NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Garam di Ambang Pintu dan Ekspedisi Batas Jati

​Pagi turun di Lembah Marapi dengan cara yang selalu sama: lambat, dingin, dan dipenuhi oleh rahasia yang mengendap di dasar kabut.

​Dara Kirana menuruni anak tangga kayu rumah panggung Kakek Danu dengan langkah pelan. Tidurnya semalam terasa sangat lelap, nyaris tanpa mimpi. Deklarasinya di depan Indra Bagaskara—sang pewaris Harimau Putih—seolah telah mencabut sebuah beban tak kasat mata dari pundaknya. Ia tidak lagi merasa seperti buronan yang terus-menerus melarikan diri dari takdir; ia kini berdiri menatap takdir itu tepat di matanya.

​Saat ia tiba di lantai bawah, bau tajam kopi hitam bubuk dan singkong rebus menyambut indra penciumannya. Kakek Danu sedang berjongkok di depan pintu utama yang terbuka lebar. Pria tua itu memegang sebuah sapu lidi, dengan hati-hati menyapu butiran-butiran garam kasar yang semalam ia taburkan di ambang pintu sebagai penangkal gaib.

​"Pagi, Kek," sapa Dara, berjalan menuju meja dapur untuk menuangkan air putih.

​Kakek Danu menghentikan sapuannya. Ia berdiri, menepuk-nepuk debu dari sarung tenunnya, lalu menatap Dara dengan pandangan yang sulit diartikan. Mata cokelat gelap pria tua itu memindai wajah cucunya lamat-lamat.

​"Garam ini tidak tersentuh dari luar, Nduk," ujar Kakek Danu, suaranya tenang namun mengandung selidik yang tajam. "Tidak ada jejak kaki basah dari pasukan mayat hidup Willem, dan tidak ada sisa abu dari makhluk buangan hutan. Tapi..."

​Kakek Danu menoleh ke arah langit-langit kayu, tepat di bawah posisi kamar Dara.

​"...pagar gaib rumah ini beresonansi aneh menjelang subuh tadi. Seperti ada energi panas yang menyelinap masuk dari atas, melewati batas garam, tanpa memicu penolakan dari segel pelindung."

​Dara nyaris tersedak air putih yang sedang diminumnya. Ia meletakkan gelas kaleng itu dengan bunyi klak yang sedikit terlalu keras. Kakek Danu memang tidak bisa dikelabui. Insting penjaga sejarah itu terlalu tajam untuk dilewati begitu saja.

​Dara menelan ludah, memutuskan untuk tidak berbohong seutuhnya, namun juga tidak memberikan detail yang bisa memicu kemarahan kakeknya.

​"Semalam... Indra datang ke jendelaku, Kek," aku Dara pelan.

​Kakek Danu mematung. Sapu lidi di tangannya menegang. "Pemuda Cindaku itu memanjat ke lantai dua kamarmu di tengah malam?"

​"Dia tidak bermaksud buruk," Dara buru-buru menambahkan, melangkah mendekati kakeknya. "Dia hanya datang untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja setelah menyerap energinya di dalam gua. Kami hanya bicara sebentar, lalu dia pergi."

​Kakek Danu menghela napas berat, menggelengkan kepalanya perlahan. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk, menyalakan sebatang rokok kretek untuk menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.

​"Dara," panggil Kakek Danu, mengembuskan asap putih yang berbaur dengan uap singkong rebus. "Kakek bangga padamu karena kau berhasil menundukkan Nafsu Rimba di malam Bulan Baru. Kau telah membuktikan dirimu sebagai Pawang yang sah. Tapi kau harus ingat satu hukum mutlak dari alam liar: menundukkan seekor harimau tidak lantas menjadikannya seekor kucing peliharaan."

​Pria tua itu menatap mata Dara dalam-dalam, menggoreskan sebuah peringatan purba. "Cindaku adalah makhluk yang terlahir dengan insting mendominasi. Saat Indra menyadari bahwa kau adalah satu-satunya entitas di dunia ini yang bisa memberinya kedamaian, dia tidak akan hanya berterima kasih. Dia akan mengklaimmu. Dia akan memastikan tidak ada satu pun makhluk lain yang boleh menyentuhmu, mencium aromamu, atau bahkan menatapmu terlalu lama. Keposesifan itu bisa menjadi perisai yang sangat kuat bagimu melawan Willem, tapi ia juga bisa menjadi penjara besi yang akan mencekikmu perlahan-lahan."

​Kata-kata Kakek Danu persis menggemakan ucapan Bumi Arka dan deklarasi Indra sendiri semalam.

​Aku akan menjadi sangkar yang mengurungmu, begitu kata Indra.

​Dara menyentuh telapak tangan kanannya secara refleks. "Aku tahu, Kek. Tapi aku sudah memberitahunya bahwa aku bukanlah properti yang bisa ia kurung. Aku adalah Penengah. Kalau dia ingin melindungiku, dia harus melakukannya sebagai sekutu."

​Kakek Danu tersenyum kecut, senyum yang tidak mencapai matanya. "Semoga leluhurmu Nyai Ratih memberkatimu dengan kekuatan untuk terus mempertahankan pendirian itu, Nduk. Karena saat Harimau Putih dan Serigala mulai memperebutkan wilayah di sekitarmu, bumi yang kau injak ini akan bergetar hebat."

​Ketegangan di SMA Nusantara Lereng Marapi hari itu bisa dipotong dengan pisau.

​Sejak Dara melangkahkan kaki melewati gerbang besi sekolah yang berkarat, ia bisa merasakan bahwa poros kekuasaan di tempat itu telah bergeser secara halus namun absolut.

​Biasanya, murid-murid akan menunduk dan menepi karena takut pada keluarga Bagaskara. Hari ini, saat Dara berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, murid-murid secara tidak sadar memberikan jalan untuk dirinya. Bukan karena mereka tahu rahasia gaib di balik identitasnya, melainkan karena manusia memiliki insting alam bawah sadar untuk mendeteksi siapa yang dilindungi oleh predator tertinggi di wilayah tersebut.

​Dara sedang membuka lokernya ketika sebuah hawa hangat yang sangat familier menghampirinya dari belakang.

​"Kau tidur nyenyak, Anak Kota?" sapa Bumi Arka.

​Pemuda berseragam varsity merah marun itu bersandar pada deretan loker di sebelahnya. Senyum cerahnya masih ada, namun matanya memancarkan kelelahan yang nyata. Semalaman suntuk Bumi dan kawanannya pasti berpatroli menjaga perbatasan desa dari ancaman Opsir Darah.

​"Sangat nyenyak, Bumi," Dara tersenyum tulus, menutup pintu lokernya. "Terima kasih atas gelang akarnya. Ia benar-benar melindungiku di dalam hutan kemarin."

​Mata cokelat terang Bumi turun menatap pergelangan tangan Dara, memastikan bahwa anyaman akar pohon pasak serigala itu masih melingkar manis di sana. Kelegaan melintas di wajah pemuda itu.

​Namun, hidung Bumi berkedut pelan. Otot rahangnya kembali mengeras.

​"Bau Kucing Besar itu semakin kuat menempel di pakaianmu pagi ini," gumam Bumi, nada suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Dara. "Bukan sekadar bau saat dia menggendongmu keluar dari air terjun. Ini bau yang lebih baru. Lebih intim. Apa harimau brengsek itu mendatangimu semalam?"

​Dara tertegun. Penciuman kaum Ajag memang tidak masuk akal. "Bumi, tolong..."

​"Dia benar-benar tidak tahu diri," potong Bumi, matanya berkilat merah kecokelatan untuk sepersekian detik. Hawa hangat yang memancar dari tubuh pemuda itu mulai terasa menyengat. "Dia tidak sadar bahwa pasukan mayat hidup Willem sedang mengintai setiap sudut lembah, menunggu celah untuk menyerangmu? Dan dia malah keluyuran di sekitar rumahmu, mempertaruhkan keselamatanmu hanya untuk memuaskan insting posesifnya?!"

​"Bumi, hentikan," Dara menyentuh lengan Bumi, mengirimkan gelombang kedamaian yang tipis. "Indra tidak melukaiku. Dia hanya memastikan bahwa energinya tidak menguras habis tenagaku. Jangan memancing keributan di sekolah."

​Bumi menghela napas kasar, memejamkan matanya, dan menyandarkan kepalanya ke loker besi. Sentuhan Dara benar-benar menjadi candu yang langsung memadamkan percikan emosinya. "Maaf. Insting sialan ini... kadang aku benci memiliki penciuman serigala."

​Sebelum percakapan itu berlanjut, suara speaker sekolah berdengung keras, memuntahkan bunyi statis sebelum akhirnya suara berat Pak Budi, guru Biologi sekaligus wakil kepala sekolah, menggema ke seluruh penjuru koridor.

​"Pengumuman kepada seluruh siswa kelas XI-IPA 1 dan XI-IPS 2. Hari ini, setelah jam istirahat pertama, kita akan mengadakan praktikum lapangan gabungan untuk mata pelajaran Biologi dan Geografi Terapan. Silakan berkumpul di lapangan basket dengan membawa alat tulis dan jas hujan. Kita akan melakukan observasi ekosistem di batas Hutan Jati Lereng Timur. Sekali lagi, berkumpul di lapangan basket setelah istirahat."

​Klik. Pengumuman berakhir.

​Di lorong itu, Bumi Arka seketika membeku. Tubuhnya tegak sempurna.

​Dara mengerutkan kening. "Ada apa, Bumi? Bukankah praktikum lapangan itu biasa?"

​"Di batas Hutan Jati?" desis Bumi, matanya membelalak tak percaya. "Apakah guru itu sudah gila?!"

​Dara teringat peta sederhana yang pernah digambar Kakek Danu. Lembah Marapi dikelilingi oleh hutan lebat, namun ada pembagian wilayah tak kasat mata. Lereng Utara adalah teritori murni Cindaku yang dipimpin Sutan Agung. Lereng Timur, dengan padang rumput dan hutan pinus mudanya, adalah wilayah patroli Ajag.

​Namun, ada sebuah area yang dihindari oleh kedua belah pihak: Hutan Jati.

​"Batas Hutan Jati adalah zona abu-abu, Dara," Bumi menjelaskan dengan suara bergetar menahan amarah. Pemuda itu mencengkeram bahu Dara dengan kedua tangannya. "Itu bukan wilayah kawananku, dan bukan wilayah Cindaku. Di sana tidak ada hukum. Itu adalah tempat buangan bagi makhluk-makhluk liar yang tidak punya klan. Ajag liar yang diusir, siluman-siluman rendah, dan... tempat yang paling sering digunakan oleh pengikut Willem untuk bersembunyi di siang hari karena kanopi pohon jatinya yang sangat rapat menghalangi matahari."

​Napas Dara tercekat. "Kenapa sekolah mengadakan praktikum di sana?"

​"Camat Wahyu," jawab Bumi dengan kebencian murni. "Kepala sekolah kita hanyalah boneka dari Camat Wahyu. Dan Camat bajingan itu sudah disuap oleh pihak 'investor' Belanda yang sebenarnya adalah kedok dari Willem van Deventer."

​Kepingan puzzle itu seketika tersusun utuh di kepala Dara. Willem tahu Dara telah dilindungi oleh Sutan Agung dan kawanan Bumi di dalam desa. Opsir Darah itu tidak bisa menyerang secara terbuka. Jadi, ia memanipulasi birokrasi manusia untuk memaksa Dara keluar dari zona aman dan masuk ke wilayah mematikan atas nama "tugas sekolah".

​"Kau tidak boleh ikut, Dara. Kau harus pura-pura sakit dan pulang sekarang juga," perintah Bumi mutlak. "Aku akan menyuruh Tio dan Adi mengawalnya."

​"Bumi, aku tidak bisa lari," Dara menggeleng tegas. "Kalau aku tiba-tiba bolos, Willem akan tahu bahwa aku menyadari jebakannya. Dia mungkin akan mengirim makhluk-makhluk liar itu untuk menyerang murid-murid lain sebagai pelampiasan. Santi ada di kelasku. Puluhan anak tidak bersalah akan berada di sana."

​"Dara, jangan keras kepala! Ini bukan sekadar jalan-jalan di taman! Di Hutan Jati, gelarmu sebagai Pawang Rimba tidak akan berarti apa-apa bagi siluman rendahan yang sedang kelaparan!"

​TAP. TAP. TAP.

​Suara langkah sepatu yang berat, tegas, dan pelan menggema di koridor.

​Suhu udara di lorong itu mendadak naik secara drastis. Embun di kaca jendela koridor menguap seketika. Hawa panas yang mengintimidasi dan mengklaim wilayah menyebar ke segala arah.

​Dara dan Bumi serempak menoleh.

​Indra Bagaskara berjalan mendekati mereka. Pemuda Cindaku itu tidak lagi mengenakan seragam sekolah. Ia mengenakan kaus hitam dan jaket denim gelap, jelas-jelas berniat untuk membolos dari pelajaran. Mata hazelnya yang tajam menatap lurus ke arah tangan Bumi yang masih mencengkeram bahu Dara.

​"Singkirkan tanganmu dari bahunya, Arka," perintah Indra. Suaranya sangat tenang, tidak ada geraman, namun justru ketenangan itulah yang membuatnya terdengar sepuluh kali lebih mematikan dari sebelumnya. Harimau yang marah itu menakutkan, tapi harimau yang fokus dan terkendali adalah mimpi buruk.

​Bumi menyipitkan matanya, menolak melepaskan Dara. Hawa panas Indra berbenturan dengan hawa hangat tubuh Bumi, menciptakan distorsi udara di antara mereka berdua.

​"Kucing Besar," sapa Bumi sinis. "Kau mau ikut campur urusan kelas kami sekarang?"

​"Urusan yang menyangkut nyawanya adalah urusanku," Indra melangkah hingga ia berdiri tepat di samping Dara. Pemuda itu memecah jarak intim yang dibangun Bumi. "Gadis ini tidak akan pergi ke Hutan Jati."

​"Lucu sekali," Bumi mendengus, taringnya sedikit menyembul. "Tumben kita sepaham. Aku baru saja menyuruhnya pulang. Tapi karena kau sudah di sini, kenapa kau tidak merengek pada pamanmu yang kolot itu untuk mengirimkan pasukan Bagaskara memblokir Hutan Jati?"

​"Klan kami tidak menginjakkan kaki di zona buangan tanpa alasan perang yang sah. Itu hukum adat," balas Indra dingin. "Tapi aku tidak peduli pada adat hari ini. Willem mencoba memancing Ratu Penengah keluar dari cangkangnya. Aku tidak akan membiarkan rencana murahan itu berhasil."

​Dara menatap kedua pemuda pemangsa yang berdiri mengapitnya. Hawa panas dan hawa hangat yang saling beradu itu membuat kepalanya sedikit pening, namun ia sadar bahwa jika ia membiarkan mereka mengambil alih keputusan, ia hanya akan kembali menjadi bidak tanpa daya.

​"Kalian berdua, dengarkan aku," Dara menyela, memecah ketegangan maskulin yang menyesakkan itu. Suaranya memancarkan wibawa dingin Sang Pawang yang langsung membuat kedua pemuda itu menoleh padanya secara serempak.

​Dara melepaskan cengkeraman Bumi dari bahunya secara halus, lalu melangkah satu tindak ke depan, memosisikan dirinya bukan di belakang mereka, melainkan di depan mereka.

​"Aku akan pergi ke Hutan Jati itu," putus Dara absolut.

​"Dara—" Indra dan Bumi memprotes dalam waktu yang nyaris bersamaan.

​Dara mengangkat sebelah tangannya, membungkam mereka berdua. "Willem tidak akan berhenti, kalian tahu itu. Kalau aku sembunyi hari ini, besok dia akan membuat sekolah mengadakan acara kemah di Lereng Selatan. Kalau aku menolak lagi, dia mungkin akan membakar sekolah ini dengan seluruh murid di dalamnya. Mayat hidup tidak punya empati, dan Opsir Darah itu tidak akan menyerah sampai dia mendapatkan darahku."

​Dara menatap Indra yang rahangnya mengeras sempurna, lalu beralih menatap Bumi yang mengatupkan bibirnya kuat-kuat.

​"Aku tidak ingin ada manusia tak bersalah yang terluka karena mereka tidak tahu apa yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu," lanjut Dara, matanya memancarkan tekad baja yang diwariskan dari Nyai Ratih. "Aku akan pergi ke praktikum itu. Aku akan berjalan di antara teman-temanku."

​Dara menurunkan tangannya, menatap kedua predator mematikan itu secara bergantian. "Kalau kalian benar-benar ingin melindungiku, jangan kurung aku di rumah. Lindungi aku dari dalam bayang-bayang. Buktikan bahwa kalian bisa bekerja sama menjaga satu manusia tanpa harus saling membunuh terlebih dahulu."

​Tantangan itu telak.

​Indra dan Bumi saling bertatapan. Selama dua abad, Cindaku dan Ajag tidak pernah berdiri di medan yang sama tanpa diiringi oleh pertumpahan darah. Teritori adalah segala-galanya. Kebanggaan ras adalah harga mati.

​Namun, di hadapan gadis yang memegang kunci kewarasan dan eksistensi mereka ini, kebanggaan itu dipaksa bertekuk lutut.

​Bumi menghela napas kasar, mengacak-acak rambut ikalnya dengan frustrasi. "Terkutuklah kelepalaku yang menyetujui ini. Baik. Kawananku akan menyisir formasi hutan di radius seratus meter dari kelompok murid. Tapi kami tidak bisa terlalu dekat ke area Hutan Jati tanpa memicu peringatan dari Sutan Agung."

​Bumi menatap tajam ke arah Indra. "Sisa jarak dekatnya... kuserahkan pada kucing soliter ini. Kalau sampai kau lengah dan Opsir Darah itu menyentuh sehelai saja rambut Dara, aku sendiri yang akan memimpin kawananku menyerbu Lereng Utara."

​Indra tidak terprovokasi oleh ancaman Bumi. Fokus pemuda Cindaku itu sepenuhnya tertuju pada Dara. Mata hazelnya memancarkan dedikasi yang begitu absolut hingga rasanya menyakitkan untuk ditatap.

​"Aku tidak akan berada di bayang-bayang, Pawang," ucap Indra dengan suara bariton yang dalam dan menggetarkan. Ia mengambil satu langkah mendekati Dara, sama sekali tidak memedulikan kehadiran Bumi di sebelah mereka.

​Indra menundukkan wajahnya, matanya mengunci mata Dara. "Aku akan berada tepat di sebelahmu. Di setiap langkah yang kau ambil di Hutan Jati nanti. Dan tidak ada satu pun makhluk dari neraka maupun dari hutan ini yang akan bisa menembus hawa panasku."

​Lonceng sekolah berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.

​Waktu observasi lapangan akan segera dimulai. Dara Kirana menatap dua pelindungnya. Ia baru saja melemparkan dadu ke atas papan permainan milik Willem van Deventer. Ekspedisi siang ini tidak akan sekadar menjadi pelajaran Biologi tentang daun dan tanah; ini akan menjadi pawai kematian di atas zona abu-abu, di mana Sang Harimau Putih dan Sang Serigala Alpha dipaksa untuk pertama kalinya melangkah berdampingan demi menjaga sang Ratu Penengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!