Kau begitu Rupawan, Kau begitu menawan, Kau yang pertama ku cinta dalam diamku, namun takkan pernah kusebut namamu dalam setiap doa di setiap sujudku.
Jangan Cintai aku
Biar aku yang mencintaimu
Jangan melihat kearahku
Biar aku yang melihat kearahmu
Aku begitu takut terluka...
Apalagi jika luka itu ku dapat darimu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dr. xiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih punya seumur hidup
5 bulan kemudian
Apartemen di lantai paling atas gedung tempat mereka tinggal akhirnya rampung. Jagadta membawa Adrika dan Chandrama untuk pindah.
Aku baru tahu kalau disini ada unit apartemen yang lain...ucap Adrika. Jagadta hanya tersenyum.
mm... tempat ini sengaja dibuat agar lebih private. Tadinya papa ingin langsung bawa mama dan chandrama kesini, tapi tempat ini masih belum sesuai dengan stylenya mama, ya jadi papa harus renovasi dulu.... ucap jagadta yang mulai memanggil dirinya papa dan mama dengan adrika. Awalnya adrika heran, namun Jagadta bilang mereka harus memulai panggilan itu karna sekarang mereka sudah punya anak. Akhirnya adrika tak lagi mempermasalahkannya. Walau pun hingga saat ini Adrika hanya menyebut sebutan papa dan mama saat ada Chandrama saja, selebihnya Adrika lebih memilih tak berinteraksi dengan Jagadta.
Jagadta membawa Adrika tur rumah. Betapa kagetnya Adrika Apartemen itu hanya punya 2 kamar, 1 kamar utama dan 1 kamar anak. Jujur adrika ingin protes ia tak suka kalau harus sekamar dengan Jagadta.
Kita kan suami istri ma.. tenang aja, papa gak akan sentuh mama tanpa izin kok... ucapnya, Jagadta ingin Adrika terbiasa akan dirinya, ia ingin Adrika belajar untuk menjadi istrinya juga bukan hanya ibu dari chandrama.
Jadi ini alasannya kamu bilang gak perlu bawa barang, cukup bawa baju saja...tanya Adrika, Jagadta mengangguk sambil tersenyum lalu membawa koper pakaian mereka ke ruang closet room.
Adrika mengikuti Jagadta. Ia menyerahkan Chandrama pada Jagadta, karna ingin menyusun pakaiannya. Chandrama tampak riang bermain dengan jagadta selagi adrika menyusun pakaiannya. Sejak memiliki Chandrama Adrika lebih banyak tersenyum, senyum termanis yang mungkin tidak akan pernah dilihat Jagadta jika saja chandrama tak lahir ke dunia.
Selesai berbenah, dan Chandrama tidur. Jagadta mengajak Adrika bicara.
Papa tahu mama punya uang sendiri, bahkan mama sanggup untuk membiayai diri mama dan putra kita sendiri. Tapi ma, mama dan Chandrama adalah tanggung jawab papa, istri dan papa, izinkanlah papa bertanggung jawab atas kalian..hmmm?!..please....pintanya.
Jagadta sungguh tak suka melihat Adrika harus banting tulang untuk putra mereka padahal ia sanggup bahkan sangat mampu menghidupi mereka. Bukan harga dirinya sebagai laki-laki yang terusik, tapi harga dirinya sebagai suami dan ayah lah yang terusik.
Adrika menatap Kartu ATM, Black Card, dan Kartu tanda pemilik Herlambang Group itu dengan berfikir keras. Ia hanya tak ingin berhutang dan terbiasa bergantung pada Jagadta, karna ia tak mau jika nanti Jagadta pergi meninggalkannya dengan Chandrama, Adrika akan kesulitan membiasakan diri.
Aku pernah bilang kan, bagiku menikah hanya satu kali, dan sejak kita menikah bagiku istriku cuma boleh kamu. Dan aku akan melepas kamu kalau kamu menemukan orang yang benar-benar kamu cinta. Kamu boleh tak percaya dengan ucapanku, tapi aku pasti akan membuktikannya, untuk itu kamu hanya perlu selalu disisiku untukku bisa membuktikannya... ucap Jagadta serius.
Adrika menatap Jagadta lekat. Setahun menikah dengan Jagadta, ia tahu tak ada kebohongan dimata Jagadta saat mengatakannya. Adrika pun menghela nafasnya.
Berapa nomor password-nya...tanya Adrika yang seketika membuat Jagadta berbinar
password-nya tanggal pernikahan kita..sahutnya bersemangat.
Ah...maaf bisa kamu tuliskan saja password-nya?! Aku lupa tanggal pernikahan kita...ucap Adrika santai, seketika raut wajah bahagia itu berubah sedih.
Jagadta pun menuliskannya.
Password apartemen ini juga sama dengan password kartu-kartu ini... ucap Jagadta pasrah, ia tak bisa marah.
mm...akan kuingat...sahut Adrika
Terimakasih, akan ku gunakan dengan baik...sahut Adrika lalu mengambil kartu-kartu itu dan pergi membersihkan dirinya. Meninggalkan Jagadta yang hanya bisa tersenyum kecut.
Ga papa, aku masih punya seumur hidup untuk membuatmu mau menerima hadirku...gumam Jagadta yang kini tersenyum ikhlas.