NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Diperhatikan Tanpa Rayuan

Sagara masih berdiri di tempatnya tadi.

Padahal makanan yang ada di meja itu, jelas bukan hanya untuk satu orang.

Namun Sagara belum menyentuhnya.

Seolah itu bukan hal yang perlu diprioritaskan.

Shafiya ragu sejenak. Sebelum akhirnya berkata pelan.

“Mas… makan juga.”

Sagara hanya menatapnya singkat.

Lalu tatapan itu berpindah ke meja itu.

Ke piring yang memang disiapkan untuknya.

Beberapa detik ia masih diam.

Hening. Dia masih mempertimbangkan sesuatu untuk dilakukan. Padahal sederhana. Hanya makan berdua. Tapi bagi Sagara itu bukan hal biasa.

Padahal mungkin semua berpikir kalau mereka sudah sering makan berdua di meja makan. Di Adinata Residence. Namun sebenarnya tidak pernah benar-benar makan berdua. Karena selalu ada ART yang berdiri di sisi ruangan.

Sagara akhirnya melangkah mendekat.

Menarik kursi di depan Shafiya, dan duduk.

Tanpa kata. Ia mulai makan.

Gerakannya tetap terukur.

Rapi. Seperti semua hal yang ia lakukan.

Shafiya kembali menyuap. Dan kali ini ia tak lagi makan sendiri.

Sesekali tatapannya terangkat. Ke Sagara. Namun dengan cepat turun kembali. Seolah hanya memastikan bahwa yang terjadi ini benar. Benar-benar terjadi.

Dan untuk beberapa saat--tidak ada yang berbicara. Hingga beberapa suapan berlalu.

“Mas…”

Suara Shafiya memecah pelan.

Sagara tidak langsung menoleh.

Namun jelas mendengar.

“Sup ini… enak.”

Hanya kalimat sederhana. Bukan topik yang sengaja dicari. Bukan pujian yang berlebihan. Hanya pengakuan jujur dari apa yang dinikmati.

Sagara berhenti sejenak.

Tatapannya turun ke mangkuk sup di depan Shafiya. Hampir tersisa separuh.

Lalu kembali ke makanannya sendiri.

“Iya." Hanya satu kata singkat. Tapi tidak terdengar dingin. Juga tidak terlalu datar.

Shafiya menahan senyum kecil.

Dan kembali menyuap.

Beberapa detik kemudian.

Lagi...

“…biasanya Mas makan siang begini juga?”

Pertanyaan bernada ringan.

Tidak menuntut. Hanya ingin tahu.

Sagara mengunyah. Menelan.

Baru menjawab.

“Tidak.”

“Biasanya lebih cepat.”

Shafiya mengangkat wajah.

Sedikit bingung.

“Lebih cepat… maksudnya?”

Sagara menatapnya sekilas.

“Tidak duduk.”

Jawaban datar.

“Maksudnya makan berdiri?”

tanya Shafiya polos. Raut wajahnya benar-benar ingin tahu. Bukan untuk menghakimi.

Sagara menatapnya sekilas.

“Kadang.”

Kembali hanya memberi jawaban singkat.

Jawaban yang justru membuat Shafiya belum selesai dengan pertanyaannya.

“Kenapa?”

Sagara berhenti sejenak.

Bukan karena tidak tahu jawabannya.

Sebenarnya yang ia maksud makan tidak duduk itu bukan literal berdiri. Tapi kadang makan sambil jalan di mobil. Sambil kerja dengan layar laptop yang terbuka. Dan lebih seringnya lagi tidak sempat makan siang karena jadwal yang terlalu padat.

Namun sagara tidak biasa menjelaskan tentang kebiasaannya. Apalagi tentang kehidupannya terhadap siapapun.

“Tidak sempat.”

Tapi ia tetap menjawab. Meski hanya dengan kata singkat. Yang sebenarnya tidak menjelaskan apapun. Namun bagi Shafiya cukup. Setidaknya mereka punya interaksi lebih panjang kali ini.

Tak hanya sekedar duduk berdua. Makan bersama. Tapi ada cerita juga di dalamnya. Meski belum bisa disebut komunikasi dua arah.

“Sekarang sempat ya, Mas. Alhamdulillah."

Shafiya menanggapi dengan nada lebih akrab. Bahkan sambil tersenyum.

Sagara hanya menatapnya. Namun tidak mengatakan apa pun. Dan akhirnya ia menuntaskan makanannya. Shafiya menyusul beberapa saat kemudian.

Shafiya lalu merapikan piring bekas makan itu.

"Tidak perlu," cegah Sagara. Cepat.

"Ada petugasnya."

"Hanya merapikan saja, Mas. Biar tidak berantakan begini." Shafiya mengumpulkan semua piring dan wadah jadi satu. Namun tetap di meja itu. Sekarang terlihat lebih rapi. Tidak berserak seperti tadi.

Saat mengangkat pandangan. Dilihatnya

Sagara masih menatapnya.

Lebih lama dari sebelumnya.

Hingga Shafiya akhirnya bertanya,

“Ada apa, Mas?”

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya turun sedikit ke arah bibir Shafiya.

“Ada sisa.”

Shafiya terhenyak sebentar lalu refleks menyentuh bibirnya. Mengusap pelan.

Namun usapan itu salah. Membuat sisa

makanan itu justru berpindah sedikit ke samping.

Sagara memperhatikan.

Tangannya sempat terangkat dengan reflek untuk membantu membersihkan.

Namun tiba-tiba saja berhenti di tengah. Menariknya kembali.

Ia menarik napas pendek, lalu bangkit.

Mengambil tisu yang ada di samping meja.

Dengan tisu di tangannya ia kembali mendekat.

“Diam dulu.”

Nada tetap tenang. Tapi kali ini lebih mengarahkan.

Shafiya benar-benar diam.

Sagara mengangkat tangannya.

Dengan tisu di ujung jari, ia membersihkan sisa itu dengan satu usapan ringan. Tidak menyentuh langsung.

Hanya melalui tisu. Dan selesai.

Ia menarik tangannya kembali.

“Sudah.”

Ia membuang tisu itu ke tempat sampah

Lalu menambahkan,

“Kalau pakai tangan, malah menyebar.”

Ia mulai memberi penjelasan. Sederhana. Tapi itu hal baru. Yang biasanya tidak pernah ia ucapkan.

Shafiya menunduk sedikit.

“Terima kasih…” ucapnya pelan.

Sagara mengangguk singkat. Menatap sekejap lalu berbalik. Kembali duduk di kursinya. Menekan satu panel. Singkat.

Tak lama pintu diketuk. Dua petugas masuk. Mereka membersihkan tempat makanan yang sudah tandas sebagian dan membawanya keluar.

"Saya masih belum," ucap Sagara begitu pintu menutup. Sedang tatapannya kembali ke layar laptop.

Shafiya diam menunggu.

"Kamu kembali dulu ke Adinata Residence," lanjutnya. Nada itu tetap sebuah instruksi. Namun tak lagi sesingkat dan sedatar biasanya.

"Diantar mas Agam?" tanya Shafiya.

Hanya menebak. Dan itu reflek. Bukan karena memang ingin.

Sagara menoleh. Menatap Shafiya lurus.

"Diantar supir." Jawaban jelas. Tidak memberi celah.

"Oh." Shafiya mengangguk kecil. Beberapa detik kemudian. "Saya nunggu saja, Mas. Boleh?"

Nada itu hati-hati. Namun tidak ragu.

Sagara belum mengalihkan pandangan.

"Kalau diantar Agam?" Pertanyaan itu bukan untuk menawarkan. Tapi lebih untuk memastikan.

Shafiya menggeleng pelan.

"Tidak usah."

Dan itu cukup.

Tak ada pertanyaan lagi. Sagara kembali ke layar laptopnya.

Shafiya menunduk. Melihat jam. Waktu untuk sholat dhuhur hampir berlalu.

Shafiya menoleh. Kembali menatap Sagara.

“Mas…” Memanggil pelan.

Sagara tidak langsung menoleh.

Tapi jelas ia mendengar.

“Di sini… ada musholla?”

tanya Shafiya pelan.

Sagara berhenti mengetik. Kemudian

menoleh.

“Ada. Di bawah.”

Jawaban faktual.

Shafiya mengangguk.

"Saya mau sholat dhuhur. Waktunya hampir habis." Ucapan itu sedikit ragu seraya menatap ke arah pintu.

Ia menghitung waktu. Cukup atau tidak jika masih turun ke lantai bawah.

Sagara memperhatikan itu.

Beberapa detik kemudian tangannya

bergerak ke panel di sisi meja.

Satu sentuhan saja. Kaca di sekeliling ruangan berubah buram. Dunia luar tertutup.

“Di sini saja," ucapnya.

Nada tetap datar. Namun keputusan itu jelas.

Shafiya menatapnya. Sedikit terkejut.

“…boleh?”

Sagara tidak menjawab langsung.

Hanya mengangguk, dan hanya satu kalimat.

“Lebih cepat.”

Shafiya tersenyum. Ia senang dengan solusi itu. Tapi kemudian masalah kedua datang.

"Tapi... saya gak bawa mukenna," kata Shafiya.

"Mukenna?"

"Iya. Pakaian untuk sholat. Mas tau kan?"

Sagara mengangguk. Sejenak diam, lalu mengambil ponselnya. Entah ia menghubungi siapa. Shafiya hanya mendengar ucapannya singkat saat telepon itu sudah bersambut.

"Siapkan mukenna. Bawa ke ruangan saya."

Shafiya menatapnya.

Sagara diam sejenak, masih dengan ponselnya..

"Iya. Sekarang." Dan ia menutup sambungan itu. Kembali ke layar laptopnya.

"Terima kasih, Mas. Maaf ngerepotin."

Sagara hanya menggeleng tanpa menoleh.

Memang bukan dia yang repot. Tapi para staf yang ia perintah. Tapi tetap saja keputusannya ini harus diapresiasi.

Sagara memang tetap tidak religius. Ia tidak mengatakan akan ikut sholat. Namun ia memastikan Shafiya bisa melakukannya tanpa hambatan.

Ia tidak turun tangan langsung. Tapi cukup dengan satu keputusan, satu perintah, maka semua bergerak. Sistem berjalan di bawah kendalinya. Dan dari sanalah kemudahan itu hadir.

Pada akhirnya, tetap Sagara yang menjadi sumber dari semua itu.

Dan Shafiya merasakannya.

Diperhatikan. Namun tanpa rayuan.

Tidak ada kata-kata manis.

Tidak ada sikap berlebihan.

Hanya tindakan yang tepat.

Jarak di antara mereka masih ada. Dan itu jelas. Namun di dalam jarak itu--tumbuh rasa saling menghargai.

Tanpa perlu drama.

1
iqha_24
hari libur kah, ga ada up ?
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!