Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Rahmat Kecolongan
Kediaman Lachlan dan Nareswari
"Jadi kalian membuat code blue?" tanya Nareswari usai sarapan dan sedang berada di teras rumahnya sambil memangku Shea.
"Iya mbak Nyes. Oh aku juga dapat kacang enak disana," lapor Tole.
"Kok ya sempat ambil kacang tuh lho ...."
"Barang nganggur juga," jawab Tole cuek.
Nareswari hanya menggelengkan kepalanya, gemas dengan usilnya tuyul comel itu. "Tapi dokter Rahmat aman kan Le?"
"Aman mbak. Sekarang dok Rahmat dikawal Sus Ngesot."
Nareswari bergidik. "Serius?"
"Iya. Untung dok Rahmat nggak bisa lihat. Kan horor tuh!" ujar Tole.
"Iya sih. Horor," gumam Nareswari
"Nyes ...."
Nareswari dan Tole menoleh saat Eyang Surti hadir. "Ya Eyang?"
"Bilang sama Rayyan dan Dean, jaga dokter Rahmat." Eyang Surti menatap Tole. "Jaga ya Le. Dokter Rahmat orang baik."
"Baik Eyang."
***
Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
AKP Dean Thomas sedang memeriksa CCTV rumah sakit yang semalam di hack oleh Iptu Rayyan. Semua yang berhubungan dengannya dan Kompol Jarot, sudah dibersihkan olehnya. Dia pun melihat bagaimana dokter Westin tampak tergopoh-gopoh menuju ruang monitor.
"Dia panik, mas Dean," ucap Kompol Jarot.
"Sangat panik!" ujar AKP Dean Thomas.
"Kalau dia tidak melakukan apapun, tidak mungkin dia sepanik itu kan?" senyum Kompol Jarot sambil mengaduk kopinya.
Suara pintu terbuka dan tampak Iptu Nana datang tapi dia tidak sendiri. Ada seorang ibu yang berjalan bersamanya. AKP Dean Thomas bergegas mematikan layar monitor dan digantikan dengan gambar kucing peliharaan AKBP Atikah.
"Aku pulang ...." Iptu Nana tampak senang kembali ke ruang kerjanya.
"Bagaimana acara pemakamannya?" tanya AKP Dean Thomas.
"Alhamdulillah lancar tapi memang kami tidak adain tahlilan karena tidak wajib dan dik Lucky tidak mau. Baginya, mending dia mendoakan Oom dan Tante bersama keluarga saja," jawab Iptu Nana.
"Sebenarnya Tahlilan tidak wajib dan tidak diperintahkan secara khusus oleh Nabi Muhammad SAW maupun Al-Qur'an. Praktik ini merupakan tradisi yang hukumnya diperdebatkan: mayoritas ulama ( NU ) menganggapnya mubah atau diperbolehkan sebagai ajang zikir dan sedekah, sementara kelompok lain menganggapnya bid'ah atau tidak diajarkan. Jadi jangan menghakimi keluarga yang tidak mau tahlilan karena bisa jadi mereka tidak ada uangnya, mereka berduka dengan caranya sendiri atau tidak mau merepotkan banyak orang. Bayangkan, kamu lagi berduka, harus keluar uang banyak untuk makanan. Jadi terserah mau ada atau tidak, karena yang penting adalah doa dari anaknya dan keluarganya," papar Kompol Jarot.
"Kalau pak Jarot meninggal, apa mau ada tahlilan?" tanya Iptu Nana.
"Tidak usah. Cukup kalian kumpul-kumpul sambil ghibahin aku. Baik yang baik atau yang menyebalkan karena bagiku, melihat keluarga aku senang dan saling akrab, itu sangat berarti bagiku," senyum Kompol Jarot.
AKP Dean Thomas dan Iptu Nana saling berpandangan. Masuk akal sih.
"Itu siapa Nana?" tanya AKP Dean Thomas.
"Oh, ini Bu Nuri. Dia minta keadilan sejak dua tahun lalu soal putrinya yang bunuh diri karena dibully oleh ketua BEM di kampus. Nama putrinya adalah Lala. Dia dibully hingga tidak mau sekolah." Iptu Nana mempersilakan Bu Nuri untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Saya AKP Dean Thomas dan ini rekan saya, Kompol Jarot," senyum AKP Dean Thomas sambil berdiri dan menyalami wanita itu.
Kompol Jarot bisa melihat bagaimana beban hidup wanita itu tapi matanya. Mata seorang ibu yang tidak menyerah demi putrinya.
Setelah mereka bersalaman, Iptu Nana pun mulai memeriksa kasus yang dipetieskan karena dianggap bunuh diri.
"Putri anda kuliah dimana Bu?" tanya AKP Dean Thomas dengan nada lembut.
"Di sebuah kampus daerah Depok. Lala anaknya pendiam pak. Dia masuk karena beasiswa dan saya bangga dengan prestasinya ... tapi satu semester disana, mulai ada gangguan. Saya kira dia tampak lesu karena padatnya kuliah hingga semester genap, dia makin menjauh dan nilainya jelek. Saya berusaha mengajaknya bicara hati ke hati karena kami hanya berdua ... tapi dia tidak mau bercerita. Hingga pada hari Jumat, saya menemukan dirinya sudah tiada ... dengan minum pil tidur yang banyak." Bu Nuri mengusap air matanya.
"Kami ikut berduka cita, Bu Nuri," ucap Kompol Jarot bersimpati.
"Terima kasih pak ...."
"Lalu ... Apa yang ibu temukan?" tanya Iptu Nana.
"Diary nya. Saya tahu banyak orang memakai diary digital tapi putri saya suka journaling dengan hiasan lucu-lucu. Dan saya tahu, selama ini dia dibully. Ya Allah ... Lala, maafkan ibu nduk ...."
"Ibu membawa jurnalnya?" tanya AKP Dean Thomas.
"Bawa pak. Hampir saja jurnal Lala diambil polisi tapi saya mempertahankannya." Bu Nuri mengambil buku jurnal tebal itu dengan banyak hiasan stiker Sanrio. Buku itu diberikan ke AKP Dean Thomas.
"Kenapa ibu ke polisi?" tanya Iptu Nana.
"Karena orang yang membully Lala adalah anak polisi. Dia ketua BEM di fakultas Lala. Dan saya yakin, dia yang bertanggung jawab atas kematian Lala!"
"Maafkan saya Bu, tapi memang sulit kalau soal itu. Tahu sama tahu saja Bu, kebanyakan anak polisi seperti itu. Kami saja juga sebal dengan oknum seperti itu. Mereka tidak akan bertanggung jawab apalagi korban bunuh diri. Semakin tidak mau mengusutnya," ucap Iptu Nana dengan nada lembut.
Bu Nuri hanya bisa menghela napas panjang. Dia tahu sebenarnya tapi dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
AKP Dean Thomas membaca jurnal itu dan hatinya begitu miris karena Lala menyimpan semua data beserta gambar hasil screenshot percakapan di WhatsApp yang melecehkan gadis malang itu.
"Ya ampun, bagaimana anak seperti ini bisa hidup!" sungut AKP Dean Thomas. "Gimana sih orang tuanya mendidik!"
"Anak siapa Mas Dean?" tanya Kompol Jarot.
"Baca saja sendiri!" AKP Dean Thomas menyerahkan jurnal itu.
Kompol Jarot hanya bisa menghela napas panjang. "Anaknya dia tho?"
"Bapak-bapak tahu siapa ayahnya?" tanya Bu Nuri.
"Tahu sekali. Maaf, tapi memang dia polisi bermasalah," jawab AKP Dean Thomas. "Begini Bu, kami akan berusaha memberikan hukuman pada anak ini, anak yang sudah membully anak ibu. Dia sudah dua puluh satu tahun jadi bisa dihukum secara dewasa!"
"Kami akan menyelidiki semuanya detail. Dan kita akan memberikan hukumannya," ucap Iptu Nana.
Bu Nuri menatap ketiga polisi itu. "Benarkah?"
"Benar Bu."
"Saya harus bayar berapa?"
Ketiga polisi itu menggeleng. "Gratis. Ini sudah tugas kami Bu."
***
Harmoni Life
Dokter Rahmat berlari ke arah kamar salah satu penghuni panti jompo yang ditemukan meninggal. Yang membuatnya bingung, pria ini kondisinya baik-baik saja dan tidak ada penyakit serius.
"Dia tidak ada diabetes, hipertensi,. kolesterol juga masih di ambang aman, tapi kenapa bisa kena serangan jantung?" gumam dokter Rahmat.
"Dokter Rahmat, apakah kita akan bawa ke rumah anaknya?" tanya perawat.
"Tidak, kita autopsi. Aku masih penasaran!" jawab dokter Rahmat.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hlang smua???kjam bgt tu orng,ga tkut hkum krma apa y????kl klurganya yg jd krban,dia msih mau mlkukan kjhtn ky gt lg????😠😠😠
dokter Westin dan dokter Arlo haeus berhadapan sama dokter jagal 1 dan dokter jagal 2 ini kayaknya biar diambil organnya sebagai penebus kelakuannya
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....