Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 18
Hari ini aku dan arun sudah mulai masuk kerja, aku kembali bekerja ke rumah sakit setelah cuti nikah. Jujur saja sebenarnya aku belum siap untuk bertemu banyak orang di rumah sakit nanti, aku tahu pasti bakal banyak pertanyaan yang akan di lontarkan kepadaku tapi aku juga tidak bisa terus menerus menghindar, lambat laun pasti keadaan seperti ini akan menghampiriku. Aku berusaha sebisa mungkin untuk berani menghadapi keadaan yang akan terjadi di depan nanti.
Aku tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah cukup tenang aku keluar dari mobilku. aku tatap gedung rumah sakit tempatku bekerja dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling lalu berjalan perlahan memasuki gedung rumah sakit.
“pagi dokter mita” sapa ramah beberapa staf rumah sakit padaku.
“pagi juga” balasku tak kalah ramah
“pagi pengantin baru, gimana ni bulan madunya?” sapa repsionis yang berada di lantai dua, namanya sinta. aku hanya menjawab dengan senyuman tidak menimpali sapaan sinta.
hampir semua pegawai rumah sakit ini mengenalku apalagi yang berada satu lantai denganku. Aku yang lumayan ramah kepada para pegawai rumah sakit ini membuat aku mudah dekat dengan mereka, dan saat pernikahanku, aku mengundang sebagian staf rumah sakit, jadi beberapa orang dari mereka ada yang menatapku aneh saat aku datang kerumah sakit. Aku tahu apa maksud dari tatapan aneh mereka kepadaku.
Meraka bukan hanya mengenalku tapi juga mengenal abian. Abian yang sering datang kerumah sakit untuk menemuiku atau menemaniku saat aku ada jadwal oprasi malam membuat abian dengan beberapa pegawai menjadi akrab. Dan saat mereka datang kepernikahanku dan melihat aku menikah dengan pria lain padahal di kartu undangan tertera nama aku dan abian yang menikah membuat meraka bertanya-tanya apa yang telah terjadi. bahkan ada dari mereka yang terang-terangan menunjukan ekspresi tidak suka dan terkejut. Aku bisa memaklumi keterkejutan mereka tapi saat mereka bertanya nanti kenapa aku menikah dengan pria lain bukan dengan abian, sungguh aku tak tahu harus memberi jawaban seperti apa.
“MITAAAA” teriak seseorang dari kejauhan memanggil namaku, aku tahu siapa pemilik suara cempreng ini, suara yang bisa menggetarkan satu gedung rumah sakit.
Aku menoleh kepada nayla wanita yang memanggil namaku tadi, nayla belari dari kejauhan ke arahku. Melihat ekspresi wajahnya dari kejauhan aku bisa tebak kalau aku akan kena marah olehnya.
Setelah sampai di hadapanku nayla langsung memelukku erat “lu terlalu erat meluknya gue susah napas” ucapku sambil menepuk lengannya
“DIEM lu, gue lagi marah sama lu ya” benarkan apa yang aku kira, kalau nayla bakal marah sama aku.
“mana ada orang marah meluk-meluk” sarkasku
“marah gue tu kecampur sama khawatir makanya gue meluk lu”
“nay lepasin pelukannya malu di lihat orang-orang” aku mencubit perut lemaknya nayla agar dia melepaskan pelukannya, aku benar-benar malu jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar karena kelakuan nayla ini.
“aw aw aw..sakit ege” celetuk nayla, sembari melepaskan pelukannya, sahabat aku yang satu ini walaupun dokter nggak ada wibawa-wibawanya “lu tu ya sahabat gak tahu diri udah buat gue khawatir, ngilang ngak ada kabar, ponsel nggak pernah aktif, dan sekarang lu cubit pinggang gue.” lanjut nayla dengan suara keras. Aku ngerasa seperti seorang anak yang sedang di marahai oleh ibunya karena ketahuan main kotor-kotoran.
“pokoknya lu berhutang penjelasan sama gue dan harus ngejelasin sampe tuntas” cerocos nayla lagi, aku yang tak mau terus-terusan jadi pusat perhatian orang-orang, menarik nayla ke dalam lift dan memencet tombol angka lima yaitu ruang tempat ku bekerja di lantai lima.
“gue tu nggak habis pikir, lu nganggep gue sahabat lu bukan si, kenapa sama sekali lu nggak ngabarin kalau nggak jadi nikah sama abian dan malah nikah sama arun ceo perusahaan properti itu”
“mit gue tu sahabat lu dari kecil, gue selalu siap ada buat lu, dan kali ini gue benar-benar kecewa sama lu. Sampe gue mau lihat lu di ruang tunggu pengantin aja nggak di bolehin sama orang tua lu”
Sepanjang jalan menuju ruang kerjaku nayla tidak berhenti berbicara, aku pun tetap diam tidak menyahuti perkataaanya atau menyuruh nayla berhenti berbicara. Aku tahu sekarang nayla sedang mengeluarkan unek-unek yang ada dalam hantinya jadi aku biarkan saja nayla tetap bicara semaunya walaupun aku malu setiap aku lewat orang-orang melihat ke arah kami.
“udah puas ngeluarin unek-uneknya?” tanyaku pada nayla setelah kami sampai di ruang kerjaku.
“pokoknya gue mau penjelasan dari lu”
“iya nanti gue bakal jelasin setelah pulang kerja, sekalian juga lu kasih tahu si yuni kita ngumpul bareng di cafe biasanya” ucapku
“pokoknya gue mau penjelasan dari lu” ucap nayla lagi
“udah ah, sekarang lu pergi dari ruang kerja gue” aku mendorong tubuh nayla keluar dari ruang kerjaku, telingaku sudah mau berdarah karena mendengar suara cempreng nayla sepanjang jalan tadi.
“pokoknya gue mau penjelasan dari lu” teriak nayla dari luar. Syukur ruangan kerjaku jauh dari kamar pasien, kalau ada pasien yang mendengar teriakan nayla aku yakin penyakit para pasien akan makin memburuk karena suara cemprengnya nayla.
Aku melihat sekeliling ruang kerjaku, dan terlintas banyangan-bayangan saat aku bersama abian. Banyak sekali kenangan bersama abian di ruangan ini, dan sekarang hatiku kembali sakit mengingat kenangan itu. Sepertinya aku harus segera menyibukan diri dengan pekerjaanku agar kenangan bersama abian bisa tealihkan. “oke mita kamu bisa melewati masa ini” ucapku monolog menyemangati diri sendiri.