NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:565
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 3

Aku terbangun. Aku duduk, lemas. Mencari ponselku di dalam tas yang kubawa kerja pagi tadi.

00.52

Hampir pukul 1 malam. Perutku ternyata sudah berontak. Aku belum makan dari sore.

Aku bangun untuk ke dapur. Mencari nasi bungkus yang kubeli tadi sore.

"Dimana tadi aku menaruhnya?" Aku menyalakan lampu dapur. Tak ada apa-apa di meja. Begitupula di dekat kompor. Tak ada bungkusan makanan.

"Cari apa kamu?"

Tentu aku terkejut mendengar suara dari belakangku.

"Nasi bungkus tadi sore, dimana bu?"

"Sudah ibu buang." Jawab ibu sambil menuang air ke dalam gelas.

"Aku belum makan bu."

Tang. Ibu menaruh gelas itu keras. "Sudah basi. Mau kamu makan? Tuh di tempat sampah." Ibu menunjuk tempat sampah dengan dagunya. Lalu meninggalkanku sendirian di dapur.

"Apa masih ada yang buka jam segini?" Aku bergumam sendiri.

"Ga usah beli! Itu ada nasi." Teriak ibu dari depan.

Aku menurut. Membuka rice cooker. Benar ada nasi. Tapi tak jauh beda dengan nasi bungkus yang dibuangnya. Sama-sama bau dan berlendir. Seperti sudah lama berada disana.

Aku beralih ke lemari diatas kompor. Berharap ada mie instan atau semacamnya yang bisa dimakan. Aku benar-benar kelaparan.

"Masih ada mie instan." Gumamku senang.

Aku langsung memasaknya. Menyantapnya langsung dari pancinya. Pikirku agar tak banyak cucian nantinya.

Setelah selesai, aku membereskan bekas makanku. Kembali ke kamar.

Aku tak langsung tidur. Masih belum ngantuk.

......................

Aku berangkat kerja seperti biasa. Tumben kak Toni sudah bangun?

"Berhenti!"

Aku yang akan melewati kakakku yang duduk di ruang tamu berhenti mendengar perintah itu.

"Hari ini ditagih uangnya."

Ah! Masalah semalam ya. "Aku ga punya uang kak."

Brak! "Bohong kamu! Kamu kan setiap hari kerja."

"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah berisik saja."

Ibu datang dari dalam kamarnya.

"Ini bu, manda ga mau bantu aku." Bukan aku yang bicara, tapi kakakku.

"Ya Tuhan manda! Ibu kira semalam kamu sudah nyiapin uangnya." Ibu menghampiriku. "Cuma sejuta manda. Masa kamu ga punya."

Aku terkejut setengah mati. Itu nominal uang yang cukup besar bagiku. Hampir setara satu bulan gajiku di warung bakso.

"Banyak sekali bu. Katanya cuma nyerempet. Kok bisa kompensasinya mahal?"

"Sini tas kamu!" Kak Toni merebut paksa tas yang aku pakai. Tas yang biasa aku bawa kerja. Tas yang di dalamnya ada sebagian uang tabunganku.

"Jangan kak!" Terlambat sebenarnya karena tas yang tadinya berada di pundakku kini berpindah di tangan kakakku sendiri. Mulai membuka resleting demi resleting.

"Ini kamu ada." Kakakku menghitung uang yang ia dapat dari tasku. "Cuma delapan ratus bu. Masih kurang dua ratus ribu lagi."

Ibu mengambil alih tasku. Ikut mengobrak-abrik juga. "Ini receh juga ga papa. Lumayan buat nambah-nambah."

"Jangan bu. Itu uang tabunganku." Aku bingung harus apa. Itu uang yang mati-matian aku kumpulkan. Aku rela menahan keinginanku, memangkas pengeluaranku sendiri demi uang itu.

"Kakakmu sedang butuh manda! Kalau ga butuh juga ga bakalan begini kan?"

Kakakku mengangguk menyetujui ucapan ibu. "Aku sedang kepepet manda. Daripada aku harus mendekam di penjara."

Aku lemas. Air mataku sudah meluncur dari tadi.

Ibu mengembalikan tasku yang berantakan. Dompet yang tadinya berisi uang kini tak ada isinya apapun. Bahkan KTP saja aku belum punya, tapi hidupku sudah sebegininya pahit.

Mereka mengambil uang itu. Ibu membawanya ke kamarnya. Sedangkan kakakku masuk ke kamarnya sendiri. Tak ada minta maaf atau rasa bersalah melihatku menangis sesenggukan. Mereka benar-benar merampas segalanya dariku. Kebahagiaanku, masa sekolahku, bahkan uang hasil kerja kerasku sendiri.

Aku terduduk di kursi ruang tamu. Kakiku lemas. Walaupun masih ada uang tabunganku yang aku titipkan pada mba Nia, tapi tetap saja rasanya benar-benar sakit melihat uang yang aku kumpulkan susah payah diambil begitu saja, bahkan dengan cara paksa.

Setelah beberapa menit menangis. Aku bangkit. Melirik jam pada dinding. Aku harus segera sampai di tempat kerjaku.

"Berangkat cari uang yang banyak."

Itu ucapan ibuku yang keluar dari kamar. Sudah berdandan rapi.

"Ayo Toni cepat!"

Aku menghapus bekas air mataku. "Mau kemana ibu sama kakak?"

"Ck! Ya mau ke kantor kepala desa lah manda." Yang menjawab kakakku. Dia pun sudah berpakaian rapi juga.

Mereka pergi keluar rumah. Melewati diriku yang masih mematung di tempat.

"Sudah tak usah terlalu dipikirkan manda. Lebih baik rajin bekerja agar cepat terkumpul lagi uangnya." Ucapku memberi semangat pada diriku sendiri.

Aku sampai di warung. Sepertinya sedikit telat karena mba Nia sudah datang dan sedang mengerjakan pekerjaan yang biasa aku kerjakan.

"Maaf mba telat."

Mba Nia mengangguk memaklumi. "Ga papa santai aja." Ucapnya seperti mengetahui apa yang sudah terjadi padaku.

Aku tak mau berlama-lama. Aku segera memegang pekerjaan yang belum dikerjakan oleh mba Nia. Sikap profesional dalam bekerja selalu aku pegang bagaimanapun keadaannya.

"Kamu pasti sangat lelah kan?" Tanya mba Nia tiba-tiba sudah berada dibelakangku.

Aku tentu saja terkejut. "Biasa saja mba."

"Bukan. Bukan soal itu. Tapi kakakmu."

Aku berucap ooh... "Ya begitulah mba. Mereka mengambil uangku buat bayar kompensasi."

"Yang sabar ya Man. Mba Nia ga bisa kasih lebih gajimu karena kamu tau sendiri kan pendapatan warung bakso di desa ini benar-benar ga nentu."

Aku mengangguk. "Iya mba aku paham. Aku juga ga minta lebih ko mba. Ini saja sebenarnya sudah cukup. Tapi memang ada musibah saja makanya begini."

"Harusnya kakakmu itu tau diri, bantu adiknya kerja. Masa iya teman-temannya yang di sekolah ga ada info kerjaan apapun. Kan aneh! Emang watak kakakmu itu pemalas." Mba Nia nyerocos. Maklum ibu-ibu memang seperti itu kan tabiatnya.

Aku hanya tersenyum. Dibalik cerewet nya mba Nia, dia sosok bos yang memanusiakan pegawainya. Bahkan orang yang membantu di rumah mba nia untuk bersih-bersih saja bilang begitu kepadaku. Dia bos yang baik.

Walaupun gajinya memang dibawah kebanyakan prang dikota, tapi untuk hidup di desa seperti ini menurutku sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!