Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
Rio, asisten pribadi Arkan berdiri di depan meja resepsionis hotel.
Aura profesionalnya membuat petugas hotel tampak sedikit gugup.
"Saya ingin tahu siapa pelayan wanita yang bertugas membersihkan kamar di lantai atas, tepatnya area suite,
pada jam satu dini hari tadi malam, tepat saat pak Arkan menginap"
tanya Rio tanpa basa-basi.
Resepsionis itu mengerutkan kening,
jemarinya mengetik dengan cepat di atas keyboard komputer.
"Mohon maaf, Pak. Pada jam tersebut ada pergantian sif dan pembersihan besar-besaran karena ada acara di ballroom.
Ada banyak petugas wanita yang berjaga di lantai itu.
Siapa tepatnya yang Bapak cari? Apakah ada barang yang hilang?"
Rio menghela napas.
Ia sendiri tidak tahu ciri-ciri wanita yang dicari tuannya.
Arkan hanya memberikan perintah singkat tanpa detail.
"Saya tidak mencari barang hilang. Saya hanya perlu daftar nama mereka yang bertugas di sana,"
desak Rio.
"Mohon maaf sekali, Pak. Sesuai prosedur privasi hotel, kami tidak bisa memberikan data karyawan tanpa surat resmi atau alasan yang sangat mendesak,"
jawab resepsionis itu.
akhirnya Rio segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Arkan.
Di kantornya yang luas,
Arkan sedang menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.
Ponselnya bergetar di atas meja.
"Bagaimana, Rio?"
suara Arkan terdengar rendah saat menjawab panggilan.
"Lapor, Tuan. Pihak hotel mengatakan ada banyak pelayan wanita yang bekerja tadi malam karena ada acara besar.
Mereka tidak bisa memberikan nama tanpa alasan yang jelas.
Apakah Anda memiliki ciri-ciri khusus wanita tersebut?"
Arkan terdiam.
Rahangnya mengeras.
Bayangan malam itu kembali melintas—kulit yang halus,
aroma mawar yang lembut, dan suara desahan yang merdu.
Tapi wajah? Ia benar-benar tidak bisa mengingatnya karena pengaruh alkohol yang terlalu kuat.
"Lupakan," jawab Arkan dingin.
"Biarkan saja untuk saat ini."
"Tapi Tuan, bukankah Anda ingin—"
"Aku bilang lupakan, Rio. Fokus saja pada pertemuan dengan klien sore ini,"
telepon terputus.-
Arkan melemparkan ponselnya ke meja dengan kasar.
Ia merasa bodoh karena memikirkan pelayan itu.
Arkan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
Ia memijat pelipisnya yang masih terasa berdenyut.
Bayangan samar tentang wanita itu kembali muncul,
namun semuanya tampak seperti potongan mimpi buruk yang kabur.
"Mending aku lupakan saja wanita itu,"
gumam Arkan pada dirinya sendiri.
Ia menghela napas panjang,
menatap langit-langit ruang kantornya yang mewah.
"Terlalu sulit untuk mencarinya, apalagi aku benar-benar tidak mengingat wajahnya kenapa wanita itu tidak membangunkan ku malam itu"
Jika ia membangunkan ku semalam aku bisa menanyakan apa yang sudah aku lakukan padanya?"
Ingatanku hanya sampai pada rasa frustrasi setelah berdebat dengan ayah.
lalu segalanya menjadi gelap.
Saat aku terbangun,
aku sudah mendapati diri tanpa busana di atas ranjang hotel.
Fakta itu jelas menunjukkan bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.
"Ah, sudahlah! Aku tidak perlu menambahkan beban pikiranku.
Ayah sudah cukup membuatku gila dengan selalu menuntut cucu.
Aku tidak butuh drama tambahan dengan memikirkan seorang pelayan hotel yang dia sendiripun justru pergi,"
ucap arkan dengan nada pelan,
Arkan kembali meraih berkas-berkas di hadapannya,
memaksa otaknya untuk fokus pada angka dan strategi bisnis.
Ia berusaha menganggap,
wanita malam itu hanyalah angin lalu yang tidak sengaja berpapasan di sebuah hotel.
Dan sekarang Sesuatu yang lebih besar dari sekedar "beban pikiran" sedang tumbuh,
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪