SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Peraturan Malam
Langkah kaki Lintang terdengar sangat ringan, hampir tanpa suara sama sekali. Seolah olah gadis itu sudah terbiasa berjalan atau bahkan berdansa di atas lantai lantai tua SMA Nusantara yang kini terasa rapuh dan mulai membusuk. Arga mengikuti dari belakang dengan hati hati. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan suara suara bisikan halus yang seolah keluar dari balik retakan dinding dan celah celah lantai.
Sepanjang perjalanan, mereka melewati deretan lemari kaca pajangan piala. Namun isinya bukanlah piala atau medali emas. Di dalam sana kini tersusun potongan potongan tubuh manekin yang terlihat sangat nyata dan menyeramkan. Mata mata plastik yang menempel pada kepala kepala itu tampak berkilauan seolah ikut mengawasi dan mengikuti setiap gerak gerik mereka.
"Jangan pernah menyentuh apa pun yang terlihat mengkilap atau bersih," bisik Lintang tanpa menoleh sedikit pun. "Ingat baik baik, di tempat ini keindahan hanyalah umpan. Sesuatu yang terlihat bersih dan terawat di tengah tempat yang kotor dan berantakan biasanya adalah perangkap mematikan."
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati yang sangat kokoh. Pintu itu berada tepat di ujung lorong lantai tiga. Di bagian atasnya terdapat papan nama kuno yang tertulis dengan huruf timbul: Ruang Dokumen Statis.
Lintang lalu merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah koin logam berwarna perak. Dengan gerakan pasti, ia mengetukkan koin itu ke permukaan pintu kayu sebanyak tiga kali.
Tok... Tok... Tok...
Seperti memiliki kesadaran sendiri, pintu besar itu perlahan terbuka. Aroma yang menyambut mereka sungguh kontras dengan suasana di luar. Ruangan ini sangat luas dan dipenuhi rak rak buku yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit langit. Udara di sini terasa hangat dan nyaman, berbau harum campuran antara kopi dan kertas tua yang berusia puluhan tahun. Ini sangat berbeda dengan bau busuk dan anyir darah yang menghinggapi koridor di luar.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja besar berbentuk oval. Beberapa remaja duduk mengelilinginya, mereka semua mengenakan seragam yang sama dengan Lintang.
"Kau membawa Anak Baru itu, Lintang?"
Sebuah suara berat dan berwibawa menyapa mereka. Pemilik suara itu adalah seorang pemuda tampan yang memakai kacamata berbingkai perak. Ia duduk di posisi paling ujung meja. Wajahnya tampak tenang namun tatapan matanya sangat tajam dan menusuk layaknya pisau bedah. Di depannya tergeletak sebuah buku tebal bersampul kulit hitam dengan tulisan huruf emas yang anehnya tampak bergerak getar. Judul buku itu tertulis: Lex Diabolos Nusantara.
"Dia punya kemampuan Mata, Reno. Dan dia datang ke sini karena sedang mencari kakaknya, Raka," jawab Lintang sambil memberi isyarat agar Arga duduk di satu satunya kursi kosong yang tersedia.
Pemuda yang dipanggil Reno itu lalu menutup bukunya dengan suara dentuman yang keras. Suara itu membuat Arga tersentak kaget.
"Mencari Raka adalah tindakan bunuh diri yang memakan waktu sangat lama, Arga," ucap Reno dengan nada datar namun tegas. "Tapi mau bagaimana lagi. Karena kau sudah nekat masuk ke sini saat lonceng berbunyi ketigabelas, otomatis kau sudah dianggap sebagai bagian dari ekosistem sekolah ini. Sekarang kau tidak bisa lagi keluar melalui gerbang yang sama seperti saat kau masuk."
Reno lalu mendorong sebuah lembaran perkamen tua ke arah Arga. Kertasnya terasa kasar dan tulisan di sana tidak menggunakan tinta hitam biasa. Warnanya merah kecokelatan seperti noda darah yang sudah mengering.
"Jika kau ingin bertahan hidup cukup lama untuk menemukan jawaban, kau harus menghafal dan mematuhi Peraturan Malam," lanjut Reno. "Peraturan ini ditulis menggunakan darah para pendiri sekolah yang dulu berusaha melawan kutukan ini, serta darah murid murid malang yang gagal mematuhinya."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arga menunduk membaca baris demi baris aturan aneh dan menakutkan itu.
Dilarang Menjawab Panggilan Nama
Jika kau mendengar namamu dipanggil oleh suara yang sangat kau kenal, jangan pernah menyahut. Jawablah hanya jika orang itu benar benar hadir dan menyentuh bahu kirimu menggunakan tangan kanannya.
Hormati Guru Piket Tanpa Wajah
Jika kau berpapasan dengan sosok tinggi besar berbaju jubah hitam di koridor, segera berdirilah membelakangi jalan dan hadapkan wajahmu ke dinding. Tutup matamu rapat rapat sampai suara langkah kakinya hilang total. Jangan pernah mencoba mengintip.
Jangan Makan di Kantin Setelah Jam 12 Malam.
Makanan yang tersaji di sana bukanlah makanan untuk manusia biasa. Jika kau merasa sangat lapar, minumlah air dari keran tua di ruang musik. Tapi ingat, jangan pernah menelan butiran atau benda asing apa pun yang ada di dalam air itu.
Berikan Jalan untuk Siswa Abadi.
Jika kau melihat siswa yang memakai seragam model lama atau berbeda zaman denganmu, segera menyingkir dan berikan jalan. Jangan pernah menatap mata mereka. Mereka adalah pemilik sah lorong lorong ini.
Lonceng adalah Batas Waktu.
Jika lonceng berbunyi tiba tiba di tengah pelajaran malam, segera carilah ruangan yang memiliki cermin. Pecahkanlah cermin itu secepatnya. Itu adalah satu satunya cara untuk berpindah dimensi sebelum proses Pembersihan dimulai.
Arga menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. "Ini semua terdengar gila. Kalau bahayanya segini besar, kenapa kalian tidak lari saja keluar dari sini? Kenapa masih mau tetap tinggal?"
Reno tersenyum tipis, namun senyum itu penuh dengan kepahitan dan kesedihan. "Kami adalah Osis Malam, Arga. Kami terikat kontrak oleh sekolah ini untuk menjaga keseimbangan. Jika kami pergi dan meninggalkan tempat ini, maka makhluk makhluk mengerikan di sini tidak akan terkontrol lagi. Mereka bisa keluar dan meneror dunia nyata, bahkan sampai ke kota. Jadi kami ini ibarat penjara sekaligus sipir yang menjaga agar mereka tidak kabur."
Tiba tiba saja, lampu lampu di ruangan itu berkedip kedip dengan sangat hebat. Suhu udara yang tadinya hangat mendadak turun drastis hingga napas mereka terlihat mengeluarkan uap putih. Buku tebal di depan Reno terbuka sendiri dengan cepat, halaman halamannya berputar kencang seolah ditiup angin badai yang tak terlihat.
"Dia datang..." bisik sebuah suara kecil dari sudut ruangan. Seorang gadis kecil yang sejak tadi diam memeluk boneka, kepala bonekanya terlihat miring ke samping dengan aneh.
"Siapa yang datang?" tanya Arga mulai panik.
"Guru Piket," jawab Lintang singkat dan padat. Ia segera menarik tangan Arga agar berdiri. "Ingat peraturan nomor dua, Arga! Cepat ke dinding sekarang!"
Belum sempat Arga bergerak jauh, pintu kayu jati yang besar itu meledak hancur berkeping keping seolah ditabrak oleh truk besar. Sesosok figur tinggi menjulang sekitar dua setengah meter melayang masuk ke dalam ruangan. Makhluk itu mengenakan jubah hitam legam yang kainnya tampak menyerap seluruh cahaya di sekitarnya.
Yang paling mengerikan adalah bagian wajahnya. Di sana tidak ada mata, hidung, maupun mulut. Hanya ada permukaan kulit yang rata dan pucat. Hanya ada sebuah lubang kecil tepat di tengah leher yang terus mengeluarkan suara siulan panjang yang menusuk dan sakit di telinga.
Arga langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia menempelkan wajahnya ke rak buku yang dingin dan memejamkan matanya sangat erat. Jantungnya berdegup kencang sekali, hingga ia takut makhluk itu bisa mendengar detak jantungnya.
Tap... Tap... Tap...
Suara langkah sepatu pantofel yang berat terdengar jelas di lantai keramik. Langkah itu sangat lambat dan berirama. Setiap kali kakinya menginjak, udara terasa semakin dingin. Arga bisa merasakan bahwa makhluk itu kini berdiri tepat di belakang punggungnya. Bau tanah kuburan yang basah bercampur bau logam besi berkarat memenuhi hidungnya.
"Argaaaa..."
Sebuah suara bisikan terdengar samar. Bukan masuk lewat telinga, tapi langsung bergema di dalam kepalanya. Suara itu sangat mirip sekali dengan suara ibunya sendiri yang sedang menangis tersedu sedu.
"Arga... lihat Ibu, Nak... Kenapa kau bersembunyi di situ?"
Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Arga. Ia ingat betul aturan nomor satu. Dilarang menjawab panggilan nama. Ia menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin dan berdarah, menahan isakan agar tidak keluar. Ia tahu persis itu bukan ibunya. Itu hanyalah tipu daya licik dari Guru Piket untuk memancingnya agar berbalik badan.
Makhluk itu berdiri diam di sana selama waktu yang terasa sangat lama, mungkin berjam jam bagi Arga. Arga merasakan ada sesuatu yang sangat dingin menyentuh kepalanya. Seperti jari jari panjang dan kaku yang membelai rambutnya dengan sangat pelan dan menakutkan. Jari itu bergerak turun ke lehernya, memberikan tekanan ringan seolah sedang menimbang nimbang apakah akan mencekiknya atau tidak.
Akhirnya, setelah detik detik yang menyiksa itu berlalu, suara langkah kaki itu perlahan menjauh. Tap... tap... tap... Hingga akhirnya terdengar suara pintu menutup kembali seolah memperbaiki dirinya sendiri secara gaib.
"Buka matamu," suara Reno memecah keheningan.
Arga langsung lemas dan merosot duduk di lantai. Tubuhnya terasa tak bertulang seperti jeli. Lintang segera membantunya berdiri kembali.
"Kau melakukannya cukup baik untuk ukuran pemula," kata Lintang mencoba menenangkan. "Banyak yang tidak kuat menahan godaan dan langsung berbalik. Nasib mereka biasanya berakhir jadi spesimen koleksi di laboratorium biologi."
"Kenapa dia bisa meniru suara ibuku?" tanya Arga dengan suara parau dan serak.
"Guru Piket bisa membaca ketakutan dan kerinduan terdalam di hatimu untuk memancingmu melanggar aturan," jelas Reno sambil merapikan bukunya yang berantakan. "Sekolah ini tidak hanya menghantuimu secara fisik, tapi juga menyerang pikiran dan mentalmu. Dia ingin kau hancur lebur dari dalam."
Reno lalu berjalan mendekati jendela yang kini tertutup tirai besi. "Sekarang kau sudah tahu betapa besar taruhannya di sini. Kunci perak yang kau dapatkan dari kelas X-A tadi adalah kunci menuju Ruang Arsip Rahasia yang terletak di bawah perpustakaan. Raka sering terlihat pergi ke sana sebelum akhirnya dia hilang tanpa jejak."
Arga mengepalkan tangannya erat erat. Ia bisa merasakan dingnya kunci itu menusuk telapak tangannya. "Aku akan pergi ke sana sekarang juga."
"Tidak bisa malam ini," potong Lintang tegas. "Malam ini kau harus bertahan hidup dulu di asrama sekolah. Dan percayalah, peraturan di asrama jauh lebih mengerikan dan rumit daripada yang baru saja kau baca."
Lintang lalu menyerahkan sebuah senter kecil kepada Arga. Cahaya yang dihasilkan senter itu berwarna ungu kebiruan yang aneh.
"Gunakan ini jika kau melihat bayangan yang bergerak berlawanan arah dengan sumber cahaya," pesan Lintang. "Dan ingat selalu Arga... di Sekolah Hantu ini, peraturan tidak dibuat untuk dilanggar. Peraturan dibuat untuk menyelamatkan sisa sisa kemanusiaan yang masih ada padamu."
Arga menatap lencana Osis Malam yang melekat di baju Lintang. Dalam hati ia sadar, ia baru saja melewati pintu gerbang menuju neraka yang sesungguhnya.