Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 : DARURAT MILITER
THE ORIGIN : ZERO
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 16 : DARURAT MILITER
Satu minggu telah berlalu sejak siaran propaganda Asosiasi menggemparkan seluruh negeri.
Bagi murid-murid Kelas Reguler Akademi Guardian, tujuh hari terakhir terasa tidak ada bedanya dengan simulasi neraka yang bocor. Instruktur mereka benar-benar menyiksa mereka. Lari puluhan putaran di bawah tekanan gravitasi buatan, latihan pertarungan tangan kosong hingga tulang memar, dan porsi makan yang dihitung dengan kejam membuat separuh murid Kelas Reguler nyaris menyerah.
Namun, yang membuat suasana di dalam akademi benar-benar tegang bukanlah siksaan dari Instruktur, melainkan apa yang terjadi di luar akademi.
Sabtu malam di Kamar Asrama 404.
Biasanya, malam Minggu pertama di akademi adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid baru. Sebuah tradisi bernama Bazaar Malam seharusnya digelar malam ini, di mana para murid diizinkan keluar asrama untuk menikmati festival makanan, membeli perlengkapan, atau sekadar melepas penat dari neraka pelatihan.
Namun, alih-alih merayakan kebebasan sesaat, suasana di Kamar 404 justru terasa sumpek dan terkurung.
"Sembilan ratus sembilan puluh tujuh... sembilan ratus sembilan puluh delapan..."
Suara napas berat dan hitungan pelan memecah keheningan kamar. Di lantai yang dingin, Raka sedang melakukan push-up satu tangan dengan tempo yang sangat cepat. Keringat membanjiri tubuh kekarnya yang hanya mengenakan kaus kutang hitam, menetes membasahi lantai di bawahnya.
Pemuda itu sedang melampiaskan rasa frustrasinya melalui siksaan fisik mandiri.
"Ini benar-benar omong kosong," gerutu Raka sambil menukar tumpuan ke tangan kirinya tanpa menghentikan ritme push-up.
"Aku sudah membayangkan makan daging panggang di Bazaar malam ini. Otot-ototku butuh nutrisi sungguhan, bukan balok protein rasa kardus itu! Kenapa akademi tiba-tiba membatalkan semuanya dan mengunci kita di asrama?!"
Di atas ranjang susun bagian tengah, Rico membetulkan letak kacamatanya yang memantulkan cahaya biru. Ia sedang memangku sebuah tablet holografik, menelusuri rentetan tajuk berita dengan raut wajah yang sangat serius.
"Akademi tidak punya pilihan lain, Raka," jawab Rico tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Pemerintah baru saja menetapkan Status Darurat Militer Tingkat Satu untuk seluruh wilayah ibu kota. Jam malam diberlakukan sangat ketat mulai pukul enam sore. Siapa pun warga sipil atau murid yang berkeliaran di luar tanpa izin resmi akan dianggap sebagai ancaman dan bisa ditembak di tempat."
Gerakan Raka terhenti sesaat. Ia menahan tubuhnya dengan satu tangan dan menoleh ke arah Rico.
"Ditembak di tempat? Seserius itu? Memangnya apa yang terjadi di luar sana?"
"Perang," jawab Rico suram. Pemuda berkacamata itu memutar tabletnya agar Raka bisa melihat layar.
Terdapat puluhan artikel berita yang disensor sebagian, namun judul-judulnya cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri Pos Penjagaan Sektor Timur Diserang, Lima Guardian tingkat Beta Hilang Tanpa Jejak, Ledakan Sihir Gelap di Distrik Bawah Tanah.
"Sejak Asosiasi menayangkan video penangkapan teroris pengguna payung hitam itu minggu lalu, Black Cross benar-benar mengamuk," jelas Rico dengan nada berbisik, seolah takut ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Mereka tidak menyerang fasilitas publik, tapi mereka memburu anggota Asosiasi. Setiap malam, ada saja pos jaga yang diserbu atau Guardian patroli yang diculik. Dunia bawah tanah ibu kota sedang diacak-acak."
Rico menelan ludah, matanya memancarkan kengerian campur takjub.
"Organisasi kriminal itu sedang mencari Wakil Ketua mereka dengan cara yang paling brutal. Asosiasi kewalahan menutupi jejak pertempuran setiap malam. Itulah kenapa pemerintah menetapkan darurat militer. Ibu kota saat ini adalah zona perang tertutup antara dua organisasi."
"Gila..." Raka bersiul pelan, lalu kembali melanjutkan push-up-nya dengan ritme yang lebih lambat.
"Mereka berani menantang Asosiasi di kandangnya sendiri hanya demi mencari satu orang? Solidaritas organisasi teroris ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang kuduga."
Sementara kedua temannya sibuk membahas situasi genting ibu kota, sosok ketiga di kamar itu tampak hidup di dimensi yang sama sekali berbeda.
Di atas ranjang susun bagian atas, Rey sedang rebahan dengan posisi yang luar biasa nyaman.
Kepalanya disangga oleh dua buah bantal yang ditumpuk, sementara kedua tangannya memegang sebuah ponselnya. Matanya dengan santai menggulir layar, asyik membaca episode terbaru dari komik digital favoritnya.
"Hei, Rey!" panggil Raka dari bawah, suaranya terengah-engah.
"Kau tidak mendengarkan omongan Rico? Di luar sana sedang perang! Ibu kota sedang diacak-acak oleh Black Cross! Bagaimana kau bisa sesantai itu baca komik?!"
Rey tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Ia hanya menguap pelan, menggeser panel komiknya ke halaman berikutnya.
"Biarkan saja mereka sibuk, Raka," sahut Rey dengan nada malas yang khas.
"Selama perang itu tidak mengganggu jam tidur kita di asrama, itu bukan urusan kita. Lagipula, asrama ini punya pelindung sihir yang tebal. Lebih baik kau simpan tenagamu untuk siksaan Instruktur besok Senin."
Raka mendengus keras mendengar jawaban apatis teman sekamarnya itu.
"Kau ini benar-benar tidak punya jiwa petarung."
Di balik layar ponselnya, sudut bibir Rey sedikit tertarik ke atas, membentuk senyum tipis yang penuh ironi.
Tentu saja ia santai. Berita yang membuat Rico ketakutan dan Raka frustrasi itu hanyalah hal sepele, batin Rey, merasa sedikit geli membayangkan Asosiasi yang sedang di acak-acak oleh organisasi kriminal yang ingin mencari koordinat Penjara Tartarus.
Padahal, jika Rey mau, ia bisa saja mengirimkan titik koordinat absolut Tartarus itu kepada sang Ketua detik ini juga. Ia sudah menyimpan lokasi tepatnya di kepalanya sejak hari pertama Asosiasi menyiarkan video bodoh itu.
Namun, di tengah lamunannya yang geli melihat kepanikan warga Jakarta, mata Rey tiba-tiba sedikit menyipit. Ia merasakan sebuah fluktuasi Mana yang sangat tipis beresonansi di udara sebuah sinyal rahasia yang hanya bisa dideteksi olehnya.
Rey mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di samping bantal. Ia bangkit dari posisinya dan perlahan menuruni tangga ranjang susun.
"Mau ke mana kau?" tanya Raka yang masih sibuk dengan push-up-nya.
"Kamar mandi. Terlalu banyak minum air putih,"
Jawab Rey dengan santai.
Melangkah dengan malas melewati Raka dan Rico yang kembali asyik berdiskusi tentang peta wilayah darurat militer.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci dari dalam, postur tubuh Rey yang tadinya bungkuk dan malas seketika berubah tegak.
Hawa keberadaannya yang biasa-biasa saja mendadak lenyap, digantikan oleh aura yang begitu pekat dan dalam, seolah ia adalah jurang tanpa dasar.
Rey berjalan mendekati wastafel dan menyalakan keran air untuk menyamarkan suara. Ia menatap lurus ke arah cermin yang berembun.
Di dalam cermin itu, pantulan bayangannya tiba-tiba terdistorsi.
Ruang di dalam cermin seolah melengkung, mengubah pantulan wajah Rey menjadi sebuah ruang gelap gulita.
Perlahan, sesosok bayangan hitam pekat dengan mata merah menyala muncul di dalam cermin tersebut, berlutut dengan satu kaki dalam postur tunduk yang absolut. Itu adalah salah satu Pelayan miliknya.
"Lapor, Tuanku," suara serak dan menggema terdengar langsung di dalam pikiran Rey, tidak melalui udara, melainkan telepati murni.
"Bicaralah," balas Rey pelan, matanya menatap tajam sosok di dalam cermin.
"Penyelidikan yang Anda perintahkan telah membuahkan hasil," lapor Pelayan itu dengan nada hormat.
"Jejak Mana yang Anda cari... kami berhasil memastikannya. Orang itu, memang benar dikurung di tingkat terdalam fasilitas penahanan rahasia Asosiasi, Penjara Tartarus."
Sudut bibir Rey tertarik ke atas, membentuk senyuman dingin yang sangat kontras dengan wajah murid pemalasnya sehari-hari.
"Sesuai dugaanku," gumam Rey.
Sebenarnya, Rey sudah lama ingin membebaskan orang itu dari cengkeraman Asosiasi. Namun, menyusup ke Tartarus tanpa alasan yang jelas hanya akan memancing kecurigaan besar dari Pemerintah dan Asosiasi Guardian.
Jika tahanan sepenting itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak, Asosiasi pasti sadar ada entitas luar biasa yang campur tangan di luar radar mereka.
Namun sekarang, situasinya berbeda.
"Elara benar-benar memberikan peluang yang sangat sempurna tanpa ia sadari," seringai Rey semakin lebar, otaknya menyusun panggung sandiwara yang brilian.
Rey mencondongkan tubuhnya ke arah cermin, menatap pelayan bayangannya dengan sorot mata memerintah.
"Dengarkan perintahku," ucap Rey, suaranya kini mengandung tekanan yang membuat cermin di depannya nyaris retak.
"Berikan titik koordinat Tartarus itu kepada Ketua Black Cross sekarang juga. Gunakan jalur intelijen anonim agar dia tidak tahu dari mana informasi itu berasal, tapi pastikan dia menerimanya malam ini."
Pelayan bayangan itu menunduk lebih dalam.
"Sesuai kehendak Anda, Tuanku. Apakah Anda berencana menggunakan Black Cross sebagai pengalih perhatian?"
"Tepat," jawab Rey dingin.
"Ketua saat ini sedang terbakar amarah. Jika dia tahu di mana Tartarus berada, dia pasti akan memusatkan seluruh pasukan elitnya untuk menyerbu dari pintu depan demi menyelamatkan Elara. Biarkan Black Cross menjadi umpan raksasa yang menarik seluruh pasukan militer ibu kota."
Rey mematikan keran air. Tetesan terakhir jatuh membentur wastafel, seakan menjadi penanda dimulainya operasi yang sesungguhnya.
"Dan ketika seluruh petinggi Asosiasi sedang panik menahan amukan Black Cross... kita yang akan menyusup masuk dan membebaskan orang itu, dan jangan biarkan AS 1ikut campur, dan suruh Cl 1 dan AS 1, melakukan tugasnya masing-masing, apakah kamu mengerti AS2? " ucap Rey.
"Sebuah taktik yang tanpa cela, Tuanku. Hamba akan segera menyebarkan koordinatnya, dan menyampaikan perintah anda kepada Tuan CL 1 dan AS 1" sahut bayangan itu sebelum perlahan memudar, mengembalikan pantulan cermin ke wujud Rey yang biasa.
"Di tengah kekacauan perang dan jebolnya sel-sel penahanan nanti, Asosiasi tidak akan pernah curiga. Mereka hanya akan menyimpulkan bahwa orang itu ikut kabur bersama para tahanan lain akibat serangan Black Cross."
Rey menatap wajahnya sendiri di cermin selama beberapa detik, lalu mengacak-acak rambutnya agar kembali terlihat berantakan. Ia menarik napas panjang, mengubah kembali auranya menjadi pemuda Kelas Reguler yang tidak mencolok, lalu membuka pintu kamar mandi.
Mari kita lihat seberapa besar kekacauan yang bisa dibuat oleh bawahanku, batin Rey sambil melangkah keluar, bersiap kembali ke kasurnya yang nyaman.
BAB 16 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•