Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3-Para Penguasa Sekolah
Suasana di dalam kelas XII - SCIENTIAE MAGISTER terlihat sangat hidup namun tetap terasa eksklusif. Kelas ini memang diperuntukkan bagi siswa-siswa terbaik, baik dari segi akademik maupun status sosial.
Di sepanjang deretan bangku, aktivitas berjalan beriringan. Sebagian siswa yang memang berotak encer sibuk membaca buku tebal dan berdiskusi soal pelajaran. Namun, tak sedikit pula yang lebih asyik dengan dunianya sendiri—ada yang sibuk membetulkan riasan wajah di depan cermin kecil, ada yang asyik bermain game di ponsel mahal mereka, hingga kelompok-kelompok kecil yang asyik mengobrol dan bergosip ria.
Namun, perhatian utama di kelas ini selalu tertuju pada satu kelompok yang duduk berdekatan di deretan bangku depan, tepat di dekat meja guru.
Mereka adalah BEAUTY GIRLS.
Kelompok yang dianggap sebagai penguasa tak tertulis di sekolah ini. Siapa lagi kalau bukan Valerie Halim, Selena Wijaya, dan Clarissa Malik. Ketiga gadis ini berasal dari keluarga konglomerat kelas atas. Pakaian mereka rapi, aksesoris yang dipakai bermerek, dan cara mereka duduk pun terlihat sangat percaya diri dan angkuh.
Di tengah duduk Valerie, pemimpin kelompok tersebut. Wajahnya cantik namun tatapannya sedingin es. Sebagai anak pemilik sekolah, Valerie tahu betul bahwa dia memiliki kekuasaan mutlak di sini. Semua murid, bahkan guru, sangat segan dan takut padanya.
"Eh, Val... Val!" seru Clarissa memecah keheningan, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Valerie dengan wajah penasaran. "Gue denger nih dari temen OSIS, katanya bakal ada murid baru masuk ke kelas kita nih hari ini."
Valerie yang sedang mengoleskan lip gloss ke bibirnya hanya melirik malas. "Oh ya? Terus kenapa? Banyak murid baru tiap tahun."
"Tapi ini beda, Val!" sahut Selena yang sedang asyik memakan snack kemasan mewah di tangannya. "Katanya sih dia itu murid beasiswa lho! Dapat beasiswa penuh! Katanya dia dari desa pinggiran kota gitu, tapi pinter banget sih sampai bisa tembus tes masuk sini. Eh... tapi katanya sih dia cantik juga lho, Val. Wajahnya polos tapi manis gitu."
Mendengar kata 'cantik', tangan Valerie berhenti bergerak. Alisnya terangkat sedikit, ada kilatan tidak suka di matanya.
"Wah, gawat dong!" seru Clarissa sambil menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura kaget tapi dengan senyum jahat. "Pinter lagi, cantik lagi. Pasti bakal banyak cowok yang nengok dong. Bahaya nih, Val. Pasti bakal nyaingin lo deh sebagai cewek terpopuler di sekolah."
Valerie terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sinis dan sangat sombong. Ia menutup rapat kotak riasnya dengan suara klik yang tegas, lalu menatap cermin di depannya sambil merapikan rambut pirangnya yang bergelombang indah.
"Halah, ngimpi aja lo," jawab Valerie dengan nada merendahkan. "Gak bakal ada yang bisa nyaingin kecantikan dan kepopuleran gue di sekolah ini. Apalagi cuma anak desa yang datang bawa beasiswa? Mau seberapa cantik pun, asal dia miskin dan gak punya nama besar, dia tetep bakal jadi sampah di sini."
Clarissa dan Selena saling bertukar pandang. Sebuah senyuman licik dan jahat terukir di bibir mereka berdua. Mereka mengangguk-angguk setuju, seolah membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut Valerie.
"Betul banget omongan lo, Val," kata Selena sambil terkikik. "Mana ada yang bisa ngalahin Beauty Girls. Apalagi lo kan anak pemilik sekolah ini. Seluruh Hantage ini kan milik keluarga lo. Dia mau sehebat apa pun, tetep aja dia cuma tamu yang numpang hidup."
"Anak desa mah mending di desa aja ngurus sawah, ngapain sih sok pinter masuk sini," tambah Clarissa sinis. "Nanti juga kita ajarin dia sopan santun biar tau diri tempat dia berdiri. Jangan sampai kepikiran mau nyampein level kita."
Valerie tersenyum miring, matanya menatap lurus ke arah pintu kelas dengan tatapan menantang.
"Justru karena dia pinter dan cantik... makin seru buat kita mainin," bisik Valerie pelan namun penuh ancaman. "Ayo kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan di kelas 'Para Penguasa' ini."
Belum sempat pembicaraan mereka selesai, pintu kelas terbuka pelan. Masuklah seorang gadis dengan postur tubuh yang agak kurus, membawa setumpuk buku tebal yang hampir menutupi wajahnya.
Itu adalah Dinda Kusuma.
Dinda adalah siswi yang juga mendapatkan beasiswa penuh, sama seperti Elara, namun ia sudah masuk sejak tahun lalu. Otaknya sangat cerdas dan nilainya selalu masuk peringkat atas, namun sayangnya penampilannya sangat sederhana hingga sering menjadi bahan ejekan. Ia memakai kacamata bingkai hitam yang tebal dan kekecilan, rambut hitamnya selalu dikepang dua kaku yang biasa disebut orang sebagai 'kepang ayam', dan pakaiannya selalu terlihat kusam meski sudah disetrika rapi.
Dinda berjalan dengan kepala tertunduk dalam, langkahnya kecil dan cepat. Ia tahu, untuk sampai ke tempat duduknya yang ada di pojok paling belakang, ia harus melewati 'zona berbahaya'—meja tempat duduk Valerie dan gengnya.
Jantungnya berdegup kencang. Ia berdoa dalam hati semoga kali ini tidak diganggu.
'Tolong... biarin aku lewat doang...' batinnya memohon.
Namun, harapan itu sia-sia.
Saat Dinda sedang berjalan pas di samping meja mereka, dengan sengaja Valerie menjulurkan kakinya yang memakai sepatu heels mahal itu ke tengah jalan.
BRUK!
"ADUH!"
Kaki Dinda tersandung keras. Keseimbangannya hilang seketika. Tubuh mungil itu jatuh tersungkur ke lantai keras. BRUK! Suara jatuhnya terdengar nyaring.
Buku-buku yang dibawanya terlempar ke mana-mana, berserakan di lantai keramik. Halaman-halaman buku terbuka, pulpen dan penghapusnya menggelinding jauh.
"HAHAHAHAHAHA!!!"
Tawa meledak di seluruh penjuru kelas. Semua murid menertawakan kejadian itu. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada yang bertepuk tangan senang, dan ada yang berbisik-bisik mengejek.
"Wih jatuh! Koplak banget sih jalan aja gak liat!"
"Dasar bego, mata dipake apa coba?"
"Lihat tuh kacanya mau copot! Hahaha!"
Dinda gemetar hebat. Ia tidak peduli sakit di lututnya, ia segera merangkak cepat membereskan buku-bukunya dengan tangan yang gemetar. Air matanya sudah menggenang, tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Ia ingin cepat selesai dan pergi dari sana.
Namun, Valerie tidak akan membiarkannya begitu saja.
Dengan langkah anggun dan sombong, Valerie turun dari kursinya. Ia berjalan mendekati Dinda yang masih sibuk merapikan buku di lantai. Clarissa dan Selena pun ikut berdiri dan mengelilingi Dinda layaknya predator yang mengitari mangsanya.
Valerie sengaja menginjak ujung salah satu buku catatan Dinda dengan tumit sepatunya, tidak membiarkan gadis itu mengambilnya.
"Ih, becek banget lantai jadi kotor gara-gara kamu jatuh," celetuk Valerie sinis sambil memencet hidungnya. "Jalan itu pakai mata ya, Dinda! Bukan pakai perasaan! Atau emang otak lo kamu yang pinter itu cuma buat ngitung doang, terus jalan jadi gak fokus?"
"Ma-maaf, Val... aku gak sengaja..." isak Dinda pelan, kepalanya semakin tertunduk.
"Maaf? Maaf doang cukup?" potong Clarissa sambil menendang pelan sebuah buku yang ada di dekat kaki Dinda. "Udah miskin, culun, jalannya juga lelet. Ngapain sih lo masuk sekolah ini? Ngerusuhin doang!"
"Lihat tuh penampilannya," tambah Selena sambil terkikik jahat. "Kepang ayam, kacamata botol kecap, baju kayak embah-embah. Lo ini mau sekolah atau mau main drama zaman dulu sih? Jijik gue liatnya."
"Gak usah sok suci deh lo!" Valerie semakin berani, ia menepuk kepala Dinda dengan kasar hingga kacamata gadis itu bergeser. "Lo pikir dengan jadi pinter lo bisa setara sama kita? Gak bakal pernah! Lo itu cuma kutu buku yang nasibnya melarat! Sampai kapanpun lo tetep di bawah kaki gue!"
"LEPASIN! JANGAN GANGGU GUE!" tiba-tiba Dinda memberanikan diri berteriak kecil, mendorong tangan Valerie menjauh.
Mata Valerie membelalak marah. "Oh? Berani melawan sekarang ya?"
PLAK!
Tanpa aba-aba, Valerie menampar pipi Dinda dengan keras.
BRAKK!
Suara tamparan itu terdengar sangat nyaring, membuat suasana kelas menjadi hening sejenak, lalu kembali disambut dengan tawa jahat. Pipi Dinda langsung memerah bekas jari tangan Valerie.
Air mata Dinda akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit fisik dan batin.
"Nangis? Hahaha lihat tuh dia nangis! Lucu banget!" seru Selena.
"Mending lo pulang aja sana, Din. Minta sama orang tua lo, sekolahin di desa aja! Jangan di sini bikin malu kelompok beasiswa!" cerca Clarissa.
"Iya bener! Daripada lo di sini cuma jadi bahan tertawaan doang!" Valerie menendang buku Dinda lagi hingga melayang jauh. "Beresin tuh sampah lo! Cepetan! Jangan bikin lantai kelas gue kotor!"
Dinda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Ia memungut buku-bukunya satu per satu dengan tangan gemetar, di tengah tawa cemoohan seluruh kelas, dan di bawah tatapan sinis para penguasa sekolah yang tidak punya hati.
Suasana kelas yang sempat riuh karena menertawakan Dinda, seketika menjadi hening saat pintu kayu besar itu terbuka lebar. Masuklah Bu Melda dengan langkah tegap dan wajah tegas, diikuti Elara.
Di belakang mereka, Keisha yang tadi ikut mengantar langsung bergegas kembali ke tempat duduknya yang ada di deretan tengah, sambil melambai kecil ke arah Elara.
"Selamat pagi, semua!" sapa Bu Melda lantang.
"Selamat pagi, Bu!" jawab seluruh murid serempak, meski nadanya terdengar setengah hati terutama dari arah meja depan.
"Anak-anak, hari ini kelas kita kedatangan teman baru," ucap Bu Melda sambil menepuk bahu Elara lembut. "Ayo, silakan perkenalkan diri kamu di depan."
Elara menghela napas panjang sekali, lalu melangkah maju ke depan papan tulis. Ia menatap seluruh penjuru kelas dengan tatapan tenang.
"Halo semuanya... nama aku Elara Nirmala Putri. Salam kenal ya," ucap Elara ramah sambil membungkuk sedikit. Senyumnya tulus dan manis.
"Wow cantik ya..."
"Hai Elara!"
"Salam kenal!"
Sebagian murid, terutama yang duduk di belakang, membalas sapanya dengan antusias. Mereka terlihat senang dengan kedatangan Elara. Namun, berbeda halnya dengan kelompok yang duduk di depan.
Valerie, Selena, dan Clarissa hanya menatap datar, bahkan terlihat sangat sombong dan jijik. Valerie mendengus pelan, lalu memutar bola matanya malas seolah melihat sesuatu yang tidak penting.
'Hah, cuma gitu doang? Biasa aja.' batin Valerie sinis.
"Oh ya, Elara," Bu Melda kembali bersuara. "Untuk loker pribadi kamu, nanti bakal siap besok ya. Jadi hari ini barang bawaan kamu bisa ditaruh dulu di kursi atau digantung."
"Iya, Bu. Mengerti," jawab Elara patuh.
"Baiklah. Sekarang kamu boleh duduk. Tempat duduk kamu sudah disiapkan di sebelah Keisha," tunjuk Bu Melda ke arah tengah kelas.
"Makasih banyak, Bu," ucap Elara.
Dengan langkah mantap, Elara berjalan menyusuri lorong kelas. Matanya sempat melihat sekilas ke arah Dinda yang sedang duduk memeluk buku di pojok belakang dengan mata bengkak, lalu beralih ke arah Valerie yang menatapnya tajam. Elara tidak gentar, ia tetap berjalan tenang.
Sesampainya di bangkunya, Keisha sudah siap sedia menunggu dengan senyum lebar yang mengembang sampai ke telinga.
"El!!" seru Keisha pelan tapi penuh semangat. Ia langsung merangkul lengan Elara saat gadis itu baru saja duduk. "Aku senang banget kita satu kelas! Rasanya pengen teriak banget rasanya! Akhirnya ada temen ngobrol yang asik!"
Elara tertawa renyah mendengar antusiasme Keisha. "Iya dong, Kei. Aku juga senang banget lho. Tadi di ruangan Pak Herman aja aku udah seneng, apalagi sekarang sekelas sama kamu. Jadi nggak takut lagi deh rasanya."
"Tenang aja! Ada aku!" bisik Keisha bangga.
Sementara itu, Bu Melda berdiri di depan kelas dan menatap seluruh murid dengan tatapan mengawasi.
"Baik anak-anak, Ibu pergi dulu ya. Ingat ya, jangan ribut, jangan keluar kelas sembarangan, dan tetap di tempat duduk masing-masing karena sebentar lagi bel masuk bakal berbunyi. Pelajaran pertama Matematika tingkat lanjut," pengumuman Bu Melda membuat beberapa murid mendesah malas.
"Baik, Buuu..." jawab mereka serempak.
"Ya sudah, Ibu pamit."
Bu Melda pun berbalik badan dan keluar dari kelas, menutup pintu perlahan hingga tertutup rapat.