NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kompensasi Sang Dewi dan lahirnya Sang Algojo

Angin dari lautan awan berhembus menembus pilar-pilar pualam raksasa, membawa aroma teratai surgawi yang menenangkan. Namun, bagi Ajil, keindahan absolut Kuil Alura ini tak lebih dari sebuah neraka berlapis emas.

"Keseimbangan dunia? Pengurus dimensi?" Ajil membeo, suaranya serak dan gemetar. Ia menunduk menatap kedua tangannya yang kini utuh, bersih dari debu semen dan kapalan. Tidak ada darah, tidak ada rasa sakit dari tulang rusuknya yang hancur dihantam sedan hitam. Matanya membelalak ngeri saat kesadaran itu menghantamnya bagai palu godam. "Aku... mobil itu... layarku hancur... Aku mati? Aku meninggalkan Arzan dan Dara sendirian?!"

Dewi Lumira menatap Ajil dengan kelembutan yang menyayat hati. Gaun sutra putihnya berkibar pelan. "Kematian adalah transisi, Wahai Jiwa yang Terluka. Namun... kehadiranmu di sini, di batas dimensi ini, bukanlah sebuah garis takdir yang seharusnya terjadi."

Ajil mendongak tajam. Rahangnya mengeras. "Apa maksudmu?"

Sang Dewi menghela napas, sebuah hembusan yang membuat lautan awan di luar kuil beriak pelan. "Setiap makhluk di alam semesta terikat oleh Benang Kehidupan. Malam ini, aku sedang melakukan inspeksi rutin, melintasi batas dimensi antara duniamu, Bumi, dan duniaku, Ridokan.

Perjalanan antar dimensi menciptakan riak energi kosmik yang sangat besar. Sayangnya, saat aku melintasi koordinat tempatmu berdiri... riak energiku secara tidak sengaja memotong Benang Kehidupanmu. Sedan hitam yang kehilangan kendali itu adalah efek distorsi dari kehadiranku."

Hening sejenak. Ruangan raksasa itu seolah kehilangan suaranya.

Lalu, meledaklah amarah sang ayah.

"KAU BERCANDA?!" raung Ajil. Suaranya menggema keras, memantul di dinding kristal kuil. Urat-urat di lehernya menonjol. Matanya memerah, dialiri air mata keputusasaan dan kemurkaan yang tak terbendung. Ia melangkah maju, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah ingin mencekik entitas ilahiah di depannya. "Hanya karena kau lewat... hanya karena riak energimu yang sialan itu... anak-anakku menjadi yatim piatu?! Istriku sudah meninggal, dan sekarang kau merenggut nyawaku dari mereka?! Mereka masih kecil! Siapa yang akan memberi mereka makan?! Siapa yang akan memeluk mereka saat malam dingin?!"

Ajil jatuh berlutut, memukul lantai marmer kuil dengan tinjunya hingga terdengar suara dentuman tumpul. Air matanya jatuh menetes di atas permukaan kristal yang bercahaya.

"Kemarahan terbesar seorang ayah bukanlah saat ia dihina, melainkan saat ia dirampas dari haknya untuk melindungi darah dagingnya sendiri."

Dewi Lumira melangkah mendekat. Ia tidak marah atas kelancangan manusia fana di hadapannya. Sebaliknya, permata kristal biru di keningnya memancarkan cahaya redup tanda penyesalan.

"Aku tidak bisa mengembalikan waktu di dimensimu, Ajil. Benang yang telah terputus oleh energi ilahiah tidak bisa disambung kembali begitu saja," ucap Dewi Lumira lembut. "Namun, sebagai Pengurus Dimensi, aku memegang otoritas atas kompensasi. Aku memberimu dua pilihan."

Ajil mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap nyalang sang Dewi. "Pilihan apa? Menjadi hantu gentayangan?!"

"Tepat," jawab Lumira tenang. "Pilihan pertama: kau kembali ke Bumi. Namun karena tubuh fisikmu telah hancur, kau hanya akan menjadi entitas roh. Kau bisa melihat anak-anakmu tumbuh, tapi kau tidak akan pernah bisa menyentuh mereka, memeluk mereka, atau berbicara dengan mereka. Kau akan terjebak dalam kebisuan abadi."

Napas Ajil tercekat. Membayangkan melihat Dara menangis mencarinya dan ia hanya bisa menembus tubuh mungil itu adalah siksaan yang lebih kejam dari neraka jahanam. "Lalu... apa pilihan kedua?"

"Pilihan kedua," mata keemasan Dewi Lumira menajam, memancarkan aura otoritas yang membuat udara di sekitar Ajil terasa berat. "Kau hidup kembali di duniaku, Planet Ridokan. Sebuah dunia yang dipenuhi sihir, berbagai ras, dan keajaiban. Namun, dunia itu sedang berada di ambang kehancuran. Ras Iblis dari Benua Hitam sedang mengumpulkan kekuatan untuk menguasai seluruh dimensi. Dan ketahuilah, Ajil... jika Ridokan jatuh, Bumi yang berada di dimensi yang berdekatan akan menjadi target mereka selanjutnya. Anak-anakmu di Bumi tidak akan selamat dari invasi Kaisar Iblis."

Mendengar kata 'anak-anakmu tidak akan selamat', sorot mata Ajil berubah drastis. Keputusasaannya perlahan membeku, digantikan oleh kilat ketajaman yang dingin.

"Jika kau memilih Ridokan," lanjut Sang Dewi, "Misi utamamu adalah menghancurkan ras Iblis. Dan jika kau berhasil mengumpulkan 6 Prasasti Dimensi yang tersebar di enam benua Ridokan, kau bisa menghadap Dewa Andora, Sang Dewa Kehidupan. Dengan enam prasasti itu dan izin darinya, benang kehidupanmu dapat dirajut ulang. Kau bisa kembali ke Bumi... dalam keadaan hidup kembali, dengan tubuh fisikmu, dan memeluk anak-anakmu lagi."

Ajil terdiam. Pulang. Kembali hidup. Bertemu Arzan dan Dara. Hanya itu yang bergema di kepalanya. Jika ia harus membantai lautan iblis sekalipun, ia akan melakukannya. Kematian istrinya telah menghancurkan hatinya, dan kini, demi anak-anaknya, ia rela membuang sisa-sisa kehangatan manusiawinya.

"Aku pilih Ridokan," ucap Ajil datar. Suaranya tak lagi bergetar. Hatinya telah membeku, menjelma menjadi sebongkah es yang tak tertembus. "Berikan aku kekuatan untuk membantai mereka semua."

Dewi Lumira tersenyum tipis. "Pilihan yang berani. Di Ridokan, hukum alam bekerja berbeda. Setiap makhluk hidup dikaruniai sebuah 'Sistem' yang dikelola oleh kehendak dunia. Sistem ini akan membantumu mengukur kekuatan, menyimpan barang, dan memahami bahaya."

Ajil mengernyitkan dahi. "Sistem? Maksudmu seperti... game RPG yang sering dimainkan Arzan di ponselnya? Level, experience, status?"

"Tepat sekali. Bahasa duniamu menyebutnya RPG. Di saat kau memanggilnya, atau saat ada bahaya, peningkatan kekuatan, atau musuh yang mengintai, Sistem itu akan muncul secara otomatis di pandanganmu."

Tiba-tiba, sebuah suara mekanik yang jernih terdengar langsung di dalam kepala Ajil, diikuti oleh layar hologram berwarna biru transparan yang melayang di udara, tepat di depan wajahnya.

[SISTEM DIAKTIFKAN]

[Nama: Ajil]

[Ras: Manusia (Peralihan Dimensi)]

[Level: 1]

[Kelas: Belum Ditentukan]

"Ini..." Ajil menyentuh udara kosong, namun jarinya menembus layar hologram tersebut.

"Itu adalah milikmu sekarang," ucap Dewi Lumira. "Sebagai permintaan maafku atas kesalahan fatal ini, aku tidak akan membiarkanmu turun ke Ridokan dengan tangan kosong. Aku akan memberimu kompensasi yang melampaui akal sehat penduduk Ridokan."

Sang Dewi mengangkat tangan kanannya. Tiba-tiba, sebuah cincin perak dengan ukiran naga yang melingkari batu zamrud gelap melayang ke arah Ajil dan terpasang pas di jari telunjuk kanannya. Cincin itu terasa dingin namun memancarkan kehangatan aneh ke pembuluh darahnya.

"Itu adalah Cincin Ruang Tak Terbatas. Di Ridokan, item penyimpanan sangat langka dan memiliki batas kapasitas ruang. Tapi cincin itu terhubung langsung dengan dimensi hampa. Kau bisa menyimpan gunung sekalipun di dalamnya tanpa batas, dan benda di dalamnya tidak akan pernah membusuk atau hancur."

Belum sempat Ajil merespons, Dewi Lumira mengarahkan telunjuknya tepat ke dahi Ajil. Seberkas cahaya putih keunguan melesat masuk menembus tengkoraknya. Ajil mengerang tertahan. Tubuhnya terasa seperti dialiri tegangan listrik jutaan volt. Otot-ototnya membesar sesaat, urat-urat nadinya menonjol menyala ungu, sebelum kembali normal. Matanya berkilat dengan petir menyambar di pupilnya.

[SISTEM: Pembaruan Status!]

[Skill Bawaan Ditambahkan: Tinju Petir Ungu (God Tier)]

[Skill Bawaan Ditambahkan: Sambaran Amukan Petir Abadi (God Tier)]

[Elemen Sihir Diberikan: Semua Elemen Dasar (Api, Air, Angin, Tanah) & Elemen Langka (Petir, Cahaya, Kegelapan)]

[Skill Utama Ditambahkan: Mana Tak Terbatas (Pasif)]

[Skill Utama Ditambahkan: Slot Skill Tak Terbatas (Berkembang seiring kenaikan level)]

"Aku telah menanamkan inti petir murni ke dalam jiwamu," jelas Lumira, suaranya menggelegar penuh kuasa. "Tinju Petir Ungumu mampu menghancurkan baja terkuat dengan tangan kosong. Dan Mana Tak Terbatas memastikan kau tidak akan pernah kehabisan tenaga sihir, sebuah kemustahilan bagi penyihir terhebat di Ridokan sekalipun."

Ajil menatap kedua tangannya. Ia mengepalkan tangan kanan, dan seketika kilatan-kilatan listrik berwarna ungu pekat berderak-derak ganas di sela-sela jarinya, mengeluarkan suara desisan ozon yang terbakar. Kekuatan yang mengalir di tubuhnya terasa begitu absolut, begitu mengerikan.

"Dan yang terakhir... senjatamu."

Dewi Lumira merentangkan kedua tangannya. Dari dasar lautan awan, sebuah pilar cahaya hijau terang melesat naik ke atas altar, menghancurkan lantai marmer kristal. Udara di dalam kuil menjadi sangat berat, seolah gravitasi ditekan hingga batas maksimal.

Dari dalam pilar cahaya itu, melayang sebuah pedang yang panjangnya mencapai satu setengah meter. Gagangnya berwarna hitam pekat terbuat dari sisik naga purba, dengan pelindung tangan (crossguard) berbentuk sayap naga yang membentang. Bilah pedang itu terbuat dari logam hijau zamrud transparan yang di dalamnya terus berdenyut aliran petir berwarna hijau dan ungu yang saling melilit bagai DNA.

[SISTEM: Senjata God-Tier Terdeteksi. Pedang Petir Hijau Abadi.]

Ajil melangkah mendekat, mengulurkan tangannya, dan menggenggam gagang pedang tersebut. Begitu kulitnya bersentuhan dengan gagang, ledakan energi hijau menyapu seluruh kuil, meniup gaun Sang Dewi dan membuat rambut Ajil berkibar hebat. Pedang itu berat, sangat berat, namun di saat yang sama terasa seperti perpanjangan dari lengan kanannya sendiri.

"Senjata terbaik tidak memilih tuannya berdasarkan kekuatan, tapi berdasarkan seberapa dalam luka di jiwa tuannya yang butuh disembuhkan." gumam Ajil tanpa sadar, menatap pantulan mata dinginnya di bilah pedang hijau tersebut.

"Itu adalah Pedang Petir Hijau Abadi," ucap Dewi Lumira dengan nada kagum sekaligus memperingatkan. "Senjata yang terlalu overpower untuk eksis di dunia fana. Namun, pedang itu belum sempurna. Kekuatannya menyesuaikan dengan level fisik dan jiwamu."

Sang Dewi menunjuk ke arah tujuh titik gelap yang berderet di sepanjang bilah pedang hijau tersebut. "Pedang itu memiliki 7 segel pengikat. Setiap kau berhasil menaikkan 50 levelmu, satu segel akan terbuka, melepaskan potensi kehancuran yang lebih dahsyat. Dan untuk membuka segel ke-7, segel mutlaknya... kau harus mencapai ranah tertinggi di seluruh dimensi: God Absolute."

Ajil mengangguk pelan. Ia mengayunkan pedang itu ke udara dengan satu tangan.

Wush! Sambaran petir hijau membelah ruang hampa, meninggalkan jejak terbakar di udara selama beberapa detik. Ia kemudian meniatkan pedangnya untuk masuk ke dalam penyimpanan, dan dalam sekejap, pedang besar itu menghilang, berpindah ke dalam ruang hampa di Cincin Ruangnya.

"Kau sudah siap, Ajil," ucap Dewi Lumira, melangkah mundur saat sebuah gerbang dimensi berbentuk pusaran energi biru gelap terbuka di belakang Ajil.

Ajil membelakangi gerbang itu. Wajahnya kini tidak menyisakan satu pun emosi. Matanya tajam, mematikan, dan sedingin gletser. Ayah yang menangis dan putus asa setengah jam lalu telah mati. Yang berdiri di altar Kuil Alura kini adalah seseorang yang akan membuat seluruh daratan Ridokan gemetar ketakutan.

"Aku akan kembali, Arzan, Dara," bisik Ajil di dalam hatinya yang telah membeku. "Meski ayah harus menenggelamkan dunia ini dalam darah, ayah akan pulang."

Tanpa mengucapkan selamat tinggal atau terima kasih kepada Sang Dewi, Ajil membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam pusaran energi gelap tersebut. Sosoknya tertelan dimensi, meninggalkan Kuil Alura dalam keheningan yang panjang. Sang algojo telah lahir, dan takdir Planet Ridokan tidak akan pernah sama lagi.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!