Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Tari (R )
Tari mondar-mandir di teras mansion dengan perasaan campur aduk. Ada rasa sedih, lega, juga ada rasa marah di hati Tari. Apalagi setelah tahu jika Sofia bersama Reksa.
Sekian lama Tari dan yang lainnya menunggu Reksa dan Sofia pulang, saat mendengar suara klakson mobil milik Reksa langsung menoleh ke arah pintu pagar yang terbuka lebar.
"Akhirnya mereka pulang juga.." Tari bergumam seraya menatap mobil yang baru saja masuk ke halaman mansion.
"Tenang Tari, bibi yakin tuan muda akan menjaga Sofia dengan baik.." bi Marni menepuk pelan punggung tangan Tari berusaha menenangkan.
"Bi, tolong bawa Sofia masuk.." Tari meminta bi Marni untuk membawa masuk Sofia saat melihat mobil Reksa sudah berhenti di halaman mansion.
Pram dan juga Hanum terlihat berdiri tak jauh dari tempat Tari dan Marni berdiri.
Terlihat Reksa keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang bagian depan mobilnya dan menampilkan wajah ceria bocah 10 tahun itu.
Tari dengan cepat berjalan mendekati Reksa dan Sofia. Di ikuti Marni di belakangnya. Dengan kasar Tari menarik tangan putrinya untuk lepas dari genggaman Reksa. Lalu dia sembunyikan wajah putrinya dan pelukannya.
Plak
"Tariii!!"
Suara lantang beberapa orang menyebut nama Tari saat tangan Tari melayang ke arah pipi kiri Reksa begitu keras. Wajah Reksa bahkan sampai menoleh ke kanan saking kerasnya tamp*ran yang di berikan Tari.
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan apa yang Tari lakukan. Reksa syok dengan Tari yang tiba-tiba menamp*rnya.
"Tar___
Marni bermaksud untuk mengingatkan Tari tapi dengan cepat Tari memotong omongannya. "Bi, tolong bawa Sofia kedalam." Tari meminta Marni membawa Sofia pergi dari sana.
"Bunda___
"Sofia sama nenek dulu yaa.." dengan lembut Tari mendorong tubuh Sofia mendekat ke arah Marni.
Marni menggandeng tangan Sofia untuk meninggalkan tempat dimana pastinya akan ada sesuatu yang akan terjadi.
"Maksud kamu apa bawa Sofia tanpa sepengetahuan ku, hah!!"
"Ri, aku cuma ingin ajak Sofia jalan-jalan saja, nggak lebih. Kenapa kamu jadi berlebihan gini sih.."
"Berlebihan, kamu nggak tahu apa yang aku rasakan Reksa. Orang seperti mu nggak akan pernah paham. Karena bagi orang kayak kamu hanya bisa menganggap orang miskin seperti ku benalu di hidup mu !!" Dengan tanpa pikir panjang Tari pun langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang melihat kejadian tadi.
"Tari, tunggu Tar ..Tari !!"
Reksa memanggil nama Tari dan ingin mencegah Tari pergi. Namun suara Pram membuat niatnya mengejar Tari dia urungkan.
"Reksa, berhenti! Biarkan dia pergi. kamu sekarang masuk, papa mau bicara sama kamu!!"
Reksa menatap ke arah kedua orang tuanya yang terlihat menatap tajam ke arahnya. Pram lebih dulu masuk ke dalam rumah. Hanum menatap wajah putranya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Masuk Reksa, kami tunggu kamu di ruang kerja papa kamu.." Hanum melangkah masuk kedalam rumah dan mengekori langkah sang suami.
Reksa membuang nafas kasarnya dan mengacak rambut nya dengan frustasi.
Reksa masuk ke dalam ruangan kerja sang ayah. Di sana sudah ada Hanum dan Pram yang menatap serius ke arah putranya.
"Apa tujuan kamu membawa Sofia,Hem? Kamu sengaja menjemput dia di sekolah? Kenapa nggak kasih tahu Tari, kamu nggak lihat betapa dia ketakutan kehilangan putrinya. Apa yang sebenarnya terjadi antar kamu dan Tari. Kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?"
Rentetan pertanyaan di lontarkan Pram pada putranya itu. Sementara Reksa masih bingung ingin menjelaskan semuanya namun bingung mau dari mana dia bercerita.
"Aku...tadi lewat sekolah Sofia. Ternyata saat aku lewat, anak-anak sekolah mulai keluar gerbang. Jadi aku keringat Sofia yang sekolah disana. Makanya niat aku hanya untuk mengajaknya pulang sama-sama. Tapi nggak tahu kenapa aku ingin main sebentar dengan dia dan salahnya aku nggak ngabarin mama atau bi Marni buat sampaikan ke Tari kalau aku jemput Sofia." Reksa menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya tentang kenapa dia bisa bersama Sofia. Tapi itu bukanlah alasan yang ada di hati Reksa sebenarnya.
"Papa rasa itu bukan alasan sebenarnya kamu bisa bawa Sofia. Papa sekarang mau tanya sama kamu, apa kamu sudah mengenal Tari sebelumnya?"
Reksa yang tertunduk mengangkat wajahnya menatap kedua orang tuanya.
"Maksud papa?"
"Kamu nggak perlu pura-pura nggak tahu maksud papa Reksa, apa kalian sebenarnya sudah saling mengenal dan kalian punya masalah di masalalu. Kenapa papa bisa bilang begitu, karena jelas dari kata-kata dan tatapan Tari sama kamu seperti orang punya dendam. Apa yang sebenarnya sedang kalian sembunyikan dari kami."
Reksa menelan ludah dengan susah payah. Reksa akui, walaupun papanya sudah tak muda lagi, tapi matanya terlalu jeli untuk menganalisa gerak gerik orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Reksa, apa kamu sudah menyakiti Tari dimasa lalu? Jawab Reksa!!"
Reksa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. "Pa, ma, aku akan cerita sama kalian jika memang sudah siap. Untuk sekarang aku hanya bisa bilang kalau memang kami sudah saling mengenal sebelumnya."
Kedua orang tua Reksa pun terlihat menarik nafas panjang mendengar pengakuan putranya.
"Maaf pah, ma, sebelum aku bisa memastikan semuanya, aku belum bisa cerita. Aku mau coba bicara dengan Tari. Aku mau minta maaf dulu soal kejadian hari ini. Wajar kalau dia marah karena aku nggak minta ijin bawa Sofia."
"Sebaiknya jangan sekarang Reksa, berikan Tari waktu buat sedikit tenang." mendengar ucapan Pram, Reksa pun setuju untuk mencoba menemui Tari nanti.
Sedangkan untuk di sisi Tari, terlihat Tari memeluk Sofia dengan erat.
"Jangan pernah tinggalin bunda ya nak, hanya kamu yang bunda punya di dunia ini. Bunda nggak tahu hidup bunda kalau nggak ada kamu Sofia..hiks hiks.."
"Tari, sudahlah ..tenangkan dirimu. Alhamdulillah Sofia sudah ada disini, kita bersyukur ternyata Sofia bersama tuan muda. Tar, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan sama tuan muda itu sudah keterlaluan?" Tari yang masih terisak memeluk Sofia yang terlihat diam saja saat sang bunda memeluk erat tubuhnya.Tari menatap kearah Marni dengan air mata yang masih mengalir dari matanya.
"Tari sadar bi, itu pantas dia dapatkan. Bahkan Tari ingin bukan cuma tam*aran yang pantas dia dapatkan."
"Astaghfirullah Tari, kamu kenapa begitu marah dan kelihatan dendam sama tuan muda. Apa jangan-jangan kalian punya masalah sebelumnya?"
Marni menatap Tari dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Tari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan mengusap air matanya dengan kasar.
"Bunda, jangan marah lagi sama Om Reksa. Dia baik sama Sofia kok, Sofia juga suka main sama Om Reksa." perkataan Sofia yang begitu polos membuat Tari kembali meneteskan air matanya mengingat bagaimana dulu Reksa begitu jahat padanya.
Bersambung
like + 🌹✍️😉