Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 [Benteng Selatan]
Langit di selatan selalu terasa berbeda.
Lebih luas.
Lebih keras.
Dan lebih jujur.
Di bawah langit itu berdiri sebuah kerajaan yang tidak pernah dikenal karena keindahannya
melainkan karena ketahanannya.
Kerajaan Mushaf.
Tanah berbatu yang luas, dipenuhi bangunan kokoh dari batu abu-abu, dinding tinggi yang menjulang, dan gerbang besar yang selalu dijaga.
Di sini…
Kelemahan tidak punya tempat.
Di tengah lapangan latihan
Dentuman keras terdengar.
BOOM.
Dua tubuh bertabrakan.
Tanah retak.
Debu terangkat.
Dan di tengahnya
Seorang pria berdiri tegak.
Tubuhnya besar.
Ototnya padat.
Seperti ukiran batu hidup.
Dia adalah
Galdros Varnheim.
Grandmaster Batu.
“Lebih keras.”
Suaranya dalam.
Tenang.
Namun tidak bisa dibantah.
Seorang murid maju.
Mengayunkan pedang dengan seluruh kekuatannya.
Serangan itu cepat.
Berat.
Namun
CLANG.
Pedang itu berhenti.
Tidak karena ditangkis.
Namun karena… tidak mampu menembus.
Galdros bahkan tidak bergerak.
“Kekuatan tanpa fondasi… hanya akan runtuh.”
Ia mendorong sedikit.
Murid itu terpental.
Jatuh.
Namun sebelum ia sempat bangkit
Galdros sudah menoleh.
“…diam.”
Semua berhenti.
Bukan karena perintah.
Namun karena sesuatu yang lain.
Galdros menunduk.
Tangannya menyentuh tanah.
Dan untuk pertama kalinya
Ekspresinya berubah.
“…ini…”
Tanah di bawahnya bergetar.
Namun bukan seperti gempa.
Bukan seperti sihir.
“…bukan mana.”
Matanya menyipit.
Getaran itu…
Kosong.
Ia berdiri perlahan.
Menatap ke arah selatan.
Jauh.
“…sesuatu datang.”
Di dalam istana Mushaf
Raja juga berdiri di balkon.
Angin berhembus.
Namun terasa berat.
“…kau juga merasakannya.”
Suara itu datang dari belakang.
Galdros berjalan masuk.
Raja tidak menoleh.
“…ini bukan ancaman biasa.”
Galdros mengangguk.
“…ini sesuatu yang tidak berasal dari dunia kita.”
Hening.
“…siapkan pasukan.”
Perintah itu sederhana.
Namun berat.
Galdros menunduk sedikit.
“…dimengerti.”
Di gerbang utama
Para penjaga berdiri lebih tegang dari biasanya.
Tombak di tangan.
Armor berat terpasang.
Langit di atas mereka mulai berubah.
Awan bergerak lambat.
Namun menekan.
Salah satu penjaga menelan ludah.
“…kau ngerasain?”
Yang lain mengangguk.
“…iya…”
Namun sebelum percakapan itu berlanjut
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Tenang.
Semua mata mengarah ke depan.
Dari kejauhan
Seseorang berjalan.
Sendirian.
Tanah di bawah kakinya…
Menghitam.
Rumput mati.
Udara berubah.
Dia adalah
Acedia.
“…berhenti!”
Salah satu penjaga berteriak.
Suaranya tegas.
Namun… sedikit goyah.
Acedia tidak menjawab.
Tidak berhenti.
“…aku bilang berhenti!”
Tidak ada respon.
“Serang!”
Tombak dilempar.
Panah dilepaskan.
Sihir diluncurkan.
Semua menuju satu titik.
Namun
Semua itu…
Menghilang.
Bukan ditangkis.
Bukan dihindari.
Namun seolah…
Tidak pernah menyentuh apa pun.
Acedia berhenti.
“…berisik.”
Ia mengangkat tangannya sedikit.
CRACK.
Udara retak.
Dan dalam satu momen
Beberapa penjaga jatuh.
Bukan karena luka.
Namun karena…
Tubuh mereka tidak mampu menahan sesuatu yang tidak terlihat.
Yang lain mundur.
Takut.
Untuk pertama kalinya
Benteng Mushaf… goyah.
Sementara itu
Di utara
Di antara hutan yang lebat
Tiga sosok berjalan.
Shiranui Akihara berjalan di depan.
Langkahnya stabil.
Namun berat.
Di sampingnya
Liora Raizen berjalan sambil menggendong
Noa.
Hutan itu tenang.
Namun tidak sepenuhnya damai.
“…kita udah cukup jauh.”
Liora bicara pelan.
Akihara mengangguk.
“…harusnya.”
Hening.
Beberapa langkah lagi.
Liora melirik ke arah Akihara.
Ia melihat wajah itu.
Tenang.
Namun terlalu diam.
“…kamu terlalu keras sama diri sendiri.”
Akihara tidak menjawab.
Liora menghela napas.
“Kalau kamu gak ada…”
“…desa itu udah hancur dari dulu.”
Langkah Akihara sedikit melambat.
“…dan sekarang…”
Liora melanjutkan.
Suaranya lebih lembut.
“…kamu tetap melindungi mereka.”
Untuk pertama kalinya
Akihara menoleh.
Matanya bertemu dengan Liora.
Beberapa detik.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama
Ekspresinya… berubah.
Sedikit.
Namun cukup.
“…terima kasih.”
Jawaban sederhana.
Namun jujur.
Liora membeku.
Pipinya sedikit memerah.
“A-aku cuma bilang fakta!”
Ia memalingkan wajah.
“…jangan aneh-aneh.”
Akihara tersenyum kecil.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Beban di bahunya…
Sedikit berkurang.
Mereka berhenti.
Di depan mereka
Terlihat sebuah desa.
Lebih besar dari Hinomura.
Dikelilingi hutan.
Tenang.
Tersembunyi.
Desa Kurohana.
“…di sini?”
Liora bertanya.
Akihara mengangguk.
“…kita lihat dulu.”
Namun dalam pikirannya
Ada sesuatu yang lain.
Apakah tempat ini… juga akan jadi target?
Di selatan
Di depan gerbang Mushaf
Tanah mulai retak lebih besar.
Para penjaga mundur.
Dan di depan mereka
Sosok itu berdiri.
Tenang.
Tidak terpengaruh apa pun.
“Semua mundur.”
Suara itu datang dari belakang.
Langkah berat terdengar.
Tanah bergetar.
Dan seseorang maju ke depan.
Galdros Varnheim.
Ia berdiri di antara Acedia dan gerbang.
Matanya tajam.
“…kau bukan dari dunia ini.”
Acedia menatapnya.
Untuk pertama kalinya
Matanya sedikit terbuka lebih lebar.
“…oh?”
Sedikit ketertarikan.
“Manusia yang berbeda.”
Galdros tidak menjawab.
Namun tanah di bawah kakinya mengeras.
Batu-batu kecil mulai naik.
Aura berat menyelimuti sekitarnya.
“…kalau mau lewat…”
Nada suaranya rendah.
“…lewati aku.”
Hening.
Dua kekuatan berdiri saling berhadapan.
Udara menjadi berat.
Langit menggelap.
Dan untuk pertama kalinya
Acedia tersenyum tipis.
“…kau mungkin…”
Sedikit langkah ke depan.
“…tidak membosankan.”
Tanah di antara mereka
Retak besar.
Dan dunia
Seolah menahan napas.
Perang…
Akan segera dimulai.