"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"
"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."
Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.
"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.
"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 [ Salah Tuduh ]
Hidupnya tak lagi memiliki warna. Bahkan kebahagiaan pun seakan enggan menyertainya. Mampukah Cantika bertahan di lingkungan kotor yang setiap hari hanya dipenuhi tuduhan demi tuduhan yang selalu memojokkannya?
Tiba-tiba suara keributan menggelegar, membuyarkan keheningan ruangan itu. Pelaku utama tak lain adalah Andrian. Kedatangannya sangat mengejutkan Victor, terlebih Andrian datang bersama gerombolan pasukannya.
"Apa kamu sudah gila? Berani sekali datang ke kediamanku dan membuat keributan sampai menghancurkannya seperti ini! Apa maumu? Apa maksudmu mencari gara-gara seperti ini?" bentak Victor dengan emosi yang mulai membakar kepalanya.
Tanpa menjawab, Andrian melangkah maju. Sorot matanya menyambar arah dua Wanita muda yang saling berdampingan, menghiraukan Victor. Ia masuk lalu menarik pergelangan tangan Cantika, mencengkeram leher gadis itu seolah hendak menjadikannya sandera.
Namun ancaman itu sama sekali tak membuahkan hasil. Bukannya panik, Victor dan wanita di sampingnya justru tersenyum lebar.
"Ini peringatan terakhir!" suara Andrian menggema.
"Apa benar salah satu putrimu telah menjadi penyebab utama atas kecelakaan yang menimpa istriku dan juga anakku?"
Pisau kecil di tangannya terangkat, siap menggores leher Cantika dan Nayla.
Jika Nayla diliputi ketegangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena dialah pelaku sesungguhnya, berbeda dengan Cantika. Meski pisau itu menempel di lehernya, tak ada ekspresi takut sedikit pun. Apalagi sejak ibunya meninggal, hidupnya sudah kehilangan arti. Terlebih ia tahu dirinya bukan pelaku yang dicari.
"Jadi korban tabrak lari itu adalah istrimu?" tanya Andara-Mama tiri Cantika.
"Bagaimana keadaan istrimu?"
Andrian menatap tajam ketika Wanita itu memberikan pertanyaan balik seolah tau tentang kejadian tersebut.
"Kau tahu siapa pelakunya?"
Wanita tua itu buru-buru maju dengan wajah pura-pura iba. Menggenggam tangan Cantika kali ini gadis itu semakin terpojokkan.
"Cantika, sayang... Mama berharap kamu mengakulah. Hukumanmu akan lebih ringan jika kamu jujur. Tolong, mengakui lah." Cantika menatap wanita itu penuh jijik.
"Jadi gadis inilah yang telah menabrak istriku?" bentak Andrian emosinya semakin memburu.
"Kau tahu akibat ketidak bertanggung jawabanmu? Anakku meninggal! Janin dalam kandungan istriku tak bisa diselamatkan! Bahkan sekarang istriku dinyatakan sulit mengandung lagi. Semua itu terjadi karena siapa? Karena anda!" Cantika menggeleng kuat-kuat.
"Bukan aku! Aku bersumpah bukan aku!"
Namun Victor justru melangkah maju dengan wajah tanpa rasa iba.
"Kalau kau ingin memenjarakannya, lakukan saja. Aku sebagai ayah tidak akan melarang."Cantika menoleh tak percaya.
"Asal jangan libatkan media. Jangan sampai nama keluargaku dan perusahaanku tercemar. Kau tahu? Aku sendiri tak beruntung memiliki putri seperti dia. Jadi kalau mau memenjarakannya, terserah."
Kata-kata itu menghantam Cantika lebih sakit dari tamparan mana pun.
Andrian terdiam sesaat. Dalam hatinya timbul keheranan.
"Apa maksud pria ini? Gadis ini putri kandungnya sendiri, tapi kenapa tak terlihat sedikit pun kepedulian?"
Victor memang licik. Saat Andrian lengah, salah satu anak buah Victor diam-diam mengarahkan senjata ke arah pasukan Andrian. Menyadari situasi itu, Andrian akhirnya melepaskan Cantika. Namun sebelum mundur, ia mendorong tubuh mungil gadis itu hingga tersungkur tepat di bawah kaki dua polisi yang datang bersamanya.
"Masih beruntung putrimu tidak kubunuh sebagai ganti nyawa kedua anakku!" bentak Andrian.
"Tapi bukan Andrian namanya kalau aku pergi tanpa balasan. Bawa gadis ini!"
Dua polisi itu segera memborgol tangan Cantika.
"Tidak!" teriak Cantika histeris.
"Aku berani bersumpah, itu bukan aku! Pelakunya wanita itu!" ia menunjuk Nayla.
"Aku bersumpah bukan aku! Bukan aku!
Namun pembelaannya sama sekali tak membuahkan hasil. Nayla berdiri dengan wajah pura-pura ketakutan, sementara Victor dan istrinya hanya menonton tanpa rasa bersalah.
Cantika dibawa pergi dengan tangan terborgol, tanpa diberi kesempatan mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.
Di ambang pintu, Andrian menoleh sekilas pada gadis itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sorot mata penuh luka yang berbeda dari seorang pelaku kejahatan.
Namun amarah dan duka telah membutakan segalanya. Ia pun pergi bersama rombongannya, meninggalkan Cantika yang diseret menuju mobil polisi.
BERSAMBUNG