Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
***
Dua bulan telah berlalu sejak ancaman dingin Baskara di balkon malam itu. Di dalam rahim Mayang Puspita Sari, benih baru telah bersemi sebuah proyek yang dipaksakan untuk memenuhi ambisi sang predator. Kini, usia kandungannya menginjak delapan minggu. Rasa mual yang hebat menghantamnya setiap pagi, namun tak ada lagi asisten rumah tangga yang datang membawakan teh jahe hangat atau memijat tengkuknya.
Mayang berdiri di depan wastafel dapur yang luas, tangannya yang gemetar mencuci sisa botol susu dan piring kotor. Keringat dingin mengucur di dahinya, bercampur dengan aroma sabun cuci dan sisa makanan yang membuatnya ingin muntah.
Di lantai dapur yang dilapisi marmer mahal, Aira yang kini sudah berusia tujuh bulan sedang asyik merangkak. Bayi itu mencoba menggapai kaki ibunya, tertawa kecil tanpa tahu bahwa wanita yang melahirkannya sedang berada di ambang kehancuran fisik.
"Nghhh..." Mayang mencengkeram pinggiran wastafel, memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang mual kembali menyerang.
Perutnya terasa diaduk-aduk. Ia harus menelan ludahnya sendiri agar tidak memuntahkan cairan lambung di depan anaknya.
"Mamama..." Aira menarik-narik ujung daster Mayang, menuntut perhatian.
Mayang menunduk, memaksakan senyum meski wajahnya pucat pasi. Ia menggendong Aira dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap sibuk mengelap meja dapur yang harus tampak sempurna sebelum Baskara pulang.
"Sabar ya, Sayang... Mamah selesaikan ini dulu," bisik Mayang parau. Setiap gerakan terasa seperti beban berat. Kandungan mudanya membuatnya lemas, namun statusnya sebagai "ibu rumah tangga idaman" menuntutnya untuk tidak terlihat cacat sedikit pun.
**
Sore harinya, pintu penthouse terbuka. Baskara melangkah masuk dengan aura kemenangan yang menyilaukan. Di televisi, berita masih menayangkan keberhasilannya mengakuisisi sisa aset Aris Raditya. Baskara kini dipuja sebagai raja baru di pasar modal, seorang pria yang tidak hanya cerdas berbisnis, tetapi juga setia pada istrinya yang sederhana.
"Aku pulang," suara Baskara menggema, berat dan penuh otoritas.
Mayang segera menghampiri, membawakan tas kerja pria itu. Ia harus berperan sebagai istri yang patuh, meski rasa pusing di kepalanya membuat pandangannya sedikit berbayang.
"Makan malam sudah siap, Tuan... maksudku, Mas Baskara," ucap Mayang, hampir salah memanggil suaminya dengan sebutan yang dulu sering ia gunakan untuk Aris dan Gunawan.
Baskara menatap Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangannya berhenti sejenak di perut Mayang yang masih rata. "Kau sudah minum vitamin yang kuberikan? Aku tidak mau anak ini lahir lemah seperti kakaknya."
"Sudah," jawab Mayang singkat.
Baskara mendekati Aira yang sedang duduk di karpet bulu. Ia mengelus kepala bayi itu sebentar, namun gerakannya terasa kaku, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang tidak terlalu ia sukai. Baskara sebenarnya tidak membenci Aira, namun dalam logikanya yang kolot dan haus kuasa, perempuan adalah makhluk yang hanya akan menjadi beban atau objek transaksi. Ia butuh seorang putra untuk melanjutkan dominasinya.
"Aira sudah mulai merangkak cepat," ujar Baskara dingin. "Pastikan dia tidak mendekati ruang kerjaku. Aku tidak mau suara tangisannya mengganggu rapat Zoom-ku malam ini."
"Dia anakmu, Baskara. Bukan gangguan," Mayang memberanikan diri menyela.
Baskara menoleh, matanya berkilat tajam. "Dia adalah aset pasif, Mayang. Dan kau sedang mengandung aset aktifku. Fokuslah pada tugasmu. Jangan sampai rasa mualmu itu membuatmu lalai mengurus rumah. Aku tidak mau ada debu sedikit pun saat klienku datang besok."
**
Malam itu, setelah menyuapi Aira dan menidurkannya, Mayang kembali ke dapur untuk membersihkan sisa makan malam Baskara. Tubuhnya terasa seperti akan remuk. Setiap sendi tulangnya berdenyut nyeri. Ia terduduk di kursi makan, memijat kakinya yang mulai bengkak.
Di dalam kamar kerja, ia bisa mendengar suara tawa Baskara yang sedang merayakan kesuksesan dengan para koleganya secara daring. Baskara dipuji sebagai pria keluarga yang sempurna, suami yang menjaga istrinya tetap berada di rumah agar terlindung dari kejamnya dunia luar.
Penipu, batin Mayang. Dia bukan melindungiku, dia menguburku hidup-hidup.
Mayang mengambil ponselnya yang tersembunyi di balik tumpukan kain serbet. Ia memeriksa sisa tabungan rahasianya. Saldo itu tidak seberapa dibandingkan kekayaan Baskara, namun cukup untuk biaya hidup jika suatu saat ia berhasil melarikan diri bersama Aira.
Tiba-tiba, Baskara masuk ke dapur untuk mengambil es batu. Mayang dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Belum selesai?" tanya Baskara sembari menuangkan wiski ke gelas kristalnya.
"Sebentar lagi," jawab Mayang, mencoba berdiri namun ia sedikit limbung karena pusing.
Baskara menangkap lengannya, namun bukan untuk membantu, melainkan untuk memastikan Mayang tetap berdiri di depannya. "Ingat, Mayang. Enam bulan lagi, dunia akan melihat putra pertama dari pasangan paling berpengaruh di Jakarta. Aku sudah menyiapkan konferensi pers besar. Kau harus tampil cantik, sehat, dan tanpa cacat."
Mayang menatap mata suaminya. "Bagaimana jika dia perempuan lagi, Baskara? Apakah kau akan membuangnya juga?"
Baskara terdiam sejenak, senyum sinisnya muncul. "Maka kau akan terus hamil sampai kau memberikan apa yang kuminta. Kau sudah terlatih untuk itu, bukan? Rahimmu sudah terbiasa bekerja keras demi uang Aris dan Gunawan. Sekarang, bekerjalah untuk suamimu sendiri."
Mayang kembali ke kamarnya, mengunci diri di kamar mandi. Ia menangis tanpa suara, membiarkan air keran mengalir deras untuk meredam isak tangisnya. Ia meraba perutnya yang masih sangat muda. Ada rasa bersalah yang luar biasa kepada janin yang dikandungnya. Anak ini bukan lahir dari cinta, melainkan dari sebuah paksaan demi ambisi seorang monster.
Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah Nyonya M yang dulu angkuh kini tampak layu. Kulitnya yang dulu putih bersih kini tampak kusam karena kelelahan mengurus rumah tangga tanpa bantuan. Ini adalah kekalahannya yang paling teliti. Baskara tidak hanya merampas sahamnya, tapi juga merampas martabatnya sebagai manusia.
Namun, saat ia menatap Aira yang tertidur lelap di boks bayi lewat celah pintu, api kecil di hati Mayang kembali menyala.
"Aku tidak akan kalah selamanya," bisik Mayang pada bayangan dirinya sendiri. "Jika kau menginginkan putra, Baskara... aku akan memberikannya. Tapi putra itu tidak akan pernah menjadi budak ambisimu. Dia akan menjadi kehancuranmu."
Mayang melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lebih tegap. Ia akan menuruti kegilaan Baskara. Ia akan mencuci, memasak, dan melayani nafsu pria itu dengan kepatuhan yang sempurna. Ia akan menjadi "istri idaman" di depan kamera dunia. Namun di balik itu semua, ia mulai menyusun kepingan-kepingan rencana yang lebih halus.
Setiap rasa mual yang ia rasakan, setiap tetes keringat saat ia menggendong Aira sambil mengepel lantai, ia simpan sebagai bahan bakar dendam. Mayang Puspita Sari sadar, ini bukan lagi tentang menjadi kaya, ini tentang bertahan hidup dan menyelamatkan satu-satunya hal berharga yang ia miliki: anaknya.
Di puncak menara Mega Kuningan, malam semakin larut. Baskara masih tenggelam dalam ambisi kekuasaannya, tidak menyadari bahwa wanita yang ia anggap telah ia jinakkan, sedang menyiapkan badai di dalam rahim yang ia klaim sebagai miliknya.
****
Bersambung ....