"Jika tubuhku tak lagi bisa memelukmu, biarkan 'dia' yang melakukannya untukku."
Lee Seo Han mengira hidupnya sudah sempurna bersama Kim Sae Ryeon di Jeju. Namun, vonis ALS menghancurkan segalanya. Di saat raganya mulai lumpuh dan ia bersiap meninggalkan Sae Ryeon, sebuah teknologi rahasia menawarkan jalan keluar yang gila: Sebuah robot pengganti.
Satu sosok yang memiliki rupa, suara, bahkan memori yang sama persis dengan Seo Han.
Kini, Seo Han harus menyaksikan cintanya berjalan bersama "dirinya" yang lain. Di tengah rasa sakit yang kian menggerogoti, sebuah pertanyaan besar muncul: Apakah Sae Ryeon mencintai jiwanya yang sekarat, atau robot yang sempurna itu? Dan apa yang terjadi jika sang robot mulai memiliki perasaan sendiri?
Sebuah kisah tentang pengorbanan, teknologi, dan cinta yang menolak untuk mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahmad faujan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA BULAN SABIT DI BALIK LAMPION
Mata Seo Han menerawang, tersentak kembali ke masa kini. Kenangan tentang Jae Hyun kecil yang polos dan kecewa itu selalu membuatnya tersenyum kecil. Ia tahu, persahabatan mereka adalah takdir yang tak pernah ia duga.
"Hah, waktu itu aku pikir kamu sombong banget," keluh Jae Hyun sambil mendorong pundak Seo Han main-main. "Tahunya ternyata cuma malu dan tidak bisa bahasa Korea!"
"Dasar kamu, Hyun. Tapi untung saja besoknya kamu datang lagi bawa kue, ya kan? Bikinan ibumu," kenang Seo Han. "Ya sudah, maafkanlah orang yang dulu. Aku saja malu kalau ingat."
"Sudahlah, yang penting sekarang kamu cerewetnya kebangetan," jawab Jae Hyun. "Eh, busnya datang! Ayo, Han!"
Jae Hyun menarik lengan Seo Han. Mereka berdua berlari mengejar bus yang sudah berhenti. Seo Han merasakah kakinya sedikit kaku saat mencoba mengimbangi kecepatan Jae Hyun, namun ia memaksakan diri hingga berhasil naik.
"Selamat pagi, Pak," sapa Jae Hyun ramah.
"Pagi, Nak Hyun," sahut sang sopir yang sudah hafal dengan mereka.
Setelah membayar, mereka duduk di barisan sebelah jendela kanan. Angin Jeju yang hangat masuk melalui celah kaca.
"Han, setahu aku nama kamu bukan Lee Seo Han, deh?" tanya Jae Hyun tiba-tiba dengan nada penasaran.
Seo Han menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di kaca bus. "Ya elah, kamu pikun amat sih! Aku kan sudah jelasin dulu-dulu banget," jawabnya. "Karena kamu bestie terbaikku, aku bakal cerita lagi. Tapi jangan tanya lagi setelah ini."
...----------------...
⛄ FLASHBACK - Musim Dingin yang Mengubah Segalanya
Musim dingin membuat udara Seoul terasa sangat tajam, namun pemandangan salju yang menyelimuti jalanan terlihat begitu indah. Di tengah keramaian ibu kota, Rey—nama lamanya—berjalan menuju Kantor Layanan Kependudukan dengan satu tekad bulat.
Saat masuk, aroma kertas lama menyambutnya. Jantungnya berdebar kencang, bergumul dengan keputusan terberatnya: menghapus sisa-sisa identitas masa lalunya.
"Nomor 47, silakan ke konter 3."
Dengan langkah berat, ia duduk di depan petugas.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Rey menarik napas dalam, seolah sedang membuang beban di dadanya. "Saya ingin mengajukan permohonan perubahan data keluarga. Saya ingin mengubah nama saya serta kewarganegaraan menjadi warga asli Korea."
Petugas itu terkejut. "Ini keputusan yang sangat besar. Apakah Anda yakin?"
Rey mengangguk, matanya berkaca-kaca namun tatapannya teguh. "Saya yakin. Nama baru saya... Lee Seo Han."
Ia menunggu selama empat jam karena uang di sakunya sangat menipis, bahkan untuk sekadar membeli kopi. Ia sempat tertidur di kursi tunggu sebelum akhirnya dipanggil kembali.
"Selamat, Tuan Lee Seo Han. Perubahan data Anda sudah resmi."
Rey memegang dokumen itu. Nama itu terasa asing di lidahnya, tapi juga memberikan rasa bebas yang belum pernah ia rasakan. Ponselnya bergetar.
"Halo, Hyun? Gimana urusanmu di sana?" tanya Jae Hyun di seberang telepon.
"Aman, Hyun. Sebentar lagi aku balik, kok," jawab Seo Han seadanya, menyembunyikan rasa lega yang luar biasa.
...----------------...
KEMBALI KE MASA SEKARANG
"Wah, jadi kamu dulu pamit ke Seoul cuma mau ubah nama doang?" tanya Jae Hyun lagi, membuyarkan lamunan Seo Han.
"Iya," jawab Seo Han singkat sambil berusaha memejamkan mata di bus, mencoba menghemat energinya yang terasa cepat habis.
Bus akhirnya berhenti di halte terakhir. Mereka turun dan langsung disambut oleh kemeriahan Festival Jeju. Udara dipenuhi aroma gurih tteokbokki dan manisnya hotteok. Ratusan lampion warna-warni bergelantungan indah, diiringi dentuman musik K-Pop yang membangkitkan semangat.
"Gila, Han! Lihat itu!" seru Jae Hyun dengan mata berbinar. Ia mencengkeram lengan Seo Han erat, menyeretnya masuk ke area festival. Setelah menukarkan tiket dengan gelang berwarna terang, Jae Hyun tiba-tiba mengeluarkan kamera sekali pakai.
"Wah, Han, berdiri di situ! Senyum! Ini wajib diabadikan!"
Cekrek! Kilatan lampu kamera membuat Seo Han sedikit pening, tapi ia tetap tersenyum.
"Kim Jae Hyun!" sebuah suara memanggil dari kejauhan.
"Wah, Choi Sae Ryeon? Kamu di sini juga?" Jae Hyun menghampiri seorang gadis yang berdiri di balik gerai makanan.
"Iya, aku bantu Ibu jualan," jawab gadis itu. Matanya yang berbentuk bulan sabit berbinar sangat cantik saat ia tersenyum.
"Lee Seo Han! Kemari cepat! Aku kenalkan dengan goddess SMA-ku!" teriak Jae Hyun.
Seo Han menoleh. Saat itu juga, dentuman musik festival seolah meredup. Kerumunan orang di sekitarnya memudar menjadi latar belakang yang buram. Di bawah cahaya lampion yang temaram, ia hanya melihat sosok gadis itu—Sae Ryeon.
Untuk sesaat, dunia seolah melambat. Seo Han merasakan dadanya sesak, bukan karena penyakit yang mulai mengintai sarafnya, tapi karena ia lupa bagaimana caranya bernapas setelah melihat senyuman itu.
Yang paling aku suka adalah deskripsi tempat dan perasaannya yang mengalir. Ya, semoga aja ni MC segera di ruqyah 🤣🤣🤣
karena makan-tidur jadi gemoy gitu ya /Facepalm/