Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Matahari sedang berada dipuncak singgasananya siang ini. Jalanan aspal yang panas menampakkan fatamorgana dibeberapa sisi jalan. Kesibukan kota ini, membuatnya mendapat sebutan kota metropolitan nomor dua setelah Jakarta.
Seorang gadis sedang termenung dibalik kemudi, menunggu lampu lalu lintas berubah yang sedang berwarna merah. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh isi mobil yang sedang dikendarainya itu. Dan berhenti pada tumpukan kertas yang berserakan di kursi sebelahnya. Gadis itu menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
Lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, gadis itu kembali melajukan mobilnya. Beradu kecepatan dengan pengguna jalan yang lain. Ia hanya ingin segera sampai ditempat tujuannya.
Gadis itu memperlambat laju kendaraannya saat sampai didepan sebuah gedung perkantoran. Gedung itu tampak lebih besar dari kantor milik Ayahnya, Ia mencermati gedung itu dengan seksama. Membaca papan nama yang terpampang dibagian depan gedung. Memastikan alamat yang Ia tuju benar.
Perlahan Ia melajukan kendaraannya menuju tempat parkir gedung tersebut. Gadis itu tak lantas keluar dari mobil, setelah menghentikan kendaraannya di tempat parkir. Kembali Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
“Semoga yang kulakukan ini benar. Maafkan Neesha, Ayah, Bunda. Aku tidak ingin membuat kalian merasa tidak nyaman dengan ini.” gumamnya kepada dirinya sendiri.
Gadis itu mengambil kertas-kertas yang berserakan di kursi mobil, merapikannya, kemudian juga merapikan penampilannya dan menatap wajahnya lewat pantulan kaca spion. Baru kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk gedung.
Ia menghentikan langkah sejenak, kembali menatap papan nama besar didepan gedung. ‘MAHARDIKA, CO’ lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa Saya bantu?” sapa security di pintu masuk.
“Selamat siang, Pak. Sa-ya ingin bertemu Pak Re-za Mahardika.” jawab gadis itu sedikit terbata.
“Sudah ada janji?” security itu menatap Aneesha dari atas sampai bawah.
“Belum. Tapi beliau tahu Saya akan datang.” jawab Aneesha.
“Sebentar, ya Mbak. Biar saya tanyakan ke receptionist dulu.” security itu berlalu meninggalkan Aneesha.
Aneesha menunggu diluar kantor. Beberapa orang yang keluar-masuk gedung, memberi tatapan aneh padanya. Merasa heran dengan tatapan orang yang lalu lalang, Aneesha memeriksa bajunya.
“Nggak ada yang salah kan?” gumamnya, melihat baju yang Ia kenakan. Setelah blouse dan celana panjang dengan jilbab pashmina. Seperti yang Ia pakai saat pergi mengajar pagi ini. Hanya blezernya saja yang sudah Ia lepas tadi.
Aneesha masih memeriksa dirinya, sampai Ia melihat kakinya, “Astaghfirulloh…. pantas saja mereka ngliatin aku.”
Aneesha menepuk dahi, saat sadar Ia datang ke gedung kantor yang cukup besar ini hanya menggunakan sandal jepit sebagai alas kakinya. Ia mengutuk dirinya karena terburu-buru pergi tadi, sehingga tidak sadar hanya memakai sandal jepit.
“Maaf, Mbak. Pak Reza sedang ada rapat.” security tadi kembali dan memberi jawaban kepada Aneesha.
“Ah, ya. Kalau Kak Reyfan? Eh, maaf. Maksud Saya Pak Ismail Reyfansyah, bisa Saya bertemu dengannya?” security itu mengernyit mendengar pertanyaan Aneesha.
“Tolong, Pak. Saya harus bertemu salah satu dari mereka. Ini penting sekali.” rayu Aneesha karena sepertinya security itu menganggap Aneesha hanya main-main.
“Gimana, ya, Mbak. Bukannya Saya tidak mau bantu, tapi sudah menjadi peraturan disini, hanya yang sudah membuat janji yang bisa bertemu para petinggi perusahaan. Dan dua orang yang Mbak sebutkan tadi adalah pemegang jabatan tertinggi disini.” jelas security kepada Aneesha.
“Saya sangat tahu, Pak. Tapi Saya harus bertemu dengan mereka sekarang.” Aneesha masih mencoba bernegosiasi. Sedangkan security masih tetap menolak keinginan Aneesha.
perdebatan mereka berlangsung agak lama, Aneesha tetap tidak berhasil merayu security agar bisa bertemu dengan Reza atau Reyfan. Ia menghela nafas panjang, frustasi karena sepertinya usahanya sia-sia.
Dengan malas Aneesha mengayunkan langkah meninggalkan security yang sama sekali tidak bisa diajak bernegosiasi itu. Ia berhenti sebentar, dan menatap pintu masuk gedung. Masih berharap Reza atau Reyfan muncul dari sana. Tapi nihil.
Seorang pria berjalan melewatinya, Aneesha yang sudah merasa putus asa membalikkan badan lalu berjalan hendak pergi saja dari tempat itu.
“Aneesha!” baru dua langkah Ia berjalan, pria yang tadi melewatinya memanggil namanya.
Aneesha berbalik dan menatap pria yang sedang berdiri didepan pintu masuk, “Kakak!”
Senyum mengembang dibibir tipisnya, segera Ia berlari mendekati pria yang memanggilnya.
“Mau apa Kamu datang kemari?” tanya pria itu tanpa basa-basi.
“Mau ketemu Pak Reza?” lanjut pria itu menatap Aneesha sinis.
Aneesha memberi anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan Reyfan.
“Tapi Dia melarangku, katanya Pak Reza sedang rapat. Dia juga tidak memperbolehkanku bertemu denganmu.” Aneesha menunjuk security yang tidak bisa diajak negosiasi tadi.
“Kenapa tidak menelpon dulu?” Reyfan malah menyalahkan Aneesha.
“Aku sudah bicara dengan Pak Reza ditelpon tadi. Makanya aku kemari.” ketus Aneesha tidak mau disalahkan.
“Ayo masuk!” ajak Reyfan berjalan lebih dulu, Aneesha segera mengekor dibelakangnya.
Reyfan berhenti saat melewati security, “Hafalkan wajahnya! Dia bisa menemuiku atau pak Reza kapan saja tanpa membuat janji.” security itu mengangguk tanpa bertanya apapun.
“Pak Imam Wibowo,” Aneesha membaca nama yang tertera di dada security itu, lalu mengikuti Reyfan masuk ke dalam kantor. Security bernama Imam hanya terus tertunduk merasa telah melakukan kesalahan.
Aneesha terus mengikuti langkah Reyfan sambil menunduk, mendekap kertas yang dari tadi digenggamnya. Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan beberapa pasang mata kearahnya.
“Kak, kita mau kemana?” Aneesha menarik lengan jas Reyfan saat pria itu mengajaknya masuk ke dalam lift.
“Ke ruangankulah. Kau mau menemui Pak Reza kan?” jawab Reyfan ketus.
“Iya. Tapi…. tidak bisakah kami bertemu disana saja?” Aneesha menunjuk sofa yang ada dilobi kantor tersebut.
Reyfan berpikir sejenak, “Baiklah kalau itu maumu.”
Mereka berdua lalu berjalan kembali ke lobi. Dan duduk berhadapan disofa. Aneesha diam menunggu Reyfan yang sedang melakukan panggilan dengan ponselnya.
“Ada perlu apa sebenarnya?” tanya Reyfan setelah menyelesaikan panggilan teleponnya.
“hanya ingin bertemu dengannya.” jawab Aneesha lirih.
“setelah sekian lama, baru kali ini aku dengar dari mulutmu sendiri ingin bertemu dengannya. Apa ini berhubungan dengan hadiah yang diberikan Pak Reza padamu?” Reyfan menyilangkan kedua tangan didada, menatap remeh pada gadis didepannya ini yang sedang menunduk.
Aneesha enggan menjawab pertanyaan Reyfan, jarinya saling terpaut. Tidak bisa dipungkiri, Aneesha merasa gugup. Ia memilih untuk diam dan meredakan kegugupannya.
“Aneesha!” panggilan seseorang membuat mereka berdua menoleh kearah datangnya suara. Aneesha dan Reyfan berdiri, ketika melihat siapa yang sedang berjalan kearah mereka. Reza, datang bersama beberapa orang di belakangnya.
Aneesha bersiap ingin bersalaman dengan Reza, tapi pria paruh baya itu sudah lebih dulu menariknya kedalam pelukan. Aneesha terkejut, mematung dengan tindakan spontan Reza. Tapi tetap enggan membalas pelukan itu.
“Papa senang sekali Kamu datang, Nak.”
“Ehmm…. Maaf, Pak. Anda membuat Kita menjadi pusat perhatian.” kalimat Aneesha membuat Reza melepaskan pelukannya. Lalu mengikuti arah pandang Aneesha.
Beberapa orang menatap Reza dan Aneesha dengan dahi berkerut dan saling berpandangan.
“ha ha ha…. kedatanganmu membuat Papa lupa kalau sedang berada di kantor.”
“Maaf, sepertinya rapat kita harus ditunda dulu. Putri Saya lebih penting dari apapun.” ucap Reza kepada beberapa orang yang datang bersamanya tadi.
Tanpa bertanya orang-orang itu segera membubarkan diri. Meninggalkan Aneesha, Reza dan Reyfan di ruang tamu lobi kantor.
“Ceritakan padaku, apa yang membuatmu datang kemari, Nak?” Reza merengkuh bahu Aneesha, berjalan ke sofa lalu mempersilakannya duduk
Suasana lobi cukup lengang, hanya beberapa orang yang melintas. Aneesha duduk berhadapan dengan Reza dan Reyfan.
“Kamu datang sendirian? Haruskah Kita makan siang bersama?" tanya Reza.
"Maaf, Saya sedang puasa." jawab Aneesha.
“Saya kemari hanya ingin mengembalikan ini pada Anda. Saya tidak pantas menerimanya.” Aneesha meletakkan beberapa kertas dan kunci mobil di meja. Reza menatapnya dengan dahi berkerut.
“Kenapa, Sha? Bukankah tadi Kamu bilang menerimanya?” Reza menghela nafas pelan.
“Saya memang menerimanya, untuk mengembalikan langsung kepada Anda. Saya tidak mengingkannya, Pak Reza.”Aneesha berkata lirih tapi cukup terasa perih di hati Reza.
“Dan tolong, berhenti memberikan Saya barang yang tidak saya butuhkan,”
“Lalu apa yang Kamu inginkan, Sha? Katakan apa yang Kamu inginkan, aku akan memberikannya padamu.”
“Saya tidak yakin Anda bisa memberikan apa yang Saya inginkan. Karena yang Saya iginkan tidak bisa dibeli dengan uang.” suara Aneesha bergetar memahan emosi.
“Aneesha…. “ panggil Reza frustasi.
“Saya sangat berterima kasih, Anda mau mengingat hari lahir Saya. Meskipun Anda tidak ada saat Saya Lahir ke dunia ini.” Aneesha menyorot tajam pada Reza. Kata-katanya penuh penekanan.
“Aneesha! Tidak seharusnya Kamu berbicara seperti itu pada Papamu!” Reyfan berkata pelan tapi cukup bisa membuat Aneesha menatap tajam kearahnya.
Reza mengangkat tangan, mencegah Reyfan melanjutkan kalimatnya, “Dia berhak mengatakannya, Rey. Karena itu kenyataan.”
Hening….
Tiga orang itu terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian Aneesha bangun dari duduk. Mencondongkan tubuhnya, mengulurkan tangan kepada Reza. “urusan Saya sudah selesai, Saya pamit.”
“Maafkan Papa, Sha. Papa tidak bisa membuatmu bahagia, hanya luka yang selalu papa goreskan padamu. Tapi…. Papa tahu, Nak. Hatimu tidak sebeku itu.” Reza menerima uluran tangan Aneesha. Membiarkan gadis itu mencium tangannya agak lama.
Reza menggenggam tangan Aneesha, saat gadis itu ingin melepaskannya. Seolah tidak rela anaknya itu pergi begitu saja.
“Papa punya permintaan padamu, Sha. Papa mohon, jangan menolaknya!”
“Apa?”
“Akhir pekan ini, bisakah Kita makan malam bersama? Kalau Kamu tidak nyaman kita pergi berdua. Kamu boleh ajak seluruh keluargamu. Yang penting kita bisa meluangkan waktu bersama.” pinta Reza. Aneesha terdiam agak lama, lalu mengangguk pelan memberi jawaban.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aneesha melangkah meninggalkan Reza yang menatapnya dengan sendu.
Di depan gedung, Aneesha berpapasan dengan security yang tersenyum ramah padanya. Aneesha mengabaikanya. Ia berdiri diujung teras kantor, meraba saku celananya, baru sadar jika Ia tidak membawa dompet dan ponsel. Bagaimana Dia mau pulang? Aneesha menepuk dahinya sendiri, memang terburu-buru itu mengakibatkan kesialan.
Aneesha memijit keningnya yang mendadak terasa berat. Ia mencari keberadaan security hendak meminjam hp, tapi security tadi sudah tidak kelihatan ditempatnya. Tidak ada jalan lain. Dia kembali kedalam gedung menemui Reza dan Reyfan. Dua pria beda generasi itu menatap Aneesha heran.
“kak, pinjami aku ponselmu!” Kata Aneesha tanpa basa-basi, Reza menahan tawa mendengar permintaan Aneesha. Ia membayangkan betapa teruburu-burunya anak gadisnya ini tadi. Sampai datang kekantor dengan sandal jepit dan tanpa membawa dompet dan ponsel. Sedangkan Reyfan menanggapinya dengan datar tanpa eskpresi apapun.
“Hara!” Reza memanggil seseorang yang segera datang mendekat.
“Antarkan Aneesha pulang.” perintah Reza pada pria yang sedang berdiri tegak disampingnya.
“Saya akan mengantar Anda!” ucap pria itu kepada Aneesha. Aneesha menatap Reza ragu.
“Kau juga tidak bisa menolak yang ini, Sha.” ucap Reza.
Aneesha pasrah, mengikuti langkah orang yang dipanggil Hara tadi. Tidak punya pilihan lain memang. Masa iya mau pulang jalan kaki,
Reza terkekeh kecil sepeninggal Aneesha. “Bukankah, Dia lucu, Rey? Pasti tadi Dia buru-buru datang kemari. Harga dirinya memang sangat tinggi.”
“Anda tidak marah dengan kata-katanya tadi, Pak?” Reyfan memandang Reza dengan tatapan prihatin.
“Untuk apa Aku marah, Rey? Yang Dia katakan semuanya benar. Sikapnya padaku adalah akibat dari perbuatanku sendiri. Hhh….” Reza menghela nafas berat.
“Kamu tahu untuk apa kulakukan semua ini, Rey? Memberikannya barang-barang mahal, bahkan jika Ia mau Aku juga bisa memberikan seluruh hartaku padanya sekarang. Kamu tahu alasanku?” Reyfan menggeleng, sedangkan Reza kembali menghela nafas.
“Itu karena Ia berbeda denganmu, Rey. Kamu jelas yatim piatu sejak kecil, Kamu juga jelas tahu kapan dan sebab orang tuamu meninggal. Sedangkan Aneesha beda. Ia punya Ayah, tapi dilahirkan hanya sebagai anak Ibunya.”
“Aku dan Riani tidak pernah menikah, Rey. Aneesha tidak punya nasab seorang Ayah. Dia tidak berhak menerima nafkah dariku, apalagi dari Fares. Walaupun Aku tahu Fares tetap mencukupi kebutuhannya, dan Aku juga bisa memberikan apapun yang Ia mau. Aneesha sadar jika Dia tidak berhak meminta apapun dari Kami.” Reza menghentikan ceritanya, melepas kacamata yang bertengger dihidung, kemudian mengusap ujung matanya.
.
.
.
Bersambung.....
Bab selanjutnya akan ada sedikit cerita masa lalu bunda Riani. Siapkan tissu ya.... hehe....
Tinggalkan komen, like dan bintang lima. Kalau punya lebihan poin, boleh vote. hehe....
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊