NovelToon NovelToon
Dear Dave

Dear Dave

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.

Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?

Semoga suka♡♡♡

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketemu lagi

Perasaan Talisha masih dongkol ketika sudah kembali ke perusahaannya. Pertengkarannya dengan Jani tadi membuat dia semakin membenci Rhea.

Rhea lagi.

Rhea lagi.

Bosan.

Batinnya menggerutu marah.

Apa, sih, yang mereka lihat dari Rhea? dengusnya dalam hati.

Jani.

Moli.

Sekarang Baskara.

Talisha mendengar suara derap langkah yang sangat dihapalnya. Jantungnya sudah berdebar ngga karuan.

Baskara sebentar lagi akan mendekati mejanya.

"Talisha, ke ruanganku."

Talisha menganggukkan kepalanya.

Dia mengambil tabletnya, karena akan memberitaukan rincian acara kerja laki laki itu siang ini.

Dia menatap Baskara yang sudah duduk di kursinya dengan perasaan campur aduk.

Tampan, asli pribumi.

Tapi Dave lebih menawan dengan mata birunya.

Perasaannya terasa plin plan.

Dave sudah menolaknya. Opanya sudah cukup kecewa mendengarnya hingga memutuskan pulang bersama dengannya malam itu juga.

Haruskah dia berharap lagi pada Baskara?

"Belum.ada kabar tentang Rhea?"

Uugghhh..... Kekesalan Talisha kembali lagi.

"Belum."

Baskara menghela nafas tanpa menatapnya.

Padahal dulu waktu SMA, Talisha sering melihat tatapan aneh Baskara padanya, saat berkumpul bersama tiga temannya. Sekarang tatapan itu sudah tidak ada lagi.

Baskara sekarang tampak ngga peduli dengannya yang ada di depannya.

"Rhea sudah punya pacar, Lis?"

Talisha tercengang sesaat mendengar pertanyaan tak terduga dari Baskara.

"Nggak." Dirinya, Rhea, Jani, dan Moli memang belum punya pacar. Tapi dia sudah punya idaman sejak dulu, Baskara. Sejak SMA.

Kenapa sampai sekarang Baskara belum juga menembaknya? Sudah dua tahun dia menjadi sekretaris laki laki crushnya itu.

"Syukurlah."

Talisha merasa ada yang salah ketika melihat wajah lega Baskara.

"Emm.... maksudku, Rhea, aku, Jani dan Moli....., kami memang belum punya pacar."

Baskara mengangguk dan kini menatap Talisha membuat jantung gadis itu seakan berhenti berdetak.

Tapi tatapan itu kenapa jauh berbeda dari biasanya? Talisha tidak temukan lagi tatapan tajam atau tatapan teduh dan lembut Baskara seperti dulu.

"Aku pikir Rhea pergi bersama pacarnya."

Rhea lagi, umpat Talisha geram dalam hati.

"Kenapa?" tanyanya memberanikan diri. Kalimat tanyanya terlalu pendek. Sebenarnya yang ingin dia tanyakan, Kenapa kalo Rhea pergi dengan pacarnya? Tapi lidahnya terasa kaku.

Baskara tersenyum tipis, kemudian berdiri dari duduknya. Dia menjauh dari kursinya dan meletakkan kedua tangan di saku celananya. Memunggungi Talisha.

"Sebenarnya sejak SMA, aku menyukai Rhea."

DEG! DUARR!!

Kalo terjadi gempa, mungkin saat ini tubuh Talisha sudah dihimpit beton yang sangat besar dan berat, lengkap dengan besi besi cor corannya yang menembus daging dan tulangnya. Hancur remuk.

Saat Baskara berbalik menatapnya, Talisha belum sempat menyembunyikan perasaan terguncang dan pucat pasi di wajahnya.

"Kaget, ya?" Baskara sepertinya bisa memaklumi reaksi Talisha.

Talisha hanya bisa mengangguk dengan wajah yang pasti masih pucat dengan detak jantung melemah.

"Saat kamu bekerja di sini, aku lega ...., karena ngga lost contac dengan Rhea."

Talisha yakin tatapannya saat ini kosong.

Jadi? Dia hanya perantara?

Pengakuan Baskara semakin meluluh lantakkan hati Talisha. Ngga nyampe dua puluh empat jam, dia sudah mendapatkan dua penolakan.

"Ternyata kami akan dijodohkan. Saat aku ingin mengabarkan pada Rhea, dia malah menghilang. Sampai sekarang papa dan tantenya belum menemukan dia."

Baskara menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Tanpa mengetahui kalo gadis yang sedang diajaknya bicara sudah mau pingsan

"Makanya aku minta tolong sama kamu dan Jani, kalo ada info tentang Rhea, tolong kabari aku," sambung Baskara lagi. Kemudian dia kembali memunggungi Talisha.

Talisha memegang sandaran kursi untuk menumpu tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.

Ingat lagi tatapan tatapan penuh makna Baskara waktu mereka masih SMA atau saat sekarang, ketika mereka bertemu di luar jam kantor.

Talisha baru paham sekarang kalo tatapan tatapan itu bukan untuknya. Tenyata untuk Rhea. Dia baru sadar, saat dia tidak sedang sendirian, Baskara menatapnya penuh makna dan harapan. Karena ada Rhea di dekatnya.

Bodoh! makinya dalam hati.

Pantasan tatapan tatapan itu berbeda.

Punggung kemejanya basah semakin basah karena dibanjiri oleh keringat dinginnya.

Jadi selama bertahun tahun dia sudah ditipu perasaannya sendiri.

"Saya permisi, pak," pamitnya tanpa.menunggu jawaban Baskara. Dia butuh menjauh sejenak dari Baskara sebelum menentukan langkah selanjutnya yang akan dia ambil.

Rhea benar benar sudah merampas yang dia inginkan.

Baskara hanya menoleh sekilas menyaksikan kepergian Talisha yang terburu buru tanpa berkata sepatah kata pun. Dalam pikirannya, Talisha pergi karena akan mencarikan informasi sesegera mungkin tentang keberadaan Rhea.

*

*

*

Malam ini Rhea memutuskan berjalan jalan saja ke mall dari pada terkurung di apartemen setelah diantar pulang tadi oleh supir Tante Puspa. Dia punya banyak uang cash yang diberikan kakaknya, juga kartu debit dan kredit dari Tante Puspa.

Kalo dipikir pikir dia termasuk orang yang beruntung, padahal sudah membuat kesalahan fatal yang membuat papanya marah besar. Tapi masih bisa hidup senang, ngga kekurangan uang dan punya tempat tinggal cukup mewah.

Tanpa lelah dia masuk dan keluar di tiap toko di dalam mall yang tidak terlalu banyak orang. Rhea merasa aman berada di sana.

Rhea menyentuh pakaian yang kelihatan menarik di matanya. Dia bisa membelinya dengan menggunakan uang yang diberikan kakaknya. Tapi dia jadi ragu karena teringat pakaian di lemarinya yang masih banyak dan mereknya pun belum dilepas. Dibelikan Tante Puspa dengan bantuan keponakan keponakannya.

Ngga apa, ya, kalo hanya beli satu, batinnya sambil tersenyum. Dia pun meraihnya.

"Mau beli, kak?" senyum seorang gadis muda penjaga toko terkembang.

Rhea balas tersenyum.

"Iya. Yang ini, ya."

"Oh, baik, kak."

Rhea mengikuti gadis penjaga toko itu ke kasir.

"Pake cash atau kartu, kak?" tanya mbak kasir sopan.

"Cash aja," sahut Rhea. Dia mengeluarkan uang lembaran merah dan menghitungnya di depan kasir.

Dua juta, batinnya. Dia pun menyimpan sisa uang yang dia keluarkan.

"Ini." Rhea mengulurkannya dna diterima mbak kasir. Dihitung ulang sambil dius@p. Mungkin sekalian buat dicek apakah uang asli atau bukan.

Ngga lama kemudian Rhea menerima paper bag yang berisi pakaian yang dia bayar. Senyumnya terukir manis. Saking senangnya, saat melihat lagi pakaian itu sambil berjalan, tanpa sengaja dia hampir menabrak seseorang.

"Maaf," ucapnya reflek, karena kaget.

"Maaf juga. Aku juga ngga perhatiin jalan," balas laki laki yang hampir dia tabrak. Sangat ramah.

Rhea tersenyum mendengarnya.

"Habis belanja?" tanya laki laki yang berwajah tampan itu berbasa basi ketika melihat Rhea akan pergi.

"Iya." Rhea jadi mengurungkan langkahnya.

"Di cari cari malah di sini. Loh, lagi belanja juga, miss?"

Rhea merasa dia sudah dikutuk papanya. Padahal seharian tadi sudah lega karena tidak bertemu dengan si jomblo ini, tapi sekarang si jomblo ini sudah ada di hadapannya.

"Kamu kenal, Dave?" tanya laki laki yang hampir ditabrak Rhea.

"Guru keponakan gue di kindergarten," jelas Dave sambil menatap Rhea dengan tenang. Matanya melirik sekilas paper bag di tangan Rhea. Kedua tangannya berada di saku celananya, cara berdirinya juga santai.

"Oooh.... Kenalkan. Aku Edwin," ujarnya sambil mengulurkan tangannya pada Rhea.

Rhea menyambut segan uluran tangan itu karena dia merasa Dave mengawasinya dengan kilatan tajam netranya.

"Rhea."

Edwin tersenyum sambil melepas jabat tangan itu.

"Anak anak udah nungguin. Buruan," tukas Dave masih menatap Rhea tajam.

"Santai bro. Kamu mau ikut gabung? Ada yang perempuan juga, kok," tawar Edwin hangat.

"Ngga usah. Dia harus pulang. Besok, kan, mau ngajar. Nanti malah bangun kesiangan." Dave malah menjawab dengan cerocosan yang panjang.

Rhea menatap kesal. Enak aja, batinnya ngga terima dibilang bangun kesiangan. Dia juga ngga niat gabung.

"Kan, bisa pake alarm. Gabung aja, Rhe. Nanti aku antar kamu pulang," rayu Edwin.

Dave memicingkan alisnya.

"Trus, si Daniar pulang sama siapa? Bukannya tadi kamu bareng dia?" cecar Dave.

Edwin berdecak.

"Sama kamu, kan, bisa?" Edwin berkilah dengan santai.

"Enak aja," tolak Dave mentah mentah. Kemudian matanya menatap Rhea lebih tajam.

"Kamu pulang sana. Awas besok datangnya telat," usir Dave galak.

"Ini juga mau pulang," ketus Rhea sambil melangkah pergi. Tapi sebelumnya dia sempat melototkan matanya pada Dave.

"Hati hati, Rhea....," seru Edwin sambil melambaikan tangannya yang dibalas Rhea dengan senyum tipis sambil terus melangkah pergi.

'Kamu ada masalah apa dengan guru keponakanmu itu? Padahal kalo dia gabung, ngga masalah, kan. Dia juga bukan anak kecil yang ngga pernah begadang," omel Edwin sambil menjejeri langkah Dave.

Dave ngga menyahut. Dia juga heran, kenapa tadi bisa bersikap begitu pada Rhea. Hatinya kesal aja tadi melihat Rhea membalas ramah perlakuan si buaya Edwin.

1
sleepyhead
Emg disturbing sih, kalau byk orang-orang yg grouping dan toxic di lingkungan kerja kita...
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...

Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
sleepyhead: emang ngeselin kan Thor, perlu di beri paham ini miss² resek ni 😁🤭
total 3 replies
Rahmawati
ayo dave cepetan sblm Rhea di temukan oleh papanya, km gk rela kan kl Rhea menikah dengan orang lain
Ranita Rani
q ikutan t3gang nie,,
Herman Lim
nazar nanti di pulangkan kllo dah jadi mantu Airlangga 😃😃
Lia Kiftia Usman: doa semoga lebih dulu dave bertemu rhea..🤲
total 1 replies
Herman Lim
Edwin mau rebut gebetan dave harus lwtin barisan para apak muda dulu
🔵MENTARY
Hahaha🤣🤣🤣Dave panik Rhea mau di jodohkan
Lusi Hariyani
klo sdh msk ke keluarga mereka g bakal bs lepas
Zea Rahmat
panik kan dave🤣🤣🤣🤣🤣
Zea Rahmat
masa keluarga Airlangga bisa di ancam... ancam. balik dong🤣🤣
🔵MENTARY
Rival Dave, Baskara dan Edwin 🤣🤣🤣
anggita
like 👍iklan☝☝
Rahmawati
ayo dave masak km gk mau deketin rhea jg, emg km rela Rhea sama Edwin?
sleepyhead
Good choices, Abaikan aj hahaa
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 Mereka semua Buaya ulung yg insaf bro, jangan bermain main 😝 berbahaya kalau sdh berurusan dgn mereka apalagi berani menyentuh yg sdh digariskan utk circle mereka..
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk
Zea Rahmat: iya betulll🤭🤭
total 6 replies
Lusi Hariyani
dave sainganmu akn dtg lg lho jgn bnyk mikir ntar rhea pergi km nyesel
Paksi Winatha
typo thour ke jakarta bkn ke jakarat🫣🫣🫣🫣🤣🤣🤣/Curse//Curse//Curse//Curse//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Rahma AR: j😄......
total 1 replies
Evi Solina
Hayoloh Dave saingan Lo muncul di sekolah😆
Rahmawati
Edwin gercep eyy, langsung nyamperin Rhea ke sekolah
Lusi Hariyani
bpk y rhea bnr2 dech...🙏
🔵MENTARY
Melipir Erwin, Rhea udh di targetkan calon Bini Dave/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!