Rinjani Analita (Riri) mahasiswa fakultas keguruan yang merangkap sebagai guru honorer di sebuah sekolah SMP negeri bertemu dengan Abel anak muridnya yang punya seorang ayah berstatus duda anak satu. Abel yang rindu sosok seorang ibu yang meninggalkannya selama 4 tahun berharap sang guru menjadi ibunya. Abel selalu berusaha menjodohkan guru kesayangannya itu dengan Ervan papa nya, sedangkan Ervan punya kekasih dan mereka menjalin hubungan selama 2 tahun.
Apakah Abel berhasil membujuk Riri bersama Ervan atau kah Ervan menolak keinginan abel?
SEASON 2
kisah rumit antara Abelia, Davin dan juga Nolan. Kisah cinta segitiga dua bersaudara yang mencinta satu wanita yang sama.
Davin seorang dirut yang dikenal dengan kebiasaannya sering berganti pasangan. Sedangkan Nolan mahasiswa dingin yang punya jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama.
siapa yang akan mendapatkan cinta Abel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Einaz Ajjah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Mulut Tetangga
Beberapa menit menunggu diruang TV, makanan yang di bawa pengemudi Ojol tiba. Ervan membagikan bubur ayam yang masih di dalam tas plastik. Rika yang dari tadi merasa seperti guci pajangan di antara orang-orang didepannya yang terlihat bagaikan keluarga bahagia ini mencari alasan supaya bisa kabur.
"Maaf Ri, aku lupa tadi aku titip kunyit sekilo yang aku beli dipasar mawar. Aku kesana dulu sebentar ya, nanti ku jemput ke sini. Ini buburnya aku bawa aja."
"Ya udah aku ikut aja." Riri menutup bubur nya.
"Bubur kamu udah di kasih kuah Ri, makan aja dulu. nanti aku jemput kesini." Balas Rika lagi.
Melihat Rika yang berdiri dan masih belum memakan buburnya, Ervan kaget berharap Riri tidak ikut karena Riri sedang makan.
"Mau kemana Mbak, ayo makan dulu sama Riri." Tanya Ervan yang ikut berdiri.
"Saya mau keluar sebentar ke pasar mawar, nanti saya balik lagi jemput Riri." Jawab Rika mengerti sebenarnya Ervan senang kalo dirinya pergi. Pasar mawar memang lokasinya dekat dari rumah Ervan.
"Gini aja Mbak, nanti Riri biar saya yang antar pulang. Kasian Mbaknya harus bolak balik." Balas Ervan lagi. Riri yang mendengar langsung bangun dan menyela pembicaraan keduanya.
"Nggak usah Mas, biar Rika balik kesini, dia udah biasa kok bolak balik." Bela Riri berharap kali ini Ervan nggak mengatar pulang lagi.
"Nggak Ri, kamu makan dulu habis itu aku antar pulang, temen kamu Mbak Rika biar pulang duluan. Kasian dia bolak-balik." Kata Ervan bernada agak tinggi seperti mengomeli Abel ketika melihat Riri berdiri.
'Parah nih mas Ervan Riri dikepung terus. Malas kali dia sama pacarnya yang galak.' kata Rika dalam hati.
"Bener Mas Ervan Ri, nanti kamu kelamaan nunggu aku bolak balik." Balas Rika polos. Riri langsung melotot ke arah Rika.
'Sengaja banget kamu Rika, pake alasan beli kunyit sekilo lagi. Garing tau lah alasan gituan' batin Riri.
Setelah perdebatan panjang Riri mengalah, karena setiap mencari alasan untuk pergi Ervan selalu bersikap berlebihan padanya. Rika sudah pergi dan tidak akan kembali kerumah Abel lagi. Setelah menyelesaikan sarapannya, Ervan bergegas ke kamar mengambil kunci mobil mengantar Riri pulang.
"Ayo Sayang kita antar Bu Riri pulang." Kata Ervan pada Abel.
"Abel males kemana-mana Pa, Papa sendirian aja ya, sebentar lagi Rena sama Bi Mina juga kesini mereka udah di perjalanan dia WA Abel." kata Abel sengaja tidak ingin ikut, selain itu juga perut masih sakit.
"Yakin gak pa pa ditinggal sebentar. Ya udah kalo gitu."
Abel mengangguk, Ervan menuju halaman sementara Riri masih di dalam rumah masih memberi tahu Abel sedikit tentang menstruasi.
"Ayo Ri," Ervan kembali kedalam rumah memanggil Riri yang masih belum keluar.
"Sebentar Mas, lagi ngasih tau cara minum jusnya dulu sama Abel." Balas Riri mengeluarkan beberapa botol kaca kecil yang tadi dia beli.
Riri memeluk Abel merasakan punggung nya, sepertinya Abel tidak memakai bra, dan kini Riri sudah punya rencana baru.
Setelah beberapa menit, mereka berdua masuk kedalam mobil. Riri segera mengenakan sabuk pengaman sebelum Ervan memakaikannya seperti kemarin lalu. Mereka menyusuri jalanan minggu pagi yang lengang tidak seperti hari biasa.
"Makasih ya Ri, kalau gak ada kamu aku gak tau harus gimana." Kata Ervan memecah keheningan.
"Sama-sama Mas, aku udah anggap Abel kayak anak aku sendiri kok." Balas Riri tersenyum. Ups, sepertinya keceplosan soalnya Ervan langsung menatap Riri meminta penjelasan.
"Maksud aku, semua anak murid disekolah aku sudah ku anggap seperti anak sendiri tak terkecuali Abel." Riri membela diri, Ervan tersenyum karena tahu seperti nya Riri sedang mencari alasan.
"Oh gitu." Gumamnya pelan.
"Sekarang anak Mas sudah gadis jadi harus extra menjaganya. Memang ada sesuatu hal yang tidak bisa dibagi anak perempuan pada ayahnya Mas, yang bisa mengerti dan jelaskan ya Ibu sama anak" Kata Riri memulai obrolan lagi.
"Soal apa misalnya Ri," balas Ervan.
"Ada banyak Mas. Malu ah kalau di bahas, Riri kan perempuan. Maka nya Mas cepetan nikah biar Abel segera punya Ibu baru." Balas Riri.
Entah kenapa Ervan malah merasa lucu ketika pertanyaan itu yang menanyakan Riri.
"Kalau gitu kamu aja Ri jadi ibu Abel." Kata Ervan pengen tahu reaksi Riri.
"Ya kalau Bapak nya mau.." Riri menutup mulut nya.
"Bercanda kok Mas. Habis Mas lucu juga bercandanya." Sambung Riri membela diri.
'Kalau beneran juga gak apa-apa Ri' batin Ervan
Ervan tersenyum melihat expresi Riri dan Riri selalu menganggap ucapan Ervan tentang dirinya hanya candaan. Padahal sebenarnya mungkin ada sedikit keseriusan dan harapan buat Ervan.
Mobil yang mereka tumpangi masih meyusuri jalan, dan beberapa menit mereka akan sampai ke rumah Riri.
'Gawat..' Riri baru teringat kalau di perumahan tempat dia tinggal ada kerja bakti warga. Di perumahannya bukan seperti perumahan elit yang tidak mencampuri urusan tetangganya tapi perumahan padat penduduk yang lengkap dengan ibu-ibu rumpi. Apalagi rumahnya di depan jalan masuk perumahan yang biasa warga melakukan kerja bakti. Riri hanya tidak ingin dirinya jadi bahan gosip ibu-ibu itu.
"Mas, Mas.. Udah, Riri turun disini aja, nanti biar Riri jalan kaki aja sekalian nyambung olahraga tadi." Riri mencari alasan.
"Nggak mau ah.. Rumah kamu masih jauh, aku antar sampai depan rumah sekalian aku mau turun untuk minta maaf dan sekaligus berterimakasih sama Ibu kamu."
"Apa!? Nggak usah Mas." Riri kaget mendengar kata Ervan. Ervan bingung melihat tingkah Riri.
"Maksud Riri, Mas gak usah repot-repot pakai acara turun segala. Riri jadi gak enak buat repot Mas terus." Riri mencari alasan tapi Ervan tidak menggubris dan terus melaju memasuki gang perumahan.
"Kamu kenapa jadi aneh sih Ri, udah tenang apa pun alasan kamu aku mau antar kamu sampai depan rumah."
'gawat ini bisa-bisa aku jadi bahan rumpi ibu-ibu itu'
Akhirnya setelah beberapa menit Riri sampai didepan rumahnya. Sepanjang jalan beberapa meter dari rumah ada banyak warga yang membersihkan jalan utama. Semua mata melihat terutama ibu-ibu yang ikut berkerja bakti langsung tertuju pada mobil Ervan seolah bertanya-tanya siapa yang akan keluar.
"Ri, udah sampai ayo turun. Masih mau jalan lama-lama ya aku putar balik ya." Goda Ervan melihat Riri yang diam mematung.
"Nggak Mas, apaan sih." Riri langsung turun dengan berat hati disusul Ervan yang ikut turun.
'Mas ngapain kamu ikut turun sih, kenapa gak langsung pergi aja' batin Riri
Beberapa mata memandang Riri dan Ervan yang keluar dari mobil. Terutama grup ibu-ibu yang di ketuai Bu Sinta. Bu Sinta udah menduga itu Riri karena seperti mengenal mobil Ervan.
"Bu Sinta, itu pacar nya Riri ya." Kata salah satu ibu-ibu pada Bu Sinta yang diam.
"Bener Bu, pacarnya Riri. Wah ganteng juga pacarnya Riri." Kata ibu yang lain tidak mau kalah.
"Bu Sinta, pinter ya Riri cari pacar. Udah ganteng, kayaknya dari mobilnya kayak orang kaya." Kata ibu yang lain Bu Sinta hanya diam.
"Jago ya Riri, udah ganteng kaya lagi." Ibu yang lain tidak mau kalah lagi.
"Bukan ibu -ibu, anak saya gak pacaran. Itu temannya." Balas Bu Sinta mulai panas. Bu Sinta pergi menghampiri Riri dan Ervan yang menuju ke rumah.
"Riri pulang sama Mas Ervan, tadi katanya di car free day." Selidik Bu Sinta.
"Begini Bu, saya mau minta maaf soalnya tadi nganggu Riri. Tadi saya minta bantuan Riri, anak saya ada masalah yang sepertinya perempuan aja yang mengerti." Jelas Ervan melihat Bu Sinta sedikit tegas sama Riri.
"Ya nggak apa-apa Mas, saya kira Ririnya yang kegenitan minta antar sama Mas Ervan."
"Nggak Bu, justru saya sangat berterima kasih sama Riri, Bu. Kalau begitu saya mau pamit pulang." kata Ervan lagi.
Bu Sinta mengangguk begitu pula dengan Riri. Ervan masuk kedalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Riri. Riri merasa selamat, sebab tadi ekspresi Ibu Sinta seolah seperti mau makan Riri mentah-mentah.
"Tadi ibu-ibu ngomongin kamu, untung Si Ervan baik. Sempat mau Ibu omelin tadi kamu."
"Ibu nggak usah dengerin mereka, memang mereka orangnya begitu." Balas Riri menghela nafas.
.
.
.
.
.
.Next......