Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Malam pun tiba, saat-saat mereka nantikan. Tamara dan Alvian sibuk membangun tenda, meskipun terdengar jelas suara pertengkaran antara keduanya. Sedangkan Sarah dan Daffa sibuk menyiapkan bahan makanan yang akan di pakai untuk di panggang.
"Oh iya, Marvin katanya mau nyusul. Gak apa-apa kan? Udah gue share lokasinya ke dia," teriak Alvian, agar ucapannya dapat di dengar oleh Sarah yang berdiri tidak jauh darinya.
"Hah? Marvin mau ke sini?" tanya Tamara memastikan.
"Iya."
"Katanya dia ada urusan?" tanya Sarah sambil menatap Daffa meminta penjelasan.
"Iya. Tapi tiba-tiba Marvin telepon katanya dia bakal nyusul ke sini. Seharusnya sih dia sebentar lagi sampai."
"Dia kok nggak bilang sama gue sih?" Tanya Sarah.
"Ah iya gue lupa. Lagi pala lu pasti senang kan? Ini kan bisa jadi kesempatan lo buat deketin Marvin," sahut Daffa dengan entengnya.
Sarah melempar daun bawang ke arah Daffa karena kesal." Pikiran lo negatif mulu deh ke gue. Dengar ya aku itu udah mulai move on dari Marvin." Ujar Sarah dengan tegas.
Daffa hanya terkekeh mendengar penuturan Sarah yang menurutnya tidak masuk akal." Oh ya?" tanyanya tidak percaya.
Sarah berdecak sebal, ia menatap tajam ke arah Daffa yang terlihat sangat menyebalkan. Dari dulu sampai sekarang, Daffa memang selalu menjadi musuh terbesarnya. Ia tidak bisa membaca pikiran laki-laki itu, terkadang laki-laki itu bersikap baik padanya tapi terkadang juga laki-laki itu sangat menyebalkan.
Tidak lama suara motor terdengar dari pekarangan villa. Mereka sangat yakin bahwa itu merupakan suara motor milik Marvin. Sial, kenapa rasanya saraf tidak siap untuk bertemu kembali dengan Marvin semenjak masalah tugas kelompok itu.
"Kayla!!" Teriak Tamara, membuat Sarah yang sedang melamun langsung menoleh.
Sarah melihat Kayla turun dari motor Marvin dengan senyum yang merekah. Gadis itu kemudian memeluk Tamara yang sudah berlari ke arahnya, meninggalkan Alvian yang mengoceh karena tenda yang hampir jadi kembali rusak karena Tamara melepas pegangannya. Sedangkan Sarah masih terpaku di tempat, ternyata Marvin datang bersama Kayla. Ah, entahlah rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Tidak. Tidak.
Sarah tidak boleh serakah seperti dulu. Ia harus berusaha menahan hatinya. Tapi bagaimana caranya Dia melupakan laki-laki itu ketika takbir terus-menerus mempertemukannya dengan laki-laki itu.
"Sarah, sini!" Panggil Tamara.
Sarah tersadar, ia pun buru-buru berlari ke arah Kayla dan langsung memeluk gadis itu." Gue seneng banget kalau lo ikut liburan sama kita." Ucap Sarah dengan tulus. Terlihat senyuman manis terpampang jelas di wajahnya.
"Kok lu bisa diizinin ke sini? Gimana ceritanya?" tanya Tamara penasaran.
"Nanti deh gue ceritain," ucap Kayla.
Marvin yang sedari tadi diam di belakang, segera menghampiri kedua temannya yang sedari tadi mengomel karena Tamara.
"Vin, bantuin gue pasang tenda dong. Itu anak curut ngerusak mahakarya gue, jadi gue butuh bantuan lo sekarang." Ucap Alvian dengan nada kesal.
Marvin melirik ke arah tenda yang sudah tidak berbentuk itu, laki-laki itu kemudian berjalan dan meletakkan tas miliknya di atas rerumputan kemudian melepas jaketnya. Marvin kemudian menggulung lengan kaosnya hingga ke siku dan mulai mendirikan tenda.
"Lo bisa masang tenda?" tanya Daffa ketika melihat Marvin yang dengan mudahnya mendirikan tenda.
"Menurut Lo?" Jawab Marvin tanpa mengalihkan tatapannya." Mending mau bantuin gue pegang ini deh," ujar Marvin.
Marvin pun membangun tenda dengan bantuan Daffa dan juga Alvian, meskipun sebenarnya hampir semuanya dikerjakan oleh Marvin sendiri karena kedua teman itu lebih banyak bercanda daripada mendirikan tenda.
Sedangkan Sarah, Tamara dan Kayla sibuk melanjutkan acara memasak yang tadi sempat tertunda.
Mereka pun menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama. Saking asyiknya Sarah bahkan sampai melupakan keberadaan Marvin dan sedari tadi hanya diam dan sesekali tertawa kecil mendengar lelucon Alvian dan Daffa.
"Sekarang giliran lu yang putar, Kay," ucap Daffa sambil memperbaiki letak botol yang dipakai dalam game truth or dare.
Kayla kemudian memutar botol itu dan ujung botol seketika berhenti pada Sarah. Semua orang sontak bersorak sedangkan Sarah sendiri menunjukkan wajah yang pura-pura kesal.
"Truth or dare?"
Sarah berpikir sejenak." Truth."
"Eum, apa penyesalan terbesar dalam hidup Lo?" tanya Kayla.
"Yaelah Kay, pertanyaan lo kaku banget deh," sahut Alvian yang langsung dibalas pukulan oleh Tamara.
"Udah Kay, jangan didengerin manusia jahanam ini. Lanjut Sar, jawab pertanyaannya."
Sarah terdiam sesaat, ia kemudian memeluk kedua kakinya mengingat suhu di sekitar sudah mulai menurun.
"Sebenarnya gue punya banyak penyesalan, salah satunya gue menyayangkan hidup gue yang kayak gini," Sarah terdiam sesaat.
"Gue naif, jahat, kurang ajar, enggak berperasaan, suka foya-foya dan hidup gue nggak bener. Apalagi ya? Kayaknya banyak banget deh keburukan dalam hidup gue. Bahkan sebelumnya gue pun jahat ke kalian terutama sama Kayla."
Sarah kemudian menatap Kayla yang juga sedang menatapnya." Gue mau minta maaf ya, kali ini gue serius buat minta maaf ke lo." Bujur Sarah kemudian tatapannya beralih pada Marvin." Maaf."
Kayla kemudian meraih tangan Sarah." Gue udah maafin Lo kok. Apapun yang terjadi diantara kita sebelumnya, itu sudah jadi masa lalu Jadi jangan diingat-ingat lagi. Gue sangat bersyukur karena akhirnya kita bisa berteman." Ucap Kayla.
"Hidup lo nggak sepenuhnya buruk kok, buktinya lo udah berubah. Aku sempat kaget ternyata teman yang asik dan juga baik. Bahkan gue ngerasa sifat buruk lu di masa lalu itu seakan cuma mimpi," timpal Tamara.
Ketiganya pun saling berpelukan dan menjadi tontonan para laki-laki yang merasa canggung dalam keadaan.
"Udah ah jadi mellow gini, cepet putar lagi Sar," sahut Alvian.
"Sialan banget, Lo gak bisa baca situasi apa!" Omel Tamara sambil memukul lengan Alvian.
"Lo jadi cewek kasar banget sih, pantes aja jomblo sampai sekarang."
"Alvian!!!"
....
Terserah terbangun di tengah malam dengan mata yang terbelalak, nafasnya memburu dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
Sarah menatap kedua tangannya yang bergetar hebat. Baru saja dirinya bermimpi Jika ia terjatuh dari jembatan dengan seseorang yang melihatnya terjatuh dari atas.
Sarah mencoba mengatur nafasnya, lalu dia menoleh ke samping gimana Kayla dan Tamara sedang tertidur dengan lelap.
Sarah pun perlahan-lahan keluar dari tanda, ia ingin berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan dirinya.
Gadis itu berjalan ke tepi sungai, dapat ia dengar aliran sungai membawa ketenangan untuknya. Sedetik kemudian, gadis itu terkejut melihat seseorang yang sedang tidur di samping sungai dengan pohon sebagai tempatnya untuk bersandar. Terlihat juga sebuah laptop terpatri di pangkuan orang itu.
"Marvin?" Panggil Sarah dengan pelan, namun suaranya tersebut tidak berhasil membangunkan laki-laki itu. Sepertinya Marvin memang sudah benar-benar terlelap.
Sarah kemudian duduk di samping laki-laki itu, diperhatikannya wajah Marvin. Laki-laki itu terlihat sangat kelelahan, wajah yang ditunjukkan sama persis seperti yang dia lihat saat di cafe waktu itu.
Cukup lama Sarah memperhatikan lelaki itu, tiba-tiba saja makin bersuara." Muka gue nggak bakal ilang ,jadi nggak usah dilihatin terus."
Sarah terkejut, dia segera memalingkan wajahnya. Ia sangat malu karena tertangkap basah sedang menatap laki-laki itu.
"Maaf, gara-gara gue lo jadi kebangun."
Marvin meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal, ia lalu memutar kepalanya karena terasa berat.
"Kenapa Lo di sini?" tanya Marvin.
"Gue lagi cari udara segar, terus nggak sengaja lihat lo di sini sendirian jadinya gue ikut duduk deh."
Marvin hanya menanggapi perkataan gadis itu dengan anggukan. Laki-laki itu meletakkan laptopnya di atas rerumputan, lalu dia berjalan mendekati sungai. Laki-laki itu mencuci wajahnya dengan air dan merapikan rambutnya.
Sarah kembali menatap Marvin, kemudian memalingkan kembali wajahnya. Dia takut usahanya untuk move on gagal jika terus menerus menatap laki-laki itu.
Marvin kembali duduk di tempatnya, laki-laki itu hanya menatap objek di depannya tanpa berbicara satu patah kata pun.
"Sarah mengigit bibir bawahnya, ia ingin memulai percakapan tapi bingung harus memulai dari mana. Setelah cukup lama saling diam akhirnya suaraku memberanikan diri untuk berbicara.
"Eum, Vin. Gue mau minta maaf soal kejadian di cafe waktu itu,"ujar Sarah tanpa menoleh ke arah Marvin.
"Kenapa lu minta maaf?"
"Gara-gara gue, tugas kelompoknya jadi berantakan."
"Tapi tugas kelompoknya selesai juga kan? Jadi apa masalahnya?"kini Marvin menatap Sarah.
"Iya juga sih."
Hening.
"Vin?" Panggil Sarah lagi.
"Iya?"
"Sekarang,,,Lo masih benci gue gak?"
Marvin terdiam sesaat, lalu laki-laki itu menoleh dan mendapati Sarah sedang menatapnya.
"Emang gue pernah bilang kalau gue benci sama lo?"
Sarah kembali mengingat-ingat, tapi memang sepertinya Marvin tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa laki-laki itu membenci dirinya.
"Nggak pernah sih. Tapi dari sikap lo itu, gue menyimpulkan kalau lo benci sama gue. Sikap lo ke gue sama sikap lo ke cewek lain itu beda."
"Emang cewek lain yang lo maksud siapa?"
Sarah berdecak, setiap pertanyaan saraf pasti dijawab dengan pertanyaan juga oleh laki-laki.
"Ya contohnya kayak Kayla," jawab Sarah ragu.
Masih tersenyum tipis." Itu karena dia beda."
"Beda?"
"Iya."
Pengen rasanya Sarah berteriak, tidak bisa kah laki-laki itu memberinya jawaban yang mudah untuk dia pahami. Sarah kembali berdecak sebal.
"Vin." Panggil Sarah lagi, laki-laki itu hanya menoleh.
"Gue mau ngucapin makasih, baik dulu maupun sekarang. Gue memutuskan untuk, gue bener-bener mau berhenti dan lepasin lo."
"Kenapa?"
Sarah cukup terkejut dengan pertanyaan Marvin.
"Ya karena Gue tahu lo dan Kayla saling menyukai. Dan sekarang Kayla juga merupakan sahabat gue. Gue gak mau hubungan gue sama Kayla canggung karena perihal ini."
Marvin terdiam sesaat, laki-laki itu lalu terkekeh. Sarah sampai heran dengan sikap Marvin yang tiba-tiba tertawa di saat seperti ini.
"Jadi?"
"Jadi, gue harap kita bisa bersikap seperti layaknya seorang teman. Bisa kan?" Sarah mengulurkan tangannya.
Marvin melirik ke arah tangan Sarah, lalu laki-laki itu menjabat tangan itu sambil tersenyum tipis.
Jujur saja beban dalam hati Sarah sedikit terangkat Setelah dia mengungkapkan semuanya. Berdamai dengan keadaan ternyata cukup menyenangkan.
"Jadi, gua sama gue udah temenan kan?"
Marvin mengangguk." Oh iya, ngomong-ngomong..."
Sarah menaikkan alisnya, menunggu Marvin melanjutkan ucapan nya.
"Kayla itu adik kandung gue."
"Hah?"