak begitu dingin hanya sedikit kaku dan" Ayana tak melanjutkan kalimatnya seraya menutup mulutnya saat melihat Sean berdiri tak jauh di belakangnya.
"Oo! Aku pria gunung Es! aku pria kaku dan apa lagi?" ucap Sean mengulangi apa yang Yun dan Ayana ucapkan untuknya seraya duduk di samping Ayana. Ayana menggeser duduknya semakin dekat dengan Yun menghindari Sean.
"Hei! Kalian pria penggosip! bisakah kalian tidak menjatuhkan aku di depan wanita?" lanjut Sean lagi.
"Mana ada kami menjatuhkan kamu, justru aku sedang memujimu di depan mereka. Kamu itu dingin dengan banyak wanita, tapi kamu dekat dengan Ayana dan Sindy, berarti kamu baik" ujar Yun seraya tertawa.
"Menurutmu, aku pria kaku dan, dan apa Ay?" tanya Sean pada Ayana seraya menatap mata Ayana menunggu jawaban Ayana.
"Aaa! bukan begitu!" ujar Ayana, panik. "Kamu nggak beku kok, eh apa ya" ujar Ayana panik.. sekaligus grogi.
"Sindy!! toloooong !!" batin Ayana, melihat ke arah Sindy meminta bantuan Sindy untuk meluruskan maksudnya, Ayana mengedip-ngedipkan matanya berharap Sindy mengerti isyarat darinya.
Sindy mengulum senyum, menahan tawanya melihat kedipan mata Ayana.
"Maksud Ayana, kamu itu sangat kaku" ujar Sindy lalu mengatupkan bibirnya, berusaha tidak tertawa karena berhasil menggoda Ayana dan membuat Ayana, Yuan dan Yun tercengang.