NovelToon NovelToon
Pedang Darah Dan Janji Abadi

Pedang Darah Dan Janji Abadi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."

Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.

Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:

"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"

Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Dunia Hancur, Jiwa Mati, Hanya Sisa Dendam

Tiga hari telah berlalu sejak malam pembantaian itu. Li Yao tidak tahu dan tidak peduli ke mana arah kakinya melangkah. Ia berjalan tanpa tujuan menembus hutan belantara yang lebat dan berbahaya. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kurus kering, dan wajahnya penuh dengan jenggot dan kumis tipis yang tumbuh liar.

Namun, yang paling berubah bukanlah fisiknya, melainkan matanya.

Dulu, mata Li Yao selalu bersinar hangat, penuh harap, dan penuh cinta. Kini, mata itu mati. Kedua bola matanya itu gelap gulita, tanpa cahaya, tanpa emosi, layaknya dua buah batu hitam yang dingin.

Ia duduk di bawah sebuah gua batu kapur, menatap kosong ke arah hujan yang turun lagi di luar sana. Suara rintik hujan itu tidak lagi terdengar menenangkan, melainkan terdengar seperti tawa mengejek dari takdir yang kejam.

'Dunia ini hancur...' batinnya bergumam lambat. 'Segalanya yang indah telah hancur. Desa itu, lembah itu, pohon tua itu... semuanya hancur bersamaan dengan kematianmu, Qingyu.'

Di tangannya, ia memainkan sebuah batu kerikil. Batu itu ia remas hingga hancur menjadi serbuk. Kekuatan fisiknya masih ada, bahkan mungkin lebih kuat karena dipicu oleh emosi ekstrem, tapi jiwa yang menghuninya telah mati.

"Li Yao... Li Yao..."

Suara panggilan itu membuyarkan lamunan kosongnya. Seorang kakek tua pengembara yang kebetulan lewat dan melihat pemuda itu duduk termenung sendirian mendekatinya dengan rasa iba.

"Nak, kau tidak apa-apa? Kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya. Wajahmu... wajahmu itu menyedihkan sekali. Seolah-olah jiwamu sudah tidak ada di sana," kata Kakek itu pelan, penuh kehati-hatian.

Li Yao mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap kakek itu, tapi tatapannya hampa. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum.

"Jiwa?" bisik Li Yao, suaranya serak dan berat, terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. "Jiwanya sudah mati terbakar bersama api unggun tiga hari lalu. Yang ada di sini sekarang hanyalah mayat berjalan."

"Jangan bicara seperti itu, Nak," nasihat Kakek itu lembut. "Hidup ini masih panjang. Matahari akan terbit besok, bunga akan mekar lagi, luka akan sembuh seiring waktu. Waktu adalah obat terbaik untuk segalanya."

"Waktu?" Li Yao mengulang kata itu, lalu tiba-tiba ia tertawa. Tawanya tidak bahagia, tawanya dingin dan mengerikan, membuat bulu kuduk merinding. "Kakek salah besar. Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Waktu hanya membuat kita terbiasa menanggung rasa sakit."

Ia menunjuk dadanya sendiri.

"Di sini hancur. Hancur lebur. Tidak ada yang bisa memperbaikinya lagi. Matahari terbit? Biarkan saja. Bunga mekar? Itu hanya ilusi. Bagiku, dunia ini sudah mati. Dunia ini gelap, kotor, dan penuh dengan darah."

Kakek tua itu mundur selangkah, terkejut dengan aura gelap yang dipancarkan pemuda itu. "Nak... dendam itu meracuni hatimu. Kau membiarkan kebencian menguasai dirimu. Itu tidak sehat. Itu akan menghancurkanmu."

"Biarkan saja," potong Li Yao datar, tanpa emosi berlebih. "Aku memang sudah hancur. Tidak ada lagi yang bisa dihancurkan."

Ia berdiri perlahan. Tinggi badannya yang menjulang dan postur tubuhnya yang kekar kini terlihat menakutkan, bukan gagah. Aura yang memancar darinya adalah aura kematian.

"Dulu... aku punya harapan. Aku punya mimpi. Aku punya cinta. Mereka bilang itu hal yang paling berharga," ucap Li Yao pelan, matanya menatap tajam ke kejauhan. "Tapi nyatanya? Hal-hal indah itu paling mudah diinjak-injak. Paling mudah dibunuh."

Li Yao menoleh ke arah Kakek itu, memberikan senyum tipis yang sangat menyeramkan.

"Jadi sekarang, aku membuang semuanya. Harapan? Mati. Cinta? Terkubur. Kebaikan? Hanyalah kebodohan."

Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Yang tersisa sekarang hanya satu. Hanya ini yang bisa membuatku tetap berdiri tegak di dunia yang hancur ini."

Suaranya turun menjadi bisikan yang mematikan.

"Dendam."

Satu kata itu terucap begitu berat, seolah membawa beban ribuan tahun penderitaan.

"Aku akan hidup bukan untuk menjadi baik, bukan untuk menjadi bahagia, tapi untuk menjadi pembalasan. Aku akan menjadi badai yang akan menyapu bersih semua orang yang bersalah. Aku akan menjadi iblis yang akan menelan mereka semua ke dalam neraka."

"Nak, tolong... jangan seperti ini..." Kakek itu mencoba meraih bahunya.

Wush!

Li Yao bergerak mundur secepat bayangan, menghindari sentuhan itu seolah sentuhan itu adalah api yang panas.

"Jangan sentuh aku. Tubuhku ini sekarang milik iblis. Siapa pun yang mendekat, akan terbakar."

Tanpa menunggu balasan, Li Yao melangkah pergi meninggalkan gua itu, menyusuri jalan setapak yang sempit dan curam. Punggungnya semakin menjauh, menghilang di balik kabut dan hutan yang gelap.

Kakek tua itu hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.

"Dunia sedang bersiap untuk menerima monster baru... Kasihan anak itu..."

Di tengah hutan yang sunyi, Li Yao berjalan sendirian. Dunianya memang hancur, jiwanya memang mati, tapi di tengah reruntuhan itu, satu api tunggal tetap menyala terang, membakar akal sehatnya dan membimbing langkah kakinya:

Api Dendam.

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!