Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum di Balik Kecurigaan
Di salah satu sayap istana, suasana jauh lebih sunyi. Tidak ada pesta. Tidak ada latihan. Hanya lorong panjang dengan penjagaan ringan.
Di situlah Iselle ditempatkan. Sebuah kamar disediakan untuknya. Sebagai tamu—namun juga dalam pengawasan.
Di kejauhan, dua bayangan berdiri tersembunyi. Vaks Brinnert dan Felixa Tironsytlh.
Mereka tidak bergerak sembarangan. Tatapan mereka fokus. Mengamati.
“Dia benar-benar diberi kamar?”
Bisik Vaks pelan.
Felixa menyilangkan tangan.
“Kerajaan terlalu lunak padanya.”
Namun Vaks menggeleng sedikit.
“Mungkin saja terlalu baik pada orang lain.”
Sunyi sejenak.
Tiba-tiba, suara dari dalam ruangan terdengar. Namun cukup jelas bagi mereka yang mengintai.
Vaks memberi isyarat. Mereka mendekat sedikit. Tanpa suara. Tanpa jejak.
Di balik pintu, Iselle sedang berbicara. Bukan sendirian. Ada suara lain terdengar. Seolah tidak terlihat. Mungkin melalui sihir komunikasi.
“Aku tahu itu.”
Suara Iselle terdengar tenang. Namun lebih dingin dari biasanya.
“Aku juga tidak menyukai situasi ini.”
Sunyi sesaat. Lalu, ia melanjutkan.
“Kerajaan Bervala sekarang bukan lagi seperti dulu.”
Vaks dan Felixa saling melirik. Mereka semakin fokus.
Iselle berbicara lagi.
“Pamanku mengambil alih.”
Nada suaranya sedikit menurun.
“Dia menjadi raja sekarang.”
Felixa sedikit menyipitkan mata.
“Pengambilalihan kekuasaan.”
Bisiknya pelan.
Dari dalam, suara Iselle kembali terdengar.
“Dia ambisius sekali. Bahkan sangat ambisius.”
Angin malam berhembus pelan di lorong itu. Seolah membawa kata-kata itu keluar.
“Dia ingin memberontak terhadap Risvela.”
Kalimat itu berat.
Vaks mengerutkan kening.
“Ini gila.”
Iselle melanjutkan.
“Padahal dia tahu. Kerajaan Bervala tidak akan menang.”
Nada suaranya terdengar sedikit getir. Seolah ia sendiri tidak setuju. Namun tidak bisa menghentikannya.
Beberapa detik. Tidak ada suara lagi. Percakapan itu selesai.
Vaks dan Felixa mundur perlahan. Menjauh dari pintu. Tanpa membuat suara.
Setelah cukup jauh, Vaks akhirnya berbicara.
“Ini bukan sekadar kunjungan.”
Felixa mengangguk.
“Sudah jelas.”
Tatapannya tajam.
“Dia terlibat dalam sesuatu yang lebih besar.”
Vaks menghela napas.
“Reyd ada di tengahnya.”
Felixa menatap lurus ke depan.
“Kalau ini benar… maka perang bukan lagi kemungkinan.”
Sunyi. Malam terasa lebih berat.
---
Lorong kembali sunyi. Langkah kaki Vaks dan Felixa telah lama menghilang.
Namun di dalam kamar, Iselle masih berdiri diam. Tatapannya tidak berubah. Seolah ia masih berbicara dengan seseorang. Padahal tidak ada siapa pun.
Beberapa detik berlalu.
Lalu… senyum tipis muncul di bibirnya.
“Akhirnya pergi juga, penguping itu.”
Suaranya pelan. Tanpa sedikit pun kepanikan.
Ia berjalan perlahan menuju kursi di dekat jendela, lalu duduk dengan anggun. Tangannya menyentuh sandaran. Matanya menatap pintu. Tepat ke arah di mana bayangan tadi mengintai.
“Aku bisa merasakan hawa keberadaan kalian.”
Bisiknya lirih.
Angin malam masuk perlahan dari celah jendela. Membawa udara dingin yang menyentuh kulitnya.
Namun Iselle tidak bergeming. Senyumnya masih ada.
“Risvela tidak pernah ceroboh.”
Ia memejamkan mata sejenak.
“Dan itu bagus.”
Sunyi.
Matanya terbuka kembali.
“Karena itulah yang aku butuhkan.”
Ia berdiri perlahan. Langkahnya ringan, namun penuh tujuan.
“Agar kalian mulai waspada…”
Ia berhenti di depan cermin. Menatap dirinya sendiri.
“Lalu membuka jalan.”
Pantulan dirinya terlihat tenang. Namun di balik mata itu, ada keraguan kecil yang tersembunyi.
“Kerajaan Bervala baik-baik saja.”
Ucapannya kali ini berbeda. Tidak ada nada getir seperti sebelumnya.
“Hanya saja…”
Ia menunduk sedikit. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“Aku tidak sepenuhnya yakin.”
Sunyi kembali menyelimuti ruangan. Angin berhembus pelan. Seolah menunggu kelanjutannya.
Iselle mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya kini lebih dalam.
“Apakah ini langkah yang benar… mungkin saja justru kesalahan terbesarku?”
Pertanyaan itu tidak ditujukan pada siapa pun. Namun terasa berat.
Ia menarik napas panjang. Dan menghembuskannya perlahan.
Senyum tipis itu kembali.
“Tidak masalah.”
Bisiknya.
“Aku sudah melangkah sejauh ini.”
Ia berbalik dari cermin. Menuju jendela. Menatap langit malam yang luas.
“Dan kau, Reyd…”
Namanya terucap pelan. Seolah memiliki makna tersendiri.
“Aku harus mendekatimu.”
Angin berhembus lebih kuat. Mengibaskan tirai. Seolah merespons tekadnya.
“Apa pun yang terjadi.”
Malam terus berjalan.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?