Berdua, saudara kandung!!!
Indah, gadis mandiri dengan disiplin yang tinggi membuatnya lebih sering sendiri, dingin dan tak banyak bicara. Pecinta warna biru. Wanita terlalu cengeng dan lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika dalam memutuskan dan berbuat sesuatu. Untuk itu dia lebih suka bermain dengan laki - laki daripada teman perempuannya, kecuali cewek yang sepemikiran dengannya.
Ibnu, Pria tampan yang tak mau menyakiti perasaan wanita karena tak ingin adik perempuannya tersakiti.
Indah dan Ibnu terpisah sejak Indah dilahirkan ke dunia.
Konflik batin terjadi saat Indah mengetahui tentang jati dirinya dan berakhir saat ia sadar bahwa dirinya membutuhkan saudara laki - laki dan Indah memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Norma Indah Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Aku (4)
Mentari pagi menyinari dunia, Sejuknya udara saat itu membuat Indah malas bangun pagi.
Namun hal itu tidak menghalangi keinginan Indah untuk tetap pergi ke Sekolah.
Jam 06 : 00 Indah telah siap berangkat ke sekolah, tinggal menunggu Pak Ahmad.
Lima belas menit Indah menuggu Pak Ahmad, tapi beliau tidak datang. Indah memutuskan untuk membawa sepeda dan berniat menitipkan sepedanya di rumah Ika, sahabatnya karena Indah khawatir sepedanya akan ketinggalan lagi di sekolah yang saat ini menempati sekolah lain.
Saat jam istirahat, Seperti biasa Ika sering pulang ke rumah karena jaraknya yang memang dekat dengan sekolah yang sekarang mereka tempati. Indah juga sering ikut Ika kerumahnya. Bermain sejenak bersama Ika atau sekedar menunggu di teras saat Ika ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Sebelum bel masuk kelas berbunyi, mereka telah kembali ke sekolah.
Sepuluh menit kemudian, terdengar bel berbunyi tiga kali pertanda sekolah usai. Semua Siswa segera berhamburan keluar kelas karena mereka bisa pulang lebih awal.
Hampir saja Indah melupakan sepedanya, untung saja Ika mengingatkan.
Hey, hey, kamu mau pulang kemana? Ika menarik tangan Indah yang mulai melangkahkan kaki keluar dari gerbang sekolah.
Yah... nanya lagi! Ya mau pulang ke rumah aku donk, masa iya ke rumahmu? Sambil tersenyum Indah menjawab pertanyaan Ika.
Kamu mau naik apa? Ika mengusili sahabatnya, padahal Ika tau kalau Indah melupakan sepeda yang tadi pagi dititipkan dirumahnya.
Karena Pak Ahmad tidak menjemput ku, maka aku akan jala kaki bersama Nurika! Indah menjawab dengan santai.
Ohh, Pak Ahmad tidak datang mengantarmu tadi pagi? Tanya Ika dengan santai. Sementara Nurika sudah jalan kaki terlebih dulu bersama Redy teman satu becaknya.
Iya! Indah masih juga lupa akan sepedanya.
Kalau tadi pagi kamu tidak berangkat dengan Pak Ahmad, kamu naik apa? Ika mulai tidak bisa menahan tawanya, tapi Indah belum juga paham maksud pertanyaan sahabatnya.
Aku...... Aku.......! Indah mulai berpikir.
Ya sudahlah, bagaimana kalau kamu ke rumah aku dulu. Kita jalan - jalan ke GOA lebar. Setelah itu kamu pulang bawa sepedaku! Karena tidak sabar menunggu jawaban Indah, Ika mengalihkan pembicaraan.
Ayo! Indah menyetujui usul Ika. Mereka berjalan menuju rumah Ika. Di sana Indah melihat sepedanya, tapi masih saja dia tidak mengingat bahwa sepeda itu miliknya. Dia mengira bahwa itu sepeda milik Ika karena Ika memiliki sepeda yang sama dengan Indah. Hanya saja lebih tinggi milik Indah.
Aku simpan tas dan sepatuku dulu ya? Tanpa menunggu jawaban dari Indah, Ika masuk ke dalam rumah untuk menyimpan sepatu dan tas sekolahnya.
Setelah Ika kembali dari dalam rumah, Indah menitipkan tas sekolahnya pada Ika. Mereka berjalan - jalan di sekitar Goa Lebar yang dekat dari rumah Ika.
Sambil berjalan - jalan disekitar Goa, tiba - tiba Indah teringat akan apa yang dikatakan tante Sari. Indah bermaksud untuk menanyakan hal itu pada Ika karena yang Indah ingat Tante Sari mengatakan bahwa rumah orang tua kandungnya di Jalan Pahlawan. Ya, alamat yang di sebutkan Tante Sari adalah dekat rumah Ika.
Ka! Indah mulai membuka pembicaraan
Ya! Sambil menepi di mulut Goa.
Apa kamu kenal Ibnu? Meski awalnya ragu, Indah tetap menanyakan hal itu pada Ika.
Iya, kenapa? Mereka mulai duduk di tepi Goa.
Siapa dia? Indah bertanya karena penasaran.
Ika mulai menjawab pertanyaan Indah dengan menceritakan tentang Ibnu. Sedangkan Indah mendengarkan dengan seksama.
Mamanya adalah sepupu dari Ummi ku. Dia ditinggal Bapaknya merantau dan Ibunya pergi ke Mekah untuk bekerja. Dia punya adik perempuan yang dititipkan pada orang lain.
Tak banyak yang Ika katakan.
Terus... Dimana Ibnu sekarang? Kok aku ga pernah lihat dia saat aku main ke rumahmu? Indah bertanya seolah dia telah mengenal Ibnu. Padahal dulu saat kelas dua SD dia hanya tau Ibnu anak Pak Salim.
Iya, memang dia tidak disini. Dia dititipkan di rumah famili nenek dari Mamanya di kota M.
Tak banyak yang Ika tau tentang keberadaan Ibnu.
Kamu kenapa tanya tentang Ibnu? Ika penasaran kenapa sahabatnya menanyakan hal itu.
Ga ada apa - apa kok! Aku hanya pernah bertemu dengannya dan aku dengar kabar kalau tempat tinggalnya dekat dengan rumah kamu. Makanya aku tanya tentang dia sama kamu! Indah menyembunyikan tujuan utamanya menanyakan tentang Ibnu.
Kamu naksir ya? Ika menggoda sahabatnya.
Ga juga! Udah ah, kita pulang yuk! Dah siang nih, aku ga mau ibu aku khawatir sama aku.
Indah mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Ika pulang.
Di jalan pulang ke rumah, Ika kembali menggoda Indah. Kamu pulang bawa sepedaku ya?
Emang boleh? Indah meragukan tawaran Ika.
Ya bolehlah, aku kan orang baik! Hehe....
Tiba di rumah Ika, Indah meminta tas yang tadi dititipkan pada Ika. Sebelum pulang Indah pamit pada Ika dan Ummi nya. Indah lalu mengayuh sepeda yang dipinjamkan oleh Ika. Sebelum pulang, Ika memperingatkan agar sepeda itu dibawa atau dikembalikan besok pagi.
Saat mengayuh sepeda, Indah baru menyadari bahwa sepeda itu adalah miliknya sendiri yang tadi pagi ditititpkan di rumah Ika.
Ngapain aku balikin, ni kan sepedaku sendiri!
Bodohnya aku yang lupa kalau tadi pagi aku pergi ke sekolah naik sepeda, padahal Ika sudah berkali - kali mengingatkanku! Indah merutuki dirinya sendiri yang baru sadar dari lupa.
GOA LEBAR