Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Pandangan pria di bawah, berhenti tepat ke arah jendela ruangan mereka di lantai dua. Meski tirai hanya terbuka sedikit, Nara dengan refleks mundur satu langkah. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Mereka lihat kita?” bisiknya.
“Belum pasti,” jawab Han pelan.
Sambil mengintip di luar jendela, mengawasi orang di bawah tersebut. Tanganya yang satu sudah memegang pistolnya yang terkokang penuh, siap digunakan. Damar tidak bisa menunggu lebih lama. Ia langsung mengambil ponselnya lalu mengetik cepat.
“Lu mau ngapain?” tanya Arga.
“Ngusir nyamuk.”
Beberapa detik kemudian ponsel Damar mulai bergetar bertubi-tubi. Balasan pesan masuk dari banyak orang.
Damar mengetik balasannya lagi tanpa mengangkat kepala.
bikin ribut depan blok C
sekarang!
bawa sajam!
jangan ada yang mati, goblok
Arga melongo kecil.
“…itu strategi?”
Damar akhirnya menyimpan ponsel.
“Itu strategi distrik lama.”
Han mengerti lebih dulu. Tatapannya sedikit berubah.
“Kamu serius?”
“Kalau orang pusat mau main tenang…” Damar berjalan ke jendela lagi sambil menyeringai tipis. “…kita bikin area ini ngga tenang.”
Di bawah sana, tiga pria yang berpakaian rapi, masih mengamati di sekitar gedung. Salah satunya berbicara pelan lewat mikropon kecil di telinganya. Tetap tenang dan tetap rapi.
Lalu…dari arah ujung jalan terdengar suara teriakan keras.
“WOI! ANJING… LIAT APA LU?!”
Disusul suara motor yang meraung brutal.
Dua motor masuk cepat ke jalan kecil itu sambil menggeber knalpotnya. Beberapa pemuda turun sambil membawa besi panjang dan parang pendek. Orang-orang sekitar langsung menutup kiosnya masing masing.
Suasana berubah jadi kacau hanya dalam hitungan detik.
“APA LU NANTANGIN GUE?!”
“MAJU SINI!”
Suara botol pecah mulai menggema.
Pria-pria Helios langsung menoleh secara refleks.
Dari sisi lain jalan, lebih banyak anak buah Damar yang muncul. Ada yang sengaja mendorong gerobak sampai terbalik ke jalan. Ada yang berpura-pura mabuk lalu mulai memancing keributan. Kurang dari satu menit, jalan kecil itu sudah berubah menjadi arena tawuran lokal yang siap meledak kapan saja.
Arga melongo takjub.
“…gila.”
Damar tetap tenang.
“Mereka ngga suka area kacau.” Ia melirik Han. “Orang pusat lebih senang tempat steril.”
Benar saja. Salah satu pria Helios mulai mundur sedikit saat seorang pemuda berjaket hitam mengayunkan batang besi ke tiang listrik sambil berteriak brutal.
“SIAPA YANG BAWA ORANG LUAR KE SINI?!”
Suara logam berdentang keras. Motor lain datang lagi dari arah berlawanan, membuat smeakin kacau suasana. Jumlah orang yang datang semakin banyak. Dan semuanya terlihat benar-benar siap untuk tawuran. Padahal sebagian besar cuma akting saja.
Han memperhatikan situasi itu beberapa detik.
“Damar.”
“ Gue tahu, tenang aja.” Tatapan Damar tetap ke bawah. “Ngga bakal gue biarin jadi perang beneran.”
Nara ikut melihat dari balik tirai. Distrik lama ini benar-benar berubah wajahnya sekarang. Orang-orang yang tadi terlihat santai mendadak seperti pasukan jalanan.
Cepat dan terorganisir.
Dan anehnya… mereka sangat kompak.
Salah satu pria Helios mencoba tetap maju ke arah gedung. Namun seorang anak buah Damar langsung berdiri menghadang sambil memutar rantai besi di tangan.
“WOI! MAU KEMANA LU?!”
Pria Helios itu tidak terpancing. Ia hanya mengamati dengan tatapan dingin. Menghitung dan menilai risiko. Lalu suara kaca pecah tiba-tiba terdengar dari ujung gang lain, batu mulai melayang tapi lebih sengaja ke arah mobil SUV hitam yang terparkir.
Keributan makin besar. Sirene polisi mulai terdengar dari arah jalan utama.
Damar hanya tersenyum tipis.
“Nah lihat tuh, mereka makin males lama-lama di sini.”
Han mengangguk, ini memang bukan tipe situasi yang disukai oleh Helios. Terlalu banyak saksi dan sangat tidak terkontrol.
Pria-pria Helios itu akhirnya memilih mulai mundur perlahan ke arah mobil mereka. Tetap tenang, tetap tidak panik sambil sesekali menghindari batu yang melayang ke arah mereka. Namun jelas mereka memilih keluar dari area itu. Sebelum masuk ke mobil, salah satu dari mereka sempat berhenti. Lalu perlahan mengangkat pandangan lagi ke arah gedung tempat Han.
Meski jauh, Nara bisa merasakan tatapan itu.
Dingin.
Seolah pria itu tahu ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari atas. Han langsung menarik tirai ruangan itu hingga tertutup penuh. Ruangan kembali redup, hanya cahaya kecil yang masuk dari celah tirai
Sunyi selama beberapa saat, lalu suara Arga pecah pelan, “…gue ngga tahu harus kagum atau takut sama distrik ini.”
Damar hanya terkekeh kecil, “…sedikit kedua-duanya.”
Di luar, keributan masih berlangsung. Namun sekarang lebih seperti pertunjukan drama kekacauan daripada tawuran sungguhan. Beberapa anak buah Damar bahkan terlihat sengaja saling dorong tanpa benar-benar melukai. Cukup brutal untuk menakuti. Tapi tidak cukup brutal untuk saling membunuh.
Nara duduk pelan di kursi sambil menghembuskan napas panjang. Tangannya sedikit gemetar setelah adrenalinnya turun. Han menyadarinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil botol air lalu meletakkannya di depan Nara. Perempuan itu menatap botol itu sebentar sebelum mengambilnya.
“Terima kasih.”
Han hanya mengangguk kecil. Damar memperhatikan interaksi kecil itu sekilas. Tatapannya lalu pindah ke Han dengan ekspresi yang samar seperti menahan diri untuk berkomentar. Untungnya kali ini ia cukup pintar memilih untuk diam.
Ponselnya kembali bergetar. Ia membaca pesan masuk lalu mendecakkan lidah pelan.
“Mereka sudah keluar dari area distrik.”
Arga langsung bersandar lega ke sofa.
“Puji Tuhan dan kriminal lokal.”
“Tapi ini cuma sementara,” lanjut Damar.
Suasana langsung serius lagi. Han sudah tahu itu. Orang orang Helios tidak akan berhenti hanya karena dihalangi oleh satu distrik kumuh. Mereka pasti akan kembali, dengan cara lain. Dengan orang lebih banyak kalau perlu. Dan semakin lama mereka tinggal di sini, semakin besar risiko distrik lama ikut kena dampaknya.
Han memandang kunci besi tua yang tergeletak di atas meja. Rahangnya secara perlahan terlihat mengeras lagi. Damar mengikuti arah pandangnya.
“Lu paham kan sekarang, kenapa gue kasih kunci itu.”
Sambil mengangguk, Han menggenggam kunci itu perlahan.
“…kita pergi malam ini.”