Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Geger Terminal Sidoarjo
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur saat Faris Arjuna melangkah memasuki gerbang Terminal Sidoarjo. Namun, ada yang aneh. Suara deru mesin bus yang biasanya riuh terdengar seperti rintihan, dan asap knalpot yang mengepul terasa lebih pekat serta berbau amis, mirip aroma kehadiran Nini Blorong semalam.
Faris berhenti di tengah jalan aspal yang retak. Di belakangnya, Arjuna Hidayat, Jono, dan Brewok berjalan dengan waspada. Brewok kini membawa botol air mineral yang sudah dicampur garam, siap tempur meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Mas Faris, lihat itu! Kenapa anak-anak terminal wajahnya pucat semua begitu?" bisik Jono sambil menunjuk ke arah pangkalan ojek dan warung kopi.
Para sopir bus dan kernet yang biasanya menyapa Faris dengan tawa renyah, kini hanya duduk mematung dengan tatapan kosong. Di tengah terminal, berdiri sebuah panggung kecil yang tidak biasanya ada di sana. Di atas panggung itu, Ki Ageng Blorong sedang membagikan bungkusan hitam kepada orang-orang, sambil menggumamkan mantra yang membuat suasana semakin berat.
"Selamat datang, Sang Panglima Terminal!" teriak Ki Ageng Blorong dengan suara menggelegar saat melihat Faris. "Lihatlah, pengikutmu sekarang sudah sadar. Mereka tidak butuh budaya kuno atau novel cengengmu! Mereka butuh kekuatan instan yang aku berikan!"
Faris Arjuna mengepalkan tangannya. Ia melihat di dahi setiap orang yang menerima bungkusan itu terdapat tanda hitam kecil berbentuk ular. "Sampeyan sudah keterlaluan, Ki Ageng! Sampeyan kasih apa mereka? Jangan jadikan anak buah saya tumbal untuk ambisi sampeyan!" teriak Faris menantang.
Ki Ageng Blorong tertawa jahat. "Ini hanya pengikat setia, Faris! Mulai hari ini, Terminal Sidoarjo berada di bawah kekuasaanku!" Ia mengibaskan tangannya, dan tiba-tiba para sopir yang tadi diam serentak berdiri, mengepung Faris dengan tatapan mata yang berubah menjadi hijau gelap.
"Hati-hati, Dikmas! Mereka sedang di bawah pengaruh gendam ular!" teriak Arjuna Hidayat sambil memasang kuda-kuda silat.
Faris tidak ingin melukai anak buahnya sendiri. Ia teringat pelajaran dari Eyang Semar tentang kasih sayang. Faris mencabut Keris Kyai Jalak Suro, namun ia tidak menghunusnya ke arah manusia. Ia justru mengangkat keris itu tinggi-tinggi ke arah langit.
"Demi bumi Sidoarjo dan para leluhur Majapahit! Wahai saudaraku, elingo! Sampeyan itu menungso, dudu budak setan!" suara Faris bergetar hebat, dibarengi dengan energi batin yang meledak dari dalam dadanya.
DHEEERRR!
Petir menyambar di langit yang cerah, menyatu dengan bilah keris Faris. Sebuah gelombang cahaya putih melesat keluar, menghantam tanda ular di dahi para sopir bus. Satu per satu dari mereka jatuh pingsan, terlepas dari pengaruh gendam jahat Ki Ageng Blorong.
Ki Ageng Blorong murka melihat rencananya berantakan. Ia melompat dari panggung, tangannya berubah menjadi cakar hitam yang panjang. "Kalau begitu, sampeyan sendiri yang akan menjadi tumbal pertamaku!"
Pertarungan jarak dekat tidak terhindarkan. Faris bergerak lincah seperti penari wayang, menghindari setiap cakar Ki Ageng yang bisa menghancurkan beton terminal. Brewok yang melihat kesempatan itu langsung menyiramkan air garam ke arah panggung. "Makan ini, setan gundul! Biar asin rasa hidupmu!" teriak Brewok nekat.
Ledakan energi terjadi di tengah terminal. Faris berhasil menempelkan telapak tangannya ke dada Ki Ageng Blorong sambil membisikkan Sholawat yang ia pelajari dari Simbok. Ki Ageng terpental jauh, menghantam sebuah bus yang sedang parkir sampai bodinya penyok.
"Ini rumahku, Ki Ageng! Sidoarjo bukan tempat bagi mereka yang menjual jiwa demi kuasa!" tegas Faris dengan napas terengah-engah.
Ki Ageng Blorong bangkit dengan penuh amarah, namun tubuhnya mulai memudar karena sinar matahari yang semakin terik. "Hari ini sampeyan menang, Faris! Tapi ingat, penguasa kegelapan yang lebih besar dari aku sedang menunggumu di pusat kota!"
Setelah Ki Ageng menghilang, suasana terminal perlahan kembali normal. Para sopir mulai sadar dan bingung dengan apa yang terjadi. Faris menyarungkan kerisnya, ia menatap ke arah teman-temannya yang masih siaga.
"Perjuangan baru saja dimulai, teman-teman. Kita harus bersihkan terminal ini bukan cuma dari setan, tapi dari mental pengecut," ucap Faris sambil membantu salah satu sopir berdiri.
Jono mendekat, wajahnya penuh keringat. "Hebat, Mas Faris. Tapi tadi kata Ki Ageng ada yang lebih besar lagi di pusat kota. Siapa itu, Mas?"
Faris Arjuna menatap ke arah kantor bupati di kejauhan. "Entahlah, Jon. Tapi siapa pun dia, selama kita masih punya restu Simbok dan jati diri Jawa, kita tidak akan pernah kalah."
Asap tipis sisa pertarungan gaib tadi masih menggantung di udara terminal, namun matahari yang semakin tinggi mulai menyapu sisa-sisa hawa dingin yang mencekam. Faris Arjuna masih berdiri tegak di tengah area keberangkatan bus, napasnya berangsur teratur meski keringat membanjiri kaos hitamnya. Di sekelilingnya, puluhan sopir dan kernet mulai siuman dengan wajah kebingungan, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.
"Aduh... sirahku kok cekot-cekot kaya bar dipalu (Aduh... kepalaku kok berdenyut-denyut seperti habis dipalu)," keluh Cak Man, salah satu sopir bus senior, sambil memegangi dahinya yang memerah.
Faris melangkah mendekat, ia berlutut di samping Cak Man dan menepuk pundaknya dengan lembut. Tidak ada lagi wajah garang Sang Panglima Terminal, yang ada hanyalah tatapan tulus seorang adik kepada kakaknya. "Sabar, Cak. Sampeyan tadi cuma kemasukan angin jahat. Minum dulu ini," ucap Faris sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah didoakan Simbok tadi pagi.
Cak Man meminum air itu dan seketika wajah pucatnya kembali merona. "Mas Faris... tadi itu saya melihat ular besar melilit leher saya. Saya ingin teriak tapi mulut saya terkunci. Terima kasih sudah menyelamatkan kami," ucapnya dengan suara gemetar.
Faris berdiri dan menatap seluruh penghuni terminal yang kini sudah mulai berkumpul di sekelilingnya. "Dengarkan semua! Kejadian tadi adalah peringatan buat kita. Ki Ageng Blorong tidak akan berhenti hanya di sini. Dia akan mencoba masuk lewat apa saja: lewat janji uang, lewat jimat, bahkan lewat kebencian di hati kalian!" teriak Faris agar suaranya terdengar sampai ke pojok peron.
"Kita ini orang Jawa, orang Sidoarjo! Jangan mau martabat kita ditukar dengan bungkusan hitam tidak jelas. Kalau butuh perlindungan, sujudlah pada Gusti Allah. Kalau butuh kekuatan, carilah di dalam jati diri kalian sendiri, bukan dari jin atau setan!" lanjut Faris dengan nada yang menggelegar, membuat para preman terminal yang biasanya garang kini tertunduk malu.
Arjuna Hidayat mendekat, ia berbisik di telinga Faris. "Dikmas, energi Ki Ageng tadi memang sudah hilang, tapi dia meninggalkan 'racun' di tanah ini. Kita harus menanam sesuatu sebagai penangkal agar mereka tidak berani kembali."
Faris mengangguk paham. Ia memerintahkan Jono dan Brewok untuk mengumpulkan bunga tujuh rupa dan air dari tujuh sumber yang sempat ia bawa dari Trowulan. Di pojok terminal, dekat pohon beringin tua yang menjadi simbol kekuatan tempat itu, Faris menanam sebuah rajah kecil yang ditulis di atas selembar daun lontar.
"Wok, siramkan airnya perlahan. Jon, bacakan Sholawat jangan berhenti," perintah Faris. Brewok yang tadinya gemetar, kini tampak sangat bersemangat. Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari pembersihan besar-besaran ini. "Siap, Bos! Biar setan-setan itu kalau mampir ke sini langsung merasa seperti masuk ke penggorengan!" seru Brewok.
Sambil proses pembersihan berlangsung, Faris kembali duduk di bangku panjang terminal. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai mengetik catatan kecil untuk bab selanjutnya di novelnya. Baginya, menulis adalah cara tercepat untuk menyebarkan benteng batin kepada ribuan pembacanya agar tidak mengalami hal yang sama dengan para sopir ini.
"Mas Faris," panggil Jono pelan setelah tugasnya selesai. "Tadi Ki Ageng bilang ada penguasa yang lebih besar di pusat kota. Apa mungkin itu orang pemerintahan, atau dukun yang lebih sakti?"
Faris terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi di pusat kota Sidoarjo yang nampak samar di balik polusi. "Bisa jadi keduanya, Jon. Kadang, setan yang paling berbahaya itu bukan yang punya taring dan tanduk, tapi yang memakai dasi dan bicara manis namun hatinya busuk. Kita harus bersiap, karena pertarungan selanjutnya mungkin bukan lagi di terminal, tapi di medan yang lebih luas."
Arjuna Hidayat menepuk bahu adiknya. "Tenang, Dikmas. Selama pena masih di tanganmu dan keris masih di pinggangmu, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Ayo, kita kembali ke markas. Simbok pasti sudah menunggu kabar."
Faris berdiri, menyarungkan ponselnya, dan menatap terminal yang kini terasa lebih terang dan lega. Ia tahu, tugasnya sebagai Dalang Piningit baru saja dimulai. Sidoarjo harus tetap menjadi milik mereka yang berjiwa ksatria, bukan para pemuja kegelapan.