Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah juga percuma
Dai terpaku di tengah ruang tamu mewah itu, dan jangan lupakan kondisinya yang masih terbungkus selimut seperti kepompong raksasa yang kebingungan. Suara pintu apartemen yang ditutup dengan dentuman keras seolah menjadi titik penegas bahwa Kilau benar-benar pergi dengan amarah yang mendidih. Aroma matcha dan roti bakar yang ditinggalkan Kilau bahkan masih menggantung di udara, kontras dengan bau sisa alkohol yang masih menyerang indra penciuman Dai saat ini.
"Mas... Mas temannya nona Kilau, ya?" Suara Mbak Epi yang sedang beberes meja makan memecah lamunan Badai.
Dai menoleh, wajahnya mengisyaratkan jika lelaki itu emang belum sepenuhnya lepas dari efek sisa alkohol semalam, plenger maksimal.
"Ah, iya, mbak. Maaf, saya... saya tadi cuma..." Ah nggak jadi ngomong lah, Dai memilih nggak melanjutkan ucapannya.
"Mas nya mau mandi dulu? Baju mas sudah saya cuci dan saya keringkan pakai mesin, sudah saya taruh di nakas kamarnya non Kilau subuh tadi. Masih agak lembap sedikit, tapi sudah bersih," Mbak Epi tersenyum maklum. "Semalam mas itu muntah-muntah hebat. Non Kilau yang bawa mas ke kamarnya. Dia bahkan nggak risih nyopotin baju mas yang kotor karena kena muntahan. Jadi mas jangan mikir macem-macem tentang non Kilau, dia nggak seperti yang mas tuduhkan tadi."
Dai menelan ludah. Jantungnya mencelos. Jadi, tuduhannya soal Kilau yang 'nafsu' adalah kesalahan besar. Kilau justru menyelamatkannya dari kondisi paling menjijikkan, bahkan mengizinkannya menempati kamar pribadinya. Rasa bersalah mulai merayap di dadanya, lebih perih daripada sakit kepala yang masih dia rasakan.
"Mbak, Kilau itu.. Apa dia memang selalu ketus begitu ya sekarang?" tanya Dai pelan saat dia sudah berpakaian rapi dan bersiap pergi. Karena ketika mereka berpacaran dulu, Kilau adalah sosok ceria yang selalu mengumbar senyum manis untuknya.
"Enggak mas. Non Kilau itu aslinya baik, kok. Cuma ya, sejak jadi direktur di perusahaan MahaTech, beban dan tanggung jawabnya kan makin berat. Tapi, jujur saja selama saya bekerja untuk orang tua non Kilau.. baru kali ini saya lihat non Kilau mau bawa laki-laki pulang sampai repot-repot begitu," jawab Mbak Epi terus terang.
"Gitu ya mbak. Makasih ya mbak, dan saya minta maaf karena sudah merepotkan mbak juga Kilau semalam. Saya akan minta maaf langsung sama Kilau nanti." Dai lalu memutuskan pergi dari apartemen tersebut.
Dai meninggalkan apartemen elit itu dengan langkah gontai. Di dalam lift yang berdinding cermin, dia menatap bayangannya. Dia terlihat seperti pria yang baru saja kalah perang. Bawah matanya hitam, pikirannya kacau. Bagaimana bisa dia menuduh wanita yang sudah berbaik hati menolongnya dengan kata-kata sekasar itu?
Sesampainya di bengkel, suasana di sana jauh dari kata tenang. Tampak Sajen sedang duduk di bangku panjang di depan bengkelnya sambil menyalakan speaker bluetooth di sampingnya. Pemuda itu juga kelihatan asyik memakan bakso di dalam plastik dengan gaya seperti raja minyak yang baru memenangkan tender. Petentengan banget emang.
"Seneng lo ya, makan lahap bener nggak mikirin temennya mau mati dicekoki miras oplosan sama titisan Sumala." langsung saja Dai sibuk membuka pintu bengkelnya yang masih terkunci dengan bersungut-sungut ngomelin Sajen.
"Hahaha si anjir emang manusia satu ini. Lo tau nggak semalem gue udah susah payah nyelametin lo? Kalau bukan karena gue sama Kilau yang ngurusin lo semalem, gue yakin pagi ini lo masih tidur dikekepin si Lalin. Bangke emang, giliran datang malah nggak ada makasih makasih nya gini lo ya?!" balas Sajen ngasih tampang sok jutek. Aslinya nggak pantes dia sok-sokan gitu, mukanya aja udah mirip buto ijo kok.
"Lo sama Kilau nyelametin gue? Maksud lo apa?" Dai bicara sambil melepas kemeja hitam yang dia pakai lalu bertelanjang dada tanpa ada niat memakai kaos atau yang lainnya.
Sajen mulai menceritakan semua yang terjadi semalam. Dari detail terkecil hingga gong nya, si Kilau memberikan dirinya uang sepuluh juta rupiah.
"Laknat banget lo jadi orang! Lo nodong duit sepuluh juta setelah dia nolongin gue? Otak lo udah bertransmigrasi ke dengkul apa gimana hah?" Dai sampai berdiri seperti ingin nampol kepala temannya itu.
"Lah gue kan cuma minta uang pijet doang. Barang seratus dua ratus ribu, dia sendiri yang maha kaya nyampe ngasih gue sepuluh juta. Kok lo nggak terima? Emang gue ngerugi'in lo apa? Misal lo mau ya kita bagi dua aja duitnya, gue sembilan juta sembilan ratus ribu, lo sisanya." masih saja Sajen membela diri, mana berasa paling waras lagi.
"Bajingan emang. Lo kayak jual temen lo sendiri tau nggak! Brengsek lo." Dai mendorong pundak Sajen kesal.
"Seenak udel lo ngata-ngatain gue ya, Dai. Untung gue punya kesabaran seluas angkasa. Dan terserah lo mau ngasih judulnya apa ngejual lo lah, ngegadein lo, nuker lo sama rupiah, gue santai. Asal jangan lo minta lagi duit dari mantan lo itu karena udah gue pake buat top up diamond." enteng sekali mulut Sajen bicara.
Mata Dai melotot seketika. "Taik emang lo ya, lo pake top up semua uang dia? Tadi lo ngomong minta uang buat pijet, saran gue otak lo sekalian ikut dipijet! Agak geser gue rasa."
Sajen ingin menjawab tapi dia urungkan. Kalau dipikir-pikir emang bener sih, dia udah keterlaluan semalem. Memanfaatkan keadaan temannya demi keuntungan pribadi. Tapi selalu ada hikmah di balik musibah kan? Hikmah nya diangkut Sajen semua, lha musibahnya jadi bagian Dai nyampe ke akar-akarnya.
"Ya nggak semua. Tapi kan udah berkurang duitnya." Sajen tak merasa bersalah sedikitpun.
Dai pusing, kepalanya makin berdenyut. Mana rasa bersalah pada Kilau makin menjadi-jadi lagi. Dia membuang nafas kasar.
"Apa mu yang sakit nyampe minta uang pijet segala?" emosinya mulai mereda. Dai juga belum mengucapkan terimakasih atas penyelamatan yang Sajen lakukan semalam.
"Hehehe.. Punggung gue."
Dai menautkan kedua alisnya. "Punggung lo? Mana coba lihat!"
"Itu.. Hehe, udah nggak apa-apa kok. Santai aja santai. Nggak usah khawatir gitu lo, Dai."
Tapi secepat kilat Badai langsung menarik kaos Sajen ke atas dari belakang. "Itu? Lo minta uang ke Kilau buat mijetin punggung lo karena kesalahan lo sendiri?? Beneran laknat lo jadi orang! Itu bukannya memar karena lo jatuh kejengkang pas mau standart'in motor gue? Lo kuwalahan, terus jatuh kepentok kompresor??"
"Hahaha.. Ah si anjir, jadi malu gue."
Mau mengumpat lagi tapi Dai beneran udah kehabisan tenaga buat ngadepin teman jahanamnya satu ini. Alhasil Dai memilih meninggalkan Sajen begitu saja menuju ruangan di belakang bengkelnya. Mau marah juga percuma, yang dimarahi nggak merasa melakukan kesalahan apa-apa.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚