Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 ( Kepergian Edrik )
🎒
🎒
🎒
🎒
🎒
Tanpa sepatah kata pun, Daddy Raffa masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Edrik.
"Ayo Bang kita pulang, jangan buat Daddy semakin marah," ajak Raka.
Akhirnya Edrik dan Raka pun pulang..
Sesampainya di rumah, Daddy Raffa dan Mommy Aqila sudah menunggunya di ruang keluarga bahkan Mommy Aqila sudah tampak menangis dan membuat hati Edrik merasa sakit.
Senakal-nakalnya Edrik, Edrik paling tidak suka melihat Mommynya menangis. Edrik duduk dihadapan Daddy Raffa dengan menundukkan kepalanya.
Wajahnya sedikit lebam karena Edrik juga mendapat pukulan dari Jojo dan teman-temannya.
Pluuuukkkk...
Daddy Raffa melempar sebuah tiket diatas meja.
"Itu tiket untuk kamu, besok kamu harus pindah ke Amerika. Tempat tinggal, sekolah, semuanya sudah Daddy urus kamu hanya tinggal berangkat saja," seru Daddy Raffa dingin.
Raka dan Edrik melihat ke arah Daddy Raffa bersamaan.
"Daddy, sebentar lagi Bang Edrik ujian bisa tidak kepindahannya diundur menunggu sampai Bang Edrik lulus saja," sahut Raka.
"Tidak ada penolakan dan bantahan, ini sudah menjadi keputusan Daddy dan merupakan hal yang terbaik untuk kita semua," seru Daddy Raffa dan meninggalkan semuanya.
Edrik tampak mengepalkan tangannya, sedangkan Raka mengusap wajahnya secara kasar, begitu pun dengan Mommy Aqila yang masih menangis.
Edrik beranjak dari duduknya dan menghampiri Mommy Aqila.
"Mommy jangan menangis."
Edrik mengusap airmata Mommynya..
"Maafkan Mommy sayang, kali ini Mommy tidak bisa mencegah kemauan Daddy kamu, dia sangat keras."
"Tidak Mommy, Mommy tidak usah meminta maaf karena semua ini adalah salah Edrik, justru seharusnya Edrik yang minta maaf karena Edrik sudah menjadi anak yang memalukan keluarga dan tidak berguna sama sekali."
"Tidak Nak, kamu adalah putera Mommy dan Mommy yakin kalau ini adalah salahpaham, Mommy akan coba bicara lagi dengan Daddy kamu."
Mommy Aqila hendak pergi tapi Edrik menahannya dan menggelengkan kepalanya. Edrik menggenggam kedua tangan Mommy Aqila dan menciumnya berulang kali.
"Mommy tidak usah bicara lagi, Edrik akan pergi ke Amerika."
Mommy Aqila dan Raka terkejut dengan ucapan Edrik.
"Enggak Bang, sebentar lagi lo ujian dan lulus juga, sayang kalau pindah sekarang," sahut Raka.
"Tolong lo jagain Mommy, gue akan turuti semua keinginan Daddy. Dan untuk Mommy, jangan sedih Edrik akan membuktikan kepada Daddy kalau Edrik bukan anak bodoh dan brandalan, Edrik akan belajar dengan giat supaya Daddy tahu kalau Edrik tidak sebodoh yang dia pikirkan."
"Kamu serius, Nak?"
"Iya Mommy."
Mommy Aqila memeluk Edrik dengan deraian airmata. Edrik melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamarnya, sesampainya di kamar Edrik langsung mengeluarkan kopernya dan mulai membereskan barang-barang yang akan dibawa.
"Bang, lo serius mau pindah ke Amerika?"
"Iya dan tolong lo jagain Mommy."
"Terus bagaimana dengan Icha?"
Seketika Edrik menghentikan kegiatannya, dia baru ingat dengan Icha.
"Gue yakin lo juga bisa jagain dia buat gue."
"Bang, please pikirkan lagi jangan karena emosi lo main pergi aja, jangan sampai lo menyesal."
Edrik tidak mendengarkan ucapan Raka, dia terus saja membereskan baju-baju ke dalam koper.
***
Malam pun tiba...
Mommy Aqila, Daddy Raffa, dan Edrik mereka sedang makan malam bersama tidak ada pembicaraan diantara mereka. Tiba-tiba Edrik turun dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi.
"Kamu mau kemana, Edrik?" tanya Mommy Aqila.
"Edrik keluar sebentar."
"Kamu makan dulu ya."
"Tidak Mommy, Edrik mau makan malam bersama teman Edrik."
Edrik pun langsung pergi tanpa menoleh lagi kepada semuanya, Raka tahu pasti Edrik akan menemui Icha.
Edrik melajukan mobilnya dengan perasaan tak menentu, hingga tidak lama kemudian Edrik pun sampai di rumah Icha.
Tok..tok..tok..
Ceklek...
"Bang bule, ngapain lo kesini malam-malam?"
"Mau ngajak lo jalan."
"Jalan kemana?"
"Kemana aja yang penting kita jalan."
"Ogah ah gue males, gue capek tadi siang sudah nemenin Kak Cyra jalan-jalan," tolak Icha.
"Ayolah please, cepetan ganti baju gue tunggu lo lima menit."
"Idih, maksa banget sih lo."
"Please Cha, waktu gue ga banyak."
"Alasan aja, besok juga ketemu disekolah," ketus Icha dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.
"Dandan yang cantik ya kancil burik," teriak Edrik.
Edrik pun duduk di kursi yang ada di teras, Icha keluar dengan menggunakan dress sederhana selutut dan dipadupadankan dengan kardigan berbahan rajut.
Penampilan yang sangat sederhana tapi tetap terlihat cantik dan mampu membius seorang Edrik. Icha pun mengunci pintunya karena Ayahnya baru saja berangkat jualan nasi goreng.
"Ayo, katanya mau ngajak jalan tapi malah bengong."
"Ah iya."
Edrik pun membukakan pintu mobil untuk Icha, mobil Edrik melaju dengan kecepatan sedang membelah ramainya kota Jakarta. Hingga akhirnya mobil Edrik berhenti disebuah Mall terbesar dikota Jakarta.
Edrik menggenggam tangan Icha..
"Ga usah pegang-pegang deh," protes Icha.
"Please untuk malam ini, biarkan kita menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih," seru Edrik dengan wajah yang memelas.
Icha merasa aneh dengan raut wajah Edrik yang seperti itu.
"Gue ga minta apa-apa, cuma cukup malam ini lo jadi kekasih gue dan kita akan menjalani kencan pertama kita, kalau lo belum juga bisa membalas cinta gue, biarlah untuk malam ini lo pura-pura mencintai gue itu sudah lebih dari cukup."
Deg...
Entah mengapa ucapan Edrik barusan mampu membuat hati Icha terasa nyeri. Icha seolah-olah orang jahat yang sudah memberi harapan palsu kepada Edrik, apalagi melihat tingkah Edrik yang menurut Icha sangat berbeda.
Icha pun membalas genggaman tangan Edrik membuat Edrik menghentikan langkahnya dan melihat ke arah tangan Icha yang menggenggam tangan Edrik.
"Kenapa berhenti, katanya mau kencan? ayo kita kencan," seru Icha dengan mengedipkan sebelah matanya.
Edrik terlihat tersenyum dan bersemangat, malam ini Edrik ingin membuat kenangan manis bersama Icha.
Meskipun Icha belum mencintainya dan malam ini dia hanya pura-pura, tak apalah yang penting malam terakhir ini menjadi malam yang tak akan terlupakan untuk Edrik.
"Kita kesana yuk!!"
Icha mengajak Edrik ke arena time zone, mereka bermain dengan riang gembira bahkan Icha baru pertama kali ini melihat Edrik bisa tertawa lepas seperti itu.
Setelah puas bermain, Edrik pun mengajak Icha untuk makan malam karena perutnya sudah terasa sangat lapar.
"Lo mau pesan apa?" tanya Edrik.
"Apa malam ini gue boleh pesan apa saja? itung-itung sebagai tanda terima kasih karena malam ini gue sudah mau berkencan sama lo."
"Ok..lo boleh pesan apa saja yang lo mau."
"Seriusan, gue boleh pesan apa saja?"
"Iya."
Icha pun dengan semangat memesan semua makanan yang dia sukai, hingga tidak lama kemudian pesanan Icha dan Edrik pun datang. Meja mereka sampai penuh dengan semua makanan pesenan Icha.
"Astaga kancil burik, makanannya banyak banget memangnya lo sanggup menghabiskan semua makanan ini," seru Edrik yang merasa tidak percaya.
"Tenang saja, makanan segini mah kecil."
Edrik dan Icha pun mulai menyantap makanan itu dengan lahapnya, Edrik terlihat curi-curi pandang dan merasa sangat lucu melihat makan Icha yang tidak ada anggun-anggunnya.
Biasanya wanita itu kalau makan dengan pacarnya suka jaim, makannya sedikit, sok-sok an ga dihabisin padahal kenyataannya perut masih lapar. Berbeda dengan Icha, wanita yang satu ini begitu unik, urat malunya sudah putus, tidak ada kata jaim-jaiman, yang ada dia berani minta pesan makanan banyak kepada Edrik.
Edrik sudah selesai makan, sedangkan Icha masih sibuk menyantap makananannya.
"Astaga, lo itu kurus tapi makan lo kaya yang kesurupan," ledek Edrik.
"Sorry, habis makanannya enak, sayang kalau ga dihabisin," sahut Icha dengan mulut penuh makanan.
Setengah jam kemudian, Icha baru selesai makan. Icha menyandarkan tubuhnya karena merasa sudah tidak kuat lagi untuk bergerak.
"Eeeeuuuuuuu...."
Icha menutup mulutnya karena sendawa begitu nyaringnya.
"Ya ampun lo jorok banget sih."
"Hehehe sorry."
Setelah selesai makan, dan Icha pun sudah mulai bisa berdiri, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Disaat mereka berdua sedang berjalan menuju arah keluar, Edrik melihat foto box dengan bersemangatnya Edrik menarik tangan Icha.
"heh, lo mau bawa gue kemana?" sentak Icha.
"Kita foto box dulu sebentar buat kenang-kenangan."
Edrik dan Icha pun masuk ke foto box tersebut, setelah semuanya siap mereka berdua mulai berfoto-foto ria, dari gaya serius, petakilan, sampai yang paling konyol mereka lakukan.
"Ini yang terakhir ya," seru Edrik.
Disaat sudah mulai, Edrik dengan cepat mencium pipi Icha membuat Icha terkejut dan menatap tajam ke arah Edrik sedangkan Edrik hanya cengengesan.
"Ih dasar nyebelin, cari kesempatan dalam kesempitan."
"Sudah ah, kita pulang sudah malam nanti Ayah kamu marah lagi."
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Edrik pun tidak sanggup mengatakan kalau besok pagi dia akan pergi ke Amerika entah sampai kapan.
"Cha..."
"Apa?"
"I love you.."
"Hah...apaan sih lo basi."
"Lo serius ga ada rasa sama gue? walaupun sedikit saja?" tanya Edrik.
"Kok lo nanya seperti itu?"
"Gue pengen tahu saja bagaimana perasaan lo sebenarnya sama gue, kalau gue mah sudah jelas cinta sama lo."
Icha hanya diam mematung, dia tidak tahu harus jawab apa.
"Gue belum bisa jawab masalah itu."
"Ya sudah, ga apa-apa."
Tidak lama kemudian, mobil Edrik pun sampai di depan rumah Icha.
"Terima kasih ya karena malam ini lo mau jalan-jalan sama gue dan menjalani kencan pertama kita, jujur gue sangat bahagia sekali malam ini setidaknya gue merasa tenang."
Icha mengangguk dan tersenyum..
"Kalau gitu gue masuk dulu."
"Oh iya, kayanya besok gue ga bisa jemput lo jadi lo naik angkot saja ya."
"Yeee...memang setiap hari juga gue naik angkot dan ga pernah nyuruh lo buat jemput gue."
"Iya-iya itu keinginan gue kok, kalau begitu gue pulang dulu."
"Hati-hati."
Sesampai di rumah, Edrik langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya, karena kelelahan akhirnya Edrik pun tertidur.
***
Keesokkan harinya...
Edrik sudah siap dengan menyeret kopernya turun ke bawah.
"Kamu sudah siap Nak?" tanya Mommy Aqila.
"Sudah Mommy."
"Ya sudah, yuk kita berangkat."
Mommy Aqila dan Raka mengantarkan kepergian Edrik sedangkan Daddy Raffa tadi malam harus pergi ke luar kota karena ada masalah dengan perusahaannya yang ada disana.
Selama dalam perjalanan, Edrik tidak banyak bicara dia hanya melihat keluar jendela dan Mommy Aqila tahu kalau putera sulungnya itu tidak menginginkan pergi namun dia tidak mau membuat orangtuanya kecewa.
"Nanti Mommy akan sering mengunjungi kamu kesana."
"Iya Mommy."
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di Bandara dan tidak disangka ternyata Riana, Juna, dan Fiko sudah menunggu di Bandara mereka semua bolos sekolah setelah tadi malam Raka memberitahukan tentang kepergian Edrik.
"Bang Ed."
Riana menghambur ke pelukkan Edrik.
"Bang Ed jangan pergi," rengek Riana dengan tangisannya.
"Gue harus pergi Ri, selama gue ga ada lo jangan cengeng ya dan tolong jagain Icha."
Riana melepaskan pelukkannya, kali ini Juna dan Fiko yang menghambur kepelukkan Edrik.
"Kita pasti akan mengungkap kebusukan si Jojo sialan itu, lo jaga diri baik-baik Bang jangan lupa selalu hubungi kita jangan sampai setelah disana lo lupa sama kita," seru Juna.
"Pasti, gue bakalan kasih kabar terus sama kalian, tolong kalian jagain Icha buat gue."
"Pasti Bang, lo jangan khawatir," sahut Fiko.
Sementara itu, Icha baru saja turun dari angkot hendak masuk ke dalam sekolah tapi sebuah mobil yang Icha kenal berhenti dihadapan Icha.
"Cha, buruan masuk," seru Cyra.
"Mau kemana Kak? Icha mau sekolah."
"Edrik hari ini pergi ke Amerika dan keberangkatannya setengah jam lagi, buruan kita harus segera ke Bandara atau kamu tidak akan pernah ketemu lagi sama Edrik."
"Apa?"
Icha dengan cepat masuk ke dalam mobil Cyra.
"Cepetan Kak, aku ga mau sampai terlambar," seru Icha panik.
Cyra langsung melesat dengan kecepatan tinggi, jalanan dipagi hari itu terlihat sangat macet sedangkan Icha sudah terlihat meneteskan airmatanya.
"Lo jahat, jadi ini tujuan lo tadi malam ngajak gue kencan," batin Icha.
Edrik tampak terus melihat kearah pintu masuk, berharap Icha datang dan mengucapkan selamat jalan untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan Raka mengerti akan Abangnya yang sedang menunggu siapa.
Suara pengumuman keberangkatan sudah terdengar, dan Edrik pun beranjak dari duduknya. Untuk terakhir kalinya Edrik memeluk Mommy dan semuanya sebagai ucapan perpisahan.
"Kalau sudah sampai disana hubungi Mommy ya sayang."
"Iya Mommy, kalau begitu Edrik pergi dulu. Semuanya gue pergi dulu, bye."
Edrik melambaikan tangannya dan segera menyeret kopernya. Edrik membalikkan badannya dan sekali lagi melihat ke pintu masuk, sosok yang ditunggu tidak juga muncul, hingga akhirnya dengan langkah gontai Edrik pun melangkahkan kakinya.
Sementara itu mobil Cyra baru saja sampai, Icha tanpa menunggu Cyra langsung berlari masuk ke dalam mencari keberadaan Edrik. Deraian airmatanya sudah mengalir dipipinya tak henti-hentinya, hingga Icha pun melihat teman-temannya sedang berdiri memandang Edrik yang sudah melangkah jauh.
"Bule gila tunggu..." teriak Icha dengan terus berlari.
Semua orang menoleh ke arah Icha tapi Icha terus berlari melewati teman-temannya, dia tidak peduli yang penting saat ini dia bertemu dengan Edrik.
"Bang bule tunggu..." teriak Icha.
Edrik yang mendengar suara itu langsung membalikkan tubuhnya, dilihatnya Icha sedang berlari kearahnya. Icha langsung memeluk Edrik dengan deraian airmata.
"Lo jahat, lo jangan pergi."
Edrik pun meneteskan airmata tapi dengan cepat langsung menghapusnya. Cukup lama Edrik dan Icha berpelukkan hingga akhirnya Icha melepaskan pelukkannya.
"Jangan pergi please."
"Lo kenapa jadi cengeng kaya gini? bukannya kalau gue pergi lo bakalan senang ya, ga bakalan ada yang gangguin lo dan maksa-maksa lo lagi, lo kan bisa bebas," goda Edrik.
"Ga mau, walaupun lo nyebelin tukang maksa tapi gue ga mau lo pergi."
"Kenapa?"
"Karena----"
"Karena apa?" tanya Edrik dengan tatapan yang serius.
"Karena gue suka sama lo," sahut Icha.
Edrik sangat terkejut tapi dia juga bahagia akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi sayangnya Icha mengungkapkan perasaannya disaat Edrik harus pergi.
Edrik kembali memeluk Icha..
"Terima kasih sudah mau membalas cinta gue, tapi maaf gue harus tetap pergi."
Edrik melepaskan pelukkannya dan menghapus airmata Icha kemudian Edrik menangkup wajah Icha.
"Jangan menangis, lo mau kan nungguin gue sampai gue pulang?"
Icha menganggukkan kepalanya...
"Gue bakalan hubungin lo terus, ingat jangan coba-coba selingkuh dibelakang gue karena gue ga bakalan segan-segan buat kasih pelajaran cowok yang deketin lo."
"Lo yang jangan macam-macam karena disana pasti banyak cewek cantik dan **** yang deketin lo."
"Tenang saja dihati gue hanya ada lo seorang, ya sudah gue berangkat dulu jaga diri lo baik-baik."
Edrik mencium kening Icha dan mulai melangkahkan kakinya, Icha melambaikan tangannya begitu juga dengan Edrik.
Akhirnya Edrik pun benar-benar pergi...
🎒
🎒
🎒
🎒
🎒
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU