Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ada Maunya
Kania memikirkan ucapan Bella, sebenarnya dia bukan tidak bisa menaklukan mamanya. Hanya saja sedikit susah, namun begitu dia tidak akan menyerah begitu saja. Lagi pula, mendapatkan Axel itu adalah impiannya.
Tapi, apakah Axel itu sudah jadi duda?
"Kalau om Axel belum cerai, terus gue suka sama om Axel itu jadi pelakor dong?" dia berkata sendiri.
Semakin di pikirkan semakin bingung dia harus bagaimana, belum juga melakukan tantangan Bella untuk menaklukkan mamanya Kania kini jadi semakin pusing jika Axel belum jadi duda.
"Aah, om Axel pasti jadi duda. Gue akan kejar dia," ucap Kania lagi.
Sepanjangan jalan menuju rumahnya, Kania terus berpikir mengenai status Axel bagaimana. Dia berniat mencari tahu status Axel tapi Bella justru jadi kesal lagi padanya, apa yang akan dia lakukan?
Tiiin! Tiiin! Tiiin!
Suara klakson di belakang motor Kania terus berbunyi, Kania berhenti di lampu merah dan ketika lampu hijau sudah menyala gadis itu masih melamun. Sehingga beberapa kendaraan membunyikan klakson.
"Hei mbak, jangan ngelamun dong. Di jalan kok ngelamun!" teriak satu orang laki-laki yang mengendarai mobil bak terbuka bermuatan sayuran.
Kania menoleh ke belakang, dia sedikit kesal tapi kemudian rasa kesalnya di tahan karena beberapa kendaraan lain kembali membunyikan klakson agar Kania segera melajukan motornya.
"Ck, rese banget sih itu tukang sayur. Gue juga tahu itu lampu hijau udah menyala, kenapa juga harus teriak-teriak," ucap Kania ketika meminggirkan motornya.
"Mbaknya melamun, coba tadi waktu lampu hijau langsung menyala mbak juga langsung jalan kan ngga di teriakin," ucap salah satu pengendara motor lain yang kebetulan mendengar umpatan Kania.
Pengendara itu pun berlalu, Kania semakin kesal tapi dia harus cepat pulang ke rumah karena rencana menyelesaikan tantangan dari Bella harus di jalankan secepatnya.
_
Selama satu hari satu malam Kania memikirkan rencana dan siasat agar mamanya itu menyetujui dirinya dekat dengan Axel pun kini menemui jalan buntu.
Dia bingung harus memulai dari mana, sedangkan sudah satu Minggu lebih dia enggan bicara dengan mamanya.
Saat sedang termenung di kamarnya, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Kania menoleh ke arah pintu, kemudian beranjak dari duduknya di kasur dan melangkah menuju pintu membuka pintu tersebut.
Ceklek.
Pintu terbuka, tampak papanya berdiri dengan tersenyum kecil menatapnya penuh kasih sayang. Sedikit malas dia berhadapan dengan papanya.
"Ada apa pa?" tanya Kania.
"Lho, kok ada apa? Ya makan malam sayang, mama sudah nungguin di bawah," jawab pak Suryadi.
Kania diam, awalnya enggan untuk makan malam. Tapi dia ingat dengan tantangan Bella padanya, kemudian mengangguk cepat.
"Oke, nanti Kania turun," ucap Kania.
"Oke, papa sama mama tunggu ya. Jangan sampai ngga turun dan ngga makan malam," kata pak Suryadi mengingatkan.
"Iya, Kania turun kok. Cuma mau ambil jepit rambut dulu, papa duluan aja sana turun. Nanti Kania nyusul," kata Kania lagi.
Papanya menatapnya sejenak, sedikit ragu dengan ucapan anaknya itu karena biasanya akan seperti itu jika di panggil untuk makan malam selalu saja tidak jadi turun.
"Awas lho ya, harus turun," kata pak Suryadi lagi.
"Iya papa, masa ngga turun sih. Kan Kania juga lapar, habis ngerjain tugas," ucap Kania lagi memastikan papanya percaya.
"Baiklah, papa turun dan menunggu anak cantik papa turun. Oke?"
"Oke."
Pak Suryadi pun tersenyum senang, laki-laki itu pun berbalik dan segera menuruni anak tangga segera menuju ruang makan dan menunggu anaknya turun juga ikut makan malam.
Kania pun menutup pintu kamarnya dan segera melangkah menuju meja belajarnya, dia mengambil jepit rambut berbentuk bunga matahari berwarna peach kemudian tangannya menggulung rambut panjangnya.
Beruntung Kania memiliki rambut panjang lurus hitam pekat, dia sangat menyukai rambut panjangnya itu. Sesekali pergi ke salon untuk merawat rambut serta kulit mukanya.
Kania pun segera keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga, suara piring beradu dengan sendok di ruang makan. Gadis itu segera menghampiri kedua orang tuanya untuk bergabung makan malam.
"Hai mama sayang," sapa Kania pada mamanya.
Membuat mamanya kaget begitu juga papanya, keduanya saling pandang. Tapi kemudian pak Suryadi pun tersenyum senang mendengar anaknya memanggil mamanya dengan panggilan yang sangat manis.
Namun tidak dengan ibu Laras, perempuan berusia empat puluh tujuh itu pun mengerutkan dahi mendengar sapaan manis anaknya.
"Lauknya sama apa nih ma?" tanya Kania.
"Tumben kamu panggil mama sayang? Kamu sudah merasa bersalah kan dengan sikapmu itu?" tanya mamanya.
"Ma, jangan berburuk sangka dulu dong. Kania turun untuk makan malam sekarang itu sudah bagus," kata pak Suryadi.
"Ih mama, kan aku lapar pengen makan. Kenapa mama jadi curiga sih sama aku?"
"Biasanya, kalau kamu lapar langsung turun dan makan. Ngga perlu di panggil papa lagi," ucap mamanya.
Kania berdecak, dia tak menghiraukan ucapan mamanya. Kali ini dia harus sabar menghadapi ucapan sinis dan pedas dari mamanya, di samping itu dia juga harus meminta bantuan papanya agar mendukung keinginannya.
Meski ada sedikit kecanggungan antara mamanya dan Kania, tapi kini suasana jadi cair karena pak Suryadi selalu menengahi keduanya. Laki-laki itu sangat senang karena anak dan istrinya sudah gencatan senjata.
Eh, gencatan senjata?
Berarti akan ada pertarungan lagi dong.
"Ngga boleh." ucap pak Suryadi tanpa sadar, membuat istri dan anaknya menoleh heran padanya.
"Apa yang ngga boleh pa?" tanya Kania.
"Ngga ada, papa hanya melamun," jawab pak Suryadi.
"Papa mikirin apa sih? Ngga biasanya kalau makan bersama itu ngga melamun. Atau papa memikirkan pekerjaan?" tanya istrinya.
"Ngga ma, papa ngga memikirkan apapun," jawab pak Suryadi.
"Bohong ma, tadi aja papa di depan kamarku melamun," Kania mengompori mamanya.
"Jangan bicara sembarangan Kania, papa ngga memikirkan apa pun. Sungguh."
"Ya sudah, jangan melamun lagi. Cepat habiskan makannya.
Kania mengangguk, sembari makan pikirannya terus memikirkan bagaimana cara bicara lembut dan halus tentang keinginannya. Pandangannya pada mamanya sesekali melirik membuat Larasati semakin heran.
"Kania, ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan sama mama?" tanya mamanya seakan tahu kegelisahan anaknya.
"Iya, papa tadi lihat kamu sering lirik-lirik mama. Ada apa sayang?" tanya pak Suryadi menyambungi pertanyaan istrinya.
"Ngga ada apa-apa ma, cuma...."
"Cuma apa?"
Kali ini Kania diam menatap mamanya ragu, tapi otaknya berpikir cepat agar mamanya tidak mencurigainya.
"Heheh, mama cantik banget malam ini," jawab Kania.
"Jangan ngaco deh kalau ngomong, cepat apa yang kamu pikirkan?" tanya mamanya lagi.
Kania melirik pada papanya, mencoba untuk mendapatkan bantuan dari laki-laki yang di sayanginya itu.
"Ma, bolehkan Kania suka sama om Axel?"
_
_
******