"Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah tapi mengerti bahwa ada hal yg tidak bisa dipaksakan."
Itulah yang dipikirkan Devinta Dwi Suseno saat mengetahui pria yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya ternyata kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya .
Namun setelah 5 tahun menghindar , takdir berkata lain . Ia kembali di pertemukan dengan Arnold Prayoga , pria yang paling tidak ingin Ia temui .
Bagaimana kelanjutan lika liku hubungan Devi dan Arnold ? Bisakah Devi keluar dari bayang bayang penghianatan Arnold di masa lalu ? Apakah kisah mereka akan berakhir bahagia bersama ?
" Sebab sepanjang kita berjalan, menghindar, berpura-pura tidak mengetahui atau apapun itu, kita akan tetap akan bertemu apa yang ditakdirkan untuk bertemu . "
"Karena pada waktunya, tanpa kau rencanakan pun, jodoh tak akan pernah tertukar."
( Inilah karya pertamaku , Karena Kamu Jodohku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShasaVinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Flashback Chapt 17
Devi POV.
Seminggu telah berlalu.
Aku dengan bodohnya masih menunggu Arnold datang kembali padaku untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan kami .
Aku tetap menjalankan rutinitasku seperti biasa. Pekerjaanku adalah sebuah kewajiban, dan aku tak boleh untuk mengesampingkannya hanya karena masalah pribadiku.
Bahkan aku menyibukkan diriku dengan menambah jam praktek, juga menambah jadwal jaga malamku di rumah sakit.
Aku sengaja menyibukkan diri contohnya seperti hari ini, walaupun terbilang masih pagi tapi aku telah menyelesaikan dua operasi.
Selepas operasi, aku sedang menuju ke ruangan direktur Rumah Sakit.
Tadi saat aku sedang melangsungkan operasi , beliau memintaku untuk datang ke ruangannya.
Ku sapa sekertaris Dokter Pras saat Ia membantuku membuka pintu ruangan.
" Siang Dokter Pras, ada apa dokter mencariku ? " tanyaku setelah aku dipersilahkan duduk.
" Dev... apakah kamu sudah ada keputusan untuk program beasiswa itu ? " tanya dokter Pras.
" Pihak Universitas mengirim email menanyakan kesedianmu. Waktu konfirmasinya tinggal sebentar lagi. Batas akhir pendaftaran ulang dua minggu lagi " jelasnya.
" Aku masih memikirkannya Dokter Pras ", jawabku ragu.
" maafkan aku. Berikan aku waktu seminggu lagi. Kumohon. Aku akan memberikan keputusanku saat itu ", ku coba meyakinkan dokter pras.
" Dev, aku sangat berharap kamu akan mengambil kesempatan ini ",
" Hari minggu nanti akan ada pre-meeting untuk peserta program study yang berasal dari Indonesia. Meetingnya dilangsungkan di Bali. Hanya sehari. Aku ingin kamu menghandirinya, terlepas kamu akan menerima atau menolak ikut program study itu nantinya ", titah Dokter Pras .
" Baiklah aku akan hadir di meeting. Tapi aku sudah memiliki jadwal operasi sampai dua minggu kedepan. Dan aku akan mengatur ulang jadwal operasi hanya pada hari diadakannya meeting. ", aku memberitahukan syarat dariku.
" Deal. Akan ku minta sekertarisku berkoordinasi dengan dokter magang yang mengatur jadwal operasimu "
" Sekali lagi, pikirkanlah. Mengikuti program study ini , empat tahun saja. Ini adalah salah satu jalan meraih mimpimu. Ilmu yang kamu dapatkan akan kamu gunakan selamanya. Dan juga kamu salah satu yang beruntung mendapatkannya. Jangan kamu sia-siakan " Dokter Pras memberiku nasihatnya.
Aku melalui hari-hariku tetap dengan kesibukan di rumah sakit.
Sekarang aku jarang memiliki waktu luang untuk bersantai .
Mama, papa, dan juga bang Devan sangat hawatir padaku karena berubah menjadi orang yang gila bekerja.
Aku tidak ingin berbohong, sengaja ku sibukkan diriku agar aku tak ada waktu memikirkan Arnold.
Sudah seminggu lagi waktu berlalu.
Masih tak ada kabar dari Arnold.
Sesekali aku menerima panggilan dari Mommy Sofi ataupun Nanny Grace, tapi kurasa Arnold belum memberitahu mereka masalah kami .
Lain halnya dengan ketiga sahabat Arnold.
Mereka mengetahuinya.
Thomas sudah pasti akan selalu memihak Arnold.
Sedangkan Max kupikir Ia tidak ingin ikut campur .
Berbeda dengan Willi. Sempat tak sengaja aku bertemu dengan Max, ku tanyakan kabar Arnold dan saat itu Max memberitahuku bahwa hubungan Willi dan Arnold juga sedang renggang.
Kuberanikan diriku menghubungi Willi .
Aku mengkonfirmasi yang dikatakan Max.
Namun Willi hanya menjawab bahwa aku sebaiknya merelakan saja hubunganku dengan Arnold.
Willi berkata aku terlalu baik untuk pria brengsek seperti Arnold.
Entahlah setelah berbicara dengan Willi, aku merasa ada hal buruk yang Arnold sembunyikan selama ini .
Hari ini aku akan berangkat dari Jakarta menuju Bali.
Aku memilih penerbangan paling awal sekitar jam 5 pagi agar aku bisa sampai ditujuan pada pukul 8.
Meeting akan diadakan di salah satu hotel pada pukul 10 pagi .
Setelah beberapa jam perjalanan udara dan juga darat, kini aku telah tiba di tujuanku.
Aku bertemu dengan banyak rekan sejawatku.
Kini kami sedang menikmati coffee break sebelum memulai meeting.
Saat aku baru saja dari toilet, aku melihat sosok seperti Willi sedang berbincang dengan beberapa orang yang tidak kukenali.
Aku menghampiri Willi dan menyapanya.
" Will.... ", Ia berbalik ke arahku dan Ia terlihat sangat terkejut .
" Dev.. kamu disini . Kamu ngapain disini? Kamu sama siapa kesini ? ", Willi mencecarku dengan pertanyaan
Kulihat Ia ijin pada teman bicaranya tadi dan mengajakku ke tempat yang lebih sepi.
" Aku sendiri kesini, karena sedang ada kegiatan dari rumah sakit ", Jawabku pada Willi.
" kamu sendiri ? " Tanyaku singkat
" aku dan yang lainnya sedang menghadiri acara reuni universitas kami. Apa Arnold tidak memberitahumu ? ", tanyanya
Aku hanya menggeleng.
" Shit... ", gerutunya seraya mengusap kasar wajahnya.
" Aku tidak berpikir Arnold sebrengsek ini. Acara ini udah dari tiga bulan lalu direncanakan. Harusnya Arnold sudah memberitahumu ", lanjutnya menjelaskan .
" Sampai kapan kamu disini ? " kini Willi bertanya lagi
" Kegiatanku selesai sore nanti. Aku langsung balik ke jakarta dengan penerbangan malam " ,
" memangnya ada apa ? " tanyaku.
Kini Willi terlihat serius,
" Dev... saat ini hubungan ku dengan Arnold sedang tidak baik",
" Tenanglah, ini bukan karenamu. Ini karena menurutku Arnold telah berbuat kesalahan. Aku ingin memperingatinya, tapi Ia tidak ingin mendengarku ", lanjut Willi.
" Kamu sudah seperti adikku. Kini aku minta kamu berani menyelesaikan masalahmu dengan Arnold. Semakin lama kamu membiarkannya makan nanti kamu akan semakin tersakiti ",
" Arnold menginap di kamar 7025. Ini kunci kamarku, gunakan untuk naik keatas, acara puncak reuni kami akan dilangsungkan jam 8 malam nanti. Jadi jika kamu naik jam 7 malam sepertinya kamu bisa bertemu dengannya ", kata Willi dan memberiku sebuah keycard .
" Beranikanlah dirimu. Temui Arnold. Selesaikan masalah kalian. Percayalah padaku, setelah mememuinya malam ini, kamu akan tahu hal terbaik yang akan kamu lakukan setelahnya ", Willi meyakinkanku .
Setelah pembicaraan kami berakhir, Willi pamit karena masih harus menemui temannya yang lain.
Sedang aku kini sedang mengikuti meeting bersama beberapa dokter yang nantinya akan ikut pada program study di London.
Selama pertemuan aku tidak bisa fokus. Aku terus memikirkan apa maksud dari perkataan Willi. Sepertinya ada sesuatu yang Willi ingin aku ketahui.
Saat sedang makan siang bersama dengan rekan- rekanku di salah satu resto yang ada di hotel , ku lihat dari kejahuan sosok yang sangat ku kenali.
Arnold, thomas, ditambah dua orang pria dan dua orang wanita juga sedang menikmati makan siang di tempat yang sama denganku.
Sengaja aku tidak menemui Arnold pada saat itu karena Aku merasa kata-kata Willi yang memintaku menemui Arnold pukul 7 malam pasti ada alasannya.
Saat hendak kembali ke ruangan meeting, aku coba menghindar dari pandangan Arnold.
Aku bersembunyi dikerumunan rekan-rekan dokterku yang juga sedang makan siang.
Saat meetingku dilanjutkan kembali, aku makin tidak fokus, aku bertanya-tanya siapa wanita yang bersama Arnold tadi. Ada kecemburuan terasa di hatiku.
Hingga tak terasa meeting program study yang ku ikuti telah usai.
Kulirik jam di pergelangan tanganku, 10 menit lagi jam 7 malam.
Aku permisi pada rekan ku untuk pergi sebentar dan akan menyusul mereka ke tempat dimana kami akan malam.
Aku sedikit ragu mengikuti rencana Willi, namun rasa penasaranku membawa langkahku hingga berada di depan pintu kamar yang disebutkan Willi .
Aku masih ragu untuk mengetuk pintunya.
Sesekali kutarik kembali tanganku saat hendak mengetuk pintu.
" Tok.. tok.. tok.. "
akhirnya aku berhasil mengetuk pintunya.
Tak ada jawaban atau suara apapun dari dalam.
" Tok.. tok.. tok.. "
ku ketuk sekali lagi.
Betapa terkejutnya aku ketika pintu terbuka dan kulihat kepala seorang wanita menyembul di balik pintu.
" Cari siapa yah ? " tanya wanita itu.
" Sepertinya aku salah kamar " , ucapku menahan rasa sesak didadaku yang entah kenapa bisa muncul tiba-tiba .
" Memangnya kamu mencari siapa ? Semua kamar di lantai ini di gunakan oleh grup alumni kami, mungkin aku bisa membantumu menemukan kamar yang kamu cari ", tanyanya lagi dengan lembut.
" Aku mencari Arnold. Arnold prayoga ", jawabku.
Wanita tadi yang awalnya hanya membuka setengah pintu, kini membuka pintu lebih lebar.
" ohh. Berarti kamu tidak salah kamar. Disini memang kamar Arnold . Tapi dia sedang mandi. Ada keperluan apa kamu mencarinya ? " tanyanya kini terlihat penasaran .
" Bolehkah aku masuk terlebih dahulu ? Bisa aku berbicara dengan Arnold didalam ? " pintaku.
Tak ku sangka wanita itu membiarkanku masuk.
Aku mengikutinya dari belakang.
Ku perhatikan penampilan wanita itu kini hanya memakai sebuah bathrobe.
Dan dengan cekatan mengumpulkan semua pakaian yang berserakan dilantai kamar hotel.
Ku dudukkan segera diriku di kursi dekat meja rias. Aku takut terjatuh karena kini kakiku lemas seperti jelly .
Sungguh kini semua kemungkinan terburuk antara Arnold dan wanita ini seolah menari-nari dipikiranku.
Membuat hatiku sakit. Dan yang bisa kulakukan hanyalah meremas snelli yang sejak tadi ku genggam.
' Ceklek '
Terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Betapa terkejutnya diriku, kulihat Arnold keluar hanya dengan melilitkan handuk dipinggangnya .
" Siapa tadi yang datang sayang ? Tanyanya pada wanita itu.
Arnold masih tak menyadari kehadiranku karena kini posisinya membelakangiku.
Wanita tadi hanya menunjuk kepadaku dengan tatapan matanya, membuat Arnold berbalik dan terkejut menatapku.
" Devi... kamu disini? Bagaimana kamu tahu aku disini ? " tanyanya
Aku tidak menjawab. Rasanya Aku belum bisa membuka mulutku untuk bicara.
Air mataku tertampung diujung mataku, berusaha ku tahan agar aku tak terlihat menyedihkan di hadapan dua orang yang sudah sangat menyakitiku.
" Sayang, kamu kenal dia? Siapa ? " wanita itu kini bertanya pada Arnold.
" Dia ... dia ... dia temanku dan juga dokter nanny ", itu jawaban Arnold yang ku dengar.
Kulihat Arnold mendekat ke arahku.
Namun aku menghentikan langkahnya menggunakan tangan ku tanpa ada kata-kata yang dapat kuucapkan.
Aku kembali mengedarkan pandanganku, mengamati keadaan kamar hotel.
Ranjang yang berantakan, pakaian yang sebelumnya tadi berceceran di lantai, di tambah penampilan keduanya membuatku meyakini kemungkinan terburuk yang kupikirkan.
Aku menguatkan diriku untuk berdiri.
" Baiklah Arnold. Kini aku mengerti ", hanya itu yang bisa kuucapkan.
lantas aku berjalan keluar dari kamar tanpa berpamitan dan masih berusaha menahan agar air mataku tidak luruh.
Aku memasuki lift dengan harapan Arnold mungkin akan menghentikan langkahku.
Namun nihil, Arnold membiarkanku pergi.
Aku tidak kembali untuk makan malam bersama rekanku, tapi aku langsung menaiki taksi yang terparkir di depan lobby hotel untuk menuju bandara.
Sepanjang perjalanan aku hanya menangis.
Aku tidak bisa lagi menahan air mataku.
Aku baru ingat, wanita tadi adalah Angel. Mantan kekasih Arnold yang masih Ia cintai. Aku ingat pernah tidak sengaja melihat foto Angel di laci meja kerja Arnold.
" Pantas saja Arnold memilih wanita itu. Dia adalah wanita yang dicintai Arnold. Sedangkan Aku, aku hanyalah wanita yang dimanfaatkan oleh Arnold. Dasar bodoh kau Devi, kenapa kamu harus mencintai Pria yang tidak mencintaimu ", aku merutuki diriku sendiri dalam hati.
Penerbanganku ke jakarta masih dua jam lagi, namun rasanya aku lebih baik menunggu di bandara.
Aku ingin segera meninggalkan Bali .
Aku ingin segera melupakan kejadian malam ini yang membuat hatiku hancur berkeping keping .
.
.
.
.
.
.
. to be continue
Semoga Willi dapat rumah ya