NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B-side

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Disisi lain.

 Setelah panggilan telepon diakhiri, Bintang menyandarkan punggung pada sandaran jok pengemudi. Dia terpejam, tetapi bukan berarti ia tidur.

 Dok! Dok! Dok!

 Ketukan pada kaca jendela di sebelahnya mengurungkan niat pemuda itu untuk beristirahat sejenak. Melihat dari balik kaca yang belum diturunkan, presensi tak asing menyapa.

 “Lo datang hanya buat tidur di mobil?” tanyanya heran begitu Bintang membuka pintu.

 Keduanya melakukan jabat tangan dan berakhir dengan pelukan.

 “Cuma mau rehat sebentar,” jawab Bintang.

 “Yang lain sudah kumpul. Ayo kesana!” ajak pemuda dengan balutan jaket hitam putih itu seraya menunjuk sekumpulan pemuda-pemudi yang berkumpul di antar mobil-mobil berkelas.

 Tanpa menolak, Bintang mengangguk dan meninggalkan Noble M600 miliknya.

 “Hei, Guys! Lihat siapa yang baru datang!” seru pemuda yang menjemput Bintang. Panggil saja ia Reza.

 “Wow! Pembalap kita akhirnya sudah datang!” pekik pemuda bergigi gingsul penuh antusias. Dia tidak lupa untuk melakukan jabat tangan yang sama dengan Bintang dan Reza lakukan tadi.

 Bintang pun mulai melakukan hal yang sama pada yang lain.

 Inilah dunia malam Bintang Mahendra Atmadja. Dunia yang menjadikan dia sebagai ‘bintang’ karena ketampanan, kharisma, serta bakatnya dalam menunggangi kereta bermesin itu.

 “Bagaimana kabar lo?” tanya Satria Arkan—sepupu Bintang dari sisi ibunya.

 “Kayak yang lo lihat. Masih tampan tanpa kekurangan,” jawab Bintang penuh percaya diri.

 San berdecih.

 “Sayang, apa kamu sudah tahu kalau sepupumu ini sudah punya pacar?” tanya Kaila menimpali selagi meletakkan lengannya di bahu kiri Satria yang duduk di atas kap mesin mobil Honda NSX berwarna oranye.

 Tanpa ada banyak yang tahu, gadis itu juga memiliki dua kehidupan.

 Mendengar penuturan sang pacar, sebuah seringai terbit di bibir pemuda itu.

 “Benarkah?” tanyanya pura-pura terkejut. “Wah~ Akhirnya lo punya seseorang yang bisa lo gandeng! Selamat, ya! Gue ikut senang dengarnya.”

 “Wow! Serius, Kaila? Apa dia cantik?” Bima—pemuda gingsul—menyahut penasaran.

 Reza mengusap wajah Bima dengan kasar.

 “Lo ini selalu bertanya hal kayak gitu!” protes Reza kesal.

 “Apa salahnya? Bintang, ‘kan, tampan. Tentu saja dia harus punya cewek yang bisa menyelaraskan wajahnya!” kata Bima membela diri.

 Bintang memutar bola matanya. Ia tidak ingin ada pembahasan apapun tentang ini. Tapi apalah daya, ia tidak bisa menebak dan mengerem mulut ringan Kaila yang dengan sengaja mengumbar satu file hidupnya.

 “Kenapa lo nggak bawa dia kesini?” tanya Satria.

 “Merasa nggak perlu aja,” jawab Bintang acuh.

 Sebuah kaleng minuman bersoda ia terima dari Bima. Lalu, membuka dan meneguknya sekali.

 “Dia bukan bonekamu lagi, ‘kan?”

 Pertanyaan itu membuat Bintang tanpa sengaja mengeratkan genggaman pada kemasan minumannya. Dadanya terasa ngilu secara tiba-tiba.

 “Sayang?” Kaila menengahi, lalu melanjutkan, “Dia gadis yang cantik luar dan dalam. Mana mungkin Bintang akan membawanya kesini? Kamu tahu sendiri, ‘kan, kalau saudaramu ini berbeda jika ada di sekolah.”

 San ber-oh ria dan mengangguk paham.

 Bintang benar-benar dongkol. Keputusannya datang kemari membuat dia menyesal. Niat hati ingin bersenang-senang, tetapi malah menjadi bahan ejekan. Andai saja ia tidak memiliki keperluan, dia lebih baik enyah dari sana.

 Sebuah keberuntungan datang tiba-tiba ketika suara klakson mobil memecah atensinya juga yang lain. Sebuah mobil membelah kerumunan secara perlahan dan terus melaju sampai dia sudah berada di dekat Bintang dan teman-temannya.

 Bintang langsung memilih menghampiri si pengendara mobil tersebut. Baginya, ini kesempatan emas untuknya menjauh dari Satria dan Kaila.

 “Hei, apa kabar?”

 Seperti yang sudah-sudah, Bintang mengudarakan tangannya guna melakukan jabat tangan yang sepertinya memang khas milik komunitas di sini.

 “Gue baik. Lo sendiri apa kabar?” Selagi tangannya sibuk membalas tangan Bintang, suara berat itu menjawab sapaan dari Bintang.

 Bintang clingak-clinguk, memperhatikan mobil temannya dengan seksama. Kemudian, dia bersuara, “Gue juga baik. By the way, lo sendirian? Freya nggak ikut?”

 Dia—Farel Arka atau lebih akrab disapa Felix—menggeleng.

 “Dia sedang sibuk ngurusin cafe,” jelasnya.

 Bintang manggut-manggut dan menarik bibirnya hingga terlihat seperti garis lurus.

 “Dia pekerja keras rupanya,” puji Bintang pada gadis yang menjadi topik perbincangan mereka.

 “Iya. Soalnya tadi ada yang buat acara di sana, jadinya dia nggak ikut,” jelas Felix.

 Lagi, Bintang mengangguk.

 “Ayo!” ajaknya singkat diikuti kepala bergerak memberi kode ‘kesana’ .

 Mereka akhirnya berbaur dengan yang lain.

 Malam mulai larut, tetapi volume dari speaker besar yang dipasang belum juga turun satu bar pun. Manusia-manusia di sana sedang sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Ada yang asyik berbincang, menggerakkan badan mengikuti alunan musik, ada yang menyendiri ditemani minuman bersoda, dan ada juga yang hanya menjadi penikmat suasana.

 Tempat parkir luas dari sebuah pabrik terbengkalai ini sudah lama menjadi basecamp dari komunitas tanpa nama yang berisi para pelajar yang menyandang sebagai keturunan orang kaya. Sejauh ini, kenakalan ilegal mereka adalah balap liar yang sering terjadi jika ada yang ingin menunjukkan diri. Untuk alkohol, tentu saja masih belum berlaku di sana.

 “Bintang?” panggil Bima yang baru kembali dari toilet. Sedikit menyikut lengan temannya yang sedang asyik bercengkrama dengan Felix.

 “Apa?” Alis Bintang bertaut.

 “Ada yang nantangin lo,” bisik Bima.

 “Siapa?”

 “Aksa.”

 Bintang bergeming. Bukan menolak, tetapi masih mempertimbangkan.

 “Ok!” finalnya seraya mengangguk angkuh.

...***...

 Noble M600 dan Supra GR itu sudah mengambil ancang-ancang di belakang garis start. Suara mesin mereka saling meraung-raung menyemarakkan teriakan manusia-manusia di tepi arena. Seorang gadis berjalan diantara kedua mobil tersebut. Mengambil jarak beberapa meter di depan keduanya, bendera hitam putih berpola kotak-kotak itu diangkatnya kemudian. Maka, semakin memekakkan telinga suara yang tercipta di sana.

 Setelah tiga hitungan mundur, bendera itu turun. Dengan demikian, melajulah kereta bermesin itu di setiap sisi sang gadis yang tidak gentar berdiri di sana.

 “Ada apa? Kenapa lo telepon gue?” sinis seseorang setelah sambungan telepon terhubung.

 “Apa lo sudah istirahat?” tanya Bintang di jok penumpang bagian belakang.

 Matanya memandang tajam ke arah manusia-manusia heboh yang memunggunginya dari jarak jauh. Dengan topi hoodie yang menutup sempurna kepalanya dan sebuah masker wajah, Bintang melakukan penyamaran yang sempurna.

 “Apa masalahnya antara gue sudah istirahat atau belum? Apa itu buat lo rugi?!”

 “Lo … kenapa kasar banget, sih? Gue, ‘kan, cuma tanya,” kata Bintang dan membenarkan posisi duduk.

 Kini, arah dimana mobil-mobil mewah terparkir secara asal di depan sana yang menjadi titik penglihatannya.

 “Ngomong aja, deh, lo maunya apa? Dan dimana Felix? Berani sekali lo telepon gue di sana?!”

 “Ck!” decak pemuda itu sedikit gerah dengan intonasi sosok yang dia telepon.

 “Kenapa lo nggak datang? Gue rindu lo,” lanjutnya tanpa menjelaskan keberadaan Felix yang sedang dimintai tolong untuk menggantikannya bertanding dengan Aksa Mahesa.

 “Jijik banget gue dengernya?”

 Mendengarnya, Bintang tersenyum miris.

 “Felix mana?!” ketusnya.

 “Dia sedang bertanding.”

 “Lo yang suruh dia?”

 “Gue hanya minta tolong. Gue … sedang malas.”

 “Dasar pecundang!”

 Rahang Bintang mengeras. Ulu hatinya tercubit. Namun, ia hanya melampiaskannya pada genggaman tangan yang mengepal.

 “Jangan sampai terjadi apa-apa pada Felix! Atau gue akan—”

 “Bunuh gue?”

 Gadis itu tertawa. “Rencana lo nggak buruk.”

 “Hei?” Sekasar apapun jawaban yang dirinya terima, Bintang akan dengan halus membalas. “Kenapa lo kasar banget ke gue?”

 Sebuah hembusan napas ditangkap gendang telinga Bintang. Lantas, ia menjawab, “Lo nggak usah ganggu gue lagi! Urus saja Aluna! Kalian sangat serasi dan romantis,” imbuhnya.

 “Apa yang lo lihat nggak sama dengan apa yang gue rasakan,” jawab Bintang. Pandangannya turun dan bibirnya murung.

 Gadis itu kembali tertawa, tapi kali ini terdengar lebih mengejek, “Gue lihat dan merasakannya sendiri, Bintang Mahendra Atmadja.”

 “Jadi … lo cemburu?”

 Bintang tahu, sebuah jawaban baik tidak akan pernah ia terima.

 Tawa di seberang telepon makin menjadi. “Cemburu?! Ke lo?! Pacar gue lebih baik dari lo!”

 “Benarkah?” Tatapan datar Bintang terpaku pada satu titik.

 “Sudahlah! Lo jangan pernah telpon gue lagi. Titik! Kalau nggak ada hal lain dari omongan asal bunyi lo, gue tutup—”

 “Tunggu!”

 Gadis itu berdengung.

 “Cuman tinggal satu minggu lagi, maka semua akan berakhir. Kalau—”

 “Lo gila, ya? Lo benar-benar ambil waktu sesingkat itu untuk pacaran sama Aluna? Lo nggak muak, ya, dengar omongan orang-orang? Please, deh, Bin! Lo jangan main-main dengan gadis seperti Aluna!”

 “Tapi lo yang buat perjanjian itu!” tukas Bintang mengingatkan.

 “Iya! Tapi nggak seharusnya juga lo hilang akal sampai nggak mikirin perasaan Aluna, Bin! Jangan selalu bertindak gegabah bisa nggak, sih?! Buang jauh-jauh tuh Beast’s Attitude!”

 Bintang sudah mencoba untuk menahan, tapi kalimat terakhir gadis itu terlalu menyakitkan.

 “Baik!” seru Bintang termakan emosi. “Cuma sampai tanggal empat bulan depan! Sebelum first month anniversary, gua pastiin lo menyesal dengan permainan bodoh yang lo buat ini!”

 “Wow! Menakutkan!” ejek gadis itu. “Setuju! Gue tunggu sampai saat itu. Tapi …, apa lo yakin ….”

 Dengan wajah serius bercampur marah, alis pemuda itu bertaut.

 “... lo nggak bakal jatuh lebih dulu?”

 “NGGAK AKAN!” tegas Bintang.

 “Lo serius? OK! Gue akan menantikan itu, Tuan Muda Bintang.”

 “Dengar, ya … lo sendiri juga harus hati-hati, Nona. Jangan kira lo nggak akan berpaling ke gue sebelum gue putusin Aluna!”

 “Wah~ gue takut banget,” ledek ‘Nona’ dan memancing amarah Bintang kian membesar.

 “Lo sendiri yang ciptain permainan ini, Nona. Pastikan diri lo nggak makan aturan lo sendiri! Sesuai perjanjian … kalau gue nggak ada perasaan apapun ke cewek itu, maka lo harus ngakuin ke kalahan lo dan lo harus jadi pacar gue. Titik! Nggak ada bantahan!”

 “Lo benar-benar gila, Bin!”

 “Itu konsekuensi karena lo maksa perasaan gue untuk gadis lain. Maka dari itu, lo juga harus membayar dengan perasaan lo juga.”

 Bintang mengeraskan rahang.

 “Akh! Sudah! Sudah! Lama-lama ngobrol sama lo buat gue ikutan gila! Nggak usah hubungi nomor gue sampai tenggat waktu yang lo buat! Gue nggak bakalan terima panggilan dan pesan lo. Ingat itu!”

 Panggilan berakhir dan Bintang langsung melempar telepon genggamnya ke bantalan jok di sampingnya. Kedua tangan itu mengepal erat sampai urat-urat di bawah kulitnya terbentuk di permukaan. Hatinya sangat tidak terima mendengar ucapan seseorang yang sudah ia kagumi dan incar selama satu tahun terakhir ini.

 Andai bukan karena sebuah balas dendam, Bintang tidak akan pernah menerima permainan itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!