NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan dari ibu

"Ibu..." Aku tidak suka gelap. Rasanya pengap dan sesak, seperti tidak bisa bernapas. Apalagi aku memiliki riwayat asma, rasanya seperti tercekik ketika berada di ruangan gelap tanpa sedikit pun cahaya.

Aku sudah berada di samping Kak Satya dan memeluknya. Tidak sengaja, hidung dan bibirnya menyentuh dahiku. Aku merasakan hembusan napas halus di sana. Kak Satya terdiam saat aku memeluk tubuhnya, apakah dia terkejut karena tiba-tiba aku memeluknya?

"Ekhemm, tenang Ndra. Aku nyalain flash." Sepertinya dia agak risih.

Flash dari ponsel Kak Satya sudah menyala, cukup menerangi kamarku yang tidak terlalu luas ini.

Nafasku mulai teratur. Aku memundurkan tubuhku dan melepaskan tanganku yang memeluk tubuh Kak Satya.

Lanjutan cerita:

Aku menunduk, merasa sedikit malu dengan apa yang barusan kulakukan.

"Maaf..." suaraku pelan, hampir tak terdengar.

Kak Satya tidak langsung menjawab. Ia justru mengarahkan cahaya ponselnya ke arah saklar di dinding, lalu berjalan mendekat.

"Cuma mati lampu, bukan apa-apa," ucapnya datar, sambil mencoba menekan saklar beberapa kali, berharap listrik kembali menyala.

Aku mengangguk pelan, meski dia mungkin tidak melihat karena fokusnya ada pada saklar.

"Masih takut gelap, dari dulu ndra?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

"Iya..." jawabku jujur. "Kalau gelap banget... suka sesak."

Tangannya berhenti sejenak di saklar.

"Kamu harus biasain," katanya lagi, masih dengan nada yang sama. Tapi entah kenapa, kali ini tidak terdengar dingin seperti biasanya.

Aku hanya diam.

Tiba-tiba, ia mengarahkan cahaya flash itu ke arahku, lalu sedikit mendekat.

"Duduk aja dulu," ujarnya singkat.

Aku menurut, duduk di tepi kasur. Kak Satya ikut duduk di kursi dekat ranjang, masih memegang ponselnya agar cahaya tetap ada.

Ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara napas kami yang perlahan mulai sama-sama tenang.

Beberapa detik berlalu.

Untuk pertama kalinya malam ini, aku tidak merasa sendirian di dalam gelap. Ada kak Satya disini, walaupun hubungan pernikahan kami belum sepenuhnya baik, namun ketika bersama ada ketenangan di dalamnya.

Aku menatapnya beberapa detik lebih lama, mencoba memastikan apa yang barusan kudengar bukan sekadar perasaanku saja.

Kak Satya tidak membalas tatapanku. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah apa yang baru saja ia katakan bukan sesuatu yang penting.

Tangannya masih memegang ponsel, cahaya flash itu sesekali bergerak mengikuti arah pandangnya.

Aku menarik napas perlahan.

"Udah mendingan," kataku lagi, berusaha meyakinkannya.

"Hm." Hanya itu jawabannya.

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Namun, kali ini heningnya tidak menyesakkan.

Beberapa menit berlalu, listrik masih belum menyala. Dari luar, terdengar suara orang-orang yang mulai keluar rumah, mungkin sama-sama mengecek keadaan.

***

Suasana ruang makan kediaman Pak Nazrul dan Bu Candra pagi ini cukup ramai, ada suara dentingan sendok yang beradu pelan dengan piring dan celotehan sandrina. Tidak lupa suara Kenzo bayi Leona yang sedang rewel.

"Nana kasian Kenzo, kamu gak kasih dia susu. Kayanya dia lapar" Aku melirik Leona yang sedang lahap menyantap sarapannya.

"Ayah, tadi malam aliran listrik kenapa padam?" aku melirik ayah, tidak berani menatap ibu. Sepertinya ibu masih marah denganku. Tadi pagi aja ibu tidak menyapaku.

"Ada koslet ndra, katanya ada pohon tumbang di depan komplek sana"

"Ohh pantesan, mati lmpunya lama yah" kini kak Satya yang menimpali.

"Loh ndra, cincin nikahnya kok gak di pake si. gimana nanti kalau ada yang ngira kalau kamu belum menikah terus godain kamu" ucap Leona, ia telah kembali setelah mengambil botol susu Kenzo.

Deg.

Mau pake cincin gimana, orng nikah aja gak dikasih cincin sama suaminya.

Tidak mungkin aku mengatakan itu pada Leona. Ayah dan ibu pun pandangan nya tertuju padaku.

"Ohh ada, aku simpan karena aku kan ceroboh takut hilang Nana"

"gak bisa gitu dong ndra, harus dipake"

Ah aku malas menimpali omongan Leona lagi. Aku melirik kak Satya, pandangan kita bertemu namun hanya beberapa detik. Laki laki itu kembali sibuk dengan makanan di piringnya.

"Ndra, pulang sekarang juga?". suara ibu pelan namun tetap terdengar.

"Iya Bu, kak Satya kerj hari ini. Dan aku harus ke toko juga"

"Drina, jangan dulu pulang ya, biar mama ndra sama papah dulu. Kata drina mau punya adik kaya Kenzo". Ibu berkata pelan.

Aku dan kak Satya sama sama terdiam kala mendengar perkataan ibu.

"Biar drina disini dulu ndra tiga hari. Kalian pulang saja nanti ibu kirimkan sesuatu" ucap ibu, sepertinya sudah tidak marah.

"Yes, drina mau punya adik kaya Kenzo" gadis itu malah terlihat ceria.

Kak Satya hanya menunduk, pria datar itu tidak berkata apa-apa.

***

Malam hari.

Setelah selesai dengan kegiatan mandi sore, aku melanjutkan masak untuk makan malam. ketika aku tanya kak Satya menginginkan makan dengan ayam bakar mentega. Jadilah kini aku sibuk memanggang ayam bakar di teplon. Apartemen sunyi, sandrina masih akan menginap di rumah ibu

"Masak apa Ndra?", aku terperanjat. Suara bariton itu tiba-tiba berbunyi tepat di belakangku. Aku tidak mendengar suara kak Satya msuk apart.

Aku menoleh.

"Ayam bakar mentega" jawabku ringan.

tok tok.

Suara ketukan di pintu.

"Kak tolong.." belum selesai aku berbicara KK Satya sudah pergi untuk membuka pintu.

Aku melihat kak Satya yang berjalan ke arahku, dengan suatu box kotak entah kiriman dari siapa. "Paket dari siapa kak?".

"Dari ibu"

"Coba buka kak, tadi ibu katanya mau ngasih kejutan" aku berbicara sambil membalikan ayam bakar di teplon.

tangan kak Satya telukur dihadapanku. Sejenak aku menghentikan kegiatan memanggang kemudian mematikan kompor.

Dua tiket liburan kini di tanganku. Dengan secarik kertas yang bertuliskan

SELAMAT HONEYMOON ANAK-ANAK IBU DAN AYAH

Sejenak aku dan kak Satya saling pandang.

Dukung terus novel pertamaku dengan like komen dan vote. Terimakasih kepada yang sudah membaca, itu sangat berarti untuku🙏🏻

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!