Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Terpana
Suara seruling bambu yang tadi mengalun merdu mendadak berhenti, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara pilar-pilar pohon purba Federasi LIN.
Udara lembap seolah membeku. Yan Bingchen berdiri mematung, merasakan ujung tajam dari tatapan tak kasat mata yang mengepungnya dari segala penjuru kabut hijau.
Wanita yang suaranya terdengar di belakangnya tadi kini melangkah maju.
Ia mengenakan jubah tenun dari serat jaring laba-laba hutan berwarna hijau lumut yang serasi dengan lingkungan sekitar.
Wajahnya tertutup cadar tipis, namun matanya yang sewarna daun berguguran memancarkan kewaspadaan yang dingin.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah belati tulang lengkung yang berpendar kehijauan—tanda senjata yang dilingkupi racun alami.
"Pencari jalan yang terluka jiwanya?" wanita itu mengulang ucapan Yan Bingchen dengan nada sinis. "Hutan ini tidak menerima sampah emosi dari peradaban luar, Anak Muda. Katakan sejujurnya, siapa yang mengirimmu? Kaisar Shan? Atau anjing-anjing perang dari utara?"
Mo Ran di belakang Yan Bingchen menelan ludah pelan, tangannya gemetar memegang belati kecilnya.
Si Hitam mengerang rendah, perutnya menempel ke tanah, insting binatang buasnya memberitahu bahwa wanita di depan mereka bukanlah mangsa biasa.
Yan Bingchen menarik napas panjang. Ia tahu, di tempat setertutup Federasi LIN, kejujuran adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas yang sudah habis mereka belanjakan.
Pakaian rami kusam yang ia kenakan selama perjalanan berbulan-bulan tidak lagi bisa menyembunyikan wibawa alami yang dimilikinya.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur, Yan Bingchen mengangkat tangan kanannya ke kepala.
Jemarinya yang lentik namun kuat menyentuh pinggiran tudung jubahnya.
Sret.
Tudung kain rami itu tersingkap ke belakang.
Seketika, seolah-olah sebuah tirai kegelapan disibak.
Cahaya redup hutan purba yang menembus kanopi dedaunan raksasa seakan memusat pada sosok Yan Bingchen.
Rambut panjangnya yang selama berbulan-bulan tersembunyi kini tergerai bebas.
Di bawah temaram hijau hutan, gradasi warna rambutnya tampak begitu menyolok dan mustahil.
Separuh rambutnya berwarna merah membara, seolah-olah menampung api abadi dari kawah gunung berapi, sementara separuh lainnya berwarna putih kebiruan, berkilau dingin bagai es abadi yang tak pernah mencair.
Yan Bingchen mendongakkan kepalanya, menatap langsung ke arah wanita bercadar itu.
Dan di sanalah letak keajaiban yang sesungguhnya.
Sepasang matanya yang berbeda warna menatap dunia dengan ketenangan yang mematikan.
Mata kanannya merah menyala bagai delima yang terbakar, memancarkan kehangatan yang menekan, sementara mata kirinya biru jernih layaknya berlian es, memancarkan kedamaian yang membekukan sumsum tulang.
Wajahnya yang tirus, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki kelembutan aristokrat, terpampang nyata.
Ketampanannya bukan lagi ketampanan manusia biasa; itu adalah ketampanan yang transenden, gabungan paradoks antara api yang menghancurkan dan es yang menyucikan.
Wanita bercadar itu tertegun.
Tangannya yang memegang belati tulang racun sedikit mengendur. Matanya yang sewarna daun melebar, menatap Yan Bingchen dengan campuran rasa tidak percaya, kekaguman yang terlarang, dan kebingungan yang mendalam.
Selama puluhan tahun hidup di bawah naungan Federasi LIN, merawat tanaman obat dan mempelajari seluk-beluk energi alam, ia belum pernah melihat—bahkan membayangkan—keberadaan makhluk setampan dan seunik ini.
Penampilan Yan Bingchen begitu berbeda dari para pendekar Kekaisaran Shan yang kaku atau para tabib Federasi LIN yang bersahaja.
Ia tampak seperti perwujudan dari dongeng kuno tentang penyatuan dua kutub alam yang bertolak belakang.
"K-kau ..." suara wanita itu bergetar, kehilangan nada dinginnya. Ia mundur satu langkah, seolah-olah ketampanan dan aura dualitas Yan Bingchen memiliki tekanan Qi yang kasat mata.
Beberapa sosok lain yang bersembunyi di balik kabut hijau juga tampak terpana.
Suara bisikan halus terdengar di antara dedaunan, seperti angin yang mendesau, namun penuh dengan nada keterkejutan.
"Hamba adalah Bingchen," ujar Yan Bingchen kembali, suaranya kini terdengar lebih jernih dan berwibawa, bergema di aula alami hutan purba. "Hamba datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seorang penziarah yang membutuhkan bimbingan untuk menyeimbangkan badai di dalam dirinya."
Ia menatap wanita itu dengan tatapan mata dualitasnya yang tenang. Di bawah naungan Federasi LIN yang murni, Yan Bingchen baru saja membuka kedoknya sepenuhnya.
Di tempat di mana klan kuno berkuasa, wajah dan matanya yang unik bukan lagi sebuah kutukan, melainkan sebuah kunci untuk membuka pintu gerbang rahasia menuju penyembuhan dan kekuatan yang sesungguhnya.
Momen penyingkapan ini telah mengubah jalannya sejarah di Federasi LIN.
Seorang pemuda yang membawa api dan es di rambut dan matanya kini berdiri di ambang pintu mereka, menunggu keputusan dari para penjaga hutan abadi.