Bermodal paras cantik dan tubuh yang indah. Gendhis, bukan nama aslinya. Bertahan hidup dengan bekerja sebagai koki di sebuah hotel bintang lima. Namun, sesuatu hal yang tak terduga terjadi padanya, hingga Gendhis bertekad untuk mengambil pekerjaan sampingan sebagai "teman kencan semalam" tamu-tamu VIP hotel Pacifik.
Narendra Arjuna Guinandra, pengusaha di bidang perhotelan dan pariwisata yang terobsesi untuk menyewa jasa Gendhis. Berapa pun budget yang dia keluarkan, dia tidak perduli. Asalkan gadis itu tetap berada dalam genggaman dan menuruti segala perintahnya.
Sebuah fakta terungkap, membuat Narendra terperosok semakin jauh ke dalam dendam dan kebencian atas kejadian yang tidak pernah dilakukan oleh Gendhis. Hingga gadis itu harus berjuang untuk sebuah kepercayaan yang menyakinkan hati seorang Narendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najwa Camelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi bimbang
Happy reading..
Malam semakin larut, bahkan penghuni bumi pun mengistirahatkan tubuhnya untuk memejamkan matanya, meskipun hanya untuk sesaat. Tapi tidak dengan Narendra, saat ini.
Dia masih berada di ruang kerjanya, sambil terus menatap layar monitor di depannya. Manik hitamnya tidak sedikit pun terlepas dari sana. Sudah berjam-jam dia menunggui wanita yang terbaring di atas ranjang empuk dengan merapatkan kedua matanya. Ya, dia adalah Nayaka, perempuan berusia dua puluh tahun yang dibelinya dari Madam Grace di Hotel Pacifik.
Niat awalnya, Narendra hanya ingin membalaskan dendam sang kakak perempuan nya. Tapi diperjalanan yang dia lalui bersama Nayaka membuat hati dan pikiran Narendra menjadi bimbang.
Seorang Narendra Arjuna Guinandra bukanlah seorang pria yang suka bermain-main dengan banyak wanita. Karena dalam pandangan hidupnya, wanita bukan hanya sebagai bahan dari obsesi hasrat liar para pria hidung belang di atas ranjang. Lalu, setelah bosan pria-pria itu akan membuangnya begitu saja, bagaikan seonggok sampah yang tak berguna.
Ada rasa salah dan kecewa berpadu menjadi satu, membentang luas dalam lubuk hatinya. Mungkinkah rasa sesalnya akan dapat mengembalikan kesucian seorang wanita yang diambil secara paksa hanya untuk menepati janjinya pada kakak perempuannya tanpa mencari tahu tentang kebenarannya.
Kesalahan pahaman yang telah terjadi harus kah menguap begitu saja, tanpa adanya penebus sebuah dosa. Ketika bibirnya dapat mengatakan aku akan benar-benar melepaskan mu, karena dirimu tidak sepenuhnya bersalah. Tapi bagaimana dengan hati dan pikiran nya? Apakah semuanya akan baik-baik saja, setelah melepaskan dan memberikan kebebasan pada wanita yang bernama Nayaka, wanita yang telah mengisi hari-harinya belakangan ini?.
Narendra mengerutkan dahinya. Tiba-tiba hatinya dilanda rasa khawatir yang begitu hebat perihal kejadian yang menimpa Nayaka beberapa jam yang lalu.
"Apakah dia mempunyai sebuah trauma berat dalam hidupnya?" Narendra bermonolog sendiri.
Dhuaaaarrrr..
Petir menggelegar begitu kuat di luar, bahkan sebegitu hebatnya hingga menggema ke dalam rumah mewah milik Narendra.
Pria itu bergeming. Beberapa menit kemudian menatap ke luar jendela. Narendra melihat hujan mulai turun dengan begitu deras bersamaan dengan kilatan petir yang menyambar kembali.
Dhuaaaarrrr..
Cahaya kilat berwarna putih sekilas nampak lewat dalam kamar Nayaka, dan seketika mengusik tidurnya yang nyenyak.
"Ibuuu.. Tolong Naya..," pekik perempuan dalam kamarnya sendirian, meringkuk ketakutan dengan apa yang barusan didengarnya.
Mendengar suara dari layar monitornya, Narendra spontan menatap ke arah layar monitor dan melihat Nayaka sedang duduk meringkuk di atas ranjang dengan tubuh yang bergetar hebat. Juga masih memanggil ibunya untuk meminta pertolongan.
Tanpa pikir panjang, Narendra berlari ke arah kamar Nayaka.
Narendra segera membuka pintu kamar dan berlari menghampiri Nayaka yang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Tenang, Nayaka," suara Narendra lembut.
Perempuan itu tidak langsung mengangkat kepalanya, melainkan berteriak histeris. "Pergi kamu! Jangan pukul aku! Ampuni aku!" jeritnya sambil terisak.
"Aku bukan orang jahat, Naya," Narendra kembali bersuara. Ia meraih sebelah sisi tubuh Nayaka dan duduk di sampingnya.
Namun, reaksi berbeda yang ditunjukkan perempuan beriris cokelat itu.
"Jangan sentuh aku!" pekik Nayaka histeris seraya menepis tangan kekar Narendra.
Perempuan itu berusaha meredam rasa sakit di kepala. Gendhis memejamkan mata sembari menahan serangan rasa sakit yang terasa menusuk kepalanya.
"Kemarilah, tatap aku," suara Narendra terdengar kembali.
Kedua mata Gendhis langsung terbuka lebar, saat melihat sosok yang telah mengurungnya di dalam kamar sendirian itu.
"Jangan mendekat!" teriak Gendhis kembali dengan terus menggeser tubuhnya menjauh dari Narendra.
Hening beberapa saat.
Masa lalu kelam yang dialami seorang Nayaka seolah menjadi titik lemahnya. Setiap kali dia dikurung dan mendapatkan kekerasan dalam hidupnya, dia akan merasa dejavu. Mengingat kesadisan dan kebrutalan wanita selingkuhan ayahnya yang memaksa dirinya harus hidup terpisah untuk beberapa waktu dari dekapan lembut sang ibu kandungnya. Mengakibatkan sel-sel pada tubuhnya untuk melakukan sebuah pemberontakan, jika mendengar suara kekerasan dan mengintimidasi otaknya. Ditambah dengan fobia suara petir, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan Nayaka waktu kecil. Hanya dengan berteriak histeris yang dapat dilakukan Nayaka untuk mencari aman dan bersembunyi dalam dekapan rasa ketakutan.
"Kemari lah, aku tidak akan menghukum mu. Sungguh aku bukan orang jahat, Nayaka," Narendra semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Nayaka yang masih menundukkan kepala.
Tangannya terulur ke arah wajah Nayaka, mengangkat dagunya. Lalu, menempelkan kedua tangan kekarnya pada pipi kanan dan kiri Nayaka. Tapi perempuan itu semakin merapatkan kedua matanya, hanya air matanya yang luruh merembes ke pipinya. Bahunya bergetar hebat.
"Maafkan aku," kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir seorang Narendra. "Buka matamu, lihat aku," lirih Narendra seolah memohon pada perempuan di hadapannya itu.
Dengan rasa takut yang masih menjalar di seluruh tubuhnya, Nayaka memaksakan membuka matanya. Kini, manik cokelat itu saling bertatapan dengan manik hitam milik Narendra. Pria itu menatap sendu pada perempuan yang basah oleh air mata di wajah cantiknya.
Sorot mata sayu yang terpancar di wajah kalem Nayaka, seolah menjadi jawaban atas pertanyaan pria yang duduk di depannya.
"Kemarilah," ucap Narendra dengan merentangkan kedua tangannya ke arah Naya.
Hening kembali. Hanya terdengar hembusan napas berat dari Nayaka dan sesekali suara isakan.
Antara rasa takut dan kelegaan yang kini dirasakan oleh Nayaka. Membuat dirinya terdiam, terkadang ia dapat merasakan sikap yang mengintimidasi dan rasa yang memiliki seutuhnya hingga siapa pun tidak boleh ada yang mendekati bahkan menyentuh dirinya. Tetapi terkadang sikap pria itu berubah menjadi lembut bahkan menjadi sosok yang begitu mendamba.
Tanpa menunggu persetujuan dari Nayaka, pria itu segera menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya. "Menurut lah pada ku, agar aku tidak menghukum mu kembali," suara Narendra terdengar semakin melembut.
Nayaka menarik napas panjang seiring dengan anggukkan kepalanya. "Aku tidak akan membantah dan akan menuruti semua perintah mu," kata Nayaka dengan suara parau tanpa menatap ke arah Narendra.
"Jadilah wanitaku. Hanya milikku. Milik seorang Narendra Arjuna Guinandra!" ucap Narendra dengan mengangkat wajah Nayaka pelan-pelan.
Kedua anak manusia itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Manik berwarna hitam milik Narendra seolah menghipnotis Nayaka.
"Bukankah memang hidupku sudah menjadi milikmu, setelah kau membelinya dari Madam Grace?" Nayaka meringis dalam hatinya. 'Bahkan diriku sendiri saja sudah tidak berhak lagi atas tubuhku ini, Tuan Gapian!' gumam batinnya.
Nayaka hanya berani mengumpat dalam hatinya saja. Dia tidak ingin melihat aura kekejaman dari Narendra itu keluar kembali. Dia hanya menginginkan kedamaian dalam hidupnya, dia hanya ingin segera berkumpul kembali bersama ibunya.
Hembusan napas hangat Narendra yang menyapu kulit wajah Nayaka, membuat bulu kuduk nya merinding.
Nayaka membayangkan sosok Narendra seperti di film yang pernah ditontonnya. Pria yang mempunyai dua kepribadian dalam satu tubuh. "Psycho!"
"Aku akan buatkan soup untukmu," kata Narendra beranjak dari duduknya, lantas berjalan keluar kamar.
☘️☘️☘️☘️
dan semoga nayaka berbahagia dengan ...... tuan gapian . yesss 😍
ganbatte, nay 💪💪💪
di novel aja ada judulnya tuh
CINTA DAN DENDAM
atau
CINTA DI ANTARA DENDAM
atau
MENIKAH KARENA DENDAM
awalnya mah dendam, nay.... eehhhh ujung ujung nya duit ...ehhh salah 😅
ujung ujungnya cinta lahhh
kaya miskin
cantik jelek
....... bukanlah suatu patokan akan hadirnya cinta dan kemana cinta akan bermuara .
jadi .... jangan pesimis, nay ..... 💪😁