NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 1: Cahaya di Tengah Badai Kelabu

Desa Lembah Wening biasanya adalah tempat yang paling tenang di kaki Gunung Meru. Namun, malam itu, alam seolah sedang mengamuk.

Langit yang biasanya dihiasi bintang, kini tertutup awan hitam pekat yang berputar-putar layaknya pusaran raksasa. Angin bertiup kencang, menghantam dinding-dinding bambu rumah penduduk dengan suara menderu yang mengerikan.

Wusssssss! Braakkk!

Sebuah dahan pohon beringin tua di alun-alun desa patah dan menghantam tanah. Di sebuah gubuk kecil yang terletak paling ujung, dekat dengan perbatasan hutan terlarang, seorang wanita bernama Arini sedang berjuang antara hidup dan mati.

Keringat dingin membanjiri tubuhnya, sementara suaminya, Darman, menggenggam tangannya dengan erat.

"Tahan, Arini... sedikit lagi!" seru Mak Paruh, dukun beranak tertua di desa itu.

Duar! Duar! Duar!

Petir menyambar-nyambar tepat di atas atap gubuk mereka. Keanehannya, petir itu tidak berwarna putih atau kuning, melainkan ungu keemasan."

Setiap kali kilat itu menyambar, seluruh desa bergetar hebat seolah ada gempa bumi yang sedang berlangsung.

"Aaaaaakhhh!"

Arini berteriak panjang, dan bersamaan dengan itu, sebuah tangisan bayi memecah kebisingan badai.

Oeeeekkk! Oeeeekkk!

Begitu bayi itu lahir, seluruh badai di luar seketika berhenti."

Keheningan yang memekakkan telinga mendadak menyelimuti Lembah Wening. Namun, keajaiban belum berakhir. Dari dada kiri bayi laki-laki itu, muncul seberkas cahaya keemasan yang membentuk simbol rumit, seekor naga yang melingkari matahari.

Sringgggg!

Cahaya itu begitu terang hingga Mak Paruh harus memejamkan mata. Gelombang energi hangat terpancar dari tubuh mungil sang bayi, merambat ke dinding bambu, dan anehnya, bunga-bunga liar yang layu di halaman gubuk tiba-tiba mekar seketika.

"Anak ini..." bisik Mak Paruh dengan suara gemetar.

"Darman, anakmu tidak dilahirkan dari darah manusia biasa."

Darman menatap bayinya dengan perasaan campur aduk antara bangga dan takut. Ia melihat tanda naga di dada bayinya perlahan meredup, menyatu ke dalam kulit hingga menghilang.

Namun, di balik ketenangan bayi itu, Darman bisa merasakan getaran tenaga yang sangat besar, seolah-olah ada gunung berapi yang tertidur di dalam tubuh kecil tersebut.

Malam itu, saat semua orang terlelap, seorang pria misterius berdiri di dahan pohon tertinggi yang menghadap ke arah gubuk Darman.

Wajahnya tertutup caping lebar, dan jubah hitamnya berkibar meski tak ada angin.

Wusss...

Pria itu meletakkan dua jarinya di bibir, membisikkan sebuah mantra kuno.

"Tumbuhlah, Raka. Warisanku ada dalam nadimu. Dunia akan gemetar saat kau terbangun."

Pria itu menghilang dalam sekejap, menyisakan kepulan asap tipis yang berbau kemenyan dan logam panas.

Pufff...

Raka tumbuh dengan cepat. Di usia lima tahun, ia sudah mampu mengangkat gentong air yang biasanya dibawa oleh orang dewasa. Di usia sepuluh tahun, ia secara tidak sengaja menghancurkan sebuah batu besar hanya dengan sekali tepuk karena kesal seekor lalat hinggap di hidungnya.

Prakkk!

Batu itu hancur menjadi debu. Raka ketakutan. Ia melihat tangannya yang gemetar. Ada sesuatu yang panas mengalir di bawah kulitnya, seperti aliran lahar yang menuntut untuk dikeluarkan.

"Ayah, apa yang salah denganku?" tanya Raka suatu sore saat mereka berada di ladang.

Darman menghela napas panjang. Ia teringat malam badai sepuluh tahun lalu.

"Raka, kau hanya spesial. Tapi ingat, kekuatan tanpa kendali hanya akan membawa kehancuran. Kau harus belajar menahannya."

Namun, Raka tahu itu bukan sekadar "spesial". Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar suara berat yang bergema di dalam jiwanya.

"Hancurkan... Kuasai... Kau adalah api, Raka. Jangan biarkan mereka memadamkanmu."

Suara itu terus menghantuinya, membimbingnya ke arah kekuatan yang lebih besar, namun juga kegelapan yang lebih dalam.

Raka tidak tahu siapa pemilik suara itu, namun ia merasa terikat oleh benang tak kasat mata yang sangat kuat.

"Gejolak Darah Muda dan Hasrat yang Membara"

Sepuluh tahun kemudian. Raka kini telah menjelma menjadi pemuda berusia dua puluh tahun yang memiliki daya tarik luar biasa. Tubuhnya tinggi tegap dengan otot-otot yang terbentuk sempurna hasil dari kerja keras di ladang dan latihan rahasia di dalam hutan.

Kulitnya yang cokelat terbakar matahari tampak mengkilap saat ia berkeringat, memberikan kesan perkasa sekaligus liar.

Meski ia berusaha menyembunyikan kekuatannya, aura kepemimpinan dan kemisteriusan Raka tidak bisa ditutupi. Hal ini membuat banyak gadis di desa terpesona, namun tak ada yang seberani Sekar.

Sekar adalah putri kepala desa, seorang gadis dengan kecantikan yang matang.

Matanya besar dan tajam, dengan bibir merah alami yang selalu tampak basah.

Sore itu, Raka sedang membersihkan diri di sebuah air terjun tersembunyi di balik bukit, tempat yang jarang dikunjungi orang karena dianggap angker.

Krucyuk... Krucyuk...

Raka berdiri di bawah kucuran air yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Ia membiarkan hantaman air yang deras itu memukul pundaknya, sebuah cara untuk melatih ketahanan fisiknya.

"Kau selalu tahu cara bersembunyi, Raka," sebuah suara lembut namun menggoda terdengar dari balik bebatuan.

Raka membuka matanya. Ia melihat Sekar berdiri di sana, hanya mengenakan kain kemben tipis yang membalut tubuhnya yang sintal.

Air percikan terjun membasahi kain itu hingga menempel ketat, memperlihatkan lekuk tubuh Sekar yang menggoda.

Deg... deg... deg...

Raka merasakan suhu tubuhnya meningkat. Bukan karena amarah, tapi karena sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih manusiawi. Tanda di dadanya tiba-tiba berdenyut hangat.

"Sekar, tempat ini berbahaya. Pulanglah," ucap Raka dengan suara rendah, berusaha menekan getaran dalam suaranya."

Sekar justru melangkah mendekat, masuk ke dalam air yang setinggi pinggang. Ia tidak takut pada arus, atau mungkin ia lebih takut kehilangan momen ini.

"Mereka bilang kau monster, Raka. Mereka bilang kau punya kekuatan iblis. Tapi aku hanya melihat seorang pria yang kesepian."

Sekar sampai di depan Raka. Ia mengulurkan tangannya yang halus, menyentuh dada bidang Raka yang basah.

Jari-jarinya merayap perlahan, merasakan setiap otot yang keras bagai batu."

Saat jarinya menyentuh area di mana tanda naga itu berada, Raka mengerang kecil.

Sentuhan Sekar seperti memicu aliran listrik di dalam darah Raka.

Kekuatan sakti di dalam dirinya bereaksi terhadap gairah yang mulai membuncah. Udara di sekitar mereka mendadak terasa panas, hingga air terjun yang dingin itu pun tampak mengeluarkan uap tipis.

"Raka..." bisik Sekar. Ia menjinjit, melilitkan lengannya di leher Raka.

Raka tidak bisa menahannya lagi. Insting liarnya mengambil alih. Ia menarik pinggang Sekar dengan satu tangan yang kuat, membawa tubuh gadis itu merapat ke tubuhnya yang panas.

Sreeet...

Raka mencium Sekar dengan, yang mengejutkan. Itu bukan sekadar ciuman, tapi sebuah pelepasan energi yang tertahan selama bertahun-tahun.

Sekar dalam pelukan Raka, merasakan kekuatan pria itu seolah-olah sedang menyelimuti seluruh jiwanya. Di bawah naungan gemericik air terjun dan rimbunnya hutan, Raka menyadari bahwa kekuatannya adalah pedang bermata dua, ia bisa menghancurkan dunia, namun ia juga bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai seorang lelaki.

Namun, di tengah kemesraan itu, mata Raka tiba-tiba terbuka lebar. Tanda di dadanya bersinar terang di balik kulitnya.

Zinggg!

Sebuah penglihatan melintas di benaknya. Ia melihat sebuah pedang hitam tertancap di puncak gunung bersalju, dan sosok pria misterius dari masa kecilnya berdiri di sana, menatap ke arahnya dengan mata yang menyala merah.

"Waktumu habis, Raka. Mereka datang menjemputmu."

Raka melepaskan pelukannya pada Sekar dengan napas memburu. Jauh di dalam hutan, ia mendengar suara langkah kaki yang berat dan suara gesekan logam.

Sring... Sring...

Ada orang asing yang masuk ke wilayah desa. Dan mereka tidak datang untuk bertamu. Mereka datang untuk menjemput kekuatan yang ada di dalam tubuh Raka.

"Sekar, lari ke desa sekarang! Jangan menoleh ke belakang!" perintah Raka dengan nada yang tidak terbantah.

Raka berdiri tegak, mengepalkan tinjunya.

Krakkk! Sendi-sendi tangannya berbunyi. Di sekelilingnya, aura berwarna ungu keemasan mulai keluar dari pori-pori kulitnya, membentuk perlindungan yang tak kasat mata.

Sang Pewaris Sakti akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa masa tenangnya telah usai."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!