Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Bertemu Adik Ipar
Paman Tao begitu senang melihat 4 batangan perak di tangannya. Nan Wei benar-benar membeli kentangnya seharga 40 koin tembaga per 5 kg nya.
Di rumahnya ada sekitar 800 kg kentang, tapi nanti membatasi setiap pembelian hanya 500 kg saja, karena saat ini dia belum memiliki banyak modal.
Nan Wei meminta Paman Tao untuk merahasiakannya terlebih dahulu, jika langsung tersebar, dia sangat yakin warga Desa pasti datang berbondong-bondong untuk menjual kentangnya, jika itu terjadi dia takut uangnya tidak cukup.
"Kamu tenang saja! Paman tidak akan buka mulut!" ucap Paman Tao yang mengerti kesulitan Nan Wei saat ini.
"Terima kasih Paman!"
...----------------...
Ke esokan harinya, Nan Wei ke kota bersama Xia Lingzi. Dia tidak lagi mengajak Zhao Xu, karena Nan Wei memintanya untuk belajar dengan yang lainnya.
Keduanya langsung menuju Restoran Bai Ming untuk mengantar pesanan. Tapi Keduanya harus berhenti di depan Restoran MaYu.
"Nan Wei. Ada seseorang yang menghentikan kita!" kata Paman Tao dengan nada heran.
"Oh kami mengenalnya. Paman tunggu sebentar, aku akan turun, mungkin dia ada perlu!"
"Oh baiklah!"
Nan Wei segera turun dari gerobak sapi, dia berjalan mendekat kearah Simei yang sudah berdiri dipinggir jalan.
"Nyonya. Maafkan saya! Saya hanya mendapat tugas dari Manager Guang untuk menyampaikan pesan!" kata Simei dengan gugup. Dia takut Nan Wei marah karena menghentikannya.
"Tidak masalah. Apa yang ingin Manager Guang sampaikan?" tanya Nan Wei.
Simei tersenyum lega, kemudian dia berkata"Nyonya Xia diminta untuk mampir setelah balik dari Restoran Bai Ming.!" jelasnya.
"Hmm baik. Kalau begitu saya lanjut jalan ke Restoran Bai Ming!"
"Baik!"
Setelah berpamitan, mereka segera menuju Restoran Bai Ming yang berada di tengah kota yang jaraknya sekitar 30 menit naik gerobak sapi.
***
Nan Wei melihat Restoran Bai Ming sama besar dengan Restoran MaYu. Meski tidak terlalu besar dan mewah, tapi Restoran itu sangat ramai.
Buktinya, Restoran itu penuh dengan pelanggan yang datang untuk sarapan. Dan kebanyakan yang datang adalah anak sekolah, yang mungkin tinggal di asrama.
"Nyonya ingin pesan apa?" tanya seorang pelayan laki-laki dengan sopan.
Kali ini, Nan Wei dan Xia Lingzi menggunakan pakaian baru. Jadi dia tidak tahu, apakah pelayan itu menyambutnya dengan tulus atau tidak.
"Saya tidak ingin makan! Saya ada janji dengan Tuan Bai. Apakah Beliau sudah datang?" tanya Nan Wei dengan santai.
Pelayan itu menatap Nan Wei dengan tatapan menyelidik, raut wajah yang tadinya ramah langsung berubah jadi kesal.
"Nyonya jika Anda tidak ingin makan, silahkan Anda keluar! Masih banyak pelanggan yang antri untuk mendapatkan kursi!" ucapnya dengan nada dingin.
Nan Wei menyeringai, apakah orang-orang yang bekerja dengan Tuan Bai memiliki sikap yang sama? Kayaknya, mereka ini kurang didikan, atau Karena Tuan Bai yang jarang muncul jadi mereka bisa semena-mena.?
"Apa kau tuli? Saya bertanya, apa Tuan Bai sudah datang? Jika belum, panggil saja Manager mu!" pinta Nan Wei tak kalah dingin.
Bukannya menurut, pelayan itu malah tertawa melihat tingkah Nan Wei yang begitu berani. Dia sudah bekerja lima tahun di Restoran Bai Ming, dan banyak orang yang datang ingin bertemu dengan Manager atau Tuan Bai dengan alasan keluarga.
Nan Wei menatap pelayan itu dengan tatapan mengejek, karena sebentar lagi nasibnya akan sama dengan Manager Toko yang kemarin.
"Satu kesempatan lagi. Jika kau tidak pergi memanggilnya, kau akan berlutut memohon ampun kepadaku!"
"Hahaha dasar wanita tidak tahu diri. Memang siapa dirimu? Jangankan bertemu dengan Tuan Bai, Manager kami saja tidak akan pernah kau temui!"
"Oh baiklah! Kalau begitu, silahkan lanjutkan kerjamu sebelum kau berlutut memohon!"
"Omong kosong...!" bentaknya. Dia sangat jengkel setiap kali Nan Wei menyumpahi dirinya akan bersujud di Kakinya.
Keributan itu menarik perhatian para pelanggan, ada yang tidak terima dengan pelayan itu yang meninggikan suara di depan orang yang lebih tua darinya.
Tapi ada juga yang langsung mencibir setelah mengetahui tujuan Nan Wei yang ingin bertemu dengan Manager yang terkenal galak.
"Ada apa ribut-ribut? Kami mau sarapan, jangan ganggu ketenangan kami!" ucap pelanggan dari meja samping.
"Tuan maaf! Saya akan mengusirnya!" ucap pelayan itu dengan nada sopan setelah melihat seragam sekolah para pria yang ada di meja sebelah.
Mendengar nada bicaranya yang menjilat, Nan Wei menoleh, dan dia sedikit terkejut melihat salah satu pria yang ada di meja itu. Tapi wajahnya tetap terlihat datar.
Pria itu juga sedikit terkejut melihat Nan Wei, dia segera beranjak lalu berjalan mendekat. Dia tak menyangka akan bertemu dengan mantan istri Kakaknya.
"Kakak ipar!" sapanya dengan sopan.
Nan Wei tertegun, seketika kilasan memori pemilik tubuh melintas dipikirannya. Pria itu adalah adik dari suaminya, dan saat ini sedang melanjutkan sekolahnya untuk mengikuti ujian Tingkat Provinsi.
"Oh Zhao Cheng!" balas Nan Wei.
Zhao Cheng seumuran dengannya, dalam ingatannya tidak banyak interaksi dengan adik iparnya. Tapi Nan Wei yang sudah membaca novelnya tahu, jika Zhao Cheng dan istrinya memiliki sikap yang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain.
Saat mertuanya menulis surat cerai, Nan Wei meminta sebagian harta yang dihasilkan suaminya. Tapi Mertuanya menolak, dan dia juga mengancam, jika Nan Wei masih ngotot, anaknya yang seorang sarjana akan melapor ke pemerintah atas dasar tidak menghargai jerih payah anaknya yang sudah gugur di medan perang.
Nan Wei tertawa dalam hati, dia benar-benar tidak menyangka jika pemilik tubuh benar-benar bodoh, mana ada alasan seperti itu. Dan dia makin bertekad, agar semua anaknya bisa bersekolah dengan baik, agar otaknya tidak terlalu kosong.
"Kakak ipar lama tidak bertemu. Oh iya, saya minta maaf, karena waktu itu saya tidak ada di rumah!" ucapnya penuh sesal.
Dia sangat marah saat mendengar cerita dari istrinya. Dia meminta agar ibunya bersikap adil, tapi dia malah diancam balik.
"Kamu tidak perlu ikut campur, kamu fokus sekolah saja. Jika tidak, bawa istri dan anakmu keluar dari sini!"
"Hmm sudahlah, itu juga bukan salahmu!" ucap Nan Wei yang tidak ingin mengingat masa lalu pemilik tubuh.
"Baik!" balasnya. "Kamu! Cepat minta maaf pada Kakak iparku.!" pintanya dengan tegas. Meski Nan Wei sudah bercerai dengan Kakaknya, dia tetap menghormatinya.
Pelayan itu sudah takut saat salah satu pelajar mengenal Nan Wei. Memiliki keluarga yang bisa bersekolah tentu tidak bisa diusik, karena mereka sudah jadi incaran pemerintah.
Tapi sebelum dia minta maaf, seseorang masuk dan bertanya apa yang terjadi? Karena melihat banyak orang yang berkumpul.
"Oh Nyonya Xia! Ternyata Anda sudah datang, maaf sudah membuatmu menunggu, kebetulan hari ini Manager tidak masuk, jadi tidak ada yang menyambutmu!"
"Ya. Pantas saja!"
Mendengar kalimat itu, Tuan Bai langsung merasakan firasat buruk. "Kenapa? Eh apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berkumpul?"
"Tuan! Apa Anda mengenal Kakak ipar saya?"
Bukannya menjawab dia malah bertanya dengan nada terkejut. Karena Zhao Cheng tahu siapa Tuan Bai.
"Siapa Kakak Iparmu? Nyonya Xia? Beliau rekan kerja saya!" jelasnya.
Mendengar jawaban Tuan Bai, mereka semua langsung terdiam. Terutama pelayan yang begitu angkuh, badannya sudah gemetar karena takut, ternyata Nan Wei benar-benar datang untuk bertemu dengan Tuan Bai.
"Oh hanya masalah kecil. Tapi sebentar lagi ada orang yang akan berlutut meminta maaf!" ucap Nan Wei sambil menatap pelayan itu dengan tatapan kemenangan.
Duukkk
"Nyonya maafkan saya! Saya,, saya salah, saya salah. Tolong maafkan saya!"
.
.
.
.