NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 19

“Anahh, Nadya. Di mana pula otak kamu! Cucuku kamu biarkan melek sendirian di kamar, kamu curi-curi kesempatan makan berduan bareng Rizal. Emang dasar perempuan nggak bener kamu, ya?!” cerocos Bu Sar, sambil membawa Adam keluar dari kamar. 

Rizal dan Nadya nyaris bersamaan menghela napas panjang, tangan keduanya mengepal di atas meja, lebih tepatnya tangan Nadya yang di tahan genggaman Rizal. Laki-laki itu terus mengedipkan mata—memberi kode agar Nadya diam saja meski amarah gadis itu sudah siap tumpah. 

“Adam itu barusan tidur, Mah, waktu kami makan. Mamah dateng langsung main teriak, gimana dia nggak bangun?” jelas Rizal. 

“Alahhh, alasan kamu itu selalu ada aja buat belain pembantu itu, di kasih apa kamu sama dia sampe segitunya sama Mama!” tuduh Bu Sar, tatapannya sinis ke arah Nadya yang sudah beranjak dari duduknya. 

Nadya buru-buru membereskan bekas makannya dan juga Rizal, membawanya ke cucian piring sekalian cuci tangan, lalu kembali ke ruang tengah. 

“Kesini kan Adam, mau saya nenenin biar tidur lagi, rewel pula nanti dia kalo tidurnya nggak nyenyak,” ujar Nadya. 

Bu Sar mendecih pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Adam udah nggak perlu tetek bekasan kamu itu, saya sudah belikan dia susu, yang jauh lebih menyehatkan.” 

“Mana ada susu formula lebih sehat dari pada Asi?” celetuk Nadya sambil mengulurkan tangan ke arah Adam.

“Itu kalo Asi nya keluar dari wanita baik-baik, kalo dari wanita modelan kaya kamu …,” Bu Sar mendecih kasar. “Yang ada bisa jadi penyakit di badan cucu saya.” 

Nadya mengeratkan rahangnya, bibirnya bergumam—siap mengeluarkan kebun binatang sepawang-pawangnya, namun tertahan saat melihat kehadiran Dewi dan Hasna yang masuk ke rumah bersama Bu Harmi. 

“Cepat bikinkan susunya, Has, udah nggak sabar ini bocahnya mau minum susu yang enak,” sambut Bu Sar. 

Rizal yang sedari tadi berusaha menyela ocehan mertuanya lekas maju mendekat, tatapannya menyelidik ke kotak susu warna merah yang di bawa Dewi. 

“Susu apa yang mau kalian kasih ke Adam?” tanyanya kemudian. 

“Ini susu soya, Bang, khusus untuk anak yang alergi susu sapi,” jelas Hasna, bibirnya mengulas senyum seraya mencium pipi gembul Adam.

“Yang jadi perkara itu bukan susunya, tapi siap nggak lambung Adam nerima susu formula,” sahut Nadya sambil berjalan ke meja makan, melihat kotak susu yang di bawa Dewi.  

Ia kemudian memperhatikan sejenak kotak susu berwarna merah itu, membaca sekilas kandungan yang ada di dalamnya, dahinya mengernyit dalam. 

“Ini juga bukan susu khusus untuk kondisi yang dialami Adam, harusnya bukan merk ini,” lanjut Nadya. 

Mendengar itu alis Bu Sar menukik tajam, tangannya dengan cepat mengambil susu yang di pegang Nadya. 

“Sok tau sekali kamu itu Nadya. Itu Dewi yang beli. Kamu tau, Dewi itu kuliah di kesehatan, calon perawat. Hasna juga mantan kerja di klinik paling bagus di Palembang, mereka jelas lebih tau dari kamu yang mungkin sekolah aja nggak pernah!” Ia lalu menyodorkan kotak susu itu pada Hasna yang berdiri di sebelahnya, “cepet bikinkan, Has, biar melek matanya si Nadya ini.” 

Nadya terperangah mendengar ucapan Bu Sar, ada senyum tak percaya di wajahnya yang sedikit memerah. “Ndak sekolah kata kamu? Ngeremehin orang betul manusia satu ini.” 

Nadya baru akan memberi pembelaan, namun ia tahan saat Hasna sudah selesai membuatkan susu yang mereka bawa, lalu mulai memberikan pada Adam dengan bantuan sendok kecil. 

Bibir kecil Adam mengecap pelan, lidahnya sesekali terulur ke luar seolah mencari tau rasa yang baru dikecapnya. 

“Lebih enak dari Asi kan?” celoteh Bu Sar dengan senyum penuh kemenangan saat melihat Adam begitu lahap menyesap susu yang di suapkan oleh Hasna. “Coba pake Dot, Has. Makin lahap ini pasti,” imbuhnya lagi. 

“Kamu yakin susu ini aman buat Adam, Has?” sela Bu Harmi, turut khawatir. 

“Aman, Bu, lihat saja, nggak ada ruam kan di bibir Adam, kalau dia alergi pasti langsung merah-merah mukanya,” jelas Hasna. 

“Tapi, Adam itu ada masalah di pencernaannya. Kita tetep nggak bisa asal kasih susu!” Rizal yang sedari menahan diri turut mendekat ke sang putra. 

Hasna menoleh ke arah Rizal, tatapanya teduh dengan senyum hangat tergaris manis di wajahnya yang ayu. “Abang tenang aja, waktu posyandu kemarin aku sudah cek kenaikan berat badan dan siklus pertumbuhannya Adam, dan semua udah aman kok, sudah sesuai dengan usia dia.” 

Nadya semakin terperangah mendengar penjelasn Hasna, ia menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal. “Sejak kepan kemampuan pencernaan bayi bisa di lihat dari berat badan?” 

Mendengar celetukan Nadya, tatapan Bu Sar menajam, bibirnya berkedut dengan seringai sinis di ujungnya.

“Kamu itu diam aja kalo nggak tau apa-apa, Nadya. Jangan sok pintar, lagian apa nggak lebih tau Hasna yang sering kumpul sama dokter dan perawat di klinik ketimbang kamu.” 

“Tapi, Nadya benar, Mah. Kondisi Adam memang seharusnya nggak sembarangan si kasih asupan. Sudah. Bawa sini Adam, biarin dia nyusu sama Nadya saja,” ujar Rizal,  ada gurat kepanikan di wajah tampannya.  

Melihat itu Bu Sar cepat-cepat mendekap Adam, lalu memasukkan dot susu yang sudah disiapkan Hasna ke mulut mungil cucunya. 

Adam yang memang waktunya menyusu langsung menyesap dengan lahap membuat Bu Sar semakin melebarkan bibir tipisnya. 

“Kalian lihat, Adam suka kan? Nih, melek mata kamu, Nadya, Adam lebih lahap minum susu formula timbang minum tetek bekasan kamu itu. Kamu juga Zal. Kenapa, sih nggak percaya betul sama Mama. Mama ini sudah pernah punya anak, Zal, Adam juga cucu mama, darah daging mama, mana mungkin kalo bahaya mama kasih ke dia?!” oceh Bu Sar. 

Rizal menghela napas berat, gurat khawatir tercetak jelas di wajahnya. “Bukan gitu, Mah. Tapi, kondisi Adam memang nggak bisa sembarangan—” 

“Sekarang kamu lihat! Terjadi apa-apa nggak sama Adam?!” sergah Bu Sar. 

“Bu Sar!” Bu Harmi yang sedari tadi diam turut angkat bicara, tatapannya tajam ke arah Bu Sar. “Kenapa susah sekali sampean itu di bilangin! Adam itu—” 

“Kalian yang kenapa susah sekali diingatkan! Dapat pengaruh apa dari perempuan jalanan itu, hah!” Bu Sar membalas tatapan tajam Bu Harmi sambil beranjak dari duduknya, setelah memindahkan Adam ke pangkuan Hasna.

“Saya ini neneknya Adam, saya juga punya hak. Jangan mentang-mentang anak saya sudah nggak ada terus kalian menganggap saya ini tidak penting!” bentak Bu Sar. “Anak saya rela mengorbankan nyawanya demi ngelahirin keturunan buat kalian, saya cuma mau yang terbaik buat cucu saya, apa salah!” lanjut Bu Sar, suaranya bergetar seolah menahan kesedihan yang begitu mendalam.  

Melihat sang Mama yang begitu emosional, Dewi sontak menghampiri seraya mengusap punggung wanita paruh baya itu. 

“Abang sama Ibu kenapa, sih. Mama itu cuma mau menjaga wasiat dari Ayuk Sukma. Adam itu satu-satunya yang bisa ngobatin kangen kami ke Ayuk tau nggak!” gadis dengan wajah lengus itu mulai menangis sambil memeluk sang Mama yang lebih dulu menjatuhkan air mata. 

“Tega sekali kamu, Rizal. Demi membela perempuan tidak jelas asal-usulnya kamu ngelakuin ini semua ke Mama dan Dewi. Kami yang keluarga kamu Rizal bukan dia!” sentak Bu Sar sambil menunjuk wajah bingung Nadya.

Mendengar ucapan Bu Sar, Rizal membeku seketika. Kepalanya menunduk, bayangan wajah mendiang sang istri menari diingatannya. 

Tak bisa di pungkiri, semenjak kehadiran Nadya, Rizal memang sedikit bisa melupakan kesedihannya—kehilangan seorang istri, termasuk melupakan perhatiannya untuk dua orang yang Sukma titipkan padanya. 

Ia kemudian mendongak pelan, menatap Adam yang tidur di pangkuan Hasna, lalu berjalan mendekat, mengusap lembut puncak kepala sang putra. 

Hasna yang merasakan kesedihan bercampur kekhawatiran di wajah Rizal, mengusap lengan laki-laki itu. tatapannya teduh dan hangat. “Jangan khawatir, Bang. Aku udah tanya ke ahlinya kok sebelum berani ngasih saran ini.” 

Sementara itu, Nadya mundur dari tempatnya. Ucapan Bu sar dan Dewi, juga rasa bersalah yang ditunjukkan Rizal, membuat pikirannya membeku. Tatapannya kosong, bibirnya bergumam pelan.

“Keluarga?” Ia lalu tersenyum getir. “Kamu kalah Nadya.” 

Bersambung

Siapapun tolong peluk Author. Ehh ... peluk Nadya. 🫂

1
Vera Dewiaryani
iya double dong thor kali²
Anna: Sedang di usahakan kak 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho lho baru baca kok sdh bersambung..pelit niqn ni kak thor up dikit kali..sekali kali double up lah kak biar puas dirini baca
Anna: Kakak terima kasih sudah selalu mensupport karya saya.
Sejujurnya saya pun ingin up banyak-banyak, tapi apa daya.
Saya sedang berusaha merevisi karya lama sebab malu dengan penulisannya, semoga minggu ini selesai Saya revisi agar bisa up banyak dan membahagiakan pembaca.

Sehat selalu untuk kakak pembaca yang baik.
🫶🫶🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
wkwkwk
.. aku kmrn suudzoon.... 🤣🤣🤣
Anna: Siap-siap di sentilll Bang Rizal. 😒
total 1 replies
Rehan Atar
kaget saya kira bales chat hasna taunya bales si'kaki tangan leganyaa...😄😄😄
Anna: prankkkkkk 🤣🤣🤣
total 1 replies
haci
aku akuu😭
haci: nangiss 😭
total 2 replies
haci
ooo yasirr maaf ya bang udah sooudzoonnn 😩
Anna: Kata saya juga supresss🥳🤣
total 1 replies
Erlina Yakin
bagus
Anna: Kakak terima kasih banyak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
sebenarnya yang kamu cintai tuh sapa baaangg...... Nadia atau Hasnaa...
Anna: Tonjok aja, Kakl 🤣
total 3 replies
haci
kenapa kasii harapan terus siii
di tinggal nadya baru tauk rasa😭
Anna: baca up terbaru 🥳
total 3 replies
haci
jangan mauuu bang Rizal awasss aja😩
Anna: kita gundulin, ya kali Rizak tergoda
total 1 replies
haci
helehh bantuan apa to hasann 😭
Anna: menggitil dia 😗
total 1 replies
Yessi Kalila
itu si Hasna kurang kerjaan betul.... drama teroosss...
Anna: Modus, sapa tau berhasil. begitu kira-kira isi pikiran Hasna
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up lagi dong thor😁
Anna: barusan up, Kak. 🫶
total 1 replies
haci
gak kebalikk ya 😭
ilyas yang manipulatif bgtt sombong 😩
Anna: kan memang hobi nya Ilyas memutar balikkan fakta. 😗
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
saya suka ceritanya, latqr belekang perkebunan suasana pedesaan dualek lokal
Anna: Makasih suportnya, Kak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
ceritanya bagus kaa.... lanjut aja.... 😍😍😍
Yessi Kalila: wooww... mantap ka Anna... semangat... semangat oke.. oke... aku setia selalu.... padamuuu... 😄😄😍😍😍
total 2 replies
Ita Nuryani
lho kok sudah tamat, tak kira panjang crtax
Anna: belummmmm masihh panjang. kan bang Rizal sama Nadya belum ahh ahhh 😭🤣🤣🤣
total 1 replies
Rehan Atar
izin..gosip papa kandung yg ngerudal anaknya sendiri ?? sadiss thorr 😡😡
Ratih Tupperware Denpasar: ada beberapa kali berita ayah menghamili anqk kandung
total 2 replies
haci
ya Allah 😭
kasian bgt mit amit ihhh 😭
Sriekyu: kak..cerita mu bagus.. thanks ya..cm klo bs nadya gk usahlah panggil ilyas papi..udah ketauan bejat gitu
total 5 replies
haci
kapan siii dia tumbang ihh nyebelin bgt😩
Anna: Habis ini masuk bui.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!