NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 percikan es di atas bara dan lahirnya sayap perak

Debu emas yang berterbangan di udara perlahan mengendap, menutupi reruntuhan Balai Awan Emas layaknya selimut pemakaman yang mewah. Ribuan pasang mata menatap dalam kebisuan yang absolut. Tidak ada yang berani mengambil napas terlalu keras. Pasukan penjaga kota yang mengepung tempat itu memegang senjata mereka dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Di tengah pusat kehancuran, Lin Chen berdiri tegak. Jubah sutra hitamnya berkibar tertiup angin yang masuk melalui atap yang berlubang, sementara Lengan Logam Abadinya memancarkan kilau perak kehitaman yang mematikan.

Di kejauhan, di luar bangunan yang hancur itu, tubuh Tetua Kuang tergeletak tak berdaya. Ahli Inti Emas yang ditakuti itu kini tak lebih dari tumpukan daging dan tulang yang kehilangan seluruh fondasi kultivasinya. Inti Emasnya telah diremukkan.

Lin Chen tidak memedulikan tatapan ngeri dari para penjaga. Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah melewati bongkahan marmer dan kristal yang hancur. Tujuannya hanya satu: Yin Yue, yang masih berdiri mematung di sisa-sisa lantai dua bilik VVIP yang setengah runtuh.

Dengan satu lompatan ringan yang mengabaikan gravitasi, Lin Chen mendarat tepat di depan wanita es tersebut.

Yin Yue menelan ludah. Mata safirnya menatap pemuda bertopeng di depannya dengan campuran antara rasa takut yang instingtual dan kekaguman yang membakar jiwa. Pria ini baru saja membongkar tatanan hukum Dunia Tengah dengan kedua belah tangannya.

"Pelelangannya sudah selesai," ucap Lin Chen datar, seolah ia baru saja menghadiri jamuan minum teh biasa. Ia mengulurkan tangan kirinya, memberikan isyarat agar wanita itu mengikutinya. "Bawa aku ke tempat yang aman. Hantaman tadi meninggalkan sedikit kerikil di meridianku."

Yin Yue tersadar dari keterkejutannya. Ia melihat secercah asap putih yang tidak wajar mengepul dari sela-sela kerah jubah Lin Chen. Benar saja, membenturkan tubuh fana yang berada di Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuh dengan kekuatan Inti Emas, betapapun kuatnya artefak logam tersebut, pasti membawa serangan balik yang brutal pada organ internalnya.

"Ikuti aku," bisik Yin Yue. Ia mengambil inisiatif. Meraih pergelangan tangan kiri Lin Chen yang masih berbalut kulit manusia, wanita itu segera membimbingnya melompat dari bagian belakang bangunan yang hancur, menghindari konsentrasi penjaga utama.

Mereka menyusup ke dalam gang-gang sempit Kota Gerbang Awan, menggunakan rute rahasia yang hanya diketahui oleh jaringan intelijen Paviliun Hujan Gerimis. Yin Yue bergerak dengan kelincahan bayangan, gaun *cheongsam* biru malamnya berkibar, menyingkap paha putihnya yang jenjang setiap kali ia melompat melewati atap-atap rumah penduduk.

Setelah dua puluh menit perjalanan dalam keheningan yang menegangkan, Yin Yue membuka sebuah pintu batu yang tersembunyi di balik air terjun buatan di distrik taman kota. Di baliknya terdapat sebuah tempat persembunyian darurat milik paviliun, sebuah gua alami yang dihiasi oleh formasi kristal es dan kolam mata air spiritual yang memancarkan kabut dingin.

Begitu pintu batu tertutup rapat di belakang mereka, Lin Chen akhirnya melepaskan kendali paksa atas tubuhnya.

Pemuda itu terhuyung ke depan. Ia memuntahkan seteguk darah yang berwarna merah kehitaman, langsung mendidih dan menguap saat menyentuh lantai es gua. Suhu tubuh Lin Chen mendadak melonjak drastis. Lengan Logam Abadinya berdenging keras, rune-rune di permukaannya berkedip liar antara warna merah lava dan putih kristal yang tidak stabil.

"Lin Chen!" Yin Yue berseru panik, membuang seluruh sikap dingin dan profesionalnya. Ia bergegas maju, menahan tubuh pemuda itu agar tidak ambruk.

"Tabrakan energi... terlalu besar," desis Lin Chen parau. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kristal es. Otot-otot di dadanya berkontraksi hebat. "Esensi api bumiku meronta akibat tekanan sisa Qi Inti Emas yang menyusup ke meridianku. Jika aku tidak mendinginkannya, pembuluh darahku akan meledak menjadi abu."

Yin Yue menatap pria itu dengan napas memburu. Ia bisa merasakan hawa panas yang nyaris membakar kulitnya hanya dari jarak satu jengkal. Jika ia membiarkan Lin Chen mengatasinya sendiri, pemuda ini mungkin akan hancur dari dalam.

"Lepaskan jubahmu," perintah Yin Yue tegas, matanya memancarkan tekad yang bulat.

Lin Chen tidak membantah. Menggunakan tangan kirinya, ia menarik lepas jubah sutra hitamnya, melemparkannya ke sudut gua. Tubuh atasnya yang atletis dan dipenuhi bekas luka kini terekspos sepenuhnya. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari kulit perunggunya yang kini memerah seperti besi yang dibakar di dalam tungku.

Yin Yue menggigit bibir bawahnya. Ia menatap ke dalam kolam mata air spiritual yang mengepulkan hawa dingin. Tanpa ragu, wanita penguasa intelijen itu melangkah ke tepi kolam. Ia mengangkat tangannya yang lentik, meraih kancing kerah gaun *cheongsam* biru malamnya.

Satu per satu kancing sutra itu terlepas. Gaun mewah tersebut merosot jatuh ke lantai es, menyisakan Yin Yue hanya dalam balutan pakaian dalam sutra tipis berwarna putih salju yang menutupi bagian intimnya. Lekuk tubuhnya yang sempurna—pinggang yang sangat ramping, perut yang rata, dan dada yang penuh—tampak begitu menggoda di bawah cahaya kristal gua yang remang-remang. Kulitnya yang putih mulus memancarkan pendar energi Yin yang sangat suci dan dingin.

"Masuklah ke dalam kolam bersamaku," ucap Yin Yue lembut, suaranya sedikit bergetar oleh rasa malu yang asing baginya, namun tekad kultivasinya mengalahkan segalanya. "Aku akan menggunakan Fisik Teratai Es milikku untuk menarik kelebihan api dari jantungmu. Tapi ini membutuhkan kontak kulit secara langsung agar meridian kita bisa terhubung sempurna."

Lin Chen menatap wanita itu. Mata hitamnya tidak menyiratkan nafsu birahi yang liar, melainkan apresiasi terhadap pengorbanan dan keberanian yang ditunjukkan Yin Yue. Ia melangkah masuk ke dalam kolam air spiritual yang dingin es tersebut.

Suhu air yang nyaris membeku itu mendidih seketika saat menyentuh kulit Lin Chen. Asap putih mengepul memenuhi gua.

Yin Yue melangkah masuk menyusulnya. Air dingin itu menenggelamkan tubuhnya sebatas dada. Kain sutra putih yang menutupi dadanya menjadi transparan karena basah, menempel ketat dan mencetak puncak kembar yang ranum di baliknya. Ia bergerak mendekati Lin Chen, memecah jarak di antara mereka hingga tubuh mereka bersentuhan di dalam air.

"Punggungmu," bisik Yin Yue.

Lin Chen memutar tubuhnya, membelakangi wanita itu.

Yin Yue merapat. Ia menempelkan dada depannya yang lembut ke punggung lebar dan keras Lin Chen. Pemuda itu bisa merasakan dua gundukan lembut yang menekan punggungnya, beserta irama detak jantung Yin Yue yang berdegup kencang. Wanita itu kemudian melingkarkan kedua lengannya ke depan dada Lin Chen, menempelkan telapak tangannya tepat di atas jantung pemuda itu.

"Tarik napasmu. Ikuti ritmeku," bisik Yin Yue, menyandarkan dagunya di bahu Lin Chen. Hembusan napasnya yang dingin dan beraroma lotus menyapu leher Lin Chen, memberikan kontras yang luar biasa memabukkan di tengah rasa sakit yang mendidih.

Energi Yin yang sangat murni mengalir dari tubuh Yin Yue, meresap menembus pori-pori punggung Lin Chen, lalu disalurkan melalui kedua telapak tangan wanita itu langsung ke jantungnya. Sensasi itu luar biasa; rasanya seperti gletser es abadi perlahan mencairkan magma yang mengamuk di dalam nadinya.

Lin Chen menutup matanya. Ia menekan ego maskulinnya dan membiarkan energi feminin yang menyejukkan itu mendominasi meridiannya sementara waktu. Di dalam kolam yang dipenuhi kabut tersebut, pelukan intim dari wanita es itu menjadi satu-satunya jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak terseret ke dalam neraka api. Suasana di dalam gua terasa begitu sensual, hening, hanya diisi oleh suara air yang beriak kecil setiap kali mereka mengatur ritme pernapasan bersama-sama. Kulit mereka yang saling bergesekan di dalam air menciptakan percikan listrik spiritual yang membuat Yin Yue diam-diam menggigit bibirnya, berusaha menahan desahan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Tiga jam berlalu dalam posisi yang menguji batas kewarasan tersebut.

Akhirnya, hawa panas dari tubuh Lin Chen mereda. Rune-rune di Lengan Logam Abadinya kembali stabil dengan warna perak yang tenang.

Yin Yue melepaskan pelukannya perlahan. Ia terengah-engah, wajahnya yang pucat kini dihiasi rona merah yang sangat memikat akibat pertukaran energi Yin-Yang yang terlalu intim. Ia mundur sedikit, menyandarkan tubuhnya ke tepi kolam, membiarkan kehangatan sisa dari tubuh Lin Chen memudar dari kulitnya.

"Kau... benar-benar monster yang gila," bisik Yin Yue sambil tersenyum lemah, menyeka rambut peraknya yang basah dan menempel di lehernya. "Menghancurkan Inti Emas dengan tubuh fana. Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku akan membunuh siapa pun yang membawa informasi konyol itu padaku."

Lin Chen berbalik. Ia menatap Yin Yue yang sedang terengah-engah dalam balutan kain basah yang menempel ketat di tubuh indahnya.

"Terima kasih," ucap Lin Chen tulus, satu kalimat yang jarang sekali keluar dari bibir sang Iblis. "Hutang nyawa ini akan kuingat."

Yin Yue tersenyum. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sekadar rekan bisnis. "Aku tidak meminta nyawamu. Aku hanya berinvestasi pada sosok yang suatu hari nanti akan memegang takhta tertinggi di Tiga Alam. Sekarang, bersihkan meridianmu. Bukankah kau memiliki sebuah gulungan teknik baru yang harus kau pelajari sebelum seluruh pengejar sekte turun ke kota ini?"

Mendengar itu, mata Lin Chen kembali memancarkan ketajaman absolut. Ia melangkah keluar dari kolam, tubuhnya yang basah mengering seketika oleh uap Qi. Ia berjalan menuju jubahnya dan mengambil gulungan perkamen usang yang ia dapatkan dari pelelangan.

*Sayap Garuda Emas*.

Lin Chen duduk bersila di atas lempengan es di sudut gua, membuka gulungan tersebut. Aksara-aksara kuno berwarna emas melayang ke udara, mencoba masuk ke dalam lautan spiritualnya. Teknik ini mengajarkan cara memadatkan Qi Abadi dan memaksanya bermanifestasi ke luar dari tulang belikat, membentuk sayap energi yang memotong udara dengan kecepatan dewa.

Tepat saat ia mulai menyerap pemahaman dari aksara-aksara tersebut, layar cahaya biru holografik berdenting, memancarkan simulasi pilihan yang telah lama ia tunggu.

**[Situasi Evolusi Teknik Terdeteksi: 'Sayap Garuda Emas'.]**

**[Kondisi: Tubuh Anda memiliki anomali Lengan Logam Abadi dan asimilasi elemen api bumi serta es absolut.]**

**[Silakan tentukan metode fusi teknik Anda:]**

**[Pilihan 1: Latih teknik ini sesuai instruksi asli dari gulungan kuno.

Hadiah: Anda akan memiliki sepasang sayap cahaya keemasan yang elegan. Kecepatan terbang standar. Proses ini sangat aman dan membutuhkan waktu meditasi selama tiga bulan untuk menguasai tahap awal.]**

**[Pilihan 2: Ekstrak esensi logam dari Lengan Logam Abadi Anda. Alirkan logam cair tersebut ke punggung Anda, campurkan dengan teknik Garuda Emas untuk memaksakan mutasi fisik menjadi 'Sayap Baja Iblis'.

Hadiah: Kecepatan terbang Anda meningkat 300%. Sayap logam dapat digunakan sebagai tameng tak tertembus dan bilah pemotong. Risiko: Keracunan logam permanen, membutuhkan penekan Yin eksternal secara konstan selama proses fusi, dan rasa sakit modifikasi tulang belikat tingkat ekstrem.]**

**[Pilihan 3: Makan gulungan perkamen tersebut dan gunakan asam lambung Anda yang dipenuhi Qi untuk mencerna ilmunya secara instan.

Hadiah: Anda menghancurkan gulungan tersebut menjadi kotoran. Anda tidak mempelajari apa pun. Perut Anda mulas selama 7 hari.]**

Lin Chen hampir tertawa dingin membaca pilihan ketiga. Sistem Pilihan Takdir tampaknya selalu menyelipkan satu opsi yang murni untuk menghinanya jika ia kehilangan rasionalitas. Opsi pertama terlalu lambat; tiga bulan meditasi di tengah pengejaran para ahli Inti Emas sama dengan menggali kuburan sendiri.

Perhatiannya terkunci pada Pilihan Kedua. Menciptakan sayap fisik dari logam abadi? Sebuah modifikasi yang menyimpang dari teknik aslinya, namun menawarkan daya hancur dan mobilitas yang sejalan dengan gaya bertarungnya. Sayap baja bukan sekadar alat transportasi; itu adalah senjata.

"Pilihan Kedua," batin Lin Chen dengan tegas.

Layar biru memudar.

Pemuda itu mengatupkan rahangnya. Ia menoleh ke arah Yin Yue yang sedang mengenakan kembali gaun *cheongsam*-nya yang telah dikeringkan menggunakan Qi.

"Yin Yue," panggil Lin Chen pelan.

Wanita es itu mendekat. "Ada apa? Meridianmu terbakar lagi?"

"Lebih buruk dari itu," ucap Lin Chen. "Aku akan memodifikasi teknik ini. Aku akan memaksa esensi dari Lengan Logam Abadiku merambat ke punggungku untuk membentuk sayap fisik. Jika panas logam itu menembus tulang belakangku dan mendekati otakku, aku butuh kau menembakkan jarum esmu tepat ke pangkal leherku untuk membekukannya sementara."

Yin Yue membelalakkan mata safirnya. "Kau gila?! Teknik itu dirancang untuk sayap Qi yang tidak berwujud! Jika kau memaksakan logam masuk ke dalam tulang belikatmu, satu kesalahan kecil akan memutuskan saraf tulang belakangmu dan membuatmu lumpuh total dari leher ke bawah!"

"Tidak akan," jawab Lin Chen dengan keyakinan absolut. Ia memejamkan mata. "Mulailah."

Tanpa membuang waktu, Lin Chen memicu *Napas Karang Esensi*. Alih-alih menyalurkan energi ke lengannya, ia membalikkan arah aliran Qi di lengan kanan. Rune biru di Lengan Logam Abadi itu menyala terang, dan untuk pertama kalinya, logam perak kehitaman itu perlahan mulai mencair di bagian pangkal bahunya.

*Cessss!*

Sensasi logam cair merayap di bawah kulit menuju ke punggungnya adalah penderitaan yang melampaui batas bahasa manusia. Lin Chen meraung tertahan, suaranya bergema rendah seperti geraman binatang purba. Urat-urat di punggungnya menonjol, menghitam karena invasi logam abadi. Cairan logam itu bergerak mencari celah di antara tulang belikat kiri dan kanannya.

Yin Yue berdiri di belakangnya dengan tangan gemetar, memusatkan energi es ke ujung jarinya, siap menembakkan jarum pembeku jika logam itu bergerak di luar kendali. Ia menatap proses mengerikan itu dengan mata yang basah; melihat seorang manusia menyiksa dirinya sendiri hingga ke batas ini demi kekuatan adalah pemandangan yang menghancurkan sekaligus memukau.

Logam cair itu akhirnya menemukan titik jangkar di tulang belikat Lin Chen.

*KRAAAK! KRAAAK!*

Tulang belikat pemuda itu retak dan patah secara paksa dari dalam. Alih-alih hancur, patahan tulang itu digantikan oleh sulur-sulur logam perak yang menerobos keluar menembus kulit punggung Lin Chen. Darah segar memercik ke dinding es.

Dari balik luka menganga di punggungnya, dua bilah logam perak kehitaman mencuat keluar. Bilah itu perlahan memanjang, melebar, dan membentuk struktur kerangka sayap yang luar biasa presisi. Kemudian, energi Qi dari teknik *Sayap Garuda Emas* menyatu dengan logam tersebut, mengisi celah-celah kerangka dengan bulu-bulu tajam yang sepenuhnya terbuat dari paduan logam abadi dan cahaya emas yang meredup menjadi warna perak gelap.

Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Saat Lin Chen menghembuskan napas terakhirnya yang bergetar, penderitaan itu berhenti.

Di dalam gua es yang sunyi, Lin Chen berlutut di tanah. Di punggungnya, terbentang sepasang sayap mekanis perak kehitaman yang memukau. Sayap itu memiliki rentang hingga lima meter jika dibentangkan sepenuhnya. Bulu-bulunya berkilau tajam seperti ribuan belati yang dirangkai menjadi satu kesatuan organik.

Lin Chen mencoba menggerakkan sayap barunya.

*Clank! Swish!*

Sayap logam itu bergerak dengan sangat luwes, merespons perintah otaknya seolah sayap itu telah tumbuh di sana sejak ia dilahirkan. Satu kepakan pelan dari sayap tersebut menciptakan gelombang angin badai yang langsung menghancurkan beberapa stalaktit kristal di dinding gua.

**[Pilihan 2 Diselesaikan. Mutasi Fisik TERCAPAI: Sayap Baja Iblis.]**

**[Status: Kecepatan manuver udara meningkat 300%. Bulu sayap dapat digunakan sebagai tameng perisai absolut tingkat fana dan proyektil mematikan.]**

Pemuda itu perlahan berdiri. Posturnya kini benar-benar terlihat seperti dewa perang yang turun dari langit. Lengan perak di sebelah kanan, dan sepasang sayap baja iblis di punggungnya.

Yin Yue menjatuhkan diri berlutut di belakangnya, tenaganya terkuras habis hanya karena menahan ketegangan melihat proses fusi tersebut. Ia menatap punggung sayap logam itu dengan napas tak beraturan.

"Kau... kau berhasil melakukannya," bisik Yin Yue.

Lin Chen menarik sayapnya. Dengan sangat ajaib, sayap logam itu melipat dirinya sendiri, memampat, dan masuk kembali ke dalam celah punggungnya, hanya menyisakan dua garis luka tipis berwarna perak di punggung atasnya yang bisa ditutupi oleh jubah biasa. Kepraktisan yang diberikan oleh modifikasi Sistem benar-benar tanpa celah.

Lin Chen berbalik. Ia berjalan menghampiri Yin Yue yang masih terduduk lemah. Pemuda itu mengulurkan tangan kirinya, meraih tangan wanita itu, dan menariknya berdiri dengan lembut.

"Waktu persembunyian kita sudah berakhir, Yin Yue," ucap Lin Chen. Matanya menatap tajam ke arah langit-langit gua. "Kematian Tetua Kuang pasti telah memicu alarm di sekte pusat. Formasi pelindung Kota Gerbang Awan saat ini pasti telah dikunci dalam mode isolasi absolut oleh para penjaga kota."

"Mereka tidak akan membiarkan seekor lalat pun keluar dari kota ini sampai utusan sekte dari wilayah pusat tiba besok pagi," Yin Yue membenarkan dengan nada cemas. "Formasi Langit Awan yang menutupi kota ini ditenagai oleh sembilan titik urat roh. Bahkan serangan Tahap Inti Emas puncak tidak akan mampu menembusnya dari dalam."

Senyum tipis dan kejam mengembang di balik topeng besi Lin Chen. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah formasi itu bisa menahan sayap yang baru saja kutebus dengan darahku."

Lin Chen meraih pinggang Yin Yue, menarik tubuh wanita itu merapat ke tubuhnya. Yin Yue tersentak kaget, wajahnya merona merah menyadari posisi intim mereka, namun ia tidak memberontak saat lengan kokoh pemuda itu melingkar erat di pinggangnya.

"Pegang yang erat," bisik Lin Chen di telinga Yin Yue.

*BZZZZT!*

Sayap Baja Iblis meledak keluar dari punggung Lin Chen, merobek bagian belakang jubah barunya. Bulu-bulu peraknya memancarkan cahaya biru dan merah pijar, memadukan energi angin dari teknik Garuda Emas dan energi mentah logam abadi.

Lin Chen menjejakkan kakinya ke tanah. Lantai gua es hancur berantakan.

*WUSSSSH!*

Keduanya melesat ke atas, menabrak atap gua batu dengan kecepatan yang mengerikan. Lengan Logam Abadi Lin Chen diposisikan di depan, berfungsi sebagai mata bor yang menghancurkan bebatuan, tanah, dan akar pepohonan di atas mereka.

Dalam hitungan detik, mereka menembus permukaan tanah dan melesat membumbung tinggi ke langit malam Kota Gerbang Awan.

Kehadiran sosok bersayap perak yang melesat ke langit seketika menarik perhatian puluhan ribu penjaga yang sedang berpatroli di bawah. Sirene peringatan melolong panjang.

"Di sana! Itu pembunuhnya! Dia mencoba melarikan diri!" teriak salah satu komandan penjaga, menunjuk ke arah langit.

Namun, tidak ada yang bisa mengejarnya. Kecepatan *Sayap Baja Iblis* terlalu mengerikan. Lin Chen terbang vertikal menuju kubah energi berwarna biru transparan yang mengurung seluruh kota. Itu adalah Formasi Langit Awan yang legendaris.

Melihat Lin Chen tidak melambat saat mendekati formasi pelindung yang tak tertembus itu, Yin Yue memejamkan matanya rapat-rapat sambil memeluk leher pemuda itu. "Kita akan hancur bertabrakan dengan formasi itu!"

"Buka matamu, Yin Yue. Lihatlah bagaimana langit Dunia Tengah ini runtuh," perintah Lin Chen datar.

Ia memutar tubuhnya di udara. Sayap Baja Iblis ditarik ke depan, membungkus tubuhnya dan Yin Yue layaknya kepompong baja peluru. Di ujung kerucut sayap tersebut, Lin Chen memusatkan energi *Telapak Penghancur Bintang* elemen es dan api yang berotasi gila-gilaan.

Titik tajam sayap baja itu menghantam permukaan formasi pelindung biru.

*BOOOOOOOOOOMMMMMM!*

Sebuah ledakan sonik raksasa mengguncang atmosfer. Seluruh langit Kota Gerbang Awan bergetar. Kubah biru yang diklaim mampu menahan serangan Inti Emas puncak itu melesak ke dalam. Ketajaman logam purba yang dipadukan dengan kompresi Yin-Yang yang menghancurkan partikel energi secara internal terbukti terlalu mematikan.

Retakan raksasa menjalar di permukaan kubah formasi. Detik berikutnya, dengan suara kaca pecah yang memekakkan telinga, kubah formasi itu meledak berhamburan menjadi kepingan cahaya.

Lin Chen dan Yin Yue melesat menembus pecahan formasi itu, keluar dari kurungan udara Kota Gerbang Awan, terbang bebas melintasi awan malam yang diterangi dua bulan purnama.

Di bawah sana, para penjaga dan penduduk kota hanya bisa menatap dengan mulut ternganga. Formasi pelindung abadi kota mereka... bolong oleh satu hantaman dari sang Iblis bersayap baja.

Yin Yue membuka matanya. Ia menatap ke bawah, melihat kota raksasa yang kini tertinggal jauh di belakang. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, namun ia merasa sangat hangat dalam pelukan Lin Chen. Ia mendongak, menatap profil rahang keras pemuda bertopeng yang sedang mengepakkan sayap bajanya melintasi samudra awan.

Di titik ini, Yin Yue menyadari bahwa ia tidak lagi hanya sekadar pengawas paviliun yang memberikan informasi. Ia telah terikat pada badai yang akan menyapu bersih dan menata ulang hierarki seluruh dewa dan sekte di Tiga Alam. Iblis dari selatan ini telah terbang, dan taring peraknya kini mengarah langsung ke jantung Dunia Tengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!