Ini kelanjutan cerita Tumbal Cinta Tuan Muda (Season 1 dan 2).
Harap membaca season 1 dan 2 nya dulu.
Karena kesalahpahaman dimasa lalu dan sebuah alasan yang menjadi rahasia Vie, gadis cantik bin somplak itu harus terpisah dari Andra, lelaki yang sebenarnya dia cintai.
Begitu pun dengan Andra, merasa tak pantas mencintai anak majikannya dan sebuah kesalahpahaman, dia memutuskan untuk mengubur rasa cintanya kepada Vie.
Namun apa yang terjadi jika mereka dipertemukan lagi empat tahun kemudian? Saat Vie sudah menjadi kekasih Davin. Akankah Andra memperjuangkan cintanya setelah tahu alasan Vie dan rahasia besar itu terbongkar atau malah merelakannya untuk Davin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Bukan ... bukan seperti itu. Aku akan menjelaskannya kepadamu." Vie berusaha mengelak, dia pun akhirnya menceritakan semuanya dari awal.
Flashback on ...
Empat tahun yang lalu saat Vie sedang duduk sendiri di tepi pantai, karena Dino dan si kembar baru saja mengajak Davin bermain voli. Alvin datang menghampirinya. Padahal saat itu Andra juga berniat menghampiri Vie, tapi dia urungkan karena Alvin lebih dulu tiba.
"Hai ... Vie, boleh Om bicara sebentar?" Tanya Alvin.
"Eh ... Om, tentu saja boleh. Om mau bicara tentang apa?" Vie menyambut Alvin dengan senyum ramah.
"Tentang Davin. Tapi kamu janji ini akan menjadi rahasia kita berdua saja. Janji?"
"Baiklah, Om. Aku berjanji." Vie mengangkat tangannya membentuk huruf V.
"Kamu tahu Davin sedang sakit?"
"Tidak. Davin terlihat sehat dan baik-baik saja. Memangnya dia sakit apa, Om?" Vie penasaran.
Alvin tersenyum sebelum menjawab Vie, "Anak itu pandai sekali menyembunyikannya, padahal dia sedang sakit parah."
"Maksud, Om?" Vie mulai bingung.
"Davin mengidap kanker otak stadium 2." Wajah Alvin menyedih.
"Apaaa?" Vie terkejut sampai mulutnya terbuka. "Tapi dia masih bisa sembuhkan, Om?" Tanya Vie cemas.
"Iya, mungkin dia masih bisa sembuh kalau dia menjalani operasi dan berhasil. Tapi sayangnya operasi itu berisiko kematian atau cacat permanen karena letaknya dibatang otak. Dan Davin menolak untuk operasi." Ucap Alvin pilu. Vie tertunduk tak percaya Davin yang ceria ternyata sedang sakit parah.
"Ya, Tuhan! Jadi apa Davin akan membiarkan penyakitnya itu?"
"Tidak juga, dia masih berusaha melawan penyakit itu dengan obat-obatan dan terapi radio surgery (terapi non bedah)." Alvin menjelaskan.
"Apa itu membantu untuk penyembuhan Davin?" Tanya Vie lagi.
"Entahlah, tapi paling tidak dia masih bisa bertahan dan terus beraktifitas. Sebenarnya saat berumur sepuluh tahun, Davin pernah mengidap tumor otak. Dia sudah menjalani operasi bahkan kemoterapi dan sudah dinyatakan sembuh. Tapi sebulan yang lalu kami mendapatkan kenyataan bahwa kanker kini bersarang di otaknya dan sudah stadium 2. Davin sangat terpukul dan syok, dia jadi tidak bersemangat untuk melanjutkan cita-citanya untuk sekolah ke New York dan menjadi pembisnis handal. Dia bilang percuma, kalau ujung-ujungnya dia tetap tidak akan bisa menjadi seperti yang dia mau. Om merasa kasihan dengannya." Alvin tertunduk, lelaki itu terisak begitu pilu.
"Yang sabar ya, Om. Davin pasti sembuh." Vie mencoba menenangkan Alvin.
"Iya. Semoga saja ada mukjizat." Alvin menyeka jejak air mata di pipinya.
"Aamiin."
"Vie, Om mohon, tolong beri Davin semangat agar mau terus melanjutkan hidup dan cita-citanya. Om sedih melihat dia terpuruk seperti itu. Dia memang terlihat tenang untuk menutupi kesedihannya tapi Om tahu dia hancur. Om mohon!" Alvin mengatupkan kedua tangannya dihadapan Vie.
"Iya, Om ... tapi bagaimana caranya?"
"Bujuklah dia agar mau melanjutkan cita-citanya. Beri dia semangat agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Tapi kau tetap harus berpura-pura tidak tahu tentang penyakitnya itu karena Davin tak ingin orang lain tahu tentang penyakit yang dia derita." Alvin memohon.
"Iya, Om. Tapi apa Alvin mau mendengarkan ku? Sementara kami baru kenal."
"Davin pasti mau mendengarkan mu karena dia menyukaimu sejak pertama kali dia melihatmu tiba di pantai ini, begitulah yang dia katakan kepada Om. Dan Om juga bisa melihat perubahan sikapnya, sejak mengenalmu dia lebih sering tertawa dan dia selalu membicarakan mu. Terdengar konyol mungkin, tapi begitulah Davin jika menyukai sesuatu, dia akan selalu membicarakannya." Lanjut Alvin dan membuat wajah Vie merona merah.
Sejenak Vie terdiam, dia memikirkan ucapan dan permintaan Alvin yang terdengar mudah tapi terasa berat untuk Vie.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tak tega melihat Om Alvin memohon seperti ini." Gumam Vie dalam hati.
"Baiklah, Om ... aku akan mencoba membujuk Davin. Semoga saja berhasil."
"Kamu janji ya, Vie?" Tanya Alvin penuh harap.
"Iya, Om ... aku janji!" Jawab Vie sambil memaksakan senyum di bibirnya. Walaupun hatinya belum bisa percaya dan masih sedih mendengar cerita Alvin tadi.
"Terimakasih ya. Kamu memang baik hati seperti ibumu." Alvin menggenggam erat tangan Vie. Dia benar-benar melihat sosok Venus di dalam diri gadis itu.
Flashback off ...
"Jadi dia sakit kanker otak?" Tanya Andra tak percaya.
"Iya, bahkan sekarang sudah stadium 4 dan harapan hidupnya sangat kecil. Dia mungkin tak akan bertahan lama. Makanya waktu itu dia lupa kepadamu, itu salah satu akibatnya, ingatan Davin mulai terganggu." Vie kembali tertunduk dan air matanya menetes.
"Berarti karena itu kau mendadak ingin kuliah ke New York dengan alasan ingin menjadi CEO?" Alvin memegang kuat kedua bahu Vie dan menatap tajam gadis itu.
"Iya, aku tak mungkin tiba-tiba saja meminta dia melanjutkan impiannya, dia pasti bingung dan curiga, sementara aku sudah berjanji kepada Om Alvin untuk pura-pura tidak tahu tentang penyakitnya. Jadi setelah aku pikir-pikir, cara terbaik adalah dengan aku juga kuliah di New York. Setiap kali dia menghubungiku, aku selalu membahas itu dan secara tidak langsung meminta dia ikut bersamaku. Dan berkat support dari papanya, akhirnya Davin berubah pikiran dan mau meneruskan impiannya kuliah di sana. Dia jadi bersemangat lagi untuk menjadi pembisnis dan melanjutkan pengobatannya di New York. Tapi penyakitnya semakin bertambah parah. Berulang kali dokter memintanya untuk operasi, tapi Davin menolak. Dia pasrah sampai kapan Tuhan memberinya kehidupan, dia tetap minum obat hanya untuk bertahan." Vie menjelaskan sambil terisak.
"Dan alasanmu menerima dia karena penyakitnya itu juga?" Tanya Andra lagi.
"Hmmm ...! Dua bulan yang lalu dia menyatakan perasaannya dan memintaku untuk menjadi kekasihnya, aku ingin menolak tapi aku tak sampai hati. Aku takut melukai perasaannya, apalagi Om Alvin mengatakan hidupnya tidak akan lama lagi. Aku berpikir mungkin aku bisa memberinya kebahagiaan di sisa-sisa hidupnya, bagaimanapun juga dia teman yang baik, bahkan sangat baik." Air mata Vie semakin banyak tertumpah.
"Bodoh!!! Harusnya kau tidak berkorban sampai sejauh ini. Kau tidak memikirkan dirimu dan juga kebahagiaanmu? Kau juga berhak meraih keinginanmu, bukan terbelenggu dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di hatimu." Ucap Andra penuh emosi.
"Aku sudah terlanjur berjanji kepada Om Alvin, aku tak tega melihat seorang Ayah yang memohon kepadaku demi anaknya yang sakit parah, aku rasa tidak terlalu buruk menjalani semua ini, anggap saja ini takdir." Vie mengusap air matanya dan berusaha tersenyum.
"Hatimu terbuat dari apa? Kau rela mengorbankan perasaan dan keinginanmu demi orang lain, bahkan kau sampai melukai perasaanku."
"Bukankah dulu kau pernah bilang, aku harus menjadi danau yang tak terpengaruh rasanya saat ditaburi garam? Aku sedang mencoba menjalani hidup tanpa terpengaruh dengan masalah didalamnya, aku tetap berpikir positif, semua pasti indah pada waktunya."
"Gadis ajaibku, aku semakin mencintaimu." Andra kembali memeluk Vie.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedari tadi mendengarkan semua pembicaraan mereka dengan hati yang hancur, air matanya menetes tanpa henti.
"Kau pembohong!"
***
Like nya guys ...
tapi panggilan nya cuma Al....🤭🤭🤭
Makasih ya thor... Tetap semangat dan slalu jaga kesehatan ya thor...
sukses....semangat
mksh