-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 20 - Sebuah Kepergian yang Menyesakkan
“Ba-ca-kan, Is.” kata Ilham.
Gus Faiz Paham betul maksud dari ucapan Ilham. Gus Faizpun mendekati telinga Ilham untuk menalkinkan Ilham. Atau membisikkan syahadat di telinga Ilham untun menuntun Ilham mengucapkan syahadat pula.
“Laa ilaha illallah..” kata Gus Faiz.
Air matanya mengalir deras. Gus Faiz benar-benar tidak menyangka akan mendapati keadaan seperti ini.
“Laa.. ilaha illallah..” Ilham mengikuti Gus Faiz.
Tangis Yeni semakin kencang. Adi yang meski menangis, namun tetap memeluk Istrinya erat. Aaron terus menangis di tempat.
“Laa ilaha illallah..” kata Gus Faiz. Kali ini isakannya juga keluar tidak bisa di tahan.
“Laa ilaha illallah..” kata Ilham lagi.
Ilham merasakan anggota tubuhnya mati secara bertahap. Telapak kaki Ilham mulai dingin, menjalar ke betis hingga ke paha.
Gus Faiz merasa tak kuasa melanjutkan.
“L-lagi.” kali ini Ilham tidak bisa mengeluarkan suara.
Gus Faiz langsung melanjutkan, “Laa ilaha illallah..”
Kini sampailah di kerongkongan, “Laa ilaha illallah..” lanjut Ilham dengan susah payah.
Di akhir kalimat syahadat yang ketiga, mata Ilhampun terpejam sempurna.
“Bang Ilham!” seru Aaron.
Dokter masuk tepat saat Aaron berteriak. Lalu, dokter itu memeriksa denyut nadi, nafas, dan mengonfirmasi memakai refleks cahaya mata. Pada step ketiga ini dokter membuka kelopak mata Ilham secara perlahan, lalu menyalakan senter ke salah satu bola mata dari kanan ke kiri perlahan. Lalu dokter melihat lingkaran kecil di tengah bola mata, bagian itu tetap mengecil yang menandakan Ilham telah meninggal. Lalu untuk memastikan lagi dokter meraba area leher, tepatnya pada arteri karotis Ilham dengan meletakkan jari tangan pada leher bagian tengah atau samping bawah jakun.
“Innalillahi wa innailaihi raajiun.” kata Dokter.
Dokter menggeleng, mengisyaratkan kalau Ilham tidak lagi bisa tertolong. Dokter menutupkan kain pada tubuh Ilham. Gus Faiz yang melihat Wajah Ilham tersenyum dan menengok ke arah kanan, bergeming, terkejut.
“Innalillahi wa innailaihi raajiun.” ucap Gus Faiz, Aaron, Yeni, dan Adi.
“Dokter saya mohon, cek anak saya sekali lagi!” seru Yeni histeris memegang lengan dokter laki-laki itu.
“Maaf kan istri saya, Dok!” kata Adi. Segera menarik Yeni menjauhi dokter.
“Saya turut berduka cita ya, Pak. Saya permisi.” kata Dokter.
“Dokter saya mohon!” teriak Yeni.
Melihat teriakannya tidak direspons, Yeni langsung menghampiri Ilham lalu meraung di sana. “Ilham, kamu hanya tidur kan, Sayang? Tolong jawab Mama, Nak. Mari kita pulang. Mari makan bersama-sama lagi. Kita bisa kembali ke rumah, Nak.” kata Mama.
“Mama, Istighfar, Ma.” kata Adi, memeluk istrinya dari belakang.
Aaron jatuh terduduk. Dia yang tidak terima dengan keadaan langsung menghantamkan tangannya ke lantai dengan keras. Gus Faiz buru-buru menghampiri Aaron dan menarik tangan Aaron agar Aaron tidak lebih menyakiti diri sendiri.
“Istighfar, Ron. Jangan sakiti diri kamu sendiri.” kata Gus Faiz.
“Kenapa harus abang gue, Is? Kenapa?” seru Aaron.
“Allah lebih sayang pada Ilham.” kata Gus Faiz.
Aaron pun menangis. Gus Faiz mengusap bahu Aaron untuk menenangkan.
***
“Apa yang sebetulnya terjadi, Ron?” tanya Gus Faiz.
“Bang Ilham dan Akbar kecelakaan. Gue belum tahu persis apa yang terjadi. Lagi diselidiki polisi.” kata Aaron.
Gus Faiz tersadar sesuatu, dia belum tahu kabar Akbar.
“Akbar bagaimana, Ron?” tanya Gus Faiz. “Di mana dia?” tanyanya lagi.
“Dia di lantai 3, ruangan mawar nomor 1. Tolong urus dia, Is. Walaupun dia penyebab abang gue meninggal, tapi dia jauh lebih menderita dari kita.” kata Aaron.
Belum sempat Gus Faiz menanggapi perkataan Aaron. Adi dan Yeni datang.
“Faiz, Ilham akan kami bawa ke kampung Istri saya. Sukabumi” kata Adi.
“Baik, Om.” kata Gus Faiz.
“Terima kasih ya, Nak.” kata Adi.
“Saya tidak melakukan apapun, Om.” kata Gus Faiz.
Adi menepuk punggung Gus Faiz. Lalu beliau pergi mengurus administrasi untuk keluar rumah sakit.
Gus Faiz menengok ke kanan dan ke kiri. Dia mencari keberadaan Nindy. Sahabat Ilham yang sangat disayangi Ilham hingga saat terakhirnya.
“Cewek itu gak akan dateng.” kata Aaron.
Gus Faiz melirik Aaron. Mencari tahu maksud di balik kata-kata Aaron.
“Gue udah telepon dia pake hape Bang Ilham, bilang Bang Ilham kecelakaan. Katanya mau dateng tapi gak dateng-dateng.” kata Aaron.
“Mungkin dia sibuk.” kata Gus Faiz.
“Lo liat kan, sampai akhir abang gue tetep mikirin dia. Tapi pas abang gue meninggal, dia justru gak dateng. Sibuk? Ah, lo aja sibuk bisa ke sini. Asli gue jadi benci banget sama dia.” kata Aaron.
Karena kamu langsung menjemput saya. –batin Gus Faiz.
Gus Faiz merasa ada yang salah dengan Nindy. Dia merasa Nindy sedang berada dalam masalah. Gus Faiz jelas tahu Ilham adalah satu-satunya sahabat yang Nindy miliki. Nindy tidak mungkin bersikap seperti ini bila tidak ada halangan.
“Jangan membencinya. Dia pasti punya masalah yang serius hingga tidak datang. Kamu tentu sering mendengar cerita Nindy dari Ilham, bukan?” kata Gus Faiz.
Rasanya dia tidak bisa membiarkan Aaron membenci Nindy.
Aaron pun memikirkan kata-kata Gus Faiz. Apa yang dikatakan Gus Faiz memang benar. Nindy memiliki kehidupan yang rumit. Namun, diam-diam dia sangat iri pada Gus Faiz.
“Kalo yang lo bilang bener. Nanti kalau gue ketemu dia, gue bakalan ajak dia kabur.” kata Aaron.
“Tidak, tidak. Nindy milik saya. Kamu tidak boleh membawanya pergi.” kata Gus Faiz.
“Milik saya, milik saya. Emang lo pernah ngeliat mukanya?” tanya Aaron.
Gus Faiz menggeleng, “Belum.”
“Ck, yaudah kalo gue ketemu dia duluan gue bakalan bawa dia kabur.” kata Aaron.
“Tidak, saya tidak mengizinkan kamu untuk membawa dia pergi.” kata Gus Faiz.
“Emang lo suaminya?” tanya Aaron.
“Bukan.” kata Gus Faiz.
“Lo pacarnya?” tanya Aaron.
“Bukan.” kata Gus Faiz.
“Lo temen deketnya?” tanya Aaron.
“Bukan.” kata Gus Faiz.
“Yaudah. Gue bakal deketin dia, pacaran, trus ngajak nikah.” kata Aaron.
Belum sempat Gus Faiz mengajukan protes. Adi dan Yeni pun menghampiri mereka dan mengatakan Ambulan sudah siap.
“Mohon maaf, Om, Tante, dan Aaron, maafkan saya karena tidak bisa ikut mengantarkan Ilham.” kata Gus Faiz.
“Lho kenapa?” tanya Adi.
“Saya harus mengurus Akbar, Om.” kata Gus Faiz.
“Orang tua dia belum datang juga, Aaron?” tanya Adi kepada Aaron.
“Belom, Pa. Keluarganya nggak ada yang dateng satupun.” kata Aaron.
“Orang tua macam apa tidak peduli pada anaknya.” kata Adi.
Diam-diam mereka semua membetulkan kata-kata Adi.
“Baik, kami berangkat dulu ya, Is.” kata Adi.
“Baik, hati-hati di jalan, Om.” kata Adi.
Gus Faiz pun mencium tangan orang tua Aaron. Aaron hanya mengangguk. Dalam hati Gus Faiz sedih sekali tidak bisa mengantarkan Ilham ke tempat peristirahatan terakhir. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Akbar sendirian. Apa lagi setelah mendengar kata-kata Ayah Aaron yang menyatakan kalau tidak ada satupun keluarga Akbar yang menjenguknya.